
Hujan sudah mereda
Teh hijau dengan potongan sereh milik Yoga dan Nindy pun sudah habis.
Yoga menyudahi meeting jarak jauh bersama suluruh para stafnya.
" Ok, thanks untuk kerjasama kalian. Mohon bantuannya dihari-hari kedepan yaa.. "
" Baik pak... maaf kami sudah mengganggu waktu Bapak, salam buat Bu Nindy "
" Hon... salam dari mereka "
Sambil membalikan Layar laptopnya kearah Nindy yang sedang memotong apel.
" Hiiii... terima kasih sudah membantu yaaa.. "
Jawab Nindy sambil melambai-lambaikan tangannya.
Seluruh staf wanita Yoga membalas lambaian Nindy, sementara para staf Pria mengagumi kecantikan alami calon istri bos mereka yang saat ini menggunakan long dress biru bermotif bunga-bunga mawar merah dengan potongan leher sabrina yang memperlihatkan kulitnya yang putih sehingga kontras dengan warna baju yang dikenakannya dan menyempit dibagian pinggangnya yang ramping.
Pantesan bosnya teralihkan tadi, fikir mereka
Sambungan Skype off
Yoga mendekat kearah Nindy lagi, memeluk pinggang wanitanya sambil mencium sekilas bahunya yang terbuka.
Nindy menyukai itu. tangan kanannya menyamping, menyentuh pipi Yoga dengan gerakan membelai
" maem buah ya.. "
Nindy mengalihkan perhatian Yoga agar hasratnya tidak lebih jauh terpancing.
" Suapiin.. "
ucap Yoga manja.
\=\=\=\=\=\=\=
Siangnya, Nindy memaksa untuk membuatkan makan siang buat Mama, Papa, Yoga dan dirinya sendiri.
Mama dan Yoga yang khawatir Nindy akan kelelahan akhirnya menyerah karena gadis itu sangat memelas minta diperbolehkan untuk mulai beraktifitas.
Menu Ayam saos lada hitam yang di padu dengan rebusan wortel,buncis, kentang dan potongan tomat merah yang disusun cantik diatas piring oval menjadi pilihan masakan Nindy siang itu.
Sebagai pencuci mulutnya, Nindy membuat pudding Sutra rasa Avocado dalam gelas-gelas kecil agar bisa lekas dimakan.
Siang itu Yoga sangat menyukai dengan apa yang dibuat oleh Nindy.
Semua tandas dimakan oleh Yoga, mama tersenyum melihatnya, apalagi papa.
" Bisa menggemuk Yoga nanti nih.. mah.. pah.. Nindy masakannya selalu enak. Terima kasih.. Mama dan Papa sudah mendidik dan membesarkan Nindy dengan begitu luar biasa.."
Ucap Yoga bersungguh-sungguh.
Mama dan Papa tersenyum-senyum bahagia, Nindy terlihat juga sangat bahagia, apalagi sekarang jemarinya pun sudah ada dalam genggaman jemari Yoga.
Setelah itu, Nindy membersihkan dirinya lagi.. memasak membuat aroma tubuhnya agak berbau asap.
Selesai mandi, dengan memulas sedikit wajahnya dan memberikan sentuhan lipstick berwarna Moca, Nindy keluar kamar, mengenakan celana diatas mata kaki berwarna baby pink dengan layer pita dipinggangnya berpadu dengan kaos senada bergambar wanita cantik dan Rambutnya yang terikat .. membuat penampilan Nindy terlihat lebih muda dari umurnya.
" Ayo... a .. Nindy sudah siap "
Yoga berdiri dari duduknya bersama kedua calon mertuanya.
__ADS_1
Mencoba tetap fokus dari pandangannya menatap Penuh cinta pada Nindy dan aroma harum yang sangat dia sukai dari tubuh wanitanya itu.
" Mah.. Pah.. Yoga antar Nindy Therapi dulu yaa.."
" Iya Nak, hati-hati dijalan"
Lalu Yoga dan Nindy mencium hormat tangan kedua orang tua mereka.
Setibanya dirumah sakit, setelah Yoga memarkirkan mobilnya, dia keluar terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Nindy.
Nindy melingkarkan tangannya ke tangan Yoga, dan ketika mereka memasuki rumah sakit, beberapa pandangan mata langsung teralihkan melihat keduanya.
Yoga meminta Nindy untuk duduk di sofa yang berada ditengah-tengah ruangan itu, sementara dia mendaftar.
Yoga berjalan menuju loket pendaftaran. Petugas yang menerima Yoga beberapa saat termangu mendengarkan Yoga berbicara.
Wajah tampan Yoga dengan suaranya yang khas mengalihkan perhatiannya.
Setelahnya..
"Silahkan Mas nya ke ruangan Fisioterapi yang berada disebelah sisi kiri setelah UGD, dan menyerahkan lembaran ini terlebih dahulu di nurse station yang berada didepannya."
" baik mba, terima kasih banyak "
balas Yoga
" sama-sama.. semoga lekas sembuh.. "
Lalu Yoga menghampiri Nindy lagi, menggenggam jemari wanitanya membimbingnya ke ruangan fisioterapi yang ditunjuk oleh petugas pendaftaran tadi.
Mba-mba petugas pendaftaran tadi menggigit bibir bawahnya seolah-olah dia berandai-andai jemari yang digenggam Yoga adalah jemarinya.
Nindy dan Yoga memang sangat serasi. keduanya memberikan aura pada orang-orang disekitar yang mereka lewati, sehingga tidak satu pun yang tidak teralihkan pandangannya untuk melihat kearah mereka.
" Mba.. maaf, saya mau tanya.. kalau pasiennya wanita, Fisioterapinya wanita juga kan?"
" iyaa mas, kami usahakan seperti itu tergantung dengan keadaan pasien dan keahlian masing-masing fisioterapi yang kami miliki."
" kalau dengan kasus calon istri saya, bagaimana mba?"
" sebentar yaa pak, saya lihat dulu "
" Maaf pak, hari ini yang bertugas kebetulan dengan keadaan mba nya, mas Tri. Laki-laki pak fisioterapis nya, bagaimana? "
" Kenapa hon?"
tanya Nindy menghampiri Yoga
" Fisioterapis nya hari ini laki-laki .. aku maunya kamu dipegang sama wanita "
" mmmm... teruuus? "
Mata Nindy menatap sayang pada Yoga, dia mengerti keinginan laki-laki yang berada didepannya ini, Dia tidak ingin tubuh Nindy disentuh pria lain selain dirinya.
Karena tatapan Nindy, malah akhirnya Yoga menyetujui kalau hari ini terpaksa dipegang oleh fisioterpis laki-laki dengan syarat, dia harus menemani Nindy didalam.
Dan itu diperbolehkan.
Mas Tri, fisioterapis yang dimaksud ternyata adalah laki-laki gagah yang punya senyum manis, karena begitu Yoga dan Nindy masuk kesalah satu ruangan yang ditunjuk, auranya yang karismatik telah tertangkap oleh Yoga dan Nindy.
Dan itu sangat tidak disukai Yoga.
Sambil terus mendengar apa yang dirasakan Nindy kemudian melihat hasil rujukan dokter tentang terapi yang dibutuhkan oleh Nindy. Mas Tri memulai terapinya.
__ADS_1
Proses itu cukup membuat hati Yoga diaduk-aduk rasa tidak nyaman.
Dan setelah selesai, Yoga langsung meminta jadwal fisioterpis wanita dengan keahlian yang sama yang dimiliki Tri.
" Sampai bertemu dijadwal berikutnya mba.."
Ucap Tri.
" Baik mas Tri.. terima kasih banyak"
balas Nindy.
Berharap aja kamu !! akan ku pindahkan jadwal terapi wanitaku. !!
Batin Yoga.
Yoga menggenggam jemari Nindy dan membawanya keluar dari ruang fisioterapi.
Handphone Nindy bergetar, ada panggilan dari Pipit.
" Nin.. kamu dirumah nggak? "
" aku baru selesai terapi pit, ada apa? "
" haii.. kebetulan... mampir dulu yuk ke cafe She, ini .. teman-teman yang kemarin nggak bisa besuk kamu, pingin lihat kamu.. kebetulan pada janjian di cafe"
" sebentar aku tanya a Yoga dulu "
" Kenapa ? "
tanya Yoga
" boleh nggak mampir dulu ke cafe She ? ada teman-teman SMA Nin yang kemarin belum besuk katanya janjian hari ini mau lihat Nin dirumah. Mereka kumpul di Cafe She "
" Ok, kita kesana "
jawab Yoga
" Pit... aku ke cafe yaa sama a Yoga "
" Ok Nin.. kami tunggu yaa..."
\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa menit kemudian, Nindy dan Yoga sudah sampai di Cafe She.
Nindy melepaskan jemari Yoga yang menggenggam jemarinya ketika dia disambut oleh beberapa temannya yang langsung menyeruak memeluk kearahnya.
Yoga mundur beberapa langkah memberi ruang pada teman-teman Nindy.
Berdiri tegak dengan menautkan kedua tangannya diatas perutnya yang rata. Memperhatikan.
" Hon.. kenalkan ini teman-teman Nin... ini calon suamiku... "
Lalu Yoga memberikan tangannya untuk menyalami semua teman-teman Nindy.
" Yoga.. "
Ucapnya.
" kalian memang pasangan yang serasi..."
ucap salah satu teman Yoga. Dan itu membuat sedih seseorang yang saat ini masih berdiri bersisian bersama Lita dan Pipit.
__ADS_1