
Mereka sudah kembali lagi sampai dirumah. Bunda yang membukakan pintu.
"Bagaimana keadaan Tita nak?" tanya Bunda.
"Ayahnya sedang berusaha mencari donor mata untuk Tita Bun, sejauh ini sepertinya Tita belum siap menerima keadaan Bun, dan berusaha mencari pembenaran egonya dengan tetap menyalahkan keputusan Abi terhadap dirinya!" jawab Abimanyu enggan.
"Semua butuh waktu .. biarkan Tita melalui proses itu. Semua tetap harus melalui jalannya masing-masing untuk bisa bangkit lagi. Dan sekarang kamu lebih harus bertanggung jawab terhadap Annisa." bunda memandang gadis disebelah Abi yang begitu perhatian mendengarkan nasihat calon mertuanya.
"Iyaa Bun .." jawab Abimanyu lagi.
"Kalian sudah makan siang? mau bunda masakan sesuatu?"
"Biar Nisa yang memasakan mas Abi makan siangnya Bun ..." jawab Annisa malu-malu.
"Bunda sudah makan belum?" tanya Annisa
"Bunda tadi sudah makan siang dengan ayah didekat kantornya, yaa sudah ... buatlah sesuatu untuk mas mu ini biar moodnya kembali Nak .." ucap Bunda sambil mengusap bahu Annisa dengan sayang.
"Baik Bun.." jawab dokter Annisa.
"Bunda tinggal dulu yaa, tadi Tante Lita dan Tante Pipit mau kasih kabar persiapan acara kalian. oo iyaa .. sore ini Handa mau mampir, katanya sudah nggak sabar ingin kenalan sama calon istrimu Bi .." ucap bunda sebelum pergi meninggalkan Abi dan Annisa naik keatas tangga menuju kamarnya.
"Iyaa Bun.." jawab Abimanyu.
"Kamu mau dimasakan apa Bi?" tanya Annisa penuh perhatian.
"Tadi didepan bunda kamu sebutnya Mas Abi, kenapa sekarang enggak?!" goda Abimanyu pada Annisa. Yang digoda memelototkan matanya sambil tersenyum. Abi pun tersenyum melihat reaksi Annisa.
"Apa saja .. yang akan kamu buat ..pasti aku makan sayang .." jawab Abimanyu sambil menatap mata Annisa syahdu membuat yang dilihat melambung. Annisa salah tingkah .. sebenarnya gemuruh dihati Abimanyu pun saat ini bisa terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.
"Aku bersih-bersih dulu yaa... enggak enak dari rumah sakit." ucap Abimanyu lagi mengalihkan pembicaraan dari debaran yang ia rasakan, dijawab Annisa dengan anggukan kepalanya.
Abimanyu berlalu kekamarnya, sementara Annisa melangkah menuju dapur sambil menekan dadanya yang bergemuruh. Annisa menarik nafas panjang sambil tersenyum.
Seindah ini rasanya jatuh cinta ...
"Mau bibi bantu Neng dokter?" tanya bibi yang membuyarkan lamunan Annisa. Bibi yang selama ini membantu pekerjaan rumahnya Bunda ternyata sudah ada disampingnya.
"Bantu Nisa .. menunjukan dimana bahan dan alat-alat masaknya saja yaa Bi seperti waktu lalu" jawab Annisa.
__ADS_1
"Baik Neng..." jawab bibi.
Annisa menyiapkan Hot shirmp chicken ginger soup untuk makan siang Abi dan dirinya yang sudah ketelatan. Kehangatan jahe dan kuah dari soup yang dibuatnya, berharap membuat pencernaan Abi lebih nyaman.
Beberapa saat kemudian
"Sudah siap belum Nis?" tanya Abimanyu yang sudah membersihkan dirinya.
Wangi segar dari aroma sabun dan shampoo yang dipakai Abi tercium, membuat seluruh tubuh Annisa kaku.
Keintiman suasana yang saat ini menjadi lebih sering terjadi diantara mereka membuat Annisa salah tingkah.
"Ditanya kok diem sih yang.." ucap Abi mendekat kearah Annisa, membuat debaran didada Annisa semakin kencang bertabuh. Abi sebenarnya merasakan hal yang sama. Semakin hari kebersamaan mereka menciptakan suasana yang dirinya merasa sangat nyaman dan ingin selalu dekat dengan calon istrinya itu.
"Mmmm segar kayaknya nih soup shirmpnya" sela Abimanyu lagi sudah mendekat disisi Annisa.
"Duduklah Bi ... sebentar Nisa tuangkan dulu ke mangkuk" jawab Nisa mencoba berdamai dengan debaran hatinya yang semakin lama semakin sulit dikendalikan setiap berdekatan dengan calon suaminya.
"Ok ..!" jawab Abi dan mengambil langkah untuk duduk disalah satu kursi meja makan.
Annisa menyiapkan Hot shirmp chicken ginger soupnya berdampingan dengan semangkuk kecil nasi merah.
"Iyaa.. sama-sama" jawab Annisa tersenyum.
Lalu mereka menikmati santap siang yang sudah telat.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Hari beranjak sore ketika Annisa mengabarkan bahwa pesan singkat yang dikirimkan ke ayah angkatnya sudah mendapatkan balasan.
"Bun ... Yah, besok abi dan Nisa akan bertemu dengan pak Bram, WA Nisa sudah dibalas ayahnya. Dan beliau minta kami bertemu direstoran hotel M pukul 11 siang" ucap Abimanyu saat mereka ditaman sambil menikmati teh hijau disore hari.
Bunda dan ayah saling melempar pandang. Bagaimanapun hal ini tetap harus mereka hadapi.
Pergumulan didalam hati mereka ketika mengingat bagaimana peristiwa dulu pernah hampir merenggut nyawa Nindy, sampai kepada peristiwa pelaporan pada komisi pemberantasan korupsi harus benar-benar mereka pilah dan sisihkan demi putra kesayangan mereka satu-satunya.
Seperti semua orangtua yang mengharapkan kebahagiaan bagi anak-anak mereka, seperti itulah yang diinginkan orang tua Abi.
Mengesampingkan segala ego dan kemarahan diwaktu lampu. Memilah bahwasannya Annisa bukan terlahir dari darah daging Bramantyo yang adalah saudara kandung Bachtiar. Merenungi mengapa Tuhan memberikan jalan pada keadaan seperti ini untuk putra mereka adalah sesuatu yang sangat tidak mudah.
Tetapi begitu melihat pancaran kebahagiaan dari mata putra mereka .... semua seakan luluh termaklumi.
Kedua insan yang sedang saling berkasih sayang itupun belum terlahir ketika semua peristiwa itu terjadi. Hingga bagaimana mungkin kedua orang tua itu dapat egois memisahkan keduanya.
Tuhan selalu memiliki rencana terindah dari segala peristiwa ...
Karenanya Nindy dan Yoga menghantarkan segala kebaikan yang akan dimulai oleh putra mereka dengan doa.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk kalian yang selalu bersedia menunggu setiap lanjutan episode dari tulisan recehku ini๐๐ jangan lupa likes dan komen kalian yaa ๐๐๐
__ADS_1