
Aku harus tetap kuat! semua sudah sejauh ini! jangan sampai menyerah Annisa !!
Kalimat itu yang selalu berulang kali menyemangati dirinya melalui hari tersulit dalam hidupnya.
Annisa membuka pintu kamarnya, menebarkan pandangannya kesekeliling kamar, meja belajar yang dicorat coret semasa SMP dulu masih dibiarkan ditempatnya. Meja itu diusap oleh telapak tangannya, kemudian menaruh tasnya diatas meja itu.
Annisa langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menutup matanya. Membiarkan hal sedih lekas berlalu demi masa depan yang sedang Ia ukir.
.
.
.
Pagi, diruang perawatan sebuah rumah sakit
"Nisa ! jangan lupa dibuatkan resume medisnya ya, besok pasien sudah boleh pulang! ucap dokter senior yang menjadi pembimbing Annisa.
"Baik dok, akan saya buat dan serahkan ke dokter lagi siang ini." jawab Annisa patuh, kemudian terus mengikuti seniornya yang melakukan visite kepada beberapa orang pasiennya bersama rekan sesama koas yang berada dibawah bimbingan dokter senior tersebut.
Ketika mereka telah selesai berkeliling, dan Nisa harus kembali untuk membuat beberapa resume medis, Ia mengambil langkah berbeda untuk keruang rekam medis rumah sakit.
Ketika saat itu dia berada didepan koridor resepsionis, sebuah suara memanggil namanya.
"Dokter Annisa!"
Lalu Annisa menolehkan wajahnya kearah suara yang memanggil.
"Hiii! tetangga!" balas Annisa tersenyum dan menghampiri dua anak tetangganya yang semalam baru saja ia temui.
"Panggil aku Rasya, Bu dokter! dan ini Kakak Rara!" ucap anak laki-laki itu riang.
"Hiii Rasya .. siapa yang sakit? kok kalian ada disini?" tanya Annisa mengakrabkan diri.
Rasya melihat ke arah kakaknya, mencari persetujuan apakah ia boleh menceritakan siapa yang sakit dan untuk apa mereka ada dirumah sakit itu. Namun Rara tak bergeming. Annisa melihat, Rara masih enggan berteman dengannya. Takut membuat gadis kecil itu semakin menjauh, akhirnya Annisa berkata,
"Semoga .. siapapun yang sedang sakit disini, aku doakan lekas sembuh yaa Rasya.. maaf .. aku harus tinggal, karena aku masih ada tugas lainnya ... bye Rasya.. bye Rara ... sampai ketemu dirumah ... tetangga!" dengan ceria, Annisa membalas perlakuan Rara, ia melambaikan tangannya pada kedua bocah itu, dan Rasya tersenyum membalasnya.
Seluruh dunia sudah memusuhiku Rara.. meladeni sikapmu bukan hal yang sulit buatku ! batin Annisa.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa malam kemudian
Suara bel rumah yang terus menerus dipencet oleh seseorang diluar, akhirnya berhasil membangunkan Annisa yang sudah sangat kelelahan hari itu.
Dengan langkah gontai karena masih mengantuk, Annisa membuka pintu depan rumahnya, terlihatlah Rara yang melambai-lambaikan tangannya.
"Dokter Nisa! tolong aku !" teriaknya ketika melihat Annisa. Mata Annisa yang mengantuk tiba-tiba menjadi segar dan lekas berlari kepintu pagar.
"Ada apa Ra ?" tanya Annisa begitu pagar sudah terbuka.
"Rasya panas, papa masih dirumah sakit nemenin mama! aku bingung!" ucap gadis itu menangis.
"Tenang Ra .. aku akan periksa Rasya. Kamu jangan menangis, ayo masuk dulu biar aku ambil alat-alatku dulu!" ucap Annisa sambil merangkul bahu Rara untuk mengikutinya.
Tidak berapa lama, Annisa sudah keluar kembali membawa alat-alat periksanya dan merangkul bahu Rara untuk membawa kembali gadis kecil itu kerumahnya.
"Masuk dok, kamar Rasya disini!" jelas gadis itu sambil menarik tangan Annisa masuk kesalah satu kamar yang ada dilantai 1.
"Ini Bu dokternya Ra?"
"Terima kasih Bu dokter .. bibi dan mba Rara jadi bingung... biasanya mas Rasya minum obat panas juga turun panasnya, ini baru sebentar turun panasnya trus naik lagi panasnya" ucap seorang wanita paruh baya yang dipanggil bibi tadi oleh Rara.
"Tenang yaa Bi.. saya periksa Rasya dulu" lalu dengan peralatan yang Annisa bawa, ia memeriksa suhu dan keadaan Rasya dengan teliti.
"Rasya pilek yaa Ra?" tanya Annisa.
"Iyaa dokter, sehabis yang kemarin dari rumah sakit besoknya pagi-pagi Rasya bersin-bersin terus" jawab Rara.
"Rasya cuma pilek belum ada radang tapi mungkin karena dosis minum obatnya kurang untuk berat badan Rasya, makanya panasnya cepat turun tapi cepat naik lagi. Nggak perlu ada yang dikhawatirkan" ucap Annisa menenangkan.
"Dok, tapiii tolong.. tetap disini yaa ..." pinta Rara
"Iyaaa ... tenang yaa Ra .. Aku akan tetap disini. Aku akan jagain Rasya" jawab Annisa lagi.
Lalu kemudian Annisa mengeluarkan cairan nasal spray dan meminta Rasya untuk duduk di pangkuannya, dan Nasal spray itu disemprotkan kedalam hidung Rasya dengan hati-hati. Dengan menurut kemudian Rasya juga meminum obat penurun panas dengan dosis yang benar yang diberikan Annisa.
Rasya kemudian ditidurkan kembali oleh Annisa. Lalu ia meminta pada bibi sebaskom kecil air biasa untuk mengkompres Rasya.
__ADS_1
"Dokteeer ... boleh nggak Rara tidur dekat Rasya?" pinta Rara dengan wajah yang mengiba.
"Boleh sayang ... ayoo naiklah ketempat tidur" ucap Annisa penuh kelembutan.
Ketika Bibi membawakan baskom kecil berisi air biasa juga handuk kecil yang diminta Annisa, perempuan paruh baya itu juga membawakan segelas teh hangat dan potongan buah-buahan.
"Bu .. dokter, silahkan diminum dan dimakan. Maaf bibi jadi merepotkan Bu dokter" ucapnya
"Terima kasih Bi, saya tidak merasa direpotkan kok. Bibi istirahat yaa.. biar saya yang jaga anak-anak" pinta Annisa.
Lalu bibi mematuhi perintah Annisa, ia pun keluar dari kamar Rasya untuk beristirahat dikamarnya.
"Dokter Nisa ... kalau orang yang sakit Cancer mamae .. adakah yang hidup lebih lama dari yang diperkirakan?" ucap Rara tiba-tiba membuat Annisa yang sedang meletakan handuk kompresan didahi Rasya terkesiap.
"Banyak Ra .. mereka yang hidup dengan Cancer yang melampaui batas waktu maksimal umur yang diperkirakan. Biasanya mereka benar-benar bersabar menjalani kemoterapinya, hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan dan minuman sehat yang menambah imun tubuh dan mereka menerima bahwa didalam dirinya terdapat Cancer, sehingga ia bisa hidup berdampingan dengan Cancernya. Siapa yang sakit Ra?" jawab Annisa mencoba membuat Rara mengerti dengan penjelasannya tapi sekaligus bertanya, pertanyaan itu sebenarnya ditujukan untuk siapa.
"Mama ...." lalu gadis itu menagis tersedu-sedu.
Annisa mendekat kearah Rara berbaring lalu memeluk gadis itu yang menyambut pelukannya dengan lebih mengeratkan pelukan Annisa sambil menangis seperti yang sudah lama ditahannya.
Annisa tidak berkata-kata lagi. Seperti hal dirinya yang hanya akan meminta pelukan menenangkan untuk segala kesedihannya itu sudah sangat berarti dari kata-kata. Dan itulah yang ia berikan pada gadis kecil itu.
Dan ketika Rara sudah tenang, sambil menidurkan gadis itu disamping adiknya, Annisa mengusap airmata Rara, kemudian mengusap kepalanya.
"Ra .. selalu ada orang istimewa yang Allah berikan sakit seperti mama .. mereka adalah orang-orang hebat yang kuat. Jadi Rara kalau didepan mama jangan menangis, kasih mama semangat dan selalu doakan mama agar selalu diberi kekuatan untuk menahan sakitnya, dikurangi rasa sakitnya sama Allah. Doa anak yang Sholeh dan Sholeha pasti Allah kabulkan"
"Iyaa dokter Nisa .. Rara mulai sekarang nggak akan buat mama marah lagi, sedih lagi ... Rara sayang mama dok.." lirih Rara lagi dan masih terus menangis.
"Mama juga pasti sudah memaafkan apa yang Rara lakukan.. karena Ia yang melahirkan Rara, seorang ibu tidak akan bisa menaruh kekecewaan dihatinya untuk buah hati mereka Ra ..." tiba-tiba hati Annisa pun ikut menangis, membayangkan mamanya yang bahkan tidak pernah ia pernah lihat wujudnya.
"Sekarang Rara minum dulu, jangan lama-lama nangisnya.. nanti bisa sakit juga kayak Rasya" lalu Annisa memberikan minuman teh hangat yang tadi dibuat bibi untuk dirinya. Lalu Rara patuh pada apa yang dikatakan Annisa, ia minum air teh hangat itu lalu kembali berbaring.
"Sekarang berdoa untuk mama, kemudian doa untuk tidur, Rara harus istirahat yaa ..."
Rara mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan Annisa. Kemudian Annisa kembali membelai kepala Rara sampai gadis itu benar-benar tertidur.
Annisa beralih ke Rasya, ia mengukur kembali suhu tubuh anak itu.
Alhamdulillah sudah turun. Batin Annisa
Menatap kedua malaikat kecil yang tertidur, menghangatkan hati Annisa. Ia merasa memiliki keluarga yang membutuhkannya.
Rasa kantuk menyerang kembali, Hingga tanpa sadar kepalanya bersandar ditempat tidur Rasya dengan tubuh lainnya yang duduk diatas kursi.
__ADS_1
Hari sudah menjelang dini hari ketika Rio, ayah dari Rara dan Rasya masuk kedalam rumah dan memeriksa keadaan anaknya.
Rio begitu terkejut karena ada seorang wanita yang tertidur menemani anak-anaknya.