
Seseorang yang masuk kedalam kamar Abimanyu dengan sangat geram melihat semua pesan juga notifikasi puluhan deringan telpon Tita, lalu menghapusnya dan memblokir nomor Tita.
Handphone diletakkannya kembali ditempatnya semula. Lalu Ia keluar dari kamar Abimanyu.
Hingga saat semua sudah pamit meninggalkan rumah kediaman orang tua Abimanyu, si empunya handphone tidak pernah mengetahui puluhan telpon dan pesan-pesan singkat yang sudah dikirimkan oleh Tita.
Bahkan Abimanyu sendiri tidak pernah menyadari bahwa nomor Tita telah terblokir dihandphonenya.
Dirumah yang berbeda
Tita menjadi sangat kesal bahkan marah karena tiba-tiba saja nomor Abimanyu sudah tidak bisa lagi ia hubungi, potongan-potongan foto Abimanyu yang berserakan didalam kamarnya menjadi saksi kemarahannya.
Ia seperti kembali ke masa itu .. ke masa dimana Abimanyu dengan jelas telah menyatakan penolakannya atas cinta dan permohonan maaf Tita. Dan itu masih sangat menyakitkan.
Apalagi setelah ia kehilangan Abimanyu .. ternyata bahkan dia melepaskan seluruh kesempatannya memiliki semua yang ternyata dimiliki Abimanyu, dan itu semakin membuat dirinya begitu marah pada dirinya sendiri.
Waktu terus bergulir, meninggalkan segala yang tertinggal dibelakang. Bagi Annisa menyelesaikan misi kemanusiaannya yang selama ini telah membuat Ia mampu bertahan hidup, menjadi hal yang paling berat dan sulit yang kembali ia harus hadapi.
Meninggalkan seluruh sahabat dan orang-orang yang sudah teramat baik dalam hidupnya, menemani Annisa melewati kesendirian dan lukanya, menjadi kehilangan yang amat dalam yang dirasakan olehnya saat ini.
Tiba-tiba hatinya menjadi kosong.
Abimanyu sudah banyak memberikan pandangannya, bahkan tak jarang lelaki itu meminta Annisa untuk kembali memikirkan niatnya untuk melepas semua yang ia cintai selama ini.
Abi dapat memahami betul, bahwa selama ini istrinya merasa memiliki kehidupan ketika berada ditengah-tengah orang yang membutuhkannya. Bahkan kebahagiaan istrinya terletak pada itu semua. Ketika satu-satunya keluarga yang ia tahu dan ia miliki mencampakkannya, namun kemudian kehadirannya didesa ini menjadi sangat berarti bagi masyarakat desa membuat istrinya memiliki hal lain yang mampu ia perjuangkan untuk mencintai kehidupan yang diberikan Tuhan padanya.
Abi tidak ingin istrinya kehilangan segala mimpi dan makna hidup bagi wanita yang amat dicintainya itu.
Tapi Annisa justru dibawa kepada perasaan dan pemikiran bahwa, Tuhan sudah memberikan garis kehidupan yang sangat jauh lebih baik padanya saat ini, sehingga rasanya Ia terpanggil untuk sama melakukan yang terbaik untuk semua yang telah Tuhan hadiahkan pada dirinya.
Annisa pernah kehilangan keluarga, ketika Tuhan menghadiahkan keluarga yang jauh lebih baik yang pernah ia miliki, yaitu suami, mertua bahkan sebentar lagi dua anak yang akan ia lahirkan, Annisa tidak ingin menyianyiakan itu semua.
__ADS_1
Ia ingin menjadi utuh untuk suami dan anak-anaknya, agar Ia tidak akan merasakan kehilangan keluarganya lagi.
Annisa merasakan, keluarga yang ia miliki sekarang adalah udara yang membuat dirinya mampu bernafas, terlebih lagi ia dan suaminya harus mempersiapkan diri untuk menjaga anak-anak mereka yang salah satunya akan lebih membutuhkan perhatian yang lebih, jika keadaan jantungnya tidak lebih membaik.
Annisa menghubungi dokter Anya, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Haiiii Nis, ada di Jakarta atau sudah kembali ke Kalimantan?" suara dokter Anya menyapa pertama kali.
"Sudah diKalimantan lagi dokter Anya. Dok.. seperti pertama kali, Nisa memilih jalan pengabdian melalui dukungan dokter Anya, hari ini Nisa juga mohon izin dari dokter Anya ..." jawab Annisa setelahnya.
"Izin apa Nis? kok aku feeling sedih niih.." sela dr.Anya
"Iyaa dok, Nisa mohon izin untuk berhenti dan keluar menjadi Pengabdi Negara dok .." jawab Nisa lagi.
"Kenapa? karena kondisi salah satu twins?" tanya dokter Anya.
"Iyaa dok, salah satunya. Karena kalau kondisinya tidak membaik, suami dan keluarga juga menginginkan kami dekat dengan fasilitas kesehatan yang mumpuni di Jakarta" jawab Annisa kembali.
"Dan karena sekarang kamu sudah merasakan memiliki orang-orang yang tulus mencintai kamu apa adanya ... aku menerima keputusanmu Nis, ajukanlah permohonan pengunduran dirimu dari sekarang, karena tidak mudah mendapatkan dokter pengganti untuk didaerah-daerah seperti ditempatmu. Aku ikut bahagia Nisa, atas kebahagiaanmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan akan terus mendukungmu Nisa!" ucap dokter Anya.
"Terima kasih banyak sekali lagi dokter Anya .. saya hanya mampu membalas segala kebaikan dokter Anya dengan doa" balas dokter Annisa yang sudah beruraian airmata.
"Nisa ... itu bukan pertolongan saya, karena kamu orang baik maka Tuhan juga memberikan hadiah terbaiknya untuk kesabaran dan keikhlasan kamu. Aku bahagia karena tahu kamu bahagia Nis!" ucap dokter Anya lagi yang juga sudah beruraian airmata.
"Apa kata dokter Anya sayang?" tanya Abimanyu sambil menggenggam jemari istrinya.
"Dokter Anya mendukung keputusanku mas .. besok, tolong Febry mengurus semuanya ya .." jawab Annisa penuh kesedihan.
"Sayaaaang ..." jawab Abimanyu terdiam sambil membawa Annisa dalam dekapannya. Ia dapat memahami kesedihan istrinya saat ini, Annisa menangis didada suaminya, Abi mengusap punggung istrinya dan mencium ujung kepala wanita yang teramat dicintainya itu.
"Apakah aku telah membuatmu .. melepaskan segala impianmu sayang?" tanya Abimanyu lirih karena begitu menyakitkan melihat istrinya menangis seperti ini. Hatinya perih.
__ADS_1
"Aku melepaskan satu impianku untuk mewujudkan impianku yang lain mas... tapi ternyata walaupun aku ikhlas melepasnya .. aku tetap merasakan sakitnya kehilangan ..." jawab Annisa dalam tangisannya didada Abimanyu.
"Itu sudah pasti ..sayang, karena kamu melakukannya setulus hati" ucap Abimanyu lagi masih memeluk Annisa dan membiarkan seluruh airmata istrinya tertumpah.
*Bagaimana aku tidak mencintainya
Bahkan airmata yang ia teteskan saja begitu tulus
Bagaimana aku tidak mencintainya
Hingga apapun yang membuatnya sedih
Membuat hatiku ikut perih dan menangis.
(Aku hanya ingin mencintainya _ Abimanyu*)
Tak ada satu orangpun menyukai perpisahan, terlebih perpisahan itu adalah dengan hal-hal baik dan positif yang telah membuat diri kita berarti.
Kesedihan itupun terasa dipuskesmas yang dipimpin oleh Annisa, semenjak semua rekan-rekannya mengetahui bahwa ia telah resmi mengajukan pengunduran dirinya.
Setiap momen kesulitan yang sudah mereka lalui bersama menjadi cerita yang menjadi paling berkesan yang tertinggal dalam ingatan. Kesulitan yang membuat mereka justru saling bersatu, bahu membahu memberikan dukungan satu dengan yang lainnya, memberikan segala yang terbaik dari keterbatasan. Membuat mereka akhirnya saling mencintai dan melindungi.
Segalanya kini jauh lebih baik dan lebih mudah, walau masih belum bisa menyamai keadaan selengkap dikota-kota besar, ini sudah menjadi kemajuan besar. Hanya butuh sedikit lagi kesabaran hingga semua pemerataan pembangunan sampai dipulau mereka.
Annisa memperhatikan dengan seksama Puskesmasnya, teman-temannya juga pasien-pasiennya, Ia tersenyum getir tapi sekaligus bahagia. Ia pernah menjadi bagian dari mereka.
Mengalami semua pengalaman paling berharga dalam hidupnya, menempa dan membentuk dirinya menjadi seperti saat ini.
"Mari kita semai bahagia diwaktu yang masih tersisa Ais .. Titi .. aku hanya tidak lagi menjadi bagian dari pengabdian kalian, tapi aku masih bisa sesekali berada kesini untuk melihat kalian dan merasakan kemajuan pesat dusun kita!" ucap Annisa pada Aisyah dan Titi.
"Mari dok! kita hanya harus bahagia !" teriak Aisyah dan Titi bersamaan saling memeluk Annisa.
__ADS_1