My Favorite CEO

My Favorite CEO
5. Tita


__ADS_3

"Abi itu.. walau nggak banyak ngomong.. tapi sikapnya manis.." ucap Tita dalam hatinya. Abimanyu tersenyum dan menyentuh dadanya yang terus saja bergemuruh sore ini.


Pepaya yang sudah dijus oleh Bunda, ditempatkan kedalam mangkuk kaca besar, lalu 1liter Minuman soda putih dituangkan Bunda kedalam Jus pepaya tadi. Bunda sedang mengaduk campuran pepaya dan minuman soda tadi, ketika Tita dan Abi sudah sampai didapur lagi.


"Bunda..boleh Tita bantuin?" Ucap Tita yang disambut senyum tipis nggak jelas seperti yang Yoga katakan untuk menggambarkan hati putra mereka yang sedang bahagia.


"Boleh doong sayang, kamu tolong potong-potong tipis lemonnya yaa" sambut Nindy.


"Kamu kalau mau kelapangan sama anak-anak lagi pergi aja Bi, aku mau disini bantuin Bunda dulu." ucap Nindy.


"Enggak, aku disini aja." Jawab Abi sambil duduk disalah satu bangku meja makan disitu.


"Tita, kamu anak keberapa sayang?" tanya Nindy ingin mencairkan suasana.


"Tita anak kedua bunda, Abang Tita sekarang tingkat 1 dikedokteran, meneruskan keinginan papa mama punya anak dokter juga." Jawab Tita.


"OOO Papa Mama Tita dokter, dokter apa? praktek dimana?" Tanya Nindy lagi. Abimanyu mulai tidak senang dengan ke kepo an Bundanya. Dia berdehem seperti mengingatkan.


"Bunda... bolehkan nanya seperti itu Ta?" ucap Nindy yang tahu kalau putranya sudah risih. Tita tahu yang dimaksud oleh Bundanya Abimanyu menjawab


"Nggak apa-apa Bunda, Tita nggak keberatan kok. Papa dokter spesialis Jantung, kalau Mama spesialis penyakit dalam, berdua praktek disalah satu rumah sakit umum pemerintah kalau pagi Bunda, kalau sore Papa aja yang praktek lagi dirumah sakit swasta."


"Tita juga mau jadi dokter dong kayak papa, mama?"

__ADS_1


"Iya..Bunda, Tita pingin kayak papa mama jadi dokter, tapi didesa.. biar bisa membantu yang dipelosok-pelosok."


Nindy langsung menghentikan kegiatan yang dilakukannya didapur. Menghadap serius kearah Tita. Tita yang diperhatikan sedemikian intens oleh Bundanya Abimanyu jadi salah tingkah. Abimanyu pun memaku dirinya mendengar apa yang baru saja didengarnya.


"Ta.. dokter didesa itu nggak besar penghasilannya, malah sepertinya kamu harus rela bekerja tanpa pamrih. Kamu nggak menyesal nanti sudah cape-cape sekolah, susah lagi sekolahnya."


"Kalau dokter-dokter hebat seperti salah satunya papa mama aku aja sudah dikota Bun, trus yang didesa, apa harus terus berobat ke kota dulu baru bisa dirawat oleh dokter hebat Bun? Tita mau jadi dokter hebat, menyembuhkan banyak pasien, tapi didesa.." Tita memandang serius kearah Nindy, seperti apa yang dilakukan Nindy pada dirinya.


"Nanti pilihan hidup kamu pasti berubah kalau punya suami." cecar Nindy lagi sambil terus masih memperhatikan Tita.


"Kalau begitu, Tita harus mencari suami yang juga mengabdi didesa Bunda, yang mampu memahami dan sepemikiran dengan Tita."


Nindy melempar pandang kearah Abimanyu. Memperhatikan bahwa putranya walau hanya diam saja, tapi dia pasti mendengarkan pembicaraannya dengan Tita. Ekspresi wajah Abimanyu yang tak terbaca, membuat Nindy hanya tersenyum.


"Kalau Bunda, inginnya Abimanyu jadi apa?" Tanya Tita tiba-tiba, yang membuat Nindy kembali mengalihkan pandangannya kearah Tita.


"Mmmm kalau Bunda, bagaimana Abi saja. Abi mau jadi pengusaha seperti papanya asal itu yang Abi inginkan Bunda ikut senang, atau Abi mau jadi Pemimpin di suatu pemerintahan daerah biar bisa menolong dokter-dokter cantik seperti kamu didesa dengan kebijakannya.. Tante tambah senang." Jawaban Nindy sambil menggoda putranya itu disambut tawa Tita.


"Kenapa kamu ketawa?" Tanya Abi


"Kalau kamu jadi pengusaha.. dengan wajah jutek dan ngomong kamu yang seadaanya sih.. gak apa-apa... Sultan mah bebas.. tapiiii... kalau jadi pemimpin daerah, kamu kayak gitu sih, warga masyarakat kamu bakal nggak ada yang berani ngadu ke kamu. Lihat wajah kamu yang nggak pernah senyum aja sudah mengurungkan niat mereka!" Jawab Tita disambut tawa Bunda. Abi langsung memperlihatkan wajah juteknya. Membuat Tita mengurungkan niatnya untuk tertawa lagi bersama Bundanya Abi. Dia takut, laki-laki itu akan bertambah marah.


Nindy yang tahu putranya sudah mulai kesal, akhirnya menyerahkan mangkuk besar berisi minuman buah yang sudah dicelupkan irisan lemon dan es batu itu ke Abimanyu.

__ADS_1


"iniii.. bawa sana minumannya ke teman-teman kamu."


"Tita kelapangan basket lagi yaa Bun.." pamit Tita.


"Iya... hati-hati... ada orang jutek!" goda bunda yang disambut tatapan jutek Abi. Tita tersenyum manis. Memandang kewajah Abi. Semakin kencang gemuruh didada Abimanyu saat itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


. " Abi.. aku suka wajah jutekmu, bicaramu yang seadanya.. karena aku tahu.. sesungguhnya didalam dihatimu penuh rasa Cinta♥️"



__ADS_2