My Favorite CEO

My Favorite CEO
Kesedihan 3


__ADS_3

Setelah mencoba mendengarkan dengan benar penjelasan yang diberikan oleh dokter, Yoga menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Tim Medis untuk Nindy.


Namun hal tersebut tetap harus menjadi wewenang keluarga sah dari Nindy, karena Yoga sendiri masih belum sah menjadi suami Nindy.


Lalu Yoga coba menghubungi Papa Nindy


" Assallammualaikum pah.."


" Waalaikumsalam nak, bagaimana keadaan Nindy? "


" Pah... Dokter perlu tanda tangan keluarga sah Nindy pah untuk tindakan operasi yang akan dilakukan... Papa bisa kerumah sakit malam ini juga?"


" Bisa... Bisa nak, Papa kesana sekarang "


" Mama gimana pah? Ada yang bersama mama untuk menemani nggak selagi papa ke rumah sakit?"


" Tadi Lita dan Pipit dibawa Papamu kerumah nak, jadi mereka bisa menjaga mama, papa kesana yaa nak.... Papa sudah ingin melihat keadaan Nindy kalau mamamu tadi nggak pingsan"


" Iyaa pah... Yoga tunggu yaa pah"


" Iyaa nak.. papa kesana malam ini juga"


Yoga mengakhiri panggilan telponnya, kemudian menyampaikan kepada perawat jaga malam bahwa nanti calon mertuanya akan datang untuk melengkapi semua tanda tangan yang belum lengkap.


Ia meminta izin untuk bisa menemani Nindy


Setelah diberikan Izin, Yoga masuk kedalam kamar Nindy lagi...


Mendekati wanita yang sangat dicintainya itu.


Mencium keningnya penuh dengan penyesalan dan rasa sayangnya yang teramat dalam.


Satu tangan kanannya, menggenggam jemari Nindy yang terkulai lemah.


Satu tangannya lagi membelai dengan lembut pipi Nindy yang terasa dingin dibalik punggung jemarinya, yang berulang kali mengusap-usap wajah yang begitu menyejukkan pandangannya selama ini.


Sayang... Bertahanlah..


Jangan tinggalkan A Yoga sendiri hon...


Aa.. minta maaf...


Suaranya terdengar lirih dan bergetar ditelinga Nindy.


Kening Nindy kembali dia cium, lama.. berada disana


Aa.. sayang Nindy... sangaaat... Sayang...


Kata Yoga lagi ditelinga Nindy.


Tidak ada reaksi yang diperlihatkan Nindy. Ia masih hanya terdiam, layaknya seseorang yang sedang tertidur pulas

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


Dialam sebaliknya yang Nindy rasakan...


Sayup.. sayup..


Ia mendengar semua rintihan Yoga..


Ia berusaha ingin membuka matanya.. namun sesuatu yang begitu berat menghalanginya..


Setiap kali ia berusaha..


Setiap kali itu pula sesuatu yang berat tadi semakin berat dirasakan Nindy.. membuatnya kehabisan tenaga.


Hatinya begitu tersayat mendengarkan rintihan Yoga..


Namun Ia tak bisa berbuat apa-apa....


Ia putus asa...


Ia pun hanya bisa menangis..


\=\=\=\=\=\=


Yoga melihat air mata mengalir dari sudut mata Nindy.


Ia merasa yakin, apa yang dikatakannya terdengar oleh Nindy...


" Aa tau.. Nindy mendengar.... Berjuanglah sayaaang... Aa.. menunggu disini.. jangan tinggalkan aa.. Nin... "


Yoga tak mampu menahan tangisnya lagi..


Ia tahu, Nindy mendengarnya dan Nindy butuh diarahkan untuk kembali padanya.


Dan itu yang ingin Yoga lakukan..


Mengarahkan Nindy


Hingga Ia menyadari jalannya untuk kembali bersama Yoga..


Kembali merasakan sejatinya cinta mereka.


Menyelesaikan kisah cinta mereka yang baru saja akan dimulai.


Dulu.. yoga begitu tidak berdaya untuk mempertahankan Rosa..


Hingga Ia harus kehilangan wanita yang pertama kali Ia cintai.


Namun tidak untuk Nindy !


Ia tidak akan kehilangan Nindy

__ADS_1


Ia akan berusaha memperjuangan kehidupan untuk Nindy..


Ia yakin.. Tuhan kali ini berbaik hati padanya


Pintu kamar Nindy dibuka oleh seseorang.


Yoga melihat kearah pintu, berlari memeluk papa Fachri yang sudah ada diambang pintu.


" Tenang... nak.. tenang... kita doakan Nindy kuat melewati ini semua"


Yoga dan Papa tidak bisa saling membohongi satu sama lainnya.


Mereka berdua menangis sambil berpelukan.


Kedua laki-laki ini mencoba kuat didepan semua orang, padahal sebenarnya mereka merasakan kehancuran yang sama.


" Papa sudah melengkapi semua persyaratan untuk operasi Nindy, dokter masih melihat apakah sampai besok pagi tekanan darah Nindy stabil, agar tidak membahayakan operasinya"


" iyaa pah "


" Papa mau lihat lebih dekat Nindy...nak"


" yaaa...pah"


Lalu Papa mendekat, dimana Nindy saat ini sedang berbaring tak sadarkan diri


" Nin... ini papa nak.."


Suara papa begitu lirih terdengar, membuat Yoga semakin merasa bersalah dan bersedih.


" Papa tau.. kamu anak yang kuat. Papa, Mama dan sekarang ada Yoga yang menunggu kamu bangun nak, Nindy sayang kan..? sama papa... sama mama ? kalau Nindy sayang.. berusahalah untuk kuat dan segeralah sadar nak... kamulah satu-satunya alasan papa, alasan mama tetap hidup "


suara papa sudah bercampur dengan tangisan.


" Sedari dulu .. kamu anak yang membuat papa mama selalu bangga. Maka .. perlihatkanlah itu pada papa dan mama lagi nak, jangan kecewakan kami ... papa menunggu kamu disini..."


Selanjutnya papa sudah menunduk menangis disisi Nindy.


Demikian juga Yoga


\=\=\=\=\=\=


Dialam sebaliknya yang Nindy rasakan


Dia seakan berada di lorong panjang..


Suara ayahnya yang terdengar sayup- sayup memanggil namanya membuat Nindy berlari terrruuusss berlari kearah suara.


Namun lorong itu seolah terus menjadi semakin dalam .. dan semakin gelap..


Membuat Nindy ketakutan.

__ADS_1


Papaaaa.... Nindy takuuut....


__ADS_2