
Suatu malam, ketika baru saja Abimanyu sampai didepan rumah Tita, sehabis mereka pergi dari bioskop, didepan rumah Tita sudah terparkir mobil Tristan yang sudah sangat dihafal oleh Tita. Dia jadi salah tingkah, merasa tidak enak dengan Abimanyu.
Sambil mengangkat rem tangan mobilnya, Abi mengarahkan pandangannya kearah Tita.
"Kalian janjian mau ngerjain tugas?" tanya Abimanyu.
"Enggak.. aku enggak ada janji sama dia 'Yang" jawab Tita sambil melepaskan Safety beltnya.
Abimanyu diam saja menanggapi jawaban Tita, membuat Tita salah tingkah. Dia berfikir, pasti Abimanyu sudah menaruh curiga. Dari teras rumah, Abimanyu sudah mendengar percakapan Tristan dengan papa Tita.
Setelah memberi salam dan mereka masuk kedalam rumah, Abimanyu mencium hormat tangan papanya Tita, juga memberi salam kepada Tristan. Tita mengambil duduk disamping Abimanyu.
"Aku cuma sekedar sharing pengalaman sama om untuk persiapan dirumah sakit nanti mas bro.. jangan punya fikiran macem-macem ya.." ucap Tristan, begitu mereka duduk.
"Enggak ada yang punya fikiran macam-macam kok Tris.. silahkan saja.." jawab Abimanyu berusaha untuk tetap tenang. Walau dia merasa tidak suka dengan yang dikatakan Tristan.
Selanjutnya Abimanyu juga berusaha tetap menikmati percakapan kekasih dan keluarganya bersama Tristan, walau beberapa hal yang dibicarakan jauh di luar pengetahuannya. Toh Itu juga yang sering bundanya lakukan ketika harus mendampingi ayahnya, fikir Abimanyu.
Berbeda itu bukankah menjadi bagian hal yang akan mereka sesuaikan nantinya, toh semua itu berproses. Saat ini marilah hanya menikmati kebersamaan yang hanya sesaat, sebelum semua dipisahkan oleh jarak.
Dan bunyi dering ponselnya seolah menjadi penyelamat.
"Bi, kamu dimana nak? bisa pulang segera? ada Handa! anaknya tante Pipit sahabat mama itu, mereka sedang dirumah kita!" suara bunda diseberang sana terdengar riang, seperti air yang menyejukkan hati Abimanyu yang gundah.
"Iya bun, Abi langsung pulang!" jawab Abimanyu seakan punya alasan baik untuk segera meninggalkan rumah Tita.
Kemudian, setelahnya Abimanyu langsung memohon diri pada kedua orang tua Tita. Sementara Tristan masih dengan sengaja nampaknya berada dirumah itu. Abimanyu tak mau ambil pusing. Tujuannya masih sama, hanya memberikan Tita saat-saat berkesan yang akan membawa cintanya pada pembuktian.. nanti...
"Hati-hati dijalan yaa 'yang" ucap Tita melepas kepergian Abimanyu.
"Ok" jawab Abimanyu singkat, menampakan senyumnya, lalu segera meninggalkan gadisnya itu.
.
.
.
.
Gadis..
Mengapa sepertinya .. ada ruang kosong
Yang bahkan bersamamu..
Itu tidak terisi?
Sebenarnya..
Apa yang aku cari?
Aku mencintaimu...
Tapi Adamu..
Tak mampu hilangkan dahagaku..
Apakah aku tersesat?
__ADS_1
(Abimanyu- apakah aku tersesat?)
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Abimanyu langsung disambut oleh Bundanya.
"Naaah.. ini dia .. si jangkung itu Pit!" ucap Nindy begitu melihat sosok putranya masuk keruang tamu rumah mereka. Jangkung dalam bahasa Sunda mempunyai arti tubuh yang tinggi. Setelah Abimanyu sudah mencium punggung tangan bundanya tanda hormat, Abimanyu juga mencium punggung tangan sahabat kecil bundanya itu.
"Uluuuuh... si kasep.. beki kasep geuningan Nin!"
(uluuuuh.. si ganteng..makin ganteng aja ternyata Nin)
"Alhamdulillah.. Tan.." jawab Abimanyu sambil tersenyum dan duduk memanja disamping Bundanya.
"Katanya kesini sama Handa tan? mana Handa sama om Adenya?" tanya Abimanyu kemudian.
"Om Ade lagi ngobrol bisnis sama ayah diruang kerja, Handa tadi ke kamar mandi!" jawab Bunda.
"Masih terus penyesuaian tan, tapi insyaAllah bisa Abi atasi" jawab Abimanyu.
Kemudian datanglah Handa, dan berdua Abimanyu mereka saling terbengong-bengong.
"Looh! kamu bukannya Arimbi?" tanya Abimanyu sambil menunjuk ke arah Gadis cantik yang dia temui digalery Axsal beberapa waktu lalu.
"Looh? KK ada disini?" tanya Arimbi sama.
"Kalian ini kenapa?" tanya bunda
"Ini Bun, aku kenalnya gadis ini namanya Arimbi!"
"Iyaa .. kasep ini memang Arimbi, ya Handa juga.. kan nama panjang Handa itu Arimbi Handaya!" jawab tante Pipit menjelaskan.
"Yaaa ampuuuun!" kata keduanya bersamaan.
"Kenapa? kalian sudah ketemu sebelumnya?" tanya bunda.
"Iyaa Bun, Abi ketemu Handa digalerynya Axsal. Handa itu belajar fotografer disana! aku nggak nyangka itu Handa!" jawab Abimanyu menjelaskan.
"Yaa..iyalah kalian enggak akan saling ngenalin! terakhir ketemukan waktu Handa SMP mau masuk pesantren waktu itu!" ucap Bunda.
"Handa nggak ngenalin! karena kayaknya Abi mah beda bangeet jadinya!" ucap Handa yang sudah tidak memanggil Abimanyu kakak lagi, Karena sebenarnya usia mereka tidak terlalu terpaut jauh.
"Beda apanya? apa karena tambah ganteng yaa Han?" sela Tante Pipit. Arimbi jadi senyum-senyum sendiri. Abimanyu juga menjadi sangat malu karena dipuji.
"Kamu juga berubah Han! sudah cantik, kamu itu menarik! cocok deeh jadi bidan, pasti banyak yang kepingin ditolong melahirkan sama kamu!" puji Nindy. Arimbi tambah bersemu malu karena dipuji oleh sahabat mamanya itu.
__ADS_1
Abimanyu tersenyum samar melihat pipi gadis itu yang menjadi merah.
"Giiih.. sana pada ngobrol berdua! kalau gabung sama bunda, kasian kamunya Bi!" ucap bunda.
"Ayoo Han.. kita diruang tengah aja!" Kata Abimanyu, yang disambut anggukan oleh Handa.
.
.
Setelah mereka diruang tengah.
"Aku enggak pandai ngobrol Han, gimana kalau aku main gitar, kamu yang nyanyi! biar nggak jadi sunyi!"
"Lagu apa?" tanya Arimbi.
"Kamu tahu lagu ini nggak?" kemudian Abimanyu sudah memainkan dengan indah sebuah lagu. Arimbi mengikuti iramanya dan sudah tahu itu lagu apa.
Lalu Arimbi mencoba bernyayi mengikuti petikan gitar Abimanyu..
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
(ternyata Arimbi juga memiliki suara yang lebih merdu dari suara Tita, membuat hati Abi semakin tersayat)
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
.
.
.
.
.
Gadis..
apakah kita seperti itu?
__ADS_1