My Daddy Is Suamiku

My Daddy Is Suamiku
BAB 52


__ADS_3

Masih ditempat yang sama, Alexa dan yang lainnya menikmati makan siang mereka dengan baik, setelah drama keluarga yang terjadi beberapa menit yang lalu. Alexa sudah menikmati kebersamaan mereka dan memaafkan Adelia,karna bagaimana pun juga ia akan menjadi bagian keluarga itu lagi,bukan sebagai cucu melainkan menantu keluarga Adithama


"sayang.. ayoo makan ini lagi, kamu harus banyak makan loh" ucap Adelia sambil menyodorkan beberapa daging dan memberikan di piring milik Alexa, wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk.ia juga tidak lupa melayani Damian, sebagai calon suaminya nanti


"sayang makan saja, kalau aku mau akan aku ambil. jangan terlalu memperhatikan aku" ucap Damian sambil mengelus kepala Alexa. keduanya begitu serasi dan saling memperhatikan satu sama lain


"baiklah" jawab Alexa dan kembali menikmati makanan miliknya, hal itu tidakluput dari pandangan Carlos terhadap interaksi mereka berdua, mereka yang memang terpaut usia yang jauh namun tetap saja Alexa mampu mengimbangi kedewasaan Damian dan bahkan membuat pria itu bergantung pada dirinya


meski dia tidak pernah melihat sosok ibu,tapi dia bisa bertumbuh menjadi seorang ibu. Tania,lihatlah putrimu tumbuh sangat baik dia persis seperti dirimu


"sudah dimana persiapan kalian sayang? bagaimana dengan fitting baju? WO dan catring nya?" ucap Adelia sambil menatap Damian dan Alexa bergantian, sampai sejauh ini dia belum tau sampai dimana sebenarnya hubungan keduanya,karna Adelia tidak ada keberanian untuk menanyakan hal itu pada Alexa maupun Damian.


"aku sudah menyiapkan semuanya ma, tapi untuk baju aku belum sampai kesana karna aku belum ada waktu untuk fitting dan Alexa juga beberapa hari ini tidak ada waktu" jawab Dimian sambil menatap wanitanya dengan tersenyum, Damian meng genggam tangan Alexa kedunya seolah tidak peduli dengan sekitar sampai membuat author sesak dan iri


"kapan mau fitting baju sayang? mama temani nanti, tenang saja nanti kalian hanya datang untuk liat,selebihnya mama yang akan mengurusnya, asalkan kalian ada waktu untuk melihat ke butik,mama ada rekomendasi butik yang jadi langganan mama" ucap Adelia


"aku bisa kapan aja oma.. kalau besok juga Ale bisa kok" Alexa menjawab dan tersenyum, namun Adelia menatapnya seolah ada hal yang ia katakan salah. Alexa menatap bingung entah apa yang ia katakan dan membuat Adelia begitu menatapnya


"kenapa panggil oma lagi sayang, panggil mama mulai sekarang. kamu kan bukan cucu keluarga kami lagi, tapi akan jadi menantu kami" ucap Adelia tersenyum dan menyentuh tangan Alexa dengan lembut. ia tersenyum dan raut wajah Alexa yang tadinya bingung jadi lebih santai dan kembali biasa


"iy..iya..om...ehh iya mama" suara Alexa terbata saat memanggil mama kepada Adelia, sedikit canggung dan agak aneh rasanya. namun karna sudah permintaan Adelia mau tak mau membuat Alexa akan belajar menyebut nama itu,meski sedikit canggung


" nahh gitu dong sayang, lain kali harus sering panggil begitu sama mama. belajar dari sekarang ya sayang" ucap Adelia, dengan wajah dan senyuman yang kaku Alexa mengangguk dan menatap Damian, ia ingin melihat ketenangan di wajah pria itu


"ya sudah kalau begitu besok sore kita fitting baju pernikahan kalian, nanti Damian nyusul saja kalau sudah selesai bekerja" ucap Adelia. Damian dan Alexa hanya mengangguk dan ikut dengan saran dari mama Adelia, karna kalau menunggu keduanya meluangkan waktu,Damian akan sibuk setelah ini dan tidak ada waktu menemani Alexa fitting baju

__ADS_1


jika mereka sibuk membahas tentang pernikahan Damian dan Alexa nantinya, berbeda dengan dua orang yang berada disana tapi seperti tidak ada. Damian dan Alexa dipertemukan dengan situasi dimana mereka bertemu dengan Adelia dan Carlos


Rosa dan Marco berada diantara mereka namun kedua orang itu hanya seperti nyamuk diantara empat orang disana, Rosa yang sedari tadi tidak ada berkata apapun bahkan suara wanita itu tidak ada keluar sejak kedatangan Adelia dan Carlos disana


ingin rasanya Rosa pergi dari tempat itu namun ia tidak bisa karna Marco sama sekali tidak menatap dirinya, kalau saja pria itu menatap dirinya mungkin Rosa akan memberikan kode pada pria itu untuk membawanya pergi


"tolong siapapun bawa aku keluar dari sini, ini kumpulan orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan dirinya,kenapa harus berada disini?" batin Rosa sudah meronta-ronta namun tidak ada yang mendengarnya


"wanita ini sangat tenang, apa dia tidak merasa bosan disini? bukannya keluar malah menahan diri disini" Marco menatap Rosa dengan batin yang mengomel dengan wanita itu


"saya ke toilet sebentar tuan,nyonya" ucap Rosa namun ia sengaja membawa tas miliknya agar nanti dia tidak balik lagi ketempat itu,karna ia tau pasti jika dia datang kesana pun tidak ada pangaruhnya apapun. ia lebih baik keluar dan menikmati kota ini, sudah lama rasanya dia tak sebebas ini


Rosa berjalan di koridor Mall sambil menenteng tas miliknya, menikmati setiap orang yang lewat. rasanya ia sudah lama kehilangan moment seperti ini di kehidupannya selama beberapa bulan ini.


"rasanya begitu sejuk dan mennyenangkan" ucap Rosa pada dirinya sendiri. ia berencana akan ke taman Mall itu


seperginya Rosa dari meja makan mereka, membuat Marco tidak bisa tenang dan tidak lama ia ikut menyusul wanita itu, dengan memberikan alasan yang sedikit tidak masuk akal pada Damian dan yang lainnya. mereka heran karna Marco tiba-tiba juga izin untuk keluar.


"maaf saya harus mengurus sesuatu hal dulu kesana, bawahan saya sudah menunggu dibawah" Marco mengambil ponsel dan jasnya. dengan wajah seolah memang afa urusan mendesak dan menatap Carlos,sebagai pria yang sangat ia hormati disana


"papa yakin mau keluar buat urusan? bukan karna hal lain kan?" Alexa tersenyumelihat tingkah papanya, sangat posesif dengan Rosa.padahal Alexa yakin kalau wanita itu tidak akan pergi kemana-mana, sungguh sangat membangongkan


"yakin, kenapa tidak!. saya harus cepat,maafkan saya kalian lanjutkan saja" ucap Marco dan pergi begitu saja. ia sudah tidak melihat sosok Rosa padahal wanita itu baru saja keluar namun sudah tidak terlihat. Marco mencoba untuk mencarinya dan melihat kesana kemari


"kenapa langkah wanita itu sangat cepat, entah kaki apa yang dia pake itu" Marco sembari mencari namun juga berdecak kesal. karna harus menghabiskan tenaganya juga untuk mencari Rosa

__ADS_1


"ehhh..." Rosa kaget dan melihat siapa yang tiba-tiba berada disampingnya. melihat wajah Marco yang begitu datar dan dingin membuat Rosa enggan untuk menyapa pria itu, tadi saja mereka tidak banyak interaksi. giliran dirinya keluar pria itu juga mengikuti dirinya, dasar emang pria datar


"kenapa keluar sendiri? tidak memberitahu padaku?" ucap Marco menatap Rosa. bukan kesal namun tetap saja pria itu ingin menekankan pada Rosa bahwa dirinya adalah milik dirinya. miliknya sendiri dan tidak boleh orang lain mendekati Rosa, agaknya penyakit cemburu Damian menular kepada Marco


"untuk apa memberitahu pada tuan? bukankah tuan juga tidak peduli padaku lagi" ucap Rosa cuek dan memasang wajah datar didepan Marco, pria itu semakin kesal namun ia masih menahan diri untuk tidak mengeluarkan taringnya didepan wanita yang dicintainya itu


"siapa yang mengatakan begitu, apa itu memang akal-akalanmu saja?" Marco menatap dengan tajam. ia mendekatkan wajahnya kepada Rosa. "tua..tuan..jangan begini, ada banyak orang lain" Rosa mendorong dada Marco karna merasa malu dengan perlakuan pria itu, ia malu dilihat banyak orang disana


"kenapa harus malu? apakah aku harus menegaskan pada orang lain kalau kamu milikku dan tidak ada yang boleh melihatmu secara lebih" ucap Marco dan menaikkan alisnya sebelah, masih menatap Rosa sampai wanita itu menutup wajahnya sendiri


"menjauhlah tuan.. jangan begini, malu dilihat orang" ucap Rosa dan memilih untuk pwrgi dari sana,namun dengan cepat tangannya di tahan oleh Marco sampai tubuhnya tidak bisa menahan keseimbangan tubunya. "kau bahkan tidak bisa jauh dariku" ucap Marco dan mengecup bibir Rosa dengan cepat dan melepaskan wanita itu


"dasar pria mesum, tidak tau tempat sekali" ucap Rosa dengan nada kesal dan menatap tajam kepada Marco, padahal baru saja dirinya mengingatkan Marco bahwa mereka ada dikelilingi orang-orang dan itu sangatlah ramai.


"kenapa begitu wajahnya? apa kurang suka atau kurang lama?" Marco masih tetap saja membahas hal begitu meski Rosa sudah menatapnya tajam namun pria itu tidak ada mengertinya,masih bisa menggodanya


"ayo jalan,jangan disini mulu kaya orang bego" ucap Marco menarik tangan Rosa.wanita itu hanya ikut langkah kaki Marco, karna untuk pulang pun dirinya hanya sendiri dirumah dan belum tentu dia bisa pulang,mengingat dia tidak tau arah pulang kerumah Marco


"kita mau kemana tuan?" tanya Rosa saat dirinya disuruh masuk kedalam mobil Marco tanpa ada pembicaraan dari anatara keduanya. "ikut saja jangan banyak tanya" ucap Marco dan melajukan mobilnya keluar dari area Mall tersebut. mereka berdua didalam mobil hanya diam membisu


"kalau begitu kalian lanjutkan saja acara kalian sayang,mama sama papa akan pulang dulu karna banyak hal yang harus kami urus" ucap Adelia sambil memeluk Alexa sembari pamitan pulang. "baiklah ma,kalian hati-hati dijalan, secepatnya kami akan pulang kerumah" jawab Damian sambil memeluk mamanya


"kami duluan ya sayang,byee" ucap Adelia melangkah keluar dan akhirnya pulang meninggalkan Damian dan Alexa dalam pikiran masing-masing. "apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Damian dan tersenyu menyentuh lengan Alexa,karna wanitanya itu terlihat melamun sendiri


*memang susah untuk menerima sesuatu namun satu hal yang pasti kalau menerima dengan baik akan mendapat hasil yang pastinya baik

__ADS_1


#fid.nch


#MDIS*


__ADS_2