My Favorite CEO

My Favorite CEO
28. Kambing Hitam


__ADS_3

Malam itu dengan setengah berlari, Tita masuk ditempat tunggu keberangkatan internasional, mencari-cari keberadaan Abi.


Sudah 3 jam yang lalu Abi memberi pesan padanya tentang keberangkatannya kembali, tapi pesan itu baru Tita baca sehabis acaranya bersama teman-teman kampusnya. Sudah barang tentu Tristan menjadi dewa penolong kembali, yang mengantarkan Tita untuk bisa cepat berada dibandara.


Tita melihat jelas wajah Abimanyu yang sedang berpamitan dengan kedua orang tuanya. Namun langkahnya terhenti tak jauh dari tempat Abi berada, karena ada Arimbi disana, diapit oleh ayah dan bundanya Abimanyu.


Tita mengurungkan niatnya, hatinya terasa dicabik-cabik. Gadis menarik dan cantik yang ternyata adalah anak dari sahabat bundanya Abimanyu sedari awal memang telah membuat hatinya terluka. Berbagai macam fikiran terlintas saat itu. Hingga Tita meyakini, sepertinya keberadaan Arimbi lebih membuat kedua orang tua Abimanyu senang.


Tita menggigit bibir bawahnya, airmata sudah menetes dikedua pipinya, hatinya hancur. Segala perasaan berkecamuk didalam dadanya. Abimanyu dilihatnya sudah menjauh...


Tristan menepuk bahu Tita.


"Udah ketemu Abinya?"


"Enggak sempet.."


"Kita telat?"


"Enggak... kita nggak telat Tris... tapi ituu.." Tita menunjuk kearah kedua orang tua Abi dan Arimbi yang masih berdiri disana.


"Waaa... siapa tuh? kece bangeeet!" tanya Tristan


"Kamuuu aja bilang dia cantik.. pasti begitu juga Abiii..." ucap Tita lirih.


"Emang cewek itu siapa?" tanya Tristan lagi.


"Dia Arimbi.. gadis yang aku ceritain ke kamu, anak kebidanan itu..!"


"Oooo.. anak sahabat ibunya Abi itu! jangan-jangan mereka dijodohin Ta!"


Tita langsung menatap kearah Tristan.

__ADS_1


"Tapi orang tua Abi tahu kalau gue pacarnya Abi Tris!" bela Tita tidak suka dengan spekulasi yang dikatakan Tristan.


"Yaaa.. siapa tahu Abi nggak bisa nolak permintaan orang tuanya Ta, kan loe bilang tuh anak biarpun dingin tapi baik dan patuh sama orang tua!"


Tita terpaku, air matanya semakin menderas.. dia meraih ponselnya, mencoba menghubungi Abimanyu.


Abimanyu yang sudah berada di lounge priority pass menatap ponselnya yang berdering.


"Ya..Ta.." ucapnya


"Abiii... " Tita hanya mampu mengucapkan nama Abi. Ia menahan tangis yang ingin pecah saat itu.


"Gak apa-apa Ta.. aku cukup tahu seberapa penting aku buat kamu... selamat tinggal Ta, terima kasih untuk masa dimana kita pernah bersama... biar itu sekarang yang menjadi kenangan terindah buatku"


Suara panggilan keberangkatan pesawat Abi sudah diperdengarkan.


"Maaf Ta..aku sudah harus kedalam pesawat"


Sambungan terputus.


Tubuh Tita hampir limbung, dengan cepat Tristan menangkap bahu Tita, dan disaat yang sama kedua orang tua Abimanyu dan Arimbi melintas didepan Tita, dan melihat itu semua.


"Tita..kamu enggak kenapa-kenapa?" tanya bunda yang langsung menghampiri Tita yang didudukan dibangku ruang tunggu.


"Handa! belikan minuman manis untuk Tita nak! sekarang!" perintah bunda ke Handa. Ayah tak terlalu kaget melihat adegan itu. Dan dia bersikap biasa saja.


"I..iyaa.. Bun!" jawab Arimbi sambil langsung berlari kejajaran Restoran makanan dan minuman yang berjajar didalam bandara.


"Yaa.. Ampuun Ta, Abinya sudah berangkat tadi.. kamu telat tadi datangnya yaa.." tanya bunda sambil mengelus bahu Tita.


"Enggak Tante..tadi Tita enggak telat" jawab Tita lemah.

__ADS_1


"Looh..terus kenapa kamu enggak mendekat? Abi dari tadi mencoba terus ngehubungin kamu!"


"Tita tadi ada acara sama teman-teman kampus Tan, HP Tita dicas dan di silent dimeja kasir restoran tadi, jadi enggak kedengaran. Begitu sampai disini ... Tita enggak enak ganggu Keluarga Abi dengan Arimbi" dengan berani Tita mengutarakan semua hal yang tidak bisa diutarakan kepada Abimanyu tadi.


"Yaaa ampuuun Tita, Abi bukannya sudah cerita siapa Arimbi? mereka berdua sudah berteman semenjak kecil, dan tidak ada apa-apa diantara mereka nak.." balas Bunda.


"Kalau Abi memang penting buat loe Ta, loe nggak akan menyia-nyiakan hari ini! jangan mencari kambing hitam untuk hati loe yang enggak tahu harus lebih memilih siapa! Abi bukan tipe kebanyakan laki-laki, dan harusnya loe lebih tahu bagaimana Abimanyu!" ucap Arimbi dengan nada tidak suka, meletakan minuman yang dia beli tadi dibawah kaki Tita dan meninggalkan mereka semua.


Langkah Arimbi menjauh diikuti oleh langkah Ayah yang mencoba menenangkan Arimbi.


Bunda hanya menatap kearah Tita dan Tristan bergantian. Malah hati bunda yang terasa sakit.


"Baik saja tidak cukup Tita untuk sebuah hubungan.. kalau tidak dibarengi dengan kesetiaan" lalu bunda beranjak meninggalkan Tita dan mengejar langkah Arimbi dan suaminya.


Hatinya ikut terluka, membayangkan kegundahan hati putranya yang sekarang sudah terbang menjauh.


.


.


.


Helaan nafas ini..


Yang sesak karena rasa ini..


Biarlah hanya saat ini saja.


Aku tidak akan membawa beban itu


(Abimanyu _ UK)

__ADS_1


__ADS_2