
hari ini Alexa berencana akan melakukan cek up dirumah sakit disalah satu kota disini. ia masih enggan untuk pulang ke Indonesia, ia masih betah disini dan membuatnya nyaman. bahkan Martin memberikan semua yang dia inginkan, walaupun terkadang Martin kewalahan sendiri.
pagi sekali Alexa sudah memasak untuk mereka, meski Martin sudah melarangnya berkali-kali namun bumil itu masih bersikeras untuk memasak, ia ingin melakukan aktivitasnya seperti dulu. ia tidak ingin hanya erpangku tangan didalam kamar, hanya menggalau dan tidak melakukan apa-apa.
Martin yang selalu ke aknyor dan meninggalkan ALexa dirumah sendirian. dia sudah hampir satu minggu di negara ini namun tidak ada pikirannya untuk pulang ke Indonesia, bahkan dia memilih untuk lahiran disini saja. hal itu membuat Marco dan Rosa memutar otak bagaimana mereka akan menemi persalinan Alexa nani.
setelah sekian lama Alexa berkutat dengan alat-alat dapur, ia langsung menyajikan semua masakan diatas meja dan kembali ke kamarnya, dia akan keluar sendiri tanpa Martin hari ini. dia tidak mau membuat Martin selalu meninggalkan pekerjannya hanya karna menamani dirinya.
Alexa memberishkan diri dan langsung keluar membangunkan Martin didalam kamar, perutnya semakin hari semakin berat saja rasanya. dia kadang tidak mampu melakukan sesuatu atau mengambil barang yang ingin ia pakai. namun semua itu masih bisa dia kerjakan seperti masak atau membersihkan kamar tidurnya.
"om bangunlah, ayo turun aku sudah selesai masak" ucap Alexa, ia tidak masuk kedalam hanya mengetuk pintu kamar Martin. ia juga harus menjaga jarak dengan Martin, bukan karna pa hanya saja yang namanya pria tetap saja punya iblis dalam diri masing-masing. Alexa ingin menghindari hal itu.
"sebentar lagi sayang.. duluan saja turun, hati-hati, pakai lift saja" ucap Martin dengan berteriak dari dalam. ia khawatir dengan Alexa. dengan perut yang sebesar itu harus menuruni tangga rumah mereka. Martin keluar dengan buru-buru karna ia tau Alexa tidak akan menggunakan lift seperti perintahnya.
"kami ini memang tidak bisa dibilangin, aku sudah bilang pakai lift malah jalan tangga. gimana kalau kamu kenapa-kenapa pas om belum turun" Martin mengoceh sampai membuat Alexa kesal, mencebikkan bibirnya sambil menatap Martin dengan tatapan side aye
"ishh kau kan masih bisa jalan om, lagian kata dokter harus banyak melakukan aktivitas biar persalinan nanti lancar. om terlalu banyak aturan sih" jawab Alexa sambil melepaskan tangan Martin karna mereka telah sampai dibawah. ia berjalan lebih dulu didepan Martin
"astaga anak itu, tetap saja ngeyel kalau dibilangin. sellau memikirkan dirinya sendiri" ucap Martin menatap Alexa. keduanya duduk diatas meja dan langsung menikmati sarapan pagi mereka. selama Alexa dirumah Martin, ia merasa dimanjakan dengan masakan bumil satu ini. Alexa sangat pintar dalam hal dapur.
__ADS_1
"om akan pulang agak malam, kamu jangan kemana-mana. dirumah saja kalua mau keliar bilang om biar om suruh orang menemani kamu" ucap Martin saat sudah selesai menikmati sarapan mereka. ia tidak bisa telat ke kantor pagi ini. karna harus menghadiri meeting bersama petinggi perusahaan.
"iya om, aku mau keluar sendiri saja nanti. aku gak akan kemana-mana kok. cuma keluar kedepan sebentar" Alexa menjawab namun Martin langsung menatapnya tajam, sudah dibilang bumil ini sangat susah dibilangin. tidak pernah mendnegar perkataan siapapun dan hanya mengikuti keinginannya sendiri.
"om bilang jangan kemana-mana, om takut kamu kenapa-napa diluar tidak ada om. kamu lagi hamil Ale, kamu harus jaga kandungan kamu. jangan sembarangan deh" Martin seperti ibu-ibu yang mengomeli anaknya karna bandel, persis seperti Rosa jika sedanga mengomel dulu padanya dan papanya.
"isshhh.. kedepan doang sebentar gak bisa" ucap Alexa, masih seperti anak pada umumnya. namun ia kembali mengangguk karna takut ditatap Martin seperti itu. "ya sudah, aku gak akan keluar. dirumah saja!' ketus Alexa dan berjalan menuju lift, tidak mau kenal omel Martin karna naik tangga.
disisi lain, Damian meras uring-uringan seelah ditinggalkan oleh istrinya, sudah seminggu ini Damian tjarang pulang kerumah dan memilih unuk menginap di kanor saja,. dia enggan unuk pulang karna kan mengingatkan dirinya akan istrinya yang sudah seminggu ini pergi, tidak pernah memberi kabar.
Damian terliaht frustasi, ia tidak serapi dan segagah dulu. dia tidak seperti Damian sebelumnya yang mereka kenal. Damian kacau dan setiap ke kantor tidak pernah bajunya masuk kedalam, serapi saat Alexa masih bersamanya. kadang Damian tidak mengenakan dasi karna tidak bisa membuatnya.
"tuan. hari ini kita akan bertemu dengan klien dari jerman, mereka akan datang ke perusahaan, tuan boleh bersiap sekarang ini" ucap Habil menghampiri Damian, memberikan jadwal mereka pagi ini. namun Damian hanya diam dan mengangguk, tidak ada jawaban darinya
Damian menatap luar, sudah seminggu dia hidup sendirian. namun seperti satu tahun untuknya, sanga lama Alexa tidak menginginkan kabar darinya. Damian menangis kembali, hatinya begitu rapuh untuk mengingat istrinya, entah seperti apa Alexa sekarang, ia merindukan waniaa iu.
"sweety.. kapan kau akan kembali sayang, aku merindukan mu sayang, tolong kembali lah padaku" Damian bicara dengan foto yang ia genggam saat ini, foto Alexa dan dirinya yang sedang jalan pagi beberapa bulanyang lalu. "sweety.,. apa kamu tidak merindukanku" tangis Damian pecah, mengingat dirinya yang kini hanya sendiri.
selama beberapa menit, akhirnya Damian tersadar dan kembali menghapus airmatanya, dia mulai membereskan meja dan juga mengenakan jas miliknya kembali. ia harus bekerja dan akan menemui Alexa dalam waktu terdekat ini, Damian tidak mau hanya menunggu meski istrinya itu akan memaki atau bahkan kembali menolak dirina.
__ADS_1
kini Damian melakukan meeting bersama klien mereka, membahas seputar bisnis dan kerjasama yang akan mereka lakukan. Damian terlihat baik-baik saja dari luar, namun dalam hatinya ia sangat kesepia, merasa jika dirinya kehilangan dunianya saat ini, ia hanya butuh Alexa dan ingin memeluk wanitanya itu.
malam telah berganti, Damian enggan untuk pulang kerumah. namun karna mamanya memintanya untuk pulang mau tak mau Damian harus kerumah malam ini. dia pulang dalam keadaan mabuk lagi, dia selesai minum diruangan miliknya di kantor, Damian kembali pada dunia sekacau ini.
Habil, sekretaris Damian yang selalu setia mengiktu dan menjaga Damian sejak ditinggalkan Alexa. Habil tidak pernah berjauhan dari damian apalagi malam begini, karna Damian kadang melakukan hal-hal yang sehrausnya tidak ia lakukan, hanya karna merindukan istrinya itu.
seperti saat ini, Damian mengingau memanggil nama Alexa. Habil yang meliat hal itu hanya menggelng tidak percaya, secinta itukah Damian oada istrinya sampai seperti ini. Damian sangat berbeda malam ini, padahal siang tadi dia masih bisa bicara dengan baik, tentang bisnis mereka.
"tuan.. kita sudah sampai.. ayo saya antarkan" ucap Habil, ia mengeluarkan tubuh Damian dari mobil dan membawanya kedalam rumah. Adelia yang melihat itu kembali menangis dan langsung menghampiri Damian dan membantu Habil membawa tubuh mabuk itu kedalam rumah.
"nyonya.. saya permisi pulang dulu, besok saya akan kesini lagi menjemput tuan Damian" ucap Habil dan diangguki oleh Adelia. pria itu keluar dan meninggalkan bosnya yang tengah memanggil nama Alexa. Adelia hanya menangis dan membantu Damian membuka jas yang ia kenakan.
"nak.. Dami... bangun nak.. jangan begini terus, mama tidak sanggup melihat kamu" ucap Adelia sambil memanggil suaminya. mereka membawa tubuh Damian keatas untuk istirahat. entah seberapa banyak yang diminum Damian sampai membuat dirinya kehilangan kesadaran.
"pa.. sudah seminggu Alexa tidak ada kabar, bahkan Marco pun tidak pernah memberi kabar pada kita, kita harus bagaimana, pa?' ucap Adelia, ia tidak tega melihat Damian seperti ini. baru seminggu Alexa meninggalkan dirinya, namun tubuh Damian sudah seperti orang penyakitan, tubuh itu kini mulai semakin kurus dan tidak bertenaga lagi.
"sabar ma, papa juga lagi berusaha untuk menemu Marco, dia snagat susah untuk ditemui akhir-akhir ini" jawab Carlos, ia juga kasihan melihat putranya seperti ini. Damian berubah dratis dan seperti bukan dirinya yang dulu lagi. melihat hal itu Carlos juga merasa kasihan dan tidak mau melihat pemandangan itu lagi, ditambah istrinya yang selalu menangis didepannya.
#fid..nch
__ADS_1
#MDIS