
Tak mengerti
Apa yang telah terjadi
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Yang selalu
Mencari dan meneleponku
Dering darimu
Tak ada lagi
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Tak mengerti
Mengapa engkau membisu
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Sampai aku
Ragu untuk meneleponmu
Mengertikah kamu
Aku rindu kamu
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Aku tak suka bila
Kau selalu dekat dengannya
Jangan engkau cemburu
Dia hanya sahabat di kelasku
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
__ADS_1
Mengganti cintaku
(Mengganti cintaku)
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Kalau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Tak usah cemburu
Aku tak ingin kita berpisah karena ini
( Dengan Caraku )
\=\=\=\=\=\=\=
Telpon pagi kemarin, adalah telpon terakhir Yoga.
Nindy pun tak berusaha menghubunginya.
Larut dengan fikiran masing-masing. Membuat mereka menyiksa diri sendiri dengan kesalah fahaman dan kerinduan.
Pagi ini, perawat sudah mencopot kantong transfusi darah Nindy, karena sudah mencapai angka Normal HB. Menggantikan dengan Infus cairan biasa.
Mama menyisir rambut Nindy yang baru saja selesai mandi.
Memperhatikan anak gadisnya yang hanya diam seribu bahasa.
Memandang keluar jendela kamar perawatannya.
Seperti biasanya, akan beberapa kali petugas Gizi
masuk membawa sarapan pagi untuk setiap pasien dan mengambil termos air panas yang kemarin, digantikan dengan termos air panas yang baru.
Dan ketika mama dan Nindy menyangka yang masuk adalah petugas Gizi rumah sakit, keduanya tidak menoleh lagi.
Yoga diam terpaku. Memperhatikan dari belakang kesunyian yang terasa sendu didalam ruangan itu.
Mama sudah selesai menyisirkan rambut Nindy, membalikan badannya untuk mengambil sarapan yang diantarkan petugas Gizi, tapi Mama terkejut senang, karena yang masuk sebenarnya Yoga.
Yoga meminta mama tidak bersuara dengan manaruh jari telunjuk didepan bibirnya.
Mama mengangguk mengerti.
" Ma..."
Suara Nindy lembut memanggil mamanya tanpa menoleh.
" iyaa sayang..."
" A Yoga .. belum telpon mama lagi? "
tanyanya sendu
__ADS_1
Mama melempar pandang ke sosok Yoga yang sudah ada disampingnya.
Yoga bahagia mendengar wanitanya menanyakan kabarnya.
" Aa disini .... "
Jawab Yoga
Mama keluar dari kamar Nindy membiarkan anak-anak mereka menyelesaikan persoalannya.
Nindy membalikan badannya kaget ketika yang ditanya malah sudah ada didekatnya.
Namun ... bukan dia memburu berlari kearah Yoga, Nindy membiarkan tubuhnya membalik kembali ke posisi awal.. sambil melihat keluar jendela kamarnya yang mulai diderasi air hujan.
Yoga terdiam membaca reaksi Nindy barusan.
Ia melihat gerakan wanitanya seolah sedang menghapus jejak air matanya.
Yoga perlahan mendekat kearah Nindy. Berdiri diam didepan wanitanya yang tak bergeming.
Yoga menopang tubuh diatas lututnya. Menggenggam jemari Nindy yang dingin sambil menatap wajah Nindy yang tak ingin melihat kearahnya.
Namun Yoga tetap memberikan usapan pada tangan Nindy yang diinfus ..
" aa lebih nyakitin yaa hon .. daripada sakitnya jarum infus ini?"
Tidak ada jawaban dari Nindy, hanya air matanya saja yang berbicara.
Yoga berdiri.. menghapus air mata Nindy dengan rasa pilu dihatinya...
Sudah berapa kali dia menyakiti hati wanita yang dicintainya ini ...
Membuat Yoga mengutuki dirinya sendiri.
" Maafin aa ya... "
Matanya sendiri sudah tergenang rasa kesedihan dan keharuan yang menyatu seirama dengan hatinya yang sudah galau.
" Jangan marah lagi... jangan nangis lagi... aa tahu.. aa salah.. tapi lihat kamu kayak gini... ini nyakitin aa.. "
Yoga merebahkan kepalanya dipangkuan Nindy.
Diam dalam posisi itu... menunggu reaksi wanitanya.
" aa .. merasa melihat Rosa kembali dengan kehadiran Mili ? "
tanya Nindy sendu dengan suaranya yang bindeng karena menangis.
Yoga langsung mengangkat kepalanya dari pangkuan Nindy, tidak menyangka akan pertanyaan Nindy.
Ini yang membuat wanitanya resah ternyata...
" ya.. waktu pertama kali Mili menyapa.. tapi selanjutnya tidak, aa lebih risau memikirkan kamu .. tapi karena handphone aa disita Mili, aa seharian itu tidak bisa menghubungi kamu."
" aa coba meminta, tapi handphone aa malah dia taruh disaku bajunya. jadi aa tidak mau menanggapi .. dan merasa.. biarlah nanti akan aa jelaskan ke kamu setibanya aa dirumah.. tapi ternyata kamu pulang... "
" aa tidak terus hanya berduaan saja sama Mili .. Hon, di rumah sakit itu ada mamanya Rosa yang dirawat, setelah dari situ.. ada reuni kecil-kecilan dengan teman-teman kuliah aa dulu yang kebetulan sekarang mereka tinggal dan bekerja di Indonesia "
" aa mau ngabarin ke kamu... tapi handphone kan disita Mili. "
" Maafin aa yaaa ... sudah buat kamu risau nungguin aa tanpa kabar, nggak peka.. padahal kamu masih sakit.. "
Yoga menunggu reaksi Nindy, ketika setelahnya Ia mencium kening wanitanya.
Air mata Nindy malah menderas...
Membuat Yoga malah terlihat panik dan gelisah..
" apa yang sakit .. hon ? kok nangis lagi... aa panggil dokter yaa... "
tangan Yoga dihentikan lembut oleh tangan Nindy yang melarangnya beranjak dari sisinya.
" Jangan nangis teruuuss... aa bingung... "
Yoga terus menghapus air mata Nindy ..
Nindy memeluk Yoga.. menumpahkan segala rasanya dibahu laki-laki yang sudah sangat dicintainya.
" Maafin aa yaa sayang.... maafin... "
Nindy semakin erat memeluk Yoga dengan tangis yang begitu memilukan hati Yoga.
\=\=\=\=\=\=\=
" Menyakiti hatiku... melihatmu menangis justru karena aku yang buat "
__ADS_1