
Tling
Sebuah pesan baru, masuk di handphone Abimanyu. Nomor tak dikenal tapi isinya terbaca sebagai ucapan terima kasih. Abimanyu membuka pesan itu, yang ternyata dari dokter Annisa.
Terima kasih pak Abi, untuk traktirannya. Bolehkah saya mengucapkan terima kasih langsung? saya ada diruang tamu penginapan. Terima kasih_ dr.Annisa.
Pesan sudah dibaca oleh Abimanyu, tetapi tidak dijawab. Dokter Annisa tetap bertekad untuk menunggu.
Beberapa saat kemudian, Abi turun menemui Dokter Annisa. Laki-laki itu menggunakan Elastic waist baggy loose casual warna denim dan kaos putih serta sendal teplek yang pasti tetap bermerk, dengan rambutnya yang dibiarkan tidak tersisir, membuat penampilannya sangat berbeda dari hari-hari biasa yang dokter Nissa selalu lihat.
"Sudah selesai acaranya? kemana yang lain?" tanya Abimanyu.
"Baru saja tadi selesai, begitu tahu Pak Abimanyu yang membayar, saya memutuskan untuk mengucapkan terima kasih secara langsung sementara teman-teman saya minta untuk pulang ke desa langsung" jawab Dokter Annisa.
"Lalu kamu mau pulang sama siapa?" tanya Abimanyu.
"Besok saya dijemput oleh Titi, malam ini saya sudah mengambil kamar dipenginapan ini juga untuk istirahat"
"Kenapa akhirnya malah merepotkan kamu! itu bukan hal besar!"
"Hal kecil buat pak Abi belum tentu buat saya, demikian juga sebaliknya..."
Kata-kata dokter Annisa mengena dihati Abimanyu. Lalu laki-laki itu terdiam untuk mendengarkan apa yang ingin diucapkan dokter Annisa lagi.
"Kami.. mengucapkan terima kasih banyak karena hari ini pak Abi sudah mentraktir kami semua.. dan saya atas pribadi juga ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk semua pertolongan dan kebaikan pak Abi yang berkali-kali sudah menolong saya. Rasanya saya tidak bisa membalas satu persatu kebaikan itu..saya hanya bisa mendoakan, bahwa semua urusan pak Abi akan diberi kemudahan dan kelancaran" ucap dokter Annisa lagi.
Abimanyu hanya terdiam. Memperhatikan dokter Annisa yang bicara dan menundukkan wajahnya ketika mata mereka tiba-tiba bertemu.
Dokter Annisa terdiam juga setelahnya. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Sapu tangan pak Abi.. terima kasih sudah dipinjamkan, ma..." dokter Annisa menghentikan kata-katanya, dia ingat betul Abimanyu tidak suka dia mengucapkan kata "Maaf" jika tidak berbuat salah.
"Mm.. maksud saya.. sapu tangannya tidak bisa saya kembalikan dengan harum yang sama seperti sewaktu pak Abi pinjamkan kepada saya, tapi sudah saya cuci bersih .. terima kasih sekali lagi"
Sapu tangan itu lalu diambil oleh Abimanyu dan ia langsung memasukkannya kedalam saku celananya.
"Baiklah pak Abi... saya sudah mengatakan apa yang ingin saya katakan. Saya izin kekamar dulu.. selamat istirahat pak.." kemudian dokter Annisa berdiri dari duduknya dan akan berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Baiklah.. selamat istirahat.. saya juga akan kembali ke kamar saya" jawab Abimanyu, berdiri dan melangkah mendahului dokter Annisa.
Ternyata kamar yang ditempati oleh Abimanyu, hanya terhalang satu kamar dari yang ditempati oleh dokter Annisa. Mereka masing-masing membuka kamar mereka dan menghilang dibalik pintu kamar masing-masing.
Abimanyu duduk ditepi jendela kaca kamar penginapannya, menatap keluar sana yang keadaannya mulai menyepi, hanya pemandangan mesjid agung kota itu yang menemani lamunannya.
*Apakah dia harus memikul beban aib dan kesalahan keluarganya ? sementara keadaan itu bahkan jauh sebelum dirinya terlahir?
Membabi buta bekerja demi kebaikan orang banyak didesa itu seolah ia ingin menebus segala dosa keluarganya?
Dan karena itu.. bahkan dia merasa tidak pantas untuk semua laki-laki yang melamarnya?
Lalu bagaimana jika aku yang ingin berbagi beban itu untuknya... aku adalah anak dari orang yang sudah dicelakai oleh pamannya sendiri, dan ayahnya adalah rival terberat dari bidang usaha yang juga digeluti oleh ayahku.
Selanjutnya apa yang akan terjadi pada kami... jika aku ingin menghapuskan beban aib dan kesalahan keluarganya dari pundak gadis tak bersalah itu?
bahkan seolah penderitaan tidak cukup sampai disitu.. ayahnya menikahi teman semasa SMA nya yang dulu sering membully nya. Garis kehidupan macam apa itu? sementara dia sendiri yang mati-matian menjadi orang yang baik disini untuk mengimbangi segala keburukan yang dibawa karena dia dilahirkan di keluarga itu*!
Abimanyu mengusap wajahnya resah...
Mengapa hatinya harus tergerak pada gadis itu?
Apakah ini Cinta... atau malah hanya sekedar rasa kasihan?
Batin Abimanyu..
Bahkan kedua hal itu tak mampu membuatku tidak perduli dengan apa yang mataku lihat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Tling
Suara pesan masuk dari ponsel dokter Annisa yang baru saja membersihkan dirinya, dan bersiap untuk tidur.
Aku bukan orang yang pandai berbasa basi. Jika kamu berkenan, saya ingin besok mengajakmu kesuatu tempat untuk membicarakan hal yang sangat penting bagi kita berdua. Saya tunggu jawabanmu_ Abimanyu
Dokter Annisa termangu membaca pesan itu.. Tak ada penghiburan...namun hatinya dibuat resah.
Ia letakan handphonenya dimeja sudut. Langkahnya .. menuntun gadis itu mengambil air Wudhu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dears sahabat Dfriends di MFC .. semoga kalian masih merasa terhibur dan menyenangi tulisanku ini, dengan segala kerendahan hati Aku mohon dibantu untuk mengembalikan bintang tulisanku ini ke angka 5 lagi, jika kalian merasa aku pantas mendapatkannya..
Dukungan kalian semua membuat aku semangat untuk menulis... terima kasih banyak untuk point koin, likes dari jempol manis kalian juga komentar-komentar positif juga masukan kalian selama ini. Semoga tulisan recehku ini selain membuat kalian terhibur, tetapi juga bisa mengambil hal positif didalamnya.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih banyak atas dukungan kalian.