
Sudah hampir tiga hari mereka berada disini, dan sudah banyak tepat-tempat yang mereka kunjungi. pagi ini Damian akan membawa gadis kecilnya itu untuk merasakan udara Korea dan hanya berdua saja, karna Marco memilih untuk dikamar bersama Rosa
"sayang..apakah sudah selesai?," ucap Damian saat menatap wajah Alexa di cermin, sangat menggemaksan dan cantik hampir saja membuat Damian tidak ingin keluar dan membawa Alexa bersamanya, karna pasti akan banyak orang yang akan melihat kecantikan Alexa
"sudah dad.. sabar aku ambilkan tas dulu, daddy tunggu diluar aja" jawab Alexa dan bergerak menuju lemari pakaian, karna Semua barang-barang miliknya berda disana juga beberapa barang yang baru mereka beli kemarin membuat lemari itu hanya sisa sedikit space
"daddy sini deh bentar, aku mau foto" ucap Alexa menggandeng tangan Damian kearah jendela kamar dan mengambil ponsel miliknya, ia mengambil beberapa foto mereka. sungguh ini adalah moment yang sangat manis dan tidak akan pernah terlupakan oleh Alexa
"papamu yakin gak mau ikut sayang?, kasihan sekali Rosa jika dikurung terus menerus" ucap Damian, namun Alexa hanya mengangkat bahu tanda tidak peduli. karna sudah berapa kali ia ajak Marco namun jawaban pria itu tetap sama
setelah kedatangan Damian kesana untuk menemui Alexa, semenjak itu hubungan keduanya semakin membaik namun Alexa masih beum bisa diajak untuk bertemu dengan orangtua Damian, ia masih terngat dengan beberapa kejadian dimana dirinya menjadi saaran utama Adelia ketika Damian menolak menikah dengan Rania
"ayo sayang kita berangkat, nanti keburu siang" ucap Damian dan memeluk pinggang Alexa, keduanya turu kebawah dan bersiap unuk menghabiskan waktu diluar, dan jangan lupa jika Alexa bahkan tahan di Mall hanya untuk melihat barang-barang yang akhirnya tidak akan ia beli
jika Damian dan Alexa sudah berbaikan, berbeda dengan suasana dikamar Marco dan rosa. meski keduanya beberapa hari ini tidur beersama tetap saja setelah kejadian yang cukup memalukan untuk Rosa membuat wanita itu semakin menjauh dan jaga jarak dengan Marco
ia bahkan bicaranya hanya seperlunnya saja, jika tidak ditanya oleh Marco, Rosa memilih untuk diam dan melakukan hal lain kadang ia juga sibuk dengan ponselnya. namun hari ini karna Marco menolak ajakan Damian keluar, Rosa memilih untuk kembali tidur
setelah ia sarapan dan juga mandi, Rosa kembali naik keatas ranjang dan memilih tidur. dua hari full mereka diluar dan sibuk berbelanja, hari ini Rosa memutuskan untuk istirahat saja dan juga menghindari Marco dengan segala tipu daya pria itu agar ia mau melayaninya bercerita
"kenapa mendiamkan ku lagi?, apa aku harus berjuang lagi untuk membuatmu bicara kembali untukku?" ucap Marco yang tiba-tiba naik keatas ranjang dan ikut bergabung dibawah selimut bersama Rosa, sedangkan wanita itu sudah menahan nafas karna janung dan darahnya sudah berdesir hebat sekarang
"kenapa tidak menjawab, apa kamu sudah tidur" ucap Marco, ia meletakkan tangannya kepinggang Rosa dan memeluk wanita itu dari belakang, ia baru saja selesai mandi dan langsung ikut kembali tidur bersama Rosa. awalnya ia hanya ingin melihat wanta itu, namun karna Rosa tdak bergeming sama sekali membuat Marco ingin tetap disamping Rosa
"tu..tuan...tangan anda tolong dilepas" ucap Rosa karna saat ini nafasnya sudah tidak bisa lagi keluar dengan normal, jantungnya sudah tidak bisa diajak untuk bedetak normal. " kenapa, kamu tidak suka aku memelukmu begini?" ucap Marco dan langsung diangguki oleh Rosa
__ADS_1
"ya sudah ganti saja sebelah sini" ucap Marco dan langsung mengganti posisi mereka dengan satu tangan bisa mngangkat tubuh Rosa sampai berpindah posisi, sekarang Rosa berada diatas tubuh Marco. rasa malu dan juga gugup menjadi satu, ia tidak bisa menatap Marco
"kenapa matanya ditutup, apa aku tidak layak untuk dilihat?" lagi dan lagi Marco membuat dirinya salah tingkah, ia tidak berani menatap pria itu karna posisi mereka saat ini sangat ekstrim, takut jika dia bergerak sedikit Marco akan memarahinya, ia bukanlah wanita yang polos seperti yang kelihatan
"tua..tuan.,.saya mau turun, jangan begini uan.. saya tidak bisa" ucap Rosa, ia menangis karna menahan malu tidak sanggup. sungguh jika dia bisa memilih lebih baik tidak ke Korea namun dirinya aman dirumah dari pada harus mengalami hal seperti ini, sungguh membuat Rosa tidak tau harus melakukan apa
"jangan malu.. kenapa harus menutup wajahmu dan menangis" ucap Marco melepaskan tangan Rosa dari wajahnya, ia menurunkan wanita itu dan berbalik mengukungnya. teta saja Rosa masih menangis sesunggukan karna tidak tahan dengan kelakuan Marco barusan
"bagaimana dengan ucapanku kemarin, apa kamu siap jika aku menikahimu setelah pulang dari sini?" tanya Marco sambil mengecup kening Rsa dngan lembut, wanita itu masih terdiam, tidak tau harus bersikap seperti apa searang ini, sungguh ingin rasanya ia terjun ke jurang bawah tanah saja
"tapi tuan.. saya tidak layak menjadi istri anda. lagi pula masih banyak wanita diluar sana yang pantas, saya hanya akan menikahi pria yang benar-benar tulus dan mencintai saya" ucap Rosa, jika tidak begini Marco akan tetap melakukan hal yang membuat dirinya spot jantung
"aku menginginkan kamu dan selamanya akan ebgitu, siap tidak siap kita akan menikah secepatnya. mungkin akan menunggu putriku lebih dulu baru kita menyusul" ucap Marco, kini dia menatap Rosa dengan tajam dan menarik tengkuk wanita itu, meraih bibirnya dan melakukan penyatu*an mereka
"kenapa hanya diam, apa kamu baru epertama kali melakukannya?" tanya Marco, tidak heran jika Rosa mengangguk karna melihat sikap dan juga reaksi wanita itu Marco bisa membacanya jika Rosa tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya
"maafkan aku, tidak bisa menahan diri. aku akan menikahi mu secepatnya, jika ada keluarga yang harus dikabari langsung saja katakan pada mereka" ucap Marco dan memeluk tubuh Rosa dengan erat, kini kepala Rosa ditaruh keatas tangan Marco sambil mengelusnya dengan pelan
disisi lain, Damian dan Alexa tengah menghabiskan waktu mereka disebuah restoran yang cukup terkenal dikota ini, Alexa memilih restoran ini karna memang ingin sekali merasakan makana jepang namun di negara Korea. ' bagaimana sayang, apa masih kurang?" tanya Damian smabil membantu Alexa membersihkan bibir wanitanya
"tidak dad, ini lebih dari cuup dan kau tidak mungkin menghabiskan semuanya, daddy saja makan cuma sedikit" ucap Alexa dan terus memasukkan makanannnya, ia begitu menikmati waktu kebersamaan mereka sat ini, sungguh sangat jarang mereka melakukan hal ini
"sayang, apa kamu sudah mulai memikirkan untuk bertemu dengan orangtua ku?, bagaimana pun mereka yang akan menjadi orantua mu dan akan menjadi keluarga mu" ucap Damian mulai membahasa hubungan mereka, beberapa kali mamanya sudah menanyakan perihal Alexa padanya
"daddy.. kalau aku bilang belum mau bertemu mereka apa daddy marah?, aku hanya belum siap saja meski kalian sudah menjelaskan sebenarnya padaku, tetap saja aku merasa suara oma terngiang-ngiang dikepala ku" jawab Alexa meletakkan sumpitnya dan menatap Damian
__ADS_1
"tidak apa kalau daddy memang lebih memilih untuk menunda pernikahan dan kembali mempertimbangankan hubungan kita, karna memamg aku sulit untuk membuka hati bertemu degan mereka, maafkan aku dad" jawab Alexa tersenyum namun tatapannya sungguh begitu kosong
"apa yang membuat kamu sulit bertemu dengan mereka sayang?, apa karna perlakuan mama sama kamu atau ada hal yang lain?' tanya Damian, ia tidak bisa hanya memutuskan sendiri. lagipula ini bukan kesalahan Alexa, ini pure kesalahan mamanya dan Damian mengakui itu
"tidak karna itu saja dad, aku tidak masalah jika dulu oma hanya mengataiku dan menyalahkan aku. namun aku masih belum terima karna oma mneyangkutkan masalah ini dengan mamaku, dia tidak tau apa-apa tapi terkena imbas dari perkataan oma" jawab Alexa
ia menangis namun langsung menyeka airmatanya, jika sudah berurusan dengan mamanya Alexa begitu rapuh dan sangat mudah menangis, karna memang serindu itu ia ingin bertemu dnegan ibu kandungnya yang nyatanya sudah tidak ada lagi bahkan belum bertemu sama sekali
"maafkan aku sayang, aku tidak bisa menghentkan mamaku sendiri untuk mengatakan hal itu padamu. maafkan aku tidak bisa menjaga kamu" ucap Damian memeluk Alexa dan mencium keningnya. keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing
sampai akhirnya ponsel milik Damian bergetar, mereka tersadarkan dan Damian langsung mengangkat panggilan ia masih memeluk Alexa seolah tidak rela melepaskan Alexa walau hanya sebentar saja, ia masih memeluk erat tubuh itu sambil bicara dengan El
sekretarisnya itu sedikit kewalahan saat ini, ditengah masalah yang ada Damian justru memilih libiran dan menghabiskan waktu yang cukup lama disana. meski sudah dibua jadwal dan dikosongkan selama liburan namun tetap saja ada klien mereka yang sulit mengalah
"saya akan segera pulang, mungkin lusa atau besok sudah pulang. urus saja semampu yang kau bisa kalau memang sudah tidak mampu katakan saja pada papaku jangan sungkan menelfon beliau" jawab Damian, ia bukannya lari dari tanggung jawab, namun karna sudah membuat jadwal siapapun tidak bisa mengganggu
"kenapa dad?, ada masalah dikantor kah?" tanya Alexa, jika sudah menyangkut pekerjaan Alexa tidak bisa menahan Damian, toh juga mereka sudah berbaikan meski memang awalnya ini rencana papanya untuk mengerjai Damian, namun jika Damian memang punya urusan mendesak Alexa rela ditinggal disini dulu
"tidak sayang... hanya sedikit masalah dan papa bisa membereskan itu, masalah klien yang kekeuh bertemu dengan daddy padahal daddy sudah bilang tidak bisa"jawab Damian dan kembali menarik Alexa untuk memeluknnya dan sesekali mencium gadis kecilnya
terkadang lelucon hidup membuat kita sulit untuk bergerak
#fid.nch
#MDIS
__ADS_1