My Favorite CEO

My Favorite CEO
Nena lagi !


__ADS_3

Ketika semua staf Yoga sedang mempersiapkan semua, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka, dan berdiri diambang pintunya Pak Bahctiar bersama putrinya... Nena.


Yoga menghampiri pak Bachtiar, menyalaminya kemudian juga mengulurkan tangannya didepan Nena, Nena tidak membalas, ditariknya lagi tangannya karena tidak mendapat sambutan.


Mempersilahkan Pak Bachtiar dan Nena untuk duduk.


" Semoga hasilnya seperti yang kamu harapkan ga!". Ucap pak Bachtiar pertama kali.


" Semoga pa, karena Keprofesionalan tim.. saya pertaruhkan disini "


Yoga menekankan kata " Keprofesionalan " demi menjawab pernyataan bersayap pak Bachtiar.


Dia ingin menegaskan bahwa hal berbeda dengan urusan yang menyangkut Nena putri Pak Bachtiar dengan apa yang pagi ini akan diperjuangkan oleh Yoga.


Dan semoga hal itu ditangkap oleh Pak Bachtiar, doa Yoga.


Nena yang turut mendengarkan hanya mendelikkan matanya.


Tak berapa lama datanglah Pak IA bersama staf ahli dan para jajarannya guna mendengarkan presentasi Perusahaan Yoga mengenai profil pesawat yang akan dipergunakan untuk VVIP.


Yoga turut menambahkan keterangan dari tim nya mengenai kelebihan dan kecanggihan kemampuan manuver yang bisa dilakukan oleh pesawat yang mereka tawarkan.


Pertanyaan-pertanyaan pun banyak dilontarkan oleh pak IA dan para staf ahlinya


Dan semua mampu dijawab oleh Yoga dan Tim, bahkan diakhir pernyataan pak IA telah tersirat menyetujui akan memakai pesawat berlisensi dari perusahaan Yoga.


Dan meminta Yoga menemui staf ahlinya untuk melanjutkan kontrak kerja.


Hari itu semua kerja tim terbayarkan. Yoga berterima kasih kepada semua staf dalam Timnya kali ini.


Dan semua staf sangat terkagum-kagum dengan Yoga yang selalu mendampingi setiap proyek mereka, sehingga dari proses awal sampai diakhir pekerjaan, Yoga memahami betul dukungan yang diperlukan demi kelancaran pekerjaan mereka.


Pak Bachtiar ikut pamit bersama rombongan Pak IA demikian juga dengan Nena. Itu yang diketahui Yoga.


Tapi ternyata, ketika Yoga berpamitan kepada semua stafnya dan pergi meninggalkan kantor pak IA, dimobil Yoga sudah duduk Nena disana.


Demi sopan santun Yoga tidak bisa mengusir Nena keluar dari mobilnya.


Bahkan pak Budi dan Ferdy jadi saling bertatapan serba salah.


" Jalan pak Budi !" perintah Yoga


" Kalau benar kamu enggak ada hati sama aku sediiikit saja mas, kenapa kamu nggak usir aku dari mobilmu!"


Ucap Nena memulai


" Saya bisa saja mengusir kamu dari mobil saya, tapi demi sopan santun dan demi hubungan baik saya dengan pak Bachtiar, itu tidak akan saya lakukan!"


jawab Yoga ketus


" kalau begitu, kenapa tidak bisa demi menjaga hubungan baik antara kamu sama papa, dan demi semua kebaikan papa ke kamu selama ini, kamu Menikahiku? "


" Menjaga hubungan baik tidak sama dengan jatuh cinta Na."


" Memang benar saya berhutang Budi dengan ayahmu, namun selama ini saya juga bukannya tangan kosong berhubungan baik dengan ayahmu, semua saya rasa ada timbal baliknya. Dan ayah kamu sangat mengerti akan hal itu."


" Sementara tentang kamu. Saya rasa kamu telah salah faham. sejak awal saya hanya bilang pada ayahmu kalau saya memang bersedia dikenalkan oleh anaknya, tapi saya tidak pernah berjanji untuk lebih jauh apalagi sampai Menikahimu !"


" Brengsek kamu !! "


Nena memukul-mukul kearah Yoga.


Yoga berusaha mengelak dan menghentikan Nena.


Sehingga pak Budi harus menepikan kendaraan dan Ferdy membantu melepaskan Yoga dari Nena.


Yoga keluar dari mobil diiringi teriakan-teriakan kata-kata kotor dan kasar dari Nena.

__ADS_1


" antarkan perempuan itu ke ayahnya, selebihnya biar saya hubungi dan selesaikan dengan pak Bachtiar!! "


perintah Yoga keras.


" Bapak bagaimana?" tanya Ferdy masih sambil menahan tubuh Nena yang berontak


" saya naik taxi!". jawab Yoga tegas.


Lalu Yoga menghentikan taxi yang kebetulan lewat dan meninggalkan tempat itu lebih dulu.


" Perempuan gila! dia fikir aku bisa dijadikan tumbal pembalasan kebaikan ayahnya!!"


" sundel !! ayahnya bisa sampai diposisi saat ini justru karena dukungan financial darinya !!"


Sudah tidak bisa aku diamkan. Pa Bachtiar juga mesti sadar diri !! agar anaknya juga tidak mengganggunya lagi!


Masih dengan keadaan emosi, Yoga mencoba tenang dan menghubungi pak Bachtiar.


\=\=\=\=\=


Semua sudah disampaikan oleh Yoga, Pak Bachtiar pun sudah meminta maaf dan berjanji akan menegur Nena putrinya.


Kita lihat saja setelah ini, batin Yoga.


Taxi pun telah sampai dikantor Yoga, setelah membayar dan turun dari taxi, Yoga memasuki kantornya.


Sesampainya dilantai tempatnya bekerja, semua staf memperhatikan Yoga dengan tatapan bertanya dan berharap berhasil atau tidaknya kontrak kerjasama yang presentasinya pagi tadi baru dilaksanakan.


Yoga masih terdiam sampai ditengah-tengah para stafnya berdiri berharap dengan cemas.


" Kita mendapatkan kontrak itu !"


Yoga berteriak dan disambut riuh rendahnya teriakan Yes dan ucapan selamat dari para stafnya yang lain.


Yoga bahagia melihat kegembiraan dan rasa syukur para stafnya. Hal inilah yang selalu dibangun oleh Yoga. Rasa memiliki dan kebersamaan para stafnya sehingga tidak perlu memiliki karyawan banyak jika mereka mampu solid dan profesional dalam jumlah sedikit.


Kebahagiaan itu dibawa Yoga sampai menjelang tiba dirumahnya sore itu.


Dengan langkah terburu-buru, yoga memasuki rumahnya.


" Assallamualaikum "


Salamnya ketika memasuki rumah


" Waalaikumsalam " balas Nindy dan papanya dari dalam rumah.


Yoga pun berdiri dengan menampakan wajah tidak sukanya begitu melihat Nena sedang duduk berhadapan dengan Nindy dan papanya.


Nindy berdiri, memohon izin pada Nena dan Papa untuk mengambilkan air minum buat Yoga.


Ketika Nindy berjalan kearah dapur, ternyata Yoga mengikutinya dari belakang.


" Mau apa lagi dia datang kesini Sayang..".


Tanya Yoga setelah mereka berada didapur.


" a, Nena sudah menceritakan dari mulai awal perkenalan kalian sampai kejadian tadi setelah dari kantor pak IA. Dan tadi Nena juga mengatakan bahwa dia sudah terlanjur menceritakan kedekatan aa sama dia ke seluruh anak kolega ayahnya juga teman-temannya, saat ini dia merasa sangat malu kalau sampai aa tidak jadi menikahi Nena"


" itu urusan dia ! bukan urusanku ! biar saja dia yang menyelesaikan ! ngapain juga dia bicarakan semua didepan kamu sama papa ! perempuan itu memang harus dikasih pelajaran ! "


Begitu Nindy melihat Yoga berbalik badan ingin memberi pelajaran pada Nena, Nindy mengejarnya


memeluknya dari belakang.


Langkah kaki Yoga terhenti.


" a... "

__ADS_1


Nindy dapat merasakan debur jantung Yoga dari telapak tangan yang memeluknya saat ini.


wajahnya yang saat ini berada dipunggung belakang yoga dapat mencium aroma tubuh lelaki yang dicintainya.


dengan lembut diciumnya bahu Yoga.


" Jangan berlaku kasar, Nena sepertinya selama dalam hidupnya tidak pernah mendapatkan penolakan, sehingga saat ini ego nya merasa tidak bisa menerima hal itu. "


Yoga membalikkan badannya menghadap kearah Nindy.


Memeluk pinggang calon istrinya.


" kamu tau ? aku bahkan tadi terpaksa menelpon ayahnya, cukup sudah dia menghinaku! dia fikir selama ini hanya aku yang mendapatkan kebaikan dari ayahnya !! "


" aku bahkan menjadi sponsor untuk mendukung financial ayahnya sampai pada diposisi saat ini!'


" Dia hanya tidak bisa menerima sumber uang untuk dirinya dan ayahnya lepas dari tangan Nin!"


" Dan aku muak! karena memang aku tidak pernah mencintai dia jadi kenapa aku yang harus bertanggung jawab untuk semua tingkahnya yang enggak normal itu!"


Nindy tak menjawab...


Dia malah mendaratkan ciuman didada Yoga dimana deburan jantung itu berdetak dengan cepat karena marah.


Diam disitu.. berlama-lama.


Hingga ia merasa deburan itu melambat.


Nindy kembali menatap wajah Yoga.


" aa .. tau? diawal Nena bercerita tadi, lemas seluruh badan Nin.. hati ini rasanya diremas- remas.. tapi semakin banyak dia bercerita .. semakin Nin menyadari, Nena sepertinya butuh pertolongan secara kejiwaan a.."


" Jadi lebih baik, kita harus perlahan tapi tegas menindak lanjuti ini "


Yoga menatap lekat pada mata Nindy, beralih fokusnya pada bibir Nindy yang sore itu terlihat tampak menggodanya.


Karena sebenarnya ia pulang tadi sudah dengan sangat ingin memberitakan kabar yang menggembirakan buat Nindy juga buat papanya.


Diciumnya ujung hidung Nindy


kemudian turun ke bibir gadis itu, sehingga menghentikan apa yang sedang Nindy katakan.


" biar ayahnya yang membawa dia ke psikiater "


ucap Yoga sambil terus memberi pada bibir Nindy.


Diruang tamu, Nena tampak tak sabar karena ketidak hadiran Nindy juga yoga.


Difikirannya pasti si gadis murahan itu sedang merayu Yoga sampai belum kembali lagi keruang tamu saat ini.


Papa mengetahui gelagat Nena


" Nindy itu sangat seperti mamanya Yoga dulu ke om. Pintar mengurus rumah, pintar memasak apalagi mengurus Yoga. Om sangat sayang sama Nindy. "


Kata-kata papa malah semakin memancing ketidak sabaran Nena.


" Om sudah tidak sabar.. Nindy sepenuhnya menjadi anak menantu om"


Nena semakin marah dengan apa yang dikatakan Ayahnya Yoga. Dia semakin gelisah dan ingin tau apa yang dilakukan Nindy kepada Yoga saat ini.


Papa juga merasa Jijik dan sebal dengan tipe perempuan seperti Nena. Membuatnya semakin ingin membuat Nena marah dan pergi dari rumahnya.


" biasa Nena... anak muda, papa juga dulu begitu .. apalagi sebentar lagi mereka menikah.."


" Stooop om ! stooop !!!! om membuat saya Jijik !! "


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen kalian yaa


terima kasih


__ADS_2