
malam hari sekitar jam 3, Alexa merasa perutnya mulas dan sangat sakit. ia mencoba untuk duduk dan merilexkan tubuhnya. namun semakin dia mencoba untuk kuat rasa sakit itu semakin terasa. ia langsung membangunkan suainya yang amsih tdiru pulas disampingnya. Alexa bahkan menjambak rambut Damian, sampai pria itu terbangun dengan kepalanya yang sakit.
"kenapa sayang?, apa kamu butuh sesuatu?' ucap Damian, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya dan juga ia masih sangat ngantuk. namun ketika melihat ekspresi Alexa yang kesakitan. Damian alngsung abngun dan menatap istrinay itu. "sakit sekali.. aku sepertinya akan melahirka mas" ucap Alexa sambil meremas sprei
dengan cepa Damian menelfon mamana untuk bangun dan juga ia langsung menggendong Alexa turun kebawah. ia tidak mau menunggu lama lagi. Damian membawa Alexa tanpa memikirkan apapun lagi, demi melihat wajah kesakitan istrinya itu membuat Damian sangat tidak tega, seolah ikut merasakan sakit yang dialami oleh Alexa.
"mama...papa.. Martin.. bangunlah!!" Damian berteriak sekeras mungkin agara mereka semua terbangun. ia juga langsung mendudukkan istrinya disofa dan memgambil kunci mobil. ia tidak tau harus melakukan apa lagi. untungnya Adelia langsung terbangun dan turun kebawah melihat mereka.
"sayang ada apa?, apa kamu akan melahirkan malam ini?" ucap Adelia sambil menghampiri Alexa. ia juga menyuruh suaminya untuk menemui Damian. "cepatlah pa.. kasihan Alexa menahan lama" ucap Adelia yang ikut panik, melihat Alexa yang sudah keringatan dan juga ketubannya sudah pecah
"MARTINNNN!" Adelia mengerahkan semua kekuatannya untuk memanggil Martin. tentu saja pria itu langsung bangun dan turun kebawah. ia melihat semua orang sudah panik dan tidak tau harus melakukan apa. " kau yang menyentir dan biarkan Damian membawa Alexa" ucap Adelia. ia juga mengambil tas berisi keperluan Alexa yang sudah mereka persiapkan sejak lama
Dmaian kembali menggendong istrinya dan membawa masuk kedalam mobil. mereka semua langsung melaju tanpa berfikir panjang. Alexa meringis kesakitan bahkan sampai menangis. ia tidak tahan dengan rasa sakit yang melanda perutnya. Alexa sampai menggigit lengan suaminya untuk menyalurkan rasa sakit itu.
"tahan sebenar sayang, kita akan sampai. kumohon bertahanlah sebentar" ucap Damian sambil mengecup kening Alexa. ia juga kasihan melihat istrinya itu, Damian tidak tega namun ia juga tidak bisa berbuat banyak. ia tidak tau harus apa untuk membuat Alexa tidak kesakitan lagi.
"sakit sekali mas.. aku tidak tahan.. ini sakit sekali" ucap Alexa menangis, ia sangat tersisak namun ia juga tidak boleh menyerah begitu saja. jika mengingat anaknya didalam Alexa kembali bersemangat meskipun harus bersusah payah dan menahan semua rasa sakit itu.
"sayang bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai. Martin cepatlah sedikit" ucap Damian, ia terus menyemangati istrinay dan juga mengajak Alexa berinteraksi. Damian tidak ingin hanya istrinya seorang yang merasakan sakit itu. ia sudah melihat beberapa video melahirkan dan membuatnya ngilu sendiri.
sampai akhirnya mereka semua sampai di rumah sakit, dan Damian langsung membawa Alexa amsuk. ia memanggi dokter untuk cepat menangani isrinya. para dokter dan suster datang dan langsung membawa Alexa masuk kedalam ruang perslainan, Damian tidak tinggal diam dan ikut masuk kedalam
"sudah pembukaan sepulih, tuan harus siap untuk menyemangati nona, juga nona harus berusaha kuat agar bayinya bisa lahir dengan sempurna" ucap dokter itu menjelaskan. Damian mengangguk juga Alexa yang sudah tidak tahan untuk mengejan. ia mulai memperhatikan suara dokter itu sambil melakukannya
__ADS_1
"mengejan dengan keras nona.. ayoo kepalanya sudah mulai terlohat" ucap dokter itu dan terus menyemangai Alexa, sedangkan Damian terus memegang tangan Alexa tanpa mau melepaskannya. ia juga merasa sakit dibagian punggungnya yang diremas dan juga dicakar oleh Alexa. namun dibanding itu semua Damian tau apa yang dirasakan istrinya itu
biarlah dia juga merasakan apa yang diraskaan oleh Alexa. ia juga tidak mau hanya istrinya itu yang merasakan sakit saat melahirkan. setidaknya dia merasakan saat istrinya itu mencakar dan juga menusuk punggungnya dengan jari-jari tajam Alexa. Damian sempat meringis beberapa kali
"ayo nona.. sedikit lagi.. sedikit lagi mengejan lebih kuat" ucap dokter itu mengarahakan Alexa. dan tentu saja Alexa melakukannya sambil berteriak, memangis, semuanya bercampur menjadi satu. tidak tau apa yang harus ia lakukan hanya saja Alexa ingin anaknya keluar dengan cepat dan dirinya bisa bebas dari kesakitan ini.
"akhirnya.. berkat kerja keras mamanya, anak kalian lahir dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun. silahkan dibawa dulu dan nanti kalian bisa langsung masuk ke ruang rawatm bayinya mau dibersihkan lebih dulu' ucap dokter itu sambil tersenyum, ia memberikan baby kepada suster yang membantunya.
sedangkan Alexa langsung pingsan setelah melahirkan. ia kehabisan tenaga, melihat hal itu Damian sanagt ketakutan dan hampir saja marah namun langsung dijelaskan oleh dokter itu dan menerima keadaan istrinya. Damian keluar dengan perasaan campur aduk., senang dan juga sedih karna isrina pingsan dan harus melakukan perawatan.
"bagaimana sayang, apakah semua berjalan lancar" ucap Adelia,menatap Damian sambil meleuk pira itu. Damian sangat lemas setelah kelaur dari ruanagn persalinan itu. dia tidak bisa membayangkan jika istrinay melahirkan dua atau tiga kali lagi dan harus melihat Alexa kesakitan begitu.
"baik ma, semuanya baik. tapi istriku sedang dibersihakn dan pingsa setelah melahirkan" ucap Damian. ia menangis dipelukan mamanya. tidak bisa menahan rasa haru bercampur ketakutannya. ia sangat takut ketika melihat Alexa sampai menghela nafas panjang berkali-kali, berteriak kesakitan dan langsung pingsan begitu saja.
"tenanglah, semua akan baik-baik saja. kamu tidak perlu kawatir" ucap Carlos yang menepuk bahu Damian. ia juga pernah diposisi Damian dan memang rasanya gamang dan sangat aneh. tidak tau harus melakuakn apa dan merespon seperti apa. yang pasti senang, namun juga takut.
aku meliat bagaimana istriku berjuang untuk melahirkan anak kami. aku pikir tidak akan sesakit itu dan juga tidak sesulit itu, namun ketika leihat wajah dan juga airmata istriku yang etrsu emnaglir. aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya melahirkan itu. melihat itu saja aku tidak sanggup
aku hanya ingin dua orang yang aku sayangi ini baik-baik saja. aku takut istriku yang masih sangat rentan seperti yang dikatakan dokter kemarin, usia istriku masih sangat muda dan kemungkinan akan sulit saat melahirkan. bahkan dokter itu menjelaskan kalau istriku tidak sanggup maka ada kemunginan yang sangat buruk akan terjadi
itulah yang aku takutkan saat ini, saat melihat istriku berteriak begitu keras dan juga menekan kukunya dipunggungku. begitu menyakitkan ternyata, aku takut kehilangan dia. jika saja tadi sesuatu itu terjadi pada dia. mugkin aku akan memilih untuk mempertahankan istriku saja.
tidak sanggup melihatnya begitu, sampai akhirnya anak kami lahi dengan selamay. namun aku melihat istriku labgsung pingsan, hal itu membuat atiku sangat sakit. namun untung saja dokter itu menjelaskan dengan baik, aku bisa bernafas lega. namun tetap saja aku merasa tidak tenang sebelum istriku sadar.
__ADS_1
dan disinilah kami, aku bersama istriku yang sudah sadar. melihat mereka berdua tidur diranjang yang sama. anak kami sangat rakus mengambil bagianku, dia menggantikan posisiku disamping istrku. namun bagaimana pun aku sangat bersyukur mereka berdua selamat dan juga sehat.
melihat pemandangan itu hatiku merasa senang dan juga bahagia. ternyata bahagia itu sangatlah sederhana. tidak perlu uang atau harta lainnya, hanya perlu melihat orang yang kita sayang dan tentunya sudah bahagia. itulah yang aku rasakan saat ini.
menatap mereka berdua, yang satu tidur dan istriku terjaga. awalnya ia enggan untuk memberikan asi kepada anak kami. katanya sedikit bereda dan juga risih. namun karna ada mama yang mengajarinya membuat istrku sedikit pagam dan mau tak mau harus menyusui anak kami
"sayang.. apa kalian sudah punya nama untuk anak kalian?" tanya mama padaku, tentu saja aku sudah mempersiapkan semuanya, tidak perlu ditanya lagi. tentunya nama yang sangat bagus kuberikan pada anak kami. kalian pasti bertanya apa jenis kelamin anak kami bukan?, ya dia lahir seperti aku, laki-laki yang gagah dan juga kuat.
"sudah ma, aku akan memberikannya kalau sudah pulang" jawabku sambil tersenyu,m. sedangkan putra kami masih asik tidur disamping istriku. ada hal yang berbeda saat melihat mereka seperti itu. dan kau sanagt bangga pada diriku sendir, ternayta bibit yang aku tanam itu sangat berhasil dan sangat tampan.
"kapa kata dokter Alexa bisa keluar, nak?' kali ini papa ku yang bertanya. biasanya dia tidak banyak bicara namun ktika melihat cucunya sudah didepan mata mmebuat papa juga kepo dan senang. "mungin satu minggu lagi pa, kata dokter harus ada perawatan khusus" jawabku dengan sneyum
pov end
Alexa menatap putranya yang sudah lahir dan sekarang berada disampingnya. sedang tertidur dan sangat menggemaskan. Alexa tersenyum dan menangis. ia sangat beahagia dengan kehadiran putra mereka saat ini. semuanya sudah lengkap dan sekarang semakin lengkap
"dia sangat mirip dengan kamu mas, sangat tapan dan menggemaksan" ucap Alexa denga pelan, tenaganya belum pulih sepenuhya dan dia harus beristirahat seperti yang dikatakan oleh dokter tadi. " iay sayang.. sangat mirip denganku, kamu bahkan tidak kebagian" jawab Damian tertawa kecil
"curang a mas, aku yang mengandung tapi tidak kebagaian sedikitpun" Alexa tersenyum. dia tidak menyesal apalagi marah. ia malah senang dan juga bahagia. akhrinya penantian mereka selama sembilan bulan ini bberbuah sangat manis dan juga sangat indah dimata
Martin yang melihat hal itu ikut bahagia, ia berharap suatu saat nanti akan merasakan seperti itu. ia ingin juga menamani istrinya annti saat-saat engandung dan melahirkan. sepertinya cukup menarik dan mmebuatnya semakin tidak sabar untuk menikahi Zania.
"Martin.. kau kapan menyusul nak?, semuanya sudah menikah tinggal kamu saja" ucap Adelia memecah keheningan diantara mereka. pria itu alngsung etrsadar dari lamunannya dan menatap mereka dengan heran." mungkin bulan depan, ma. tunggu saja kabar baiknya" jawab Martin dengan tersenyum dan membayangkan wajah Zania.
__ADS_1
#fid.nch
#MDIS