
satu kecupan mendarat dibibir manis itu, dengan tanpa rasa bersalah Marco memperdalam ciuman mereka membuat Rosa sampai menahan nafas sendiri seperti biasa Marco selalu membuat jantungnya hampir copot karna melakukan semuanya serba tiba-tiba*
Marco terus melu*mat bibir manis itu dengan tangannya mulai bergerak dan meraih tengkuk Rosa\, memperdalam ciu*man mereka\, sedangkan Rosa hanya mengkuti gerakan Marco yang terus menuntut didalam dan sibuk mengeksplor dalam bibirnya dengan rakus
"bernafaslah jangan ditahan, nanti kammu bisa mati" ucap Marco menatap Rosa sambil tersenyum, ia menatap manik mata yang selalu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tangannya bergerak dan memeluk pinggang Rosa dengan erat, mengikis jarak diantara mereka
"bagaimana dengan tawaranku kemarin?, apa memang tidak ada kesempatan untukku sama sekali?" tanya Marco menatap maa Rosa dengan serius, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia ingin mereka menikah setelah pernikahan Dammian dan Alexa dilangsungkan
"kamu sudah memikirkannya dengan baik?, aku hanya tidak ingin kamu menikahi ku karna obsesi atau karna merasa kesepian saja" ucap Rosa merasa takut karna ini adalah pengalaman pertama untuknya, meski Marco juga demikian namun tetap saja status mereka sudah berbeda, Marco punya putri bahkan usdah dewasa sekarang
"tidak, aku mencintaimu dan benar-benar merasakannya saat bersama kamu tidak ada rasa obsesi atau apapun. percayalah aku hanya jatuh cinta untuk pertama kalinya dan tolong jangan melukaiku dengan begiu" ucap Marco, tidak apa dia merendahkan harga dirinya didepan wanita yang ia cintai saat ini
"aku menerimanya, tapi aku mohon satu hal. kelak kalau kamu sudah tidak mencintaiku lepaskan aku dengan baik-baik dan jangan pernah mencapakkan aku" ucap Rosa meski ia juga mencintai Marco sama seperti pria itu mencintai dirinya, namun tetap saja ada rasa tidak pantas dalam hati Rosa sampai sekarang
"terimakasih.. makasih sudah mau menerimaku" ucap Marco dengan luapan emosional yang sangat haru dan heboh, ia memeluk Rosa dengan erat daan beberapa kali mengecup kening wanita itu. " aku berjanji tidak akan ada airmata yang jatuh lagi dan hanya daa senyuman dan hanya itu yang boleh" ucap Marco dengan exited
disisi lain, Martin menikmati kopi miliknya dibalkon kamar dan mengingat semua perkataan Marco untuknya beberapa jam yang lalu "mengusik keluarga Adithama sama saja memberikan nyawamu kepada kadang singa" meski terdegar sedikit berlebihan namun itu adalah fakta yang harus ia terima selama ini ia sudah berusaha untuk melakukan semua usaha menghancurkan keluarga itu
__ADS_1
namun apa yang ia dapatkan?,hanya kehancuran yang semakin lama semakin membua dirinya tidak bisa berdiri sendiri. Carlos, nama itu terlalu misteri dan seperti momok untuk Martin hingga dia sulit menembus keluarga itu bahkan tidak bisa menyentuhnya
"mungkin aku memang butuh waktu untuk ihklaskan semuanya, tidak ada hal yang perlu ku sesali" monolog Martin dalam gelap yang sudah menyapa dan bintang yang mulai menemaninya, jikaa diingat-ingat bagaimana perjuangannya dulu sampai saat ini hasilnya nihil tidak terlihat
"maafkan aku Tania, mungkin jika malam itu aku tidak melakukan cara yang salah kau tidak akan pergi dengan cepat dan aku pasti bisa mendapatkan kamu" Martin menangis namun dengan cepat mengusap airmatanya, rasa sakit hati ditinggalkan oleh wanita yang ebgitu ia cintai
cinta pertamanya untuknya, wanita yang pertama kali mampu membuat jantungnya berdetak tidak seperti biasanya, wanita yang mengubah dirinya dan pertama kali mengenalkan cinta dan arti kehilangan padanya dan hari ini Martin resmi mengubur dalam perasaan luka itu
"butuh waktu hampir 20 tahun untuk melupakanmu, dan hari ini aku menyatakan jika aku menang dari perasaan itu dan sudah menguburmu dalam hatiku yang paling jauh dan dalam" ucap Martin dan kembali meneguk kopi miliknya, ikhlas dan melupakan adalah jalan terbaik untuk kita
ia melihat kedepan, masih banyak hal yang harus ia lakukan. umurnya memang sudah memasuki kepala tiga dan mungkin sudah tidak lagi cocok untuk menikah, namun dalam hati Martin ia tetap percaya jika masih ada wanita yang mampu menggantikan Tania, seperti yang dikatakan Marco meski itu hal yang sulit
Rosa yang notabenya tidak tahu menahu tentang latar belakang Marco dari tadi sibuk bertanya tentang keluarga Marco dan masalalunya, kelak jika ia bertemu dengan orang di masalalu Marco, Rosa sendiri bisa mengambil sikap untuk bertindak, ia bisa menempatkan dirinya kelak
"lalu kamu hidup sendiri sudah berapa lama?, kenapa bisa kenal Damian dan lebih dekat dengannya ketimbang Martin, sepupumu sendiri?' tanya Rosa, pembicaraan mereka tidak ada habisnya tentang sisilah Marco, karna jika membahas keluarga Rosa sepertinya Marco sudah cukup tau semuanya
"aku dan Damian sudah berteman cukup lama mulai kami kuliah kalau tidak salah, untuk Martin dia memang sepupuku namun kami juga baru bertemu dan dekat semenjak lulus SMA, namun ketika masalah itu terjadi saat itu aku masih kuliah, Martin menjauh dan kau juga tidak terlalu peduli"
__ADS_1
"aku dan Damian yang sudah dekat sejak awal mulai merintis dari nol membuka perusahaan bersama dan mulai saling membantu, sampai akhirnya masalah demi masalah kami hadapi bersama untuk Martin, aku tidak lagi banyak mencari tau kehidupannya"
"aku sibuk dengan masalah perusahaanku dan juga membantu Damian mencari tau masalalu Tania, dan yahh seperti yang kamu tau hal itu juga tidak jauh dari diriku dan juga campur tangan papa Damian. jika tau begini aku tidak susah dan menghabiskan waku selama hampir 20 tahun didepan komputer" ucap Marco
namun itu bukan menjadi hal yang harus disesali lagi, karna Marco sudah bertemu dengan Rosa wanita yang membuat hatinya jatuh cinta dan merasakan takut kehilangan, selama hidupnya baru kali ini Marco merasa tak ingin kehilangan wanita selain mamanya dari hidupnya
"makasih, makasih sudah mau datang kedalam hidupku dan menerimaku menjadi bagian hidupmu" ucap Marco sambil emmeluk rosa, padahal wanita itu ingin melanjutkan sesi tanya jawab berikutnya, namun melihat Marco yang sudah mulai menahan rasa ngantuk membuat Rosa mengangguk
"ayo tidur, besok kamu ke kantor dan mengurus pernikahan Alexa, kasihan kamu kalau kelelahan bekerja besok" ucap Rosa sambil memperbaiki posisi tidur mereka. Marco yang mencari posisi nyaman dipelukan Rosa tidak mau pindah atau berganti posisi
ia memeluk tubuh Rosa dengan kepalanya diletakkan diantara belahan da*da osa, posisi ternyaman yang ia rasakan sambil bermanja dengan wanitanya, Rosa yang memang jiwa keibuannya sudah mulai keluar tersenyum melihat tingkah Marco yang begitu manja
selama ini orang-orang mungkin mengenal Marco sebagai pria yang dingin dan datar, tidak ada ekspresi namun ternyata dibalik sikap itu Marco juga punya sifat manja seperti kebanyakan pria lain, namun hal itu hanya ia tunjukkan kepada Rosa, wanita yang akan menamaninya sampai tua nanti
"selama tidur, mimpi yang indah ya" ucap Rosa dan mengelus rambut Marco sambil mengcup kening pria itu. Rosa sudah seperti ibu untuk Marco yang dimomong dan bermanja ria. keduanya larut dalam kehangatan malam ini, berbeda dengan Martin yang memeluk guling ditemani dengan harapan beremu penggani Tania, dimasa yang akan datang
kadang seorang pria menunjukkan sikapmnya layaknya anak-anak hanya keada orang yang benar-benar ia anggap rumah ternyaman
__ADS_1
#fid.nch
#MDIS