
Hari ini rencana Adelia membawa Damian dan juga Alexa untuk memilih cincin pernikaan mereka, jika kemarin mereka sudah fitting baju sekarang memilih cincin karna hari pernikahan mereka sudah sangat dekat, tinggal menghitung hari saja dan Adelia sangat antusia dalam menyiapkan semuanya ini
"sayang.. kamu siap-siap yang cepat ya, jangan lama-lama dikamar" ucap Adelia berpesan kepada Alexa juga Damian, karna hari ini juga Alexa dan Damian akan dipisah dan tidak bertemu sementara waktu sampai hari pernikahan mereka akn bertemu
Alexa da Damian tengah berada didalam kamar, keduanya sibuk untuk ersiap-siap namun tetap saja Damian selalu berbuat dengan segaa tingkah polah yang membuat Alexa kadang cape sendiri dnegan sifat Damian, kadang bikin emosi ketawa dan semua bercampur jadi satu
"Daddy cepatlah sedikit, mama sudah menuggu dibawah!' ucap Alexa meninggikan suaranya, ia kesal melihat Damian selalu membuat dirinya naik darah, kalau bukan karna cinta mungkin Alexa akan melempar pria itu keatas kasur wkwkwk
keduanya turun dengan wajah yang berbeda-beda, Damian dengan sneyuman yang sangat mengembang sedangkan Alexa dengan bibir ang mengerucut karna kesal, kesal karna Damian masih sempat-sempatnya meminta jatah padanya padahal mereka sudah sangat terlambat
mereka bertiga menuju salah satu toko mas yang sudah menjadi langganan Adelia, ya tidak ada yang tidak mungkin bisa didapatkan oleh Adelia jika ia sudah menginginkan sesuatu, kemarin sebelum mengajak dua calon pengantin ke toko mas itu, Adelia sudah sempat memesan beberapa barang disana
diperjalanan Adelia banyak menceritakan bagaimana nanti pernikahan mereka berjalan, sampai akhirnya malam ini Damian disuruh unuk puang kerumah pribadinya tanpa membawa Alexa, karna ada tang mereka pakai itu begini dan mau tak mau, suka tak suka Damian harus mengikutinya
toh juga pernikahan mereka tinggal menghitung jari, besok dan lusa hanya iu. Damian mengangguk setuju setelah Adelia mengatakan semua rencana pernikahan mereka. "tolong keluarkan pesanan saya" ucap Adelia kepada pegawai toko itu, mereka sudah hapal betul siapa Adelia disana
"sayang, coba ini dulu maa sangat suka karna ini juga barangnya hanya satu dijual di Indo" ucap Adelia mengambil cincin berwarna putih dengan permata indah yang menambah keindahannya, Alexa dengan hati-hati mengambilnya dan mencocokkan ke tangannya
"Dami.. coba juga pasangannya cepat" ucap Adelia memberikannya kepada putranya, seperti Damian yang merupakan anggota keluarga baru disana, tidak diperhatikan sama sekali oleh Adelia dan selalu marah-marah jika bicara dengan Damian
"ya sudah ini saja, kalau yang ini juga kirim ke rumah kami" ucap Adelia, dia mengambil dua pasang cincin itu entah untuk apa satu pasang, Damian dan Alexa tidak terlalu peduli karna wanita paruh baya itu melakukan semuanya sesuai kehendak dirinya saja
__ADS_1
dirumah Marco, pria itu bangun dan melihat sudah ada baju yang tersusun rapi diatas kursi tentu saja itu adalah baju kantornya dan disiapkan langsung oleh Rosa, calon istrinya yang sudah berubah profesi menjadi pelayan prubadinya, just pelayan untuk Marco
sedangkan Martin, pria itu berencana akan ikut bersama Marco ke kantor dan juga sekaligus bertemu dengan Cralos dan Damian. karna kata Marco hari ini mereka ada pertemuan bisnis dan juga untuk meluruskan kesalah pahaman mereka beberapa hari yang lalu
"Mar.. tolong ambilkan itu" ucap Martin sambil menunjuk telur balado masakan Rosa disamping Marco, namun seperti tidak mendengar Marco tetap melanjutkan makannya dan tidak menghiraukan ucapan Martin, melihat hal itu Rosa menggeleng kepala melihat kelakuan Marco kepada sepupunya itu
"ini makanlah" ucap Roa akhirnya memberikan apa yang diminta oleh Martin, namun hal itu dilihat oleh Marco dan menatap Martin dengan tidak suka. kesal, sudah pasti karna Rosa yang bicara begitu lembut sambil memberikan apa yang diminta oleh Marco kepadanya
"kenapa harus minta sama kakak iparmu, ambil sendiri kalau punya tangan" ucap Marco ketus dan melanjutkan makan, namun matanya menatap Martin tajam seperti mengibarkan bendera perang kepada pria itu. tentu saja Martin merasa risih dengan tatapan Marco begitu
"apa susahnya ambil tadi, kalau kau yang ambil tidak mungkin kakak ipar sampai turun tangan" jawab Martin tidak mau kalah, namun Marco ingin menjawab tapi keburu ditahan oleh suara Rosa yang menatapnya dengan tajam dan menyuruhnya melanjutkan makannya
"jangan banyak bicara, siapa suruh tidak bisa diminta tolong" ucap Rosa sambil menatap Marco. entah kenapa pria itu selalu saja bersikap seperti anak kecil jika bersama Rosa,kadang dia juga susah diatur dan membuat pusing dirumah itu, apalagi masalah makan sering sekali mencari masalah
pelayan yang melihat hal itu hampir saja berteriak kegirangan, sudah lama mereka tidak pernah melihat Marco tersenyum begitu dan pagi ini mereka bisa merasakan senyuman Marco karna Rosa berada disana. "beruntung ya Rosa bisa dapat spek kaya tuan Marco" ucap seorang pelayan yang langsung disenggol oleh temannya
"hati-hati kalau ngomong, jangan sembarangan. lagan Rosa juga cantk cocok banget sama tuan" ucap pelayan itu karna melihat ada Rosa yang melangkah masuk menghampiri mereka. " nona tidak lanjut makan?' tanya pelayan itu kepada Rosa, tapi Rosa hanya menggeleng dan tersenyum
"jangan panggil aku begitu, bagaimana pun aku dan kalian masih tetap sama, tidak ada bedanya" ucap Rosa dan membantu mereka membersihkan meja makan. dia masih merasa canggung jika pelayan dirumah itu bersikap sesopan itu dan memanggilnya dengan sebutan nona
sesampainya dikantor, Martin dan Marco langsung meenuju ruangan milik Damian.ya mereka bukan ke kantor milik Mrco melainkan ke perusahaan Damian menemui mereka, karna setelah Dammian selesai memilih cincin pernikahan Damian juga langsung meluncur ke perusahaannya
__ADS_1
"sudah lama menunggu?' tanya Damian saat masuk kedalam, sudah ada Marco,Martin dan juga papanya disana.tiga orang duduk dengan kopi yang menemani mereka juga suasana diam dan sangat canggung dianatar mereka, tidak ada yang berani buka suara
apalagi ketika Martin melihat Carlos secara langsung ia juga terkejut, ia tidak menyangka jika pria yang seama ini dia benci begitu sangar dan datar, tidak jauh berbeda dengan Damian. datar dan juga dingin layaknya kulkas 100 pintu. " baru sjuga sampai" jawab Marco dan mneyuruh Damian agar langsung duduk
"kalian selesaikan saja, aku tunggu diluar. pekerjaanku sangat banyak" ucap Marco, meninggalkan Martin sendirian disana bersama Damian dan Cralos. jika saja dua orang ini sampai muti*lasi dirinya juga martin sudah sangat pasrah dengan hal itu
"maafkan saya dan keluarga saya Martin, entahlah apa yang ahrus ku panggil kau yang penting karna keluarga saya kau menjadi begini, namun kau perlu tau apa alasannya dari papa ku" ucap Damian mengawali pembicaraan mereka dan menatap papanya yang juga mengangguk
Carlos menatap Martin dan tersenyum tipis, dia tidak percaya jika pria itu sudah berada didepan matanya 10 menit yang lalu. " kau mungkin disini sebagai pelaku namun aku yang menjadi dalangnya, untuk itu aku minta maaf, entah sebagai papa Tania dan juga sebagai orang yang menggagalkan rencanamu" ucap Carlos sambil mengulurkan tangannya, dengan cepat Martin membalasa uluran tangan itu dengan tersenyum
"kau akan tau dari Damin alasanku melakukan hal itu, tapi ku harap setelah itu tidak ada lagi hal seperti ini yang terjadi" ucap Carlos dan diangguki oleh Martin, dia juga meminta maaf kepada Carlos atas sikapnya yang kurang ajar terhadap pria itu juga kepada Damian
"untuk omonganku kemarin, aku minta maaf.aku tidak pernahberfikir demikian dan itu hanya karna emosiku" ucap Martin dan mengulurkan tangannya kepada Damian. keduanya slaing berjabat tangan dan Carlos keluar begitu saja. setelah minta maaf Carlos menemui Marco. orang yang paling tersakiti diantara mereka semua
"semoga Tania tenag disana dan kau juga harus bahagia" ucap Carlos menepuk bahu Marco setelah mereka berbicara dan Carlos menjelaskan semuanya, ia merasa iba namun juga senang sedangkan Marco hanya tersenyum dan jujur saja ia terkejut mengetahui fakta yang ada
"terimakasih paman, kita akan menjadi besan sebentar lagi" jawab Marco dengan tertawa, keduanya slaing merangkul persis seperti sahabat yang lama tidak bertemu. "putramu berhasil menyatukan keluarga kita, meski aku tidak jadi dengan Tania, tapi Damian yang menjadi menantuku" ucap Marco tertawa
banyak hal dalam hidup yang tidak bisa diprediksi, kadang senang dan kadang sedih itulah kejutan yang kita dapatkan
#fid.nch
__ADS_1
#MDIS