My Favorite CEO

My Favorite CEO
Kesal


__ADS_3

Waktu terus berjalan.


Meninggalkan jejak kisah dan peristiwa yang hanya akan menjadi sesuatu yang akan dikenang.


Semua sudah berjalan normal. Bahkan pencabutan status tersangka Yoga pun telah membawa dampak pada kembalinya kepercayaan kolega-koleganya.


Sang calon ayah pun semakin lama semakin matang, dan peristiwa yang pernah dialaminya menjadi bahan pelajaran, disetiap keputusan dan kontrak yang Yoga ambil dan lakukan.


Nindy juga sudah melewati masa mual-mual dan ngidamnya. Ia menjadi wanita yang semakin penyabar dan menyenangkan.


Wanita yang membuat Yoga selalu merasa tentram berada didekatnya. Bahkan dikehamilannya yang ke 20 Minggu, Nindy malah nampak cantik setiap harinya dimata Yoga.


Perutnya kini mulai membesar, dan Yoga amat senang melihat itu.


Nindy sedang berbaring dipangkuan Yoga, sementara laki-laki itu sedang asyik menonton Televisi.


Nindy merasakan gerakan dari dalam perutnya, Ia menghentikan kegiatan membacanya, mencoba memusatkan perhatiannya pada perutnya yang kini membuncit.


Kemudian dia merasakan kembali gerakan bayinya. Dan memberikan tonjolan sesaat diperutnya.


"Honey..."


Telapak tangan Nindy menyentuh pipi Yoga mencoba mencari perhatian suaminya.


"Mmm..."


"Lihat... Hon.. baby-nya bergerak.."


" Hmm? apa sayang?"


Tanya Yoga


"Baby-nya bergerak.. pegang perut Nin.."


Lalu Yoga mengikuti apa yang diminta istrinya.


Sehingga Yoga pun bisa merasakan gerakan yang dilakukan bayinya.


Yoga merasa takjub dengan yang dia rasakan dan lihat dari perut Istrinya.


"MasyaAllah.. Hon.."


Yoga mengambil bantal kecil senderan dipinggangnya, untuk menahan kepala Nindy, menggantikan pahanya yang tadi menjadi sandaran istrinya.


Yoga duduk dibawah, perut Nindy yang kini berbaring menyamping sudah ada didepan wajahnya.


Ia mengusap perut Istrinya lagi, lalu si Bayi menendang ditelapak tangan Yoga.

__ADS_1


"Hai..pemain sepak bola.. kamu tahu itu tangan Daddy yang kamu tendang"


Lalu Yoga mencium perut Nindy. Dan lagi.. bayinya memberi gerakan disitu.


"Daddy love you too.. sayang"


Ucap Yoga.


"Daddy Love Momy juga ngga?"


Goda Nindy


"Pakai banget, kalau Momy mah"


Jawab Yoga sambil mencium kening Nindy.


Telpon Yoga berbunyi. Ternyata Ferdy, yang mengingatkan bahwa sore ini Yoga harus memenuhi jamuan makan malam dari salah satu koleganya.


Karena konsepnya adalah pesta santai dipinggir kolam renang, Yoga mengajak Nindy untuk menemaninya ke pesta itu.


Nindy mengenakan gaun Midi lengan pendek model lipat, berwarna rose gold, dengan aksen potongan kerah V yang memperlihatkan lehernya yang jenjang dan sedikit terbuka sampai bagian dadanya dan bordir cantik pada bagian bawah lipatan gaunnya yang sebatas betis.


Memperlihatkan kecantikan alaminya dengan rambut yang dibiarkan tergerai.


Perutnya yang sudah terlihat membesar itu membuat penampilannya sore itu sangat lembut dan menawan.


Tibalah mereka dirumah mewah salah seorang kolega Yoga, dan mereka disambut ramah oleh tuan rumah.


Yoga membimbing penuh perhatian istrinya, menaiki tangga.


Mereka saling bersalaman. Tuan rumah langsung membimbing Yoga masuk kedalam rumahnya dan langsung membahas hal-hal berkaitan bisnis mereka.


Sementara Nindy berjalan berdampingan dengan istri dari tuan rumah kolega Yoga.


Memasuki halaman luas dari bagian belakang rumah koleganya dan disana sudah banyak para tamu yang hadir.


Beberapa yang sudah mengenal Yoga, turut mendekat, menyambut dan berbincang-bincang dengan Yoga dan tuan rumah.


Yoga membalikkan badannya demi ingin melihat keberadaan istrinya.


Dia melihat Nindy sudah duduk manis disalah satu kursi taman yang disediakan dan masih ditemani istri koleganya.


Lalu Ia kembali ke perbincangan bersama kolega-koleganya.


"Kalau saya punya istri cantik seperti anda, saya tidak akan meninggalkan anda duduk sendiri disini"


Ucap tiba-tiba salah seorang tamu yang tidak dikenal oleh Nindy, ketika Istri dari tuan rumah tadi mohon diri untuk menyapa para tamu yang lainnya.

__ADS_1


"Saya tidak merasa hal ini mengganggu, dan inikan memang acara koleganya, kalau hanya untuk menemani saya, itu bisa suami saya lakukan dirumah."


Balas Nindy dengan nada tidak suka.


"Uuuppss.. ternyata anda cukup emosian juga yaa... saya kira benar omongan staf Di Dirgantara Aviation kalau anda ramah dan sopan."


Balas laki-laki itu lagi. Nindy sudah tidak nyaman laki-laki itu malah menyandarkan bahunya dikursi tepat disamping Nindy.


"Sebagai orang yang baru pertama kali bertemu, kalimat pembuka anda juga cukup memprovokasi saya."


Senyum tidak senang sengaja diperlihatkan oleh Nindy.


Seketika Nindy melihat suaminya membantu seorang tamu wanita yang hak sepatunya menyelip dan tertahan diantara papan-papan yang menjadi alas pinggir kolam renang.


Yoga sampai berjongkok untuk melepaskan sepatu yang terselip itu, sementara didepannya tamu wanita itu sangat minim pakaiannya.


"Untuk seseorang yang baru pertama kali kenal, suamimu lebih ramah pada wanita itu.."


Laki-laki itu memancing kemarahan Nindy.


"Saya yang hamil ini yang harus pindah tempat duduk, atau anda yang akan meninggalkan saya sendiri!"


Jawab Nindy dengan tegas mengusir laki-laki itu.


"Yoga memang seperti itu... selalu bersikap gentle man pada setiap wanita."


Ucapan terakhir laki-laki tak dikenal itu sebelum meninggalkan Nindy dan menyunggingkan senyum liciknya.


Nindy berusaha tidak terprovokasi dengan kata-kata yang dilontarkan laki-laki itu.


Tetapi ketika Nindy melihat akhirnya Yoga bisa menyelamatkan sepatu wanita itu sedang mendapatkan ciuman pipi kanan dan pipi kiri, dan tidak sengaja pandangan Yoga bertemu dengan tatapan mata istrinya, membuat Yoga merasa bersalah.


Nindy memalingkan wajahnya setelah itu. Pura-pura menebarkan matanya kesekeliling tempat itu.


Yoga menjauhkan tubuhnya dari sergapan tiba-tiba tamu wanita itu. Dan mengambil langkah untuk mendekat kearah istrinya.


Yoga yakin, Nindy pasti tidak menyukai keadaan tadi.


"Sayang... itu.. tadi.."


Yoga ingin menjelaskan namun Nindy sudah menyelanya


"Bisa tidak usah dibahas sekarang? lakukan saja yang perlu kamu lakukan, saya akan bertahan disini sampai kamu selesai."


Kata-kata tajam yang belum pernah diucapkan oleh Nindy, tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat Yoga terdiam, lebih terkejut tepatnya.


"Baiklah.. tunggu sebentar, Aa akan pamit dulu. Kita pulang."

__ADS_1


__ADS_2