My Favorite CEO

My Favorite CEO
60. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Dimana? _ Abimanyu


Pesan Abimanyu suatu sore.


Masih ada didesa seberang sayang, sedang menunggu bidan Aisyah bantu persalinan disini. Bunda sudah sampai?_ Nisa


*Bunda sama aku tadi sebelum Dzuhur sudah menunggu kamu didermaga. Hanya perawat Titi yang pulang. Dia tadi juga menyampaikan hal yang sama. Ini sudah sore, bagaimana nanti kalian menyeberang ?_ Abimanyu


Sepertinya baru besok aku dan bidan Aisyah pulang sayang.. ibunya sudah pembukaan 8 jadi kalau pun melahirkan diperkirakan sudah sangat malam untuk kembali. Tolong sampaikan maaf Nisa sama Bunda yaa.. _Nisa


Hati-hati, beri kabar malam ini ya_Abimanyu


Iya, salam buat bunda_Nisa*


Bunda baru saja selesai sholat Ashar yang sudah ketelatan karena tadi menunggu lama di Dermaga.


"Bun..salam dari Nisa, dia minta maaf belum bisa kembali dari desa seberang, karena ada yang mau melahirkan, harus ditunggu karena sudah pembukaan 8" ucap Abimanyu sambil membantu Bunda melipat sejadahnya.


"Iyaa.. nggak apa-apa Bi, besok kan kita masih bisa ketemu, Bunda masih lama kok disini" jawab Bunda.


"Coba sekarang Abi dulu aja yang cerita, Annisa itu dokter?bidan?perawat? trus bagaimana sampai kamu kok tiba-tiba bisa jatuh hati sama Nisa?" ucap Bunda lagi.


Selanjutnya Abimanyu menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Annisa, sampai pada tumbuhnya semua rasa indah itu.


.


.


.


.


.


.


*Sayang.. aku dan Aisyah sudah akan kembali. Kami sudah diatas sampan_Nisa


Aku juga sudah menuju ke dermaga bersama Bunda_Abimanyu


Ya..Ampun sayang, kasian kan bunda baru datang kemarin, harusnya beliau istirahat dulu _ Nisa


Nggak apa-apa Nisa.. Bunda kok yang maksa Abimanyu untuk lihat kamu hari ini_Bunda


OOO iyaa Bunda, maaf yaa Nisa baru bisa pulang hari ini_Nisa


Nggak apa-apa sayang_Bunda*

__ADS_1


Abimanyu yang terlebih dulu sudah sampai di dermaga, tak berapa lama kemudian terlihat sampan yang membawa Annisa dan Aisyah dari kejauhan.


"Itu Nisa Bun" Ucap Abimanyu yang begitu bahagia melihat kekasihnya. Senyumannya yang merekah membuat Bunda tersenyum lega.


Setelah sampan disandarkan, Annisa mendekati Abimanyu dan Bundanya dengan tersenyum manis.


Abimanyu membawakan tas ransel yang diletakan di bahu Annisa tadi semenjak disampan. Annisa memandang wajah Abimanyu sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang.." ucapnya perlahan, berharap hanya Abimanyu yang dapat mendengar


"Mmm" jawab Abi.


Dokter Annisa mengambil punggung tangan bunda Abimanyu, dan menciumnya dengan hormat.


"Bun.. perkenalkan saya Annisa" sapa Dokter Annisa. Lalu tersenyum, namun tidak bisa menyembunyikan keharuannya hingga airmatanya begitu saja menggenang. Dia mengalihkan airmata itu dengan membalikan badannya untuk memperkenalkan Bidan Aisyah.


"Ini bidan Aisyah Bun, teman Nisa di Puskesmas" ucapnya sambil lekas-lekas mengusap airmatanya. Abimanyu menangkap itu, diusapnya punggung belakang dokter Annisa. Gadis itu bergantian menoleh kearah Abimanyu dan mencoba memberikan senyumannya.. mengisyaratkan dia baik-baik saja. Tatapan mata Abimanyu menenangkannya.


"Saya Bundanya Abimanyu" balas bunda sambil menjabat tangan bidan Aisyah


"Saya Aisyah Bu" sapa bidan Aisyah.


"Kasih kunci motornya ke Febri aja Nis, kalian biar aku antar ke Puskesmas" ucap Abimanyu. Lalu Bidan Aisyah mengambil kunci motor mereka didalam tas, dan memberikannya kepada Febri.


Kemudian mereka semua masuk kedalam mobil.


"InsyaAllah Aman Bun. karena memang hanya itu satu-satunya alat transportasi untuk kami sampai kesana" jawab Annisa.


"Alhamdulillah nya sekarang sudah pakai mesin motor Bun, waktu pertama kali sampan itu benar-benar didayung" lanjutnya.


"Disana banyak penduduknya nak?" tanya Bunda lagi.


"Lumayan banyak Bun ada 30 KK, 1 KK ada anaknya yang 3 atau 4. Pada awalnya memang agak susah mengedukasi tentang kesehatan Bun, tapi kesininya dengan berbagai pendekatan yang humanis, akhirnya malah mereka yang sudah dengan kesadaran menjemput kami setiap 2 kali dalam 6 hari kerja" penjelasan dokter Annisa.


"Syukurlah .. Bunda benar enggak nyangka kalau masih ada dibelahan negara kita masih ada yang sesulit ini mencapainya"


"Masih banyak Bun. dipulau lain juga masih banyak, padahal wilayahnya dipulau Jawa"


"Naah.. ini puskesmas kami Bun.. kita sudah sampai" jelas Dokter Annisa.


"Sudah banyak yang menunggu nak..?" ucap bunda.


"Biasa itu Bu.." jawab bidan Aisyah sambil tersenyum.


"MasyaAllah... bunda kira setelah dari pulau kalian libur?"


"Itu impian kita Bun.." ucap Annisa yang diikuti oleh tawa Aisyah dan bunda.

__ADS_1


Hati bunda terharu mendengarnya. Tatapan lembutnya melihat keceriaan Annisa dan Aisyah seakan membaca bahwa sebenarnya mereka pasti lelah, tapi semua disembunyikan dalam balutan tawa dan senyumnya.


"Boleh bunda ikut kedalam untuk lihat-lihat Nis?"


"Mmmm.. bunda enggak cape?"


"Enggak.. bunda baik-baik saja, bunda mau tahu!"


"Bi?"


"Iyaa.. boleh, aku bebas hari ini" jawab Abimanyu


"Ayo Bu...kalau begitu, nanti Aisyah yang akan ajak ibu lihat-lihat, karena dokter Annisa sudah kedatangan penggemarnya Bu" ucap Bidan Aisyah yang membuat semua tertawa.


Bidan Aisyah dan bunda jalan didepan, sementara Annisa dan Abimanyu mengikuti dari belakang.


Abi membuka sebungkus permen coklat


Menghentikan sejenak langkah Dokter Annisa.


"Buka mulutnya" perintah Abimanyu ketika sudah berhadapan dengan Annisa, tanpa membantah Annisa melakukan apa yang diminta Abi.


Permen coklat mendarat di lidah Annisa.


"Mmm.. manis.. terima kasih sayang.." ucap Annisa membuat Abi tersenyum malu, lalu melangkah lagi.


Sampai akhirnya Dokter Annisa memasuki ruang prakteknya dan Abimanyu lebih memilih duduk dibangku tunggu pasien, memperhatikan tubuh kurus calon istrinya namun membayangkan kekuatan tenaganya melebih yang bisa ia bayangkan.


Sementara Bunda sedang berkeliling bersama bidan Aisyah, sekaligus banyak bertanya tentang dokter Annisa tanpa sepengetahuan Annisa dan Abimanyu.


.


.


.


.


.


.


"Terima kasih Aisyah untuk penjelasannya, Ibu berharap kamu tidak menceritakan lagi pada Annisa dan Abimanyu semua hal yang sudah saya ketahui dari kamu"


"Tapiiii.. Bu, saya berharap.. ibu akan memutuskan yang terbaik untuk semua pihak yaaa..."


Bunda hanya tersenyum, tak memberi jawaban

__ADS_1


__ADS_2