My Daddy Is Suamiku

My Daddy Is Suamiku
BAB 93


__ADS_3

Martin keluar bersama Alexa karna bumil itu sibuk mengetuk pintu kamarnya, hal itu membuat Martin cepat-cepat untuk keluar kamar dan menatap Alexa dengan kesal. "kenapa ribut banget sih Al, om lagi siap-siap jadi gak tau lagi mau ngapain nih" ucap Martin sambil membawa dasinya yang belum terpasang sama sekali


"dihh apaan sih om, orang cuma manggil doang. kasihan noh pacar om nungguin diluar dari tado" jawab Alexa menyebikkan bibirnya, kesal karna dimarahi oleh martin. padahal niatnya baik hanya memanggil pria itu, tapi malah dia yang kena omel. "dia sudah menunggu lama?" tanya Martin sambil turun bersama Alexa


"gak tau, liat aja sendiri sana" jawab Alexa ketus dan meninggalkan Martin begitu saja. ia kembali bergabung bersama suami dan mertuanya dimeja makan. sedangkan Martin dengan kesalnya mencibir Alexa dan melangkah keluar rumah, tanpa pamitan karna takut Zania menunggunya lama diluar rumah.


"maaf membuatmu menunggu lama, tadi ada orang yang ngeselin manggil dikmaar" ucap Martin sambil melangkah duluan kemobil. Zania yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengikuti Martin masuk kedalam mobil. ia langsung duduk didepan mobil, berbeda dengan sebelumnya yang selalu duduk disamping Martin.


"tidak apa tuan, saya mengerti" ucap Zania sambil menatap kedepan. ia tidak lagi berani membuat Martin marah atau sekedar melakukan hal diluar pekerjaaannya. ia tau selama ini interaksinya dengan Martin seperti bukan bos dan karyawan, dan Zania sadar akan hal itu. mulai sekarang dia akan mengubah hal itu.


"baiklah kita berangkat sekarang" ucap Martin dan menatap lurus kedepan. ia merasa ada yang berubah dari sekretarsinya itu, namun Martin tidak mengambil pusing hal itu. mereka hanya sekedar hubungan bos dan karawan tidak lebih dari itu. sedangkan Zania hanya memainkan ponselnya, sibuk sendiri dengan benda pipuh itu.


dua puluh menit mereka dijalan dan baru saja mereka sampai ditempat yang tertera dalam undangan itu. Martin langsung melangkah kedepan dan mendahului Zania, dia masuk kedalam pesta dan menyapa beberapa kolega bisnisnya disana, tak lupa juga dia menunggu Zania yang menjadi psangannya dipesta itu.


"tuan Martin akhirnya anda datang ke undangan saya, saya pikir tidak datang kesini" ucap tuan Haruko sambil menjabat tangan Martin. mereka sudah lama bekerjasama namun Martin selalu menolak undangannya, pria itu sangat susah untuk diundang kepesta keluarganya.


"iya tuan, saya pikir ini salah satu bentuk kerjasama kita sebagai kolega" jawab Martin tersenyum, padahal senyuman itu adalah palsu. dia sangat malas untuk datang ketempat ini, namun karna Zania memaksanya maka dia mau tak mau harus pergi dan tidak mau mendengar omelan Zania lagi.


"baiklah tuan, ayo kesana untuk menuangkan minuman untuk kita" ucap tuan Haruko sambil membawa Martin ketempat keluarganya, sengaja melakukan hal itu untuk memperkenalkan Martin pada putrinya. karna putri Haruko menginginkan Martin dan mengincar pria itu, putrinya tertarik dengan Martin.

__ADS_1


"hallo selamat malam tuan, nyonya" ucap Martin sambil tersenyum, ia duduk disamping tuan Haruko dan mengajak Zania juga untuk duduk disampingnya. Martin tidak mau berjauhan dari Zania karna dengan begitu putri dari tuan Haruko tidak mendekatinya dan Martin bisa tenang.


"malam Martin.. kamu datang kesini kok gak bilang sama aku?' ucap Haruya sambil mendekati Martin, wanita itu sampai mendorong Zania yang duduk disamping Martin untuk dirinya bisa duduk diantara keduanya. senyuman wanita itu membuat Zania menatap dengan tajam dan kesal.


jika saja bukan putri dari rekan bisnis mereka, mungkin Zania sudah membalas perlakuan wanita itu. dia akan membalas lebuh dari apa yang dilakukan wanita itu padaya. " baik!" jawaban singkat Martin sambil mengambil minumannya dan meletakkannya diatas meja, pandangan Marrtin tidak beruba sama sekali.


"apa bisnismu berjalan dengan lancar?, aku bisa bantu kapan pun kamu mau" ucap Haruya sambil berusaha untuk mengambil alih pandangan Martin. namun tetap saja pria itu tidak tertarik untuk bicara dengannya. " tidak usah, aku sudah punya sekretarisku yang mau membantuku" jawab Martin sambil menatap Zania


wanita itu sama sekali tidak mendengarkan mereka, ia bahkan sibuk dengan rekan bisnis Martin yang lain dan mengajaknya bicara. Zania melupakan sejenak kekesalannya dengan wanita bernama Haruya itu. Zania tertawa sambil menikmati pembicaraan diantara mereka, bahkan sampai menutup mulut sangking lucunya


Martin yang melihat itu sedikit kesal dan emosi, ia langsung berpindah tempat dan mendekati Zania. memasang wajah yang datar dan sangat dingin, hal itu membuat Zania sedikit merasa tidak nyaman juga karna mata Martin terus memperhatikan dirinya, bahkan pria itu tidak fokus pada pembicaraannya dengan kolega bisnisnya.


Zania yang melihat perubahan raut wajah Martin merasa aneh, apalagi ketika pria itu meninggalkan meja mereka dan memberi kode untuk mengikuti Martin. Zania tidak ambil pusing dan berpamitan pada teman ngobrolnya untuk ke toilet, tidak lupa juga dia membawa tasnya siapa tau Martin ingin mengajaknya pulang.


Martin menuggu Zania dihalam belakang rumah itu. dengan wajah yang pias karna marah dan juga jantungnya yang berdegup kencang, entah mengapa dia merasa aneh dan juga tidak suka ketika Zania didekati oleh pria lain selain dirinya, apalagi ketika pria yang bersama Zania tadi menyentuh lengan Zania.


"ada apa tuan?, mengapa mengajak saya kesini?, apa anda tidak nyaman dan mau pulang saja?' Zania bertanya dengan wajah polosnya, ia juga mendekati Martin dan menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat. tentu saja Martin yang masih kesal dengannya langsung membuat wajah dingin


"apa kau merasa senang dekat dengan pria itu Zania?" pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Martin dan menatap Zania dengan tajam. dia bahkan menunjukk wajah Zania dan mengusap wajahnya kasar. entah mengapa dia bisa semarah ini pada Zania yang tidak bersalah sedikit pun padanya.

__ADS_1


"maksud tuan apa?, apa tuan marah karna saya dekat dengan pria itu?, apa tuan secara tidak langsung cemburu?' tanya Zania dengan heran. tidak biasanya Martin bersikap seperti itu padanya, apalaigi bicara dengan ketus dan sedikit menyinggu untuknya, setau Zania, Martin tipe pria yang lembut dan juga perhatian.


"siapa yang cemburu?, aku hanya bertanya apakah kau menyukai pria itu, sampai dekat-dekat dengannya dan sangat bahagia?' Martin mengulang pertanyaan itu dan kembali menatap Zania. namun tatapan kali ini lebih teduh dan juga seolah mengatakan jika dirinya sangat membutuhkan jawab Zania.


"saya suka dengan pria itu sepertinya dia tipe penyayang dan juga perhatian. namun bukan berarti saya mencintainya dan ingin bersamanya, tuan" jawab Zania ketus sambil menatap Martin dengan tajam. ia merasa seolah Martin sedang meremehkan dirinya karna sudah bicara dengan pria yang sejajar dengan Martin kedudukannya.


"aku tidak mengatakan kalau kau mau bersamanya, aku hanya bertanya!' ucap Martin dan melangkah maju mendekati Zania, aura pria itu tiba-tiba berubah dan udara disekitar Zania juga mulai dingin. ia merasa jika Martin salah minum obat dari rumah, sikapnya malam ini sangat berbeda


"tua..tuan... anda...mau.. apa?' Zania terbata dan tidak jelas bicara. ia merasa gugup saat Martin menarik pinggangnya dan memeluknya dengan erat. tangan pria itu sangat kuat sampai Zania sulit untuk melepaskan dirinya. " diamlah.. jangan banyak gerak" jawab Martin dan menarik Zania sampai mereka berpelukan.


"jangan mendekati pria manapun Zania, aku tidak suka dan tidak ingin kau bersama pria lain" ucap Martin sambil mengeratkan pelukannya tanpa sadar Zania menahan sesak dari tadi. wanita itu merasa jika ada hal yang aneh dengan bosnya. entah setan apa yang merasuki Martin saat ini


"tuan... saya.. tidak bisa bernafas" ucap Zania sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Martin. pria itu langsung tersadar dan menatap Zania dengan fokus tanpa berkedip. tidak terasa Martin menarik leher Zania semakin mendekat dan mulai menyentuh bibir Zania dengan tangannya


"tuan.. ada orang disana" ucap Zania menunjuk arah samping mereka. dan tentu saja ada orang yang meligat mereka dan itu adalah Haruya, putri dari kolega Martin yang membuat acara malam ini. Haruya melihat apa yang barusan ingin mereka berdua lakukan dan wanita itu pergi begitu saja sambil menangis


#fid.nch


#MDIS

__ADS_1


__ADS_2