
" Ada... Rosa namanya.."
Yoga menarik nafas panjang.. membicarakan Rosa didepan wanita yang sekarang amat sangat dia cintai adalah hal yang sebenarnya paling sulit dilakukan Yoga.
Bukan... bukan karena dia masih mencintai Rosa.. tetapi lebih karena Nindy dan Rosa adalah wanita yang mempunyai cerita berbeda didalam hati dan hidupnya.
Keduanya memiliki arti yang sangat dalam baginya. Sehingga cerita keduanya tak mungkin Yoga lupakan... terlebih Nindy.. wanita yang ada didepannya saat ini adalah wanita yang akan menemani masa depannya, yang akan melahirkan anak-anaknya.. yang sangat Dia Cintai setiap harinya.
Bercerita tentang Rosa, berarti juga bercerita tentang wanita lain yang pernah sangat Dia Cintai.. dan Yoga tidak ingin Nindi menjadi membanding-bandingkan dirinya dengan Rosa
Apalagi .. Yoga sangat tak ingin Nindy membandingkan Cintanya saat ini untuk wanita yang berada dihadapannya sekarang.
Diluar ... Hujan menderas, Pak Budi menambah konsentrasinya melihat kejalan yang dilalui mobil Yoga.
Suasana didalam mobil semakin dingin
Nindy memberikan tatapan sayangnya.. menangkup tangan Yoga yang sedang memegangnya erat dengan satu tangannya yang lain.
" Bahagianya menjadi Rosa.... aa sangat mencintainya ? "
Tanya Nindy demi melihat betapa sulitnya Yoga menceritakan sosok Rosa.
" Apakah.. kamu tidak bahagia saat ini.. karena aku juga sangat mencintaimu.. "
Pertanyaan Nindy dibalas pertanyaan lagi oleh Yoga.
" Nindy.. sangaaat... sangat.. sangat Bahagia.. aa mencintai Nin"
Nindi memindahkan laptop yang berada dipangkuan Yoga ke bangku depan, lalu lebih mendekatkan punggungnya bersandar di dada Yoga.
Yoga melingkarkan lengannya dipinggang Nindy. Menyandarkan satu sisi wajahnya disisi kepala Nindy.
Sambil mengusap-ngusap lengan Yoga yang kini melingkar diperutnya..
Nindy memalingkan wajahnya sedikit melihat kewajah Yoga
" Nindy.. juga sangaaat mencintai aa.."
" Jangan marah... Nindy cuma mau tau tentang aa.. "
Yoga mencium ringan kening Nindy. Ia ingin mengatakan bahwa Dia tidak marah dengan pertanyaan Nindy... Nindy tersenyum
Lalu kembali dia menyandarkan sisi kepalanya diwajah Yoga.
__ADS_1
" Kamu juga nanti setelah aa cerita, jangan terbawa perasaan yaa.. "
" Bagaimanapun cerita Rosa.. itu adalah masa lalu, dan Kamu adalah cerita masa depan aa. "
sambil mencium kembali sisi kepala Nindy yang bersandar, Yoga memulai ceritanya
Yoga menarik nafas ...
" Rosa itu dulu teman sekolah aa waktu sekolah diluar. Orang Indonesia juga, Dia sekolah disana karena ayahnya pindah tugas, sementara aa sekolah disana karena Papa ingin aa meneruskan perusahaannya kelak, singkat cerita... karena Rosa dulu awalnya hanya teman, lalu aa suka diajak ke rumahnya, merasakan masakan Indonesia buatan ibunya, aa merasa jadi tidak terlalu merasa jauh dari Indonesia.. tidak terlalu sering merindukan Papa, karena Mama papa Rosa itu juga sangat baik dan menerima aa."
" Lulus S1, Rosa memutuskan ingin langsung bekerja dan aa masih melanjutkan ke S2 seperti keinginan papa, Rosa yang selalu menyemangati aa, suka mengunjungi aa dikampus, menemani berlama-lama aa mengerjakan tesis, nganterin aa kesana kemari selama menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aa selesai... Papa minta aa pulang.. dan menyerahkan perusahaan ke aa, Dan Rosa yang meyakinkan aa walaupun belum punya pengalaman dibidang yang papa geluti, aa pasti mampu membuat perusahaan Papa jadi lebih maju katanya."
" Dengan segala isu yang berkembang diperusahaan, belum lagi ketidak yakinan Jajaran Direksi waktu itu terhadap kemampuan aa, membuat aa tetap berusaha memberikan yang terbaik, hanya karena setiap hari Rosa selalu menyemangati aa, selalu meluangkan waktunya untuk menanyakan kabar aa."
" Bahagianya jadi Rosa...bisa menemani aa pada titik itu...". sela Nindy.
" Kamu tau nggak... "
Sambil mencium punggung lengan Nindy
" apa.. " suara Nindy memanja
" aa lebih bahagia .. saat ini kamu yang menemani aa."
" To be honest.. aa bersyukur kamu yang terpilih menemani masa depan aa... "
" Karenaaaa... ?".
Tanya Nindy sambil bangun dari dada Yoga, membalikan badannya menghadap kearah Yoga.. menjadi sangaaat dekaat.
Meraba garis wajah Yoga dengan jarinya.
" Karena aku bisa menuliskan kisah perjalanan baru dalam hidupku lagi diatas kertas putih yang belum pernah ada cerita lain yang tertulis disitu.. "
" Kertas putih itu kamu...."
Yoga merengkuh Nindy, merasakan bibir manis gadis itu yang sedari tadi menari-nari didekat matanya.
" Dilihat pak Budi.. sayang... ".
Ucap Nindy disela-sela ciumannya
" Dia nggak akan lihat, mana berani dia."
__ADS_1
jawab Yoga yang masih terus mencium bibir Nindy.
" ehhheeem... Bapak maaf "
sela pak Budi walau masih tetap mengarahkan pandangannya tetap ke jalan yang dia lalui.
" Ya Bud ?"
jawab Yoga sambil hanya sebentar memalingkan wajahnya kearah suara pak Budi dan tetap membiarkan tangannya memeluk Nindy.
" Maaf pak, sudah waktunya makan siang dan saya mau kekamar kecil dulu pak , boleh kita berhenti ditempat peristirahatan didepan nanti pak?"
Jawab Pak Budi.
" Ok, cari yang nyaman tempatnya ya Bud."
" Baik.. Pak."
" Selesaikan cerita Rosa "
Sela Nindy sambil mengambil posisi duduk sempurna walau masih berhadapan dengan Yoga.
Yoga mempermainkan jari Jemari Nindy
" emmm... dia sempat 2 kali mengunjungi aa di Indonesia, dan perjalanan yang kedua itulah ... Rosa mengalami kecelakaan mobil sewaktu dia mau kembali dari bandara kerumahnya. "
Yoga terdiam menunduk.. masih mempermainkan jemari Nindy.
Nindy tidak menyangka cerita Rosa menjadi sesedih itu...
Dipeluknya Yoga seperti seorang Ibu menenangkan anaknya yang menangis.
Beberapa saat mereka seperti itu, sampai Pak Budi sudah masuk kearea tempat peristirahatan
Setelah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, Pak Budi menghentikan mobil.
" Kita turun dulu ... "
ucap Yoga.
\=\=\=\=\=\=\=
Cerita lalu itu .. milikku
__ADS_1
Namun cerita masa depan ini... adalah milikku... juga milikmu....