
Martin menatap gedung kantornya dan menghela nafas pelan, dia masih malu dengan apa yang terjadi dengan dia dan Zania,sekretarsinya itu. sangat menghilangkan kewibawaannya dan juga harga dirinya. bisa-bisanya tadi malam dia melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, dan itu sangat memalukan.
namun ketika Martin ingin masuk kedalam,tiba-tiba dia melihat Zania yang sedang menuju lobby kantor. Martin yang melihat Zania, wajah wanita itu sangat santai dan juga tidak ada beban sama sekali, berbeda dengan dirinya yang semalam tidak bisa tidur hanya karna memikirkan hal itu.
"aku harus bersikap profesional, mana mungkin seorang Martin bisa malu dan malu-maluin sangat tidak ramah" ucap Martin pada dirinya sendiri, sengaja untuk menyemangati diri sendiri. setelah itu Martin langsung melangkah masuk kedalam, tidak ingin mengulur waktu lebih lama.tadi saja dia sudah telat berangkat dari rumah.
Zania yang menatap ruangan Martin masih kosong sedikit bingung,karna biasanya Martin sudaj berada diruangan dijam segini. namun batang hidung pria itu sama sekali belum ada disana, Zania mencari Martin untuk memberi jadwal
"apa kalian melihat tuan Martin?, apa beliau sudah berada dikantor?" Zania bertanya pada staff mereka yang ada diruangan dekat ruangan mereka. Zania menoleh kiri kanan namun tetap saja Martin tidak ada tanda-tanda kedatanganya. "belum ada buk, tuan Martin sepertinya belum ada datang" ucap salah satu staf wanita disana.
"Ohh ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan saja kerjaannya, saya mau cari tuan Martin dulu" ucap Zania dan berpamitan disana. Zania mencoba untuk melihat kebawah, namun saat ingin kebawah Zania berpapasan dengan Martin yang baru sampai dilantai atas. tentu saja keduanya langsung tersenyum kikuk, apalagi Martin yang melihat Zania sesantai itu.
"pagi tuan, saya mencari anda sejak tadi, apa anda telat pagi ini?" Zania menyapa dengan senyuman namun Martin hanya diam tanpa suara, tidam menjawab sapaan Zania sama sekali, ia langsung melangkah lurus tanpa menatap Zania sedikit pun, melihat hal itu Zania merasa kesal denga Martin. Bisa-bisanya pria itu sangat cuek padanya, padahal Zania sudah mau merendahkan hatinya intuk menyapa Martin lebih dulu.
"tuan, ini jadwal anda untuk hari ini. jam 10 nanti ada pertemuan dengan kolega dari Jepang sekaligus makan siang bersama mereka di hotel YH" Zania menjelaskan semua namun Martin hanya berdehem. tidak ada jawaban sama sekali dari pria itu, Martin fokus pada laptop miliknya tanpa menghiraukan kedatangan Zania
__ADS_1
"tuan.. nanti siang ada meeting bersama klien juga namun di caffe seberang perusahaan kita,setelah itu anda bisa pulang lebih dulu karna jadwal anda tidak terlalu banyak hari ini" Zania tetap menjelaskan meskipun Martin tidak mendengarkan dia sama sekali. Martin tetap sibuk dengan pekerjaannya. ia masih tidak ingin melihat wajah Zania, bisa-bisa ia harus menghindari wanita ini.
"tuan..apa anda harus seperti ini pada saya? anda harus mendiamkan saya,harusnya anda bisa profesional dengan pekerjaan anda dan tidak harus mendiamkan saya begini, anda keterlauan sekali!!" Zania marah dan kesal karna Martin mendiamkannya begitu saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut pria itu, sama sekali tidak prefesional.
"apa yang kau ributkan,Zania?. apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain membuat ribut disini" Marti menatap Zania dengan tajam dan dingin. Zania yang ditatap seperti itu langsung menciut nyalinya. tidak berani menatap mata Martin lagi, dia mundur saat Martin berdiri dan melangkah kearahnya, pria itu seperti kerasukan sesuatu saat ini
"apa kamu mau saya profesional, saya harus menjawab ucapanmu?. kamu ingin mendengar suaraku?" Martin menanyakan semua hal itu sambil mendekat dan manarik tubuh Zania kedekatnya. "ahkk..tuan.." Zania menatap Martin dengan mata yang bingung, seolah mengatakan Martin tidak seharusnya melakukan hal ini.
"kenapa?, takut atau masih ingin mengulang hal yang kita lakukan tadi malam?,atau mau lebih dari itu?" Martin semakin mendekatkan wajahnya kepada Zania, sampai wanita itu menarik wajahnya dari depan Martin dan membuang muka. tidak bisa menatap Martin lama-lama, saat ini saja jantungnya sangat tidak baik-baik saja. Zania merasakan debaran jantungnya yang sangat kuat.
"tuan..jangan seperti ini,,bagaimana kalau ada yang melihat kita, nanti mereka berfikir yang aneh-aneh" ucap Zania, masih berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Martin. ia benar-benar takut jika pria itu sampai nekat untuk melakukan hal itu padanya, cukup tadi malam Zania dibuat tidak berkutik didepan Martin
"jangan memancing ku, Zania. aku tidak akan teloransi dengan kamu jika sampai memancingku, ingat!! kamu milikku mulai malam tadi" ucap Martin dan langsung menarik Zania kedekatnya. mencium bibir ranum itu dan langsung melu*matnya dengan rakus, Zania yang menerima perlakuan tiba-tiba itu langsung terkejut dan berusaha untuk mendorong Martin.
"emmhpp.... eughh" Zania tidak bisa menahan suaranya dan keluar begitu saja. saat tangan Martin bergerak menuju squishi Zania dan berusaha untuk melepaskan kancing baju Zania. "tuan... emmhh... jangan" suara Zania terbata namun entah kenapa dia juga tidak bisa menolak sentuhan Martin, seolah tubuhnya menginginkan hal itu, dan ingin lebih dari itu.
__ADS_1
"jangan ditahan suaranya, aku menyukainya" ucap Martin dan meraih remot jendela untuk menutupnya, takut jika ada yang datang dan melihat aksi mereka berdua. kalau Martin sendiri sih tidak apa,namun dia memikirkan Zania. tidak ingin wanita itu terkena kasus di kantornya, ia juga malu jika dilihat orang lain sedang mesum di kantor.
"tuan...aku mohon..jangan begini", Zania yang masih sadar tetap berusaha bicara dengan Martin dan mendorong kuat tubuh kekar itu, namun tetap saja Martin tidak merasakan apa-apa. malah semakin dekat dan meraih tengkuk Zania, semakin menekannya untuk memperdalam cium*an mereka. tidak hanya sampai disitu saja, Martin juga menuntun Zania untuk duduk ke sofa ruangan itu.
tangan Martin membuka kancing baju Zania dan semakin menekan tubuh Zania, baju Zania sudah terbuka bagian atas. dengan usahanya Zania menutupi bagian atasnya, namun Martin menahan tangan Zania dan membawa keatas kepala Zania, ia mengukung tangan itu sampai Zania tidak bisa melakukan apa-apa lagi, ia hanya memalingkan wajahnya dari Martin.
"menikahlah denganku, Zania. mungkin ini terkesan mendadak, namun aku tidak sedang bercanda, aku serius untuk mengajakmu membina rumah tangga" ucap Martin menatap manik mata Zania dengan dalam, Entahlah apa yang dia katakan ini adalah murni dari hatinya, yang pasti Martin tidak ingin Zania dimiliki pria lain,selain dirinya.
"hahaha... apa tuan bercanda padaku?, jangan begini tuan, saya mudah baper" ucap Zania sambil tertawa menatap Martin. ia masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan pria itu padanya. bisa-bisanya mengajaknya menikah padahal mereka berdua sama sekali tidak punya hubungan spesial apapun.
"apa wajahku terlihat sedang bercanda?," Martin menatap mata Zania, pria itu benar-benar ingin menikahinya. tentu saja Xania sedikit syok dan tidak tau harus mengatakan apa. ia bingung dengan perasaannya sendiri, bingung caranya menolak atau menerima. "tuan.. saya tidak bisa menjawab, berikan saya waktu memikirkannya" ucap Zania dan menatap Martin, ia melihat tatapan pria itu memang tidak sedang bercanda.
namun mengajaknya menikah,bukankah itu sesuatu yang sangat aneh dan terkesan lucu, mereka tidak sedekat itu untuk memulai hubungan baru, juga Zania tidak pernah memikirkan akan menikah dengan Martin, pria yang selalu dia omelin di kantor dan selalu membuatnya naik darah. "baiklah, waktumu sampai minggu depan menjawabnya, tapi kasih aku kesempatan untuk menegaskan hubungan kita, mulai sekarang kamu kekasih dari Martin Alexander" ucap pria itu dan mengecup lembut kening serta turun ke leher Zania.
...#fid.nch...
__ADS_1
#MDIS