My Daddy Is Suamiku

My Daddy Is Suamiku
BAB 73


__ADS_3

"babe dimana baju ku yang warna biru itu, aku mau pake hari ini ke kantor" suara Marco dengan berteriak di kamar karna istrinya sedang berada di kamar mandi, dirinya sudah lama mencari baju yang ingin ia pake namun tidak dtemukan, bahkan sudah semua lemari dicarinya


"ada didalam lemari itu, kemarin baru aku susun. lihat saja didalam" ucap Rosa dari dalam, seingat dia baru saja menyusun baju yang ditanya oleh suaminya. "tidak ada babe, aku sudha cari semuanya tapi gak ada" ucap Marco pusig sendiri, ia bahkan sudah mengobrak-abrik lemari namun tidak menemukan baju itu


"nanti kalau ada disana awas saja kamu ya, dibilang cari disitu aja" ucap Rosa keluar dari kamar mandi, takut jika suaminya tidak menemukan baju itu malah membongkar semua isi lemari, karna pengalamannya beberapa kali suaminya itu melakukan hal yang sama, dan Rosa tidak ingin itu terjadi lagi. hanya menambah pekerjaannya saja


"tidak ada babe, aku sudah cari bahkan semua isi lemarinya sudah aku buka" ucap Marco dan mengikuti istirnya kearah lemari. ia ingin memperlihatkan bukti kepada istrinya bahwa apa yang dia katakan itu benar. "lalu ini apa namanya kalau bukan baju, makanya kalau nyari itu fokus jangan mikir yang lain" ucap Rosa kesal dan memberikan bajunya kepada Marco


"tadi tidak ada disana babe, aku sudah cari betul-betul" jawab Marco heran, bagaimana bisa istrinya itu melihat baju yang ia cari sedangkan dirinya tidak bisa menemukan. " makanya kalau belum tau dicar lagi jangan dibiarkan gitu aja, tuh buktinya ada" jawab Rosa dan meninggalkan suaminya untuk berpakaian


"makasih babe" ucap Marco menyegir  tanpa dosa. padahal dia sudah membuat istrinya keluar dari kamar mandi cepat-cepat. "cepatlah bersiap, kamu telat nanti, katanya ada meeting sama klien" jawab Rosa. tidak ingin memperbesar emosinya pagi ini, tidak baik untuk kandungannya marah-marah


"kamu mau ikut ke kantor atau dirumah saja. atau kamu juga bisa kerumah Damian" ucap Marco memberi usul. selama ini kalau istrinya tidak kerumah Damian pasti ikut ke kantor menemani dirinya, dan itu juga atas dasar permintaan dirinya yang tidak mau jauh-jauh dari sang istri


"aku ikut kamu aja, kasihan kalau kamu mual-mual nanti tidak ada aku disana" ucap Rosa. yahh Marco mengalami kemahilan simpatik dan selalu merasa mual jika berjauhan dengan sang istri, dan Rosa kadang asihan melihat suaminya itu."ya sudah kalau begitu, kamu siap-siap saja" ucap Marco dan memakai bajunya


keduanya turun dari kamar dan akan berangkat ke kantor, Marco dengan telaten membantu istirnya berjalan dan membawakan tas milik istrinya, ini sudah menjadi kebiasaan keduanya. bahkan Rosa dan Marco sepakat tidak akan makan dari luar jika bukan karna Rosa yang meminta, Marco begitu perhatian dengan istri dan calon anak mereka


sesampainya di kantor, Marco duduk dikursi miliknya dan menyuruh sekretarisnya untuk membawakan laporan bulanan mereka ke ruangannya, sedangkan Rosa masuk kedalam kamar yang ada diruangan itu. Marco tidak ingin ada orang lain yang melihat istrinya dan menikmati kecantikan bumilnya


berbeda dengan Marco dan Rosa. saat ini dikediaman utama Damian dan Alexa pulang karna menerima kabar bahwa mama Adelia sedang sakit. meski sudah dilarang oleh Adelia dengan mengatakan dirinya hanya baik-baik saja, namun tetap saja Damian dan Alexa khawatir dan langsung menuju kediaman utama.


"maa dimana pa apa sudah dipanggil dokter buat kesini?' tanya Damian kepada papanya. sedangkan Carlos mengangguk dan membawa mereka masuk kedalam kamar lantai 2. tentu saja Damian dengan sigap memegang tangan sang istri dan langsung membantu Alexa berjalan menaiki tangga

__ADS_1


"mama kami datang" ucap Alexa dan langsung memeluk mertuanya yang sedang berbaring diatas ranjang. keduanya berpelukan lama dan akhirnya disusul oleh Damian. pria itu duduk disamping ranjang bersama istrnya sambil memegang tangan Adelia. ada rasa takut dalam dirinya kehilangan mamanya


"mama sudah periksa?, dokternya bentar lagi akan kesini" ucap Damian dan Adelia hanya mengangguk senyum. ia menjulurkan tangannya untuk meyentuh perut buncit Alexa. sambil tersneyum Adelia mengelus perut itu dnegan lembut. "gak kerasa bentar lagi dia bakal ketemu sama kita, sehta-sehta ya sayang oma" ucap Adelia dan Alexa tersenym " iya oma, oma juga harus sehat biar ketemu baby" jawab Alexa menurukan suara anak kecil


"mama jangan banyak pikiranlah, kasihan kan kalau cucu maa nanti udah lahir ngeliat omanya diranjang terus, ntar dikira pemalas" ucap Damain dan menerima pukulan dilengannya. Alexa menatap tajam suaminya, bisa-bisanya Damian mengatakan hal itu dimana mama Adelia masih terbaring lemah


"mas jangan ngomong gitu ihh. gak baik tau, doakan aja mama cepat sembuh biar bisa ngendong cucunya" ucap Alexa dan Damian hanya mengangguk tersenyum. mengelus rambut mamanya dan juga mnegecup tangan Adelia. "pa dokternya masih lama gak ya?" Damian menatap Carlos yang berdiri disamping mereka


"paling bentar lagi, tadi papa udah bilang biar cepat datangnya" jawab Carlos, ia juga tidak mau melihat istrinya terbaring lemah diatas ranjang, meski pun kadang istrinya menyebalkan namun melihat sakit begitu dan tidak bisa melakukan apa-apa membuat Carlos merasa sedih


"tuan, doktenya sudah datang" ucap pelayan yang mengantarkan dokter pribadi mereka. dokter Pelkey masuk kedalam kamar utama dan izin untuk memeriksa Adelia. "maaf tuan, saya mau periksa nyonya dulu" ucap dokter itu dan langsung mengeluarkan semua peralatan medis yang ia bawa


"bagaimana kondisi mama saya dok?, apa ada penyakit yang serius?' tanya Damian sambil melangkah untuk menjauh dari ranjang. sedangkan Alexa duduk kembali dan memijat tangan Adelia. ia begitu sayang dengan wanita ini yang sudah ia naggap seperti mamanya, dan selamanya akan begitu


"nyonya hanya banyak pikiran dan stress saja tuan, kalau bisa pola makan beliau diperhatikan dan jangan sering ditinggal sendiri, takutnya jika sedang menyendiri banyak pikiran yang akan dia pikirkan" ucap dokter Pelkey sambil memberikan resep obat untuk dkonsumsi oleh mama Adelia


"ma.. banyak istirahat ya, kata dokter Pelkey mama banyak pikiran dan pola makan gak sehat" ucap Damian dan menatap papanya. mungkin karna papanya terlalu sibuk bekerja sampai tidak memperhatikan istrinya lagi. "papa juga harusnya ada disamping mama, mulai besok papa gak usah kerja, biar Dami yang urus perusahaan" ucap Damian


sebagai anak satu-satunya dan pewaris keluarga, tentunya Damian harus bersikap dewasa dan bijak dalam membuat keputusan dikeluarga, dia sudah punya keluarga namun bukan berarti harus meninggalkan orangtuanya sepenuhnya, tanggung jawab Damian masih sangat dibutuhkan dikeluarga itu


"gimana dengan perusahaanmu nak?, papa masih bisa bagi waktu untuk bekerja" ucap Carlos ia juga masih bisa membagi waktu untuk mengurus perusahaan. toh juga selama ini begitu. " tidak usah pa, aku akan membagi waktu untuk hal itu, lagian kalau dipikir-pikir kami akan pindah kesini" ucap Damian dan diangguki oleh istrinya


"kamu serius nak, akan kesini?, mama gak kesepian lagi dong" ucap Adelia bersemangat, itulah yang membuat dirinya banyak pikiran. sendirian dirumah dan menantunya juga jauh darinya." iya ma, aku dan istriku sudah membahasnya sebelumnya dan kami setuju untuk pindah kemari" ucap Damian tersenyum

__ADS_1


"iya ma, yang dibilang mas Damian benar. kami akan pindah mungkin lusa kesini biar ada teman mama dan juga aku akan lahiran sebentar lagi, kasihan mas Damian kalau bolak-balik kantor kerumah dan kesini ucap Alexa sambil memeluk Adelia, keduanya sama-sama tersenyum


"mama senang sekali nak, akhirnya mama gak sakit lagi setelah ini" ucap Adelia. alasan dirinya sakit karna memikirkan anaknya dan cucunya. juga menantunya yang sebentar lagi akan melahirkan. " kenapa gak bilang ke kami kalau mama pengen kami pindah" ucap Damian namun Adelia hanya menggeleng


"ya sudah kalau begitu, papa bilang sama pelayan biar menyiapkan kamar mereka segera" ucap Adelia menyuruh suaminya yang sedari tadi hanya diam dan menyimak obrolan mereka. "baiklah, kalau begitu papa kebawah dulu" ucap Carlos keluar dari ruangan itu


Damian berpamitan untuk pulang lebih dulu kerumah, namun Alexa tidak ikut dengannya karna ingin menemani Adelia istirahat dirumah utama. Damian pulang hanya inginmenyuruh pengawal dan pelayan untuk membereskan semua barang-barang mereka untuk lusa pindah


"bik kalau bibi ikut kami pindah gak apa-apa kan?, kami akan pindah kerumah utama orangtuaku" ucap Damian saat menyuruh semua pengawal dan pelayan mereka berkumpul untuk memberitahu informasi ini. Damian bukannya tidak ingin membawa mereka, namun jika mereka tidak mau ya Damian tidak memaksa juga


"tidak apa-apa tuan, saya ikut kalian kemana pun dibawa. toh juga bibi gak ada keluarga" ucap bik Uning sambil tersenyum. semenjak bekerja dirumah ini ia merasa nyaman dan aman, dan memastikan dirinya akan mengabdi kepada keluarga ini sampai dia dipanggil pulang


"baiklah untuk yang lain juga sepakat ikut kerumah utam. kalian boleh membereskan barang semuanya dan bersiap besok pagi untuk memindahkan barang-barang ini, seperlunya saja" ucap Damian dan mereka semua mengangguk pahham. langsung mengerjakan apa yang disampaikan oleh Damian, majikan mereka.


"hallo Mar.. aku dan istriku akan pindah kerumah utama lusa, aku tidak butuh bantuanmu hanya mengatakannya saja, kalau mau mama suruh kesana main-main. kasihan ikut kau terus dia pasti lelah" ucap Damian. ia menelfon Marco untuk memberitahu kepindahan mereka


"kenapa tiba-tiba Dami?, bukankah kau bilang saat kandungan Alexa tujuh bulan?' tanya Marco, saat ini mereka sedang makan siang dan disuapi oleh Rosa, istrinya. " tidak jadi, aku berubah pikiran, mama tadi pagi sakit dan aku khawatir dengan kesehatannya akhir-akhir ini" jawab Damian


"ya sudah kalau begitu, lusa kami nginap dirumah utama saja. sudah lama tidak bertemu dengan putriku, mamanya juga sudah kangen katanya" Marco menjawab santai namun tangannya terus bergerak membuat Rosa menatapnya dengan tajam


"ya sudah kalau begitu, aku lanjut dulu mau kembali kerumah" jawab Damian dan mengakhiri panggilannya. ia melanjutkan untuk kembali kerumah utama, mungkin akan menginap disana malam ini sampai besok. toh juga dia tidak ke kantir beberapa hari kedepan


Damian memeilih untuk menginap sampai lusa agar bisa mengurus mamanya dan juga istrinya, bagaimana pun dia tidak bisa hanya mengandalkan pelayan yang mengurus mamanya, ia juga harus turun tangan karna tidak mungkin dia berpangku tangan saat mamanya sakit begini

__ADS_1


#fid.nch


#MDIS


__ADS_2