
Damian membawa Alexa pulang kerumah mereka, disusul oleh Marco dan juga El. namun sebelum Marco dan el keluar dari kediaman utama Adithama,Adelia sempat biacar dengan Marco dan membuat oria itu merasa tersinggung dan juga sakit hati
"kau urus putrimu itu jangan sampai membuat keluarga kami berantakan Marco, cukup selama 20 tahun ini kami mengurusnya dan juga ibunya, dulu aku berharap Tania bisa membuat keluarga kami bahagia, namun ternyata kami salah, dia membuat keluarga kami merasa malu" ucap Adelia,
hal itu membuat Marco hanya diam dan meninggalkan rumah itu dengan hati yang begitu sakit, sebegitu tidak pentingkah Alexa, putrinya kepada Adelia sehingga wanita paruh baya itu mengatakan hal seperti itu padanya, ia sungguh tidak percaya mendengar hal itu
Marco membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa mengimbangi Damian yang membawa mobilnya, Marco masih mengingat bagaimana Adelia menolak putrinya untuk tinggal bersama dengan Damian, juga perkataannya yang terakhir tadi
"sabar tuan, nyonya memang begitu kalau marah" ucap El yang melihat Marco membawa mobilnya dengan kecepatan yang tidak kira-kira, bahkan dalam hatinya El berdoa agar mereka semalamat sampai tujuan, ia bahkan belum emncicipi bagaimana rasanya menikah
sesampainya dirumah, Damian membawa Alexa masuk dengan tetap menggendong gadis itu sampai kekamar mereka, Damian tidak membuka suara apapun membuat Alexa juga binung harus bagaimana bersikap, ia ingin bertanya namun melihat wajah Damian yang marah membuat dirinya merasa kikuk
"kenapa harus mengatakan hal itu tadi!, apa kamu memang tidak benar-benar mau hidup bersamaku" ucap Damian menatap Alexa, tatapan yang penuh dnegan amarh dan juga kecewa, kecewa dengan jawab Alexa tadi sewaktu dirumah mereka
bisa-bisanya gadis ini menjawab jika dirinya bisa menikah dengan rania dan dirinya bisa ikhlas begitu saja, apakah dia tidak memikirkan perasaan Damian saat ini, pria itu bahkan melawan restu mamanya hanya demi Alexa, namun jawaban tadi membuat Damian merasa marah
"bu..kan begitu dad... aku hanya tidak ingin daddy dan oma semakin jauh dan bermasalah hanya karna Ale" ucap Alexa dengan menatap mata Damian lekat, ia tidak bermaksud untuk meninggalkan Damian begitu saja, jujur saja ia juga sulit untuk melepaskan pria ini
"lalu kenapa harus menjawab seperti itu, apa kamu tidak memikirkan perasaan daddy!!" ucap Damian, kini tatapannya benar-benar mengunci pergerakan Alexa, gadis itu merasa jika dirinya diambang bahaya saat ini, Damian benar-benar tidak memberi dirinya bergerak
"bukan begitu dad.. Ale juga sulit untuk melupakan daddy, tidak ingin daddy menikah dengan wanita lain... tapi kalau oma tidak setuju dengan kita bagaimana?, aku tidak mau daddy dibenci oleh oma" ucap Alexa menangis, kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan tangisannya
__ADS_1
"tapi tidak begitu juga caranya Ale, dady bahkan mati-matian bertahan untuk kita tapi kamu malah membuat daddy kecewa" ucap Damian sambil mengehela nafas pelan, ia ingin melihat seberapa kuat Alexa akan bertahan untuk hubungan mereka, Damian ingin tau apakah gadis itu benar-benar mencintainya atau tidak
"maafkan aku dad, tapi aku tidak bermaksud begitu, aku... aku cuma..huaaaa" tangisan Alexa semakin pecah kala Damian melangkah menjauh dari dirinya, pria itu melangkah kearah pintu dan Alexa berfikir jika Damian sangat marah padanya dan akan meninggalkan dirinya
padahal niat Damian hanya ingin mengunci pintu kamar mereka karna Marco dan El aada dibawah sana, El mengabari dirinya dan membuat Damian bergerak kearah pintu, ia menutup dan mengunci pintu namun mendnegar tangisan Alexa membuat Damian langsung berjalan menuju ranjang
"kenapa menangis sayang.. daddy sudah tidak marah, daddy hanya takut kamu tidak mau berjuang untuk hubungan kita" ucap Damian memeluk Alexa dan membawa gadis itu untuk bersender didada bidangnya, Damian mengelus kepala Alexa lembut
"daddy jahat.. huhu.. daddy ninggalian Ale kan" ucap gadis itu smabil memeukul dadad Damian, melihat seperti tadi membuat Alexa benar-benar taut jika Damian pergi dan memilih untuk meninggalkan dirinya. " tidak sayang, daddy hanya mengunci pintu, takut papamu datang dan masuk kesini" jawab Damian tersenyum lalu menghapus airmata Alexa lembut
keduanya saling menatap satu sama lain, Damian menarik tengkuk Alexa dn mencium bibir ranum gadis itu, dengan lembut tapi pasti Damian membawa Alexa merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Damian kini menguasai keadaan dan membuat Alexa hanya pasrah
Marco menatap dua orang didepannya dengan tatapan yang aneh, jika Damian menahan kekesalannya berbeda dengan Alexa yang langsung memeluk Marco, masih merindukan sentuhan hangat pria itu yang sekarang sudah ia panggil dengan sebutan papa
"kenapa sayang?, apa dia melakukan sesuatu padau?, dia memarahimu" ucap Marco menatap Alexa, namun gadis itu hanya menggeleng sambil tersenyum, detik selanjutnya Marco menatap Damian dengan serius. " aku ingin bicara empat mata padamu" ucap Marco dan melepaskan pelukan Alexa
disinilah mereka berdua, Damian dan Marco duduk bersama saling berhadapan, keduanya saling menatap dengan tajam seolah ada sesuatu yang akan meledak setelah ini, Damian dengan wajah datarnya hanya diam tanpa suara, ia masih menunggu Marco untuk bicara lebih dulu
"apa rencanamu setelah ini?" tanya Marco sambil mengalihkan pandangannya, melihat perkataan Damian yang tadi sepertinya memang bukan candaan, menikahi Alexa bukanlah hal yang sulit untuk Damian, mereka sudah lama dekat dan kemungkinan putrinya itu juga akan menerima Damian
"aku akan menikahinya apapun caranya, aku mencintai dia Mar, kau jangan menjadi penghambat antara kami, dari dulu kau tau bagaimana hidupku selama ini' ucap Damian sambil menyalakan rokok miliknya, ia menyesap benda itu sambil menatap Marco
__ADS_1
"aku tidak melarangnya, tapi cobalah untuk meminta restu dari tante Adelia, aku tau dan aku mengenal tante Adelia kau tidak mungkin bisa menikahi putriku begitu saja" ucap Marco, hal itu memang ada benarnya, Damian putra tunggal keluarga mereka, dan sudah pasti pernikahannya akan diliput banyak orang nantinya
"aku paham akan hal itu, makanya aku ingin meminta bantuanmu lagi, kali ini bukan masalah Alexa ataupun aku, tapi maslaah wanita itu" ucap Damian mengalihkan tatapannya, ia menatap Marco sambil menggerakkan kepalanya, tersenyum seperti orang yang butuh kasihan
"kali ini apa lagi?" tanya raco, ia tau maksud Damian namun ia ingin mendengar sendiri dari mulut sahabatnya itu,." hanya mencari tau tentang wanita itu, berikan juga buktinya" jawab Damian sambil melirik Marco ia sebenarnya tau siapa Rania namun ia hanya ingin memberikan bukti kapada mamanya
"baiklah dengan senang hati aku melakukannya, tapi satu syarat.. besok Alexa tidur dirumahku" ucap Marco tersenyum jahil, ia tau jika Damian tidak akan memberikan izin itu namun dirinya juga ingin menghabiskan waktu bersama putrinya, Marco ingin melakukan banyak hal dengan Alexa
"tidak bisa.., haya bermain namun tidur tetaap disini" ucap Damian kesal, bisa-bisa besok malam ia tidak akan bisa tidur karna Alexa, sudah terbiasa ia memeluk gadis itu jika tidur, dan sekarang enak saja Marco ingin Alexa tidur dirumahnya, Damian tidak akan mau itu
"atau aku tidur disini, bagaimana?' ucap Marco sambil berdiri meninggalkan Damian,, jika pria itu tidak mengizinkan Alexa tidur dirumahnya, maka jalan satu-satunya ia yang tidur dirumah Damian. toh juga semua itu sama ia bisa dekat dan bermain bersama Alexa seharian full
"dasar tidak tau diri.. kau punya rumah sendiri mengapa menumpang dirumahku!!" ucap Damian ikut dibelakang Marco, namun pria itu seolah tuli dan tidak ingin mendengar. " kau mau dibantu atau tidak, kalau tidak ya sudah nanti aku bicara dengan Alexa" ucap Marco tertawa
"tidur disini saja, dasar kurang ajar!!" ucap Damian lalu masuk kedalam kamarnya, masalah hari ini cukup sampai disini. selanjutnya adalah menunggu informasi dar El juga Marco, tentang sepupu Marco, yaotu Martin juga tentang Rania, untuk bukti bahwa wanita itu tidaklah cocok untuknya
sesuatu yang berharga namun sulit didapatkan, itulah waktu jika sudah terbuang maka tidak akan pernah kembali
#fid.nch
#MDIS
__ADS_1