
Aku gelisah..
Kau pasti berbagi senyum indahmu
Mata indahmu akan menari-nari ..
Menyimak setiap kata.
Aku Cemburu..
Hatiku bergemuruh..
Itu semua yang aku rindu ...
Aku ingin yang menjadi milikku..
.
.
.
Sudah sulit rasanya untuk Yoga memejamkan matanya malam itu.
Membayangkan Ardi akan sangat puas bisa meninggalkan jejak bahagia untuk istrinya.
Yoga sangat tahu, laki-laki itu sangat mencintai istrinya.
Hanya bisa memberikan sedikit perhatian pada wanita yang dicintainya saja, pasti sudah membuat laki-laki itu menyimpan banyak rasa bahagia.
Dan itu semakin mampu membuat Yoga gelisah lebih dari persoalan serius yang Ia hadapi saat ini.
Malam semakin pekat, gelisahnya hanya mampu Yoga curahkan pada setiap doa yang Ia panjatkan.
Beberapa hari kedepan Yoga juga akan menghadapi pra peradilan. Ialah upaya perlawanan hukum secara konstitusional bagi seseorang yang dinyatakan sebagai tersangka atas tindakan korupsi atau pencucian uang.
Dengan kepasrahannya, Yoga melepas semua itu kepada Sang Pemilik.
.
.
.
***
Ketika malam tiba, langit kelam menghitami bumi
Aku merisaukanmu, apa kau baik-baik saja?
Dan kunyanyikan lagu
Lagi untukmu
Dan kunyanyikan lagi
Lagu tentangmu
Buanglah semua manusia penyebab sedihmu
Ketika ku tiba membawa bahagia untukmu
Buanglah semua manusia penyebab sedihmu
Ketika ku tiba membawa bahagia untukmu
Dan kunyanyikan lagu
Lagi untukmu
Dan kunyanyikan lagi
Lagu tentangmu
__ADS_1
Buanglah semua manusia penyebab sedihmu
Ketika ku tiba membawa bahagia untukmu
Buanglah semua manusia penyebab sedihmu
Ketika ku tiba membawa bahagia untukmu
(Lagu Untukmu _ The Panas Dalam)
.
.
.
\=\=\=\=
Setelah sarapan, dengan berat hati Lita, Pipit dan Ardi berpamitan.
Hari ini mereka akan kembali. Walau terasa singkat, kunjungan mereka telah mengobati kesedihan Nindy.
Dan itu sangat berarti, ternyata mereka benar adalah sahabat sejati. Yang terus mendukung dan menghibur Nindy yang sedang merasa terpuruk.
Lita dan Pipit memeluk Nindy dengan sangat erat.
"Jaga kesehatan yaa Nin.. ingat janin didalam sini.."
Pesan Pipit.
"Iya, terus.. kalau ada apa-apa, beritahu kami ya.."
Timpal Lita.
Ardi pun berpamitan walau tak ingin. Dia menatap lekat-lekat wanita yang dicintainya itu, memberikan senyumnya yang paling ampuh menarik simpatik para tamu yang datang dihotelnya.. namun senyum itu tetap senyum seorang kakak bagi Nindy.
"Aku pulang Nin, kapan saja..jika kamu perlu bantuan ku, kapan pun.. kamu bisa menghubungiku"
Pesan Ardi.
Jawab Nindy sambil menganggukan kepalanya.
Lalu mereka pun berpamitan dengan papa mama Nindy juga mertuanya.
Kepulangan teman-temannya seakan-akan mengembalikan kembali kesedihan Nindy.
Ia mengusap perutnya yang masih rata..
"Sabar yaa sayang.. sebentar lagi Dady pasti pulang."
.
.
.
\=\=\=\=
Sendiri berada dikamar mandi dengan mual-mual yang masih saja sering dialami Nindy setiap malam, membuat Ia meneriakkan rindunya pada lelaki yang telah merubah banyak hidupnya.
"Aa..."
Lirihnya..
Lalu Nindy dengan langkah gontai kembali keatas tempat tidurnya.
Mengusap perutnya..
"Baby... bertahanlah bersama Momy.. kita harus kuat.. karena hanya itu yang membahagiakan Dady.."
Diciumnya wangi tubuh Yoga dari pakaian terakhir yang dipakai suaminya. Hingga membuat Nindy merasa nyaman dan akhirnya tertidur.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=
Waktu berlalu.
Sudah hampir 1 bulan Kasus yang menyeret Yoga berlangsung.
Yoga memperhatikan wajah Nindy yang sedang tertidur pulas, pipinya ada diatas pakaian yang terdapat harum tubuh Yoga.
Ia tak dapat memalingkan wajah dari wanita yang amat dirindukannya ini. Ia tak sabar ingin menyentuh kulit halus istrinya, merasakan manis bibir Nindy dan merengkuh wanita itu dalam pelukannya.
Lamaaaa... sekali Yoga hanya berbaring diam menelusuri wajah Nindy dengan matanya.
Nindy menggeliat.. setengah sadar, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan ketika matanya sudah membuka benar. Ia terkesiap melihat wajah suami yang dirindukannya.
Takut itu hanyalah mimpi, Nindy menutup matanya lagi, kemudian dibuka lagi lebar-lebar matanya.
Dan wajah suaminya itu tidak menghilang.. malah tersenyum.
Nindy menyentuh bibir yang tersenyum itu, dan jemarinya benar-benar menyentuh nyata bibir itu.
"Aku pulang.. sayang..."
Suara Yoga begitu jelas terdengar ditelinganya walau nadanya sangat halus.
Dipegangnya lengan Nindy yang menyusuri bibirnya, diciumnya lengan istrinya itu.
Air mata mengalir dipipi Nindy.
Dengan gerakan cepat Nindy memeluk tubuh suaminya. Membasahi baju yang dipakai Yoga dengan air matanya.
Mereka tak berkata apa-apa.
Yoga mencium pangkal kepala istrinya, lengannya yang kokoh merengkuh bahu Nindy, menenggelamkan wajah Nindy didadanya.
Selesai menangis, gerakan tangan Nindy membuka kancing kemeja Yoga satu persatu, menyelipkan jemarinya didada suaminya, kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil disana.
Yoga sudah menggeliat dengan sentuhan Nindy, tubuhnya yang sudah merindu, merespons baik kerinduan istrinya juga.
Nindy mengambil posisi berada diatas tubuh suaminya. Membuka pengait dan resleting celana panjang Yoga, membukanya dan melemparkannya disembarang tempat.
Menelusuri kulit tubuh lelaki yang dirindukannya itu. Menyesap dan memberikan kiss mark didada suaminya, tidak satu melainkan tiga.
Kemudian naik ke bibir Yoga, menggoda sebentar disana, Yoga tersenyum.
"Welcome home honey.."
Belum lagi Yoga menjawab, bibir Nindy sudah melekat dibibir Yoga, menyerahkan gairahnya pada Yoga, dan irama yang mereka ciptakan mampu membawa keduanya pada puncak kepuasan bersama-sama.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.