
seperti yang telah dikatkan Damian, bahwa orangtuanya akan datang untuk menghamliri mereka ke Itlia. dari kemarin Adelia sudah khawatir tentang putranya itu, ia taku jika sampai Alexa masih menolaknya dan akan memperpanjang waktu mereka bertemu kembali, Adelia sudah sangat merindukan menantunya itu
pagi tadi, ketika Damian menlfon suaminya dan memberitahu bahwa Alexa sudah menerimanya dan juga menantu mereka itu sudah memaafkan Damian kembali, Adelia sangat senang mendengar kabar itu, ia sampai menyuruh suaminya untuk mempersipakan tiket mereka saat itu juga, tidak memikirkan jika suaminya masih menyesap kopi miliknya.
"sabarlah ma, papa juga ingin segera bertemu dengan menantu kita namun bukan begini caranya. papa masih menikmati kopi ini malah dipaksa untuk bersiap" ucap Carlos yang merasa kesal dengan istrinya itu. padahal baru saja dia duduk dan menerima kopi itu dari istrinya tapi sudah disuruh untuk menyiapkan tiket
"kan bisa dikerjakan sekaligus pa, lagian cuma booking tiket doang" ucap Adelia, ia masih menangis karna kabar baik yang mereka terima pagi ini. tadinya mereka khawatir karna Damian tidak ada dikamarnya setelah mereka bangun. takut putra mereka itu melakukan hal yang aneh, dan membuat Adelia merasa khawatir sekali
"iya sabarlah. lagian kenapa harus booking tiket kan ada jet. untuk apa beli itu kalau tidak dipakai" jawab Carlos mash santai, namun ia menggerakkan tangannya untuk menghubungi tangan kanannya untuk menyuruh pegawai mereka membawa jet keatap rumah mereka untuk digunakan dalam penerbangan mereka
"oh iya ya, kok mama sampai lupakalau kita punya jet, astaga ini gara-gara papa sih tidak bisa diajak bicara" ucap Adelia dan meninggalkan suaminya begitu saja. ia memilih untuk bersiap lebih dulu karna jika menunggu suaminya itu akan menghabiskan banyak waktu dan semakin lama mereka berangkatnya.
"cepat habiskan kopimu itu, aku beri waktu lima menit. belum naik awas kau kutinggalkan" ucap Adelia dan melenggang masuk kedalam kamarnya. mendnegar itu Carlos mendegus kesal dan segera melakukan perintah sang istri, tidak ingin istrinya mengomel lebih banyak dan lebih panjang lagi.
setelah melewati drama dalam keluarga mereka, Adelia dan Carlos akhirnya brangkat menggunaka jet pribadi keluarga mereka. keduanya terlihat sedang istirahat untuk menunggu sampai dirumah Martin. padahal mereka juga punya apartemen di Italia, tapi Alexa tidak ingin tinggal disana, katanya lebih nyaman tinggal dirumah omnya
Damian tidak bisa menolak atau bahkan memberikan saran lain, jika istrinya itu mengatakan A harus A tidak boleh A- atay A+. karna itu akan menjadi perdebatan dan membuat dirinya salah dimata istrinya., tidak hanya itu lebih parahnya lagi istrinya nanti marah dan membuatnya tidur diluar, Damian mana mau itu terjadi pada dirinya.
"sweety.. ini minum susu dulu, sebentar lagi mama dan papa akan sampai" ucap Damian dan memberikan segelas susu kehamilan pada istrinya itu. Damian masih menyempatkan waktunya membeli susu itu kepada istrinya agar tidak lupa jika baby juga butuh asupan nutrisi
"makasih hubby, kamu tidak capek? tadi malam kesini dan tidak ada istirahat. tidurlah sebentar selagi menunggu mama dan papa sampai, sini" ucap Alexa sambil menepuk pahanya agar suaminya itu tidur dan istirahat sebentar, kasihan juga melihat Damian yang mulai kurus dan juga pipinya terlihat semakin tirus begitu.
__ADS_1
"baiklah sweety.. makasih sudah mau memaafkan ku sayang, kamu yang terbaik dan akan selalu begitu" ucap Damian tersenyum. ia tiduran disamping istrinya, tidak mau membuat Alexa kesakitan karna menhaan kepalanya di paha istrinya itu. "tidurlah jangan banyak bicara lagi" jawab Alexa sambil tersenyum mengelus kepala Damian.
berbeda dengan mereka semua, Martin merasa kelelahan mengurus semua berkas laporan yang ada diatas ejanya. ditambah lahi Zania yang terus mengomel padanya karna belum menyentuh makanan yang dibelikan oleh wanita itu. semakin membuat otak Martin kacau dan tidak bisa fokus gara-gara suara Zania terngiang diotaknya
"dari tadi bekerja terus, sudah jadi orang kaya pun masih terobsesi dengan uang. kalau mati baru tau rasa nanti gak bisa nikmatin uangnya" Zania bicara dimejanya namun suaranya terdengar sampai dimeja Martin, dan itu membuat Martin tidak bisa fokus. ia tau wanita itu membicarakan dirinya dan menyindir dirinya.
"sekarang saja tidak sakit. nanti kalau sudah masuk rumah sakit baru deh gak bisa kerja lagi" dengan tangannya terus bekerja Zania terus mengomel seperti bebek dan sesekali menatap Martin yang terus menatap komputer juga berkas ditangan pria itu, Zania bukannya sok perhatian hanya saja kasihan melihat Martin yang terlalu obses kerja
'"jangan mengomel lagi disana bebek, kemarikan makanan itu aku akan makan sekaranf" ucap Martin, bosan mendengar Zania yang hampir setiap hari mengomel hal yang sama yaitu tentang makan. bahkan Zania pernah menyodorkan satu sendok nasi kedepan Martin karna pria itu bekerja sampai malam dan tidak ingat makan
"ambil aja sendiri, udah disediakan juga masih malas ngambil. kan tuan punya tangan sendiri" jawab Zania. dia tidak ada takutnya pada Martin malah menganggap Martin seperti bestinya yang bisa ketus bicara padanya. Martin tidak habis pikir kenapa dia bisa merekrut Zania sebagai sekretaris pribadinya dulu.
"ambilakan dulu sebentar, ini masih ada pekerjaan yang ahrus aku selesaikan, Zania!!' Martin sengaja memanggil sekretarisnya itu dengan namanya, karna ia tau jiak begitu Zania akan langsung bergerak. dan tentu saja, wanita itu berdiri dari kursinya dan mengambil makanan yang ia beli tadi
"bukalah mulut tuan, saya akan menjadi hamba disini untuk menyuapi anda makan siang!!" uxap Zania dengan teus, tanpa menunggu lagi Martin langsung membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari tangan wanita itu. dia menatap Zania yang serius menyuapinya, wajah imut wanita ini membuat Martin sedikit tertarik, catat ya, sedikit!
"lanjutkan makannya, aku masih banyak pekerjaan" ucap Zania memberikan tempat makan itu pada Martin. dengan terkejut Martin menerimanya dan menatap Zania yang kembali pada tempat duduknya. pria itu menggerutu dalam hati, ia kesal dengan sekretarisnya yang sialan itu.
"untuk kerjasama dengan perusahaan WG apa kau sudah menyiapkan berkasnya?, aku ingin melihat laporan keuangan mereka dan perkembangan bisnis mereka" ucap Martin namun sambil menikmati makannaya. ia menatap Zania yang mengambil berkas dan menaruhnya diatas meja
"menurutku kedepannya kita perlu evaluasi pekerjaan mereka, dan jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk kerjasama, karna dari dua bulan ini kinerja keuangan mereka sangat menurun" Zania memperlihatkan berkas berisi laporan keuangan perusahaan WG
__ADS_1
"beritahu mereka untuk melakukan meeting dengan kita. hubungi sekretaris perusahaan itu besok kita meeting disini" ucap Martin dan langsung diangguki oleh Zania. "tuan jangan lupa nanti malam ke undangan pesta perusahaan AA" ucap Zania mengingatkan Martin, karna biasanya jika pria itu banyak pikiran akan lupa dengan jadwal yang sudah dikasih tau Zania padanya.
"baiklah, nanti malam jemput aku dirumah, jangan telat namun jangan terlalu cepat juga. kau bersiap juga untu jadi pasanganku kesana" ucap Martin dan menyuruh Zania untuk duduk kembali. ia malas kepesta itu namun karna kolega bisnisnya mau tak mau Martin harus datang, ia juga tidak punya alasan menolak undangan itu
Zania sibuk memikirkan nanti malam dipesta, ia memang sering kepesta namun bukan pesta seperti ini. dia bingung harus melakukan apa nanti disana, harus memakai baju apa. ia bahkan tidak punya baju yang layak karna selama ini tidak pernah kepesta yang besar, masa ia harus membeli baju baru untuk malam ini?
"sayang.. mama datang yuhuuuu.. sayang.." Adelia berteriak didalam rumah itu dan langsung berlari mnecari menantunya. ia tidak sbaar lagi untuk bertemu dengan Alexa. ia merindukan wanita itu. sedangkan Carlos yang sudah tidak heran lagi melihat tingakh istrinya hanya ikut melangkah dari belakang
mendengar suara yang tidak asing ditelinga. Alexa langsung berdiri dari sofa tanpa membangunkan suaminya, kasihan Damian jika dibangunkan dalam keadaaan seperti ini. baru saja suaminya itu tdiur dengan baik, ia tidak tega membangunkannya. "mama ssstttt" Alexa memberi isyarat pada mertuanya itu
"kenapa sayang.. aaa mama merindukan kamu, astaga sudah lama tidak melihat cucu mama" ucap Adelia, Alexa tersenyum dan membawa mertuanya itu untuk duduk. mereka duduk dseberang kursi yang ditempat oleh Damian, pria itu tidak terganggu sedikitpun, sepertinya memang sangat lelah beberapa hari ini
"bagaimana kabarmu sayang, apa kamu kesulitan selama disini?, apa ada yang kamu rasakan misalnya mau makan apa? atau mungkin mau melakukan apa?' tanya Adelia sambil mengelus perut Alexa dengan lembut. ia masih merindukan cucunya itu bergerak dan merespon sentuhannya
"tidak ada ma, aku baik-baik saja disini. aku suka disini makanya mau lahiran disini saja" jawab Alexa sambil tersneyum. sedetik kemudian baby terbangun dan langsung bergerak, merasakan sentuhan dari omanya membuat baby ingin bermain juga dengan omanya itu.
"dia merespon mama sayang, aaa baby sudah bisa merasakan omanya disini. baik-baik didalam ya cucu oma" ucap Adelia dan mendekatkan telinganya diperut Alexa. ia ingin merasakan lebih lagi gerakan bay dari dalam sana. sedangkan Carlos datang dari samping dan memeluk Alexa, ia juga merindukan menantunya ini namun tidak bisa mengungkapkannya secara langsung
"pa, lihatlah dia sudah bisa merespon sentuhan mama, pasti dia sangat ingin bertemu dengan omanya saat ini' ucap Adelia dan membuat Alexa tertawa. bagaimana mungkin mertuanya itu tau apa yang dirasakan oleh baby. ada-ada saja prediksi keluarganya itu, kalau tadi suaminya dengan rencana aneh, sekarang mertuanya dengan prediksi lebih aneh
#fid.nch
__ADS_1
#MDIS