
Abimanyu mengetahui benar pemilik suara itu. Ia mencoba mengacuhkannya.
"Bi ... hanya bisa melihatmu, aku sudah cukup bahagia. Jangan usir aku!" ucap Tita ketika Ia melihat wajah gusar Abimanyu karena ucapan dan kehadirannya.
Abi memalingkan kembali wajahnya, mengacuhkan Tita.
Tita melihat punggung Abimanyu penuh dengan rasa kekaguman dan cintanya yang tidak pernah hilang. Tita tersenyum penuh kehangatan. Hatinya saat ini diliputi kepuasan karena bisa berdekatan hanya dengan Abimanyu.
Tita ingin membujuk Abimanyu.
"A... aku.. sudah terus berusaha untuk bisa melupakan perasaanku ini ke kamu Bi... tapi semakin besar usahaku untuk itu ... malah semakin besar juga kerinduanku akan dirimu .. perhatianmu ... a..aku rindu kamu Bi .. aku benar-benar rindu kamu ... dan semua yang telah kita lalui .... kenangan kita berkelebat terus menerus difikiranku ... Abi.. a..aku bahkan rela jika kam..mu .. mau kembali menyayangi aku dibelakang Annisa.. Bi! asal kamu tetap bersamaku!
Tita mengulurkan tangannya untuk bisa menyentuh punggung Abi, namun laki-laki itu menyadari apa yang sedang dilakukan Tita. Abimanyu menghindar, hingga lengan Tita terjatuh kembali disisinya ... kecewa ...
Abimanyu mengepalkan tangannya karena sudah merasa muak mendengar semua yang dikatakan Tita. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena saat ini mereka sedang dirumah sakit.
Dan Ia juga merasa semua akan sia-sia ... ya! mengatakan apapun sebagai bentuk penolakan dirinya atas Tita, akan sia-sia! Bukankah sudah sering kali Abimanyu menegaskan penolakan dan bahkan mengatakan alasannya tidak bisa bersama Tita lagi! dari mulai tutur bahasanya yang halus sampai kata-kata yang kasar, sudah dilakukan Abimanyu.
Tapi perempuan dibelakangnya ini memang tidak ingin menerima penolakan Abimanyu, Ia menyangkal semua itu didalam dirinya, hingga obsesinya untuk memiliki Abimanyu menguasai Tita.
"Bayi-bayi yang lucu ... harusnya mereka terlahir dari buah cinta aku dan kamu Bi ..."
Tita masih terus berusaha ..
"Mereka tidak akan terlahir seperti saat ini jika kamu yang menjadi ibunya! karena sudah pasti bukan aku ayahnya! perlukah aku mengusirmu dengan kasar atau kau akan pergi dari sini dengan baik-baik! sehingga tidak perlu membuat keributan yang akan merugikan reputasimu!" kecam Abimanyu tidak ingin melihat kearah Tita, namun bayangan wanita itu cukup tertangkap dijendela kaca ruang bayi.
Abimanyu sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Ia sudah begitu muak pada Tita! hingga tidak ada satupun kenangan yang mampu membuat Abimanyu mengingat Tita pada kenangan yang baik!
Abimanyu tidak ingin hari ini .. ternodai dengan kedatangan Tita!
Hari ini adalah hari kebahagiaannya dan Annisa! dan ia tidak ingin momen ini dirusak oleh Tita!
"Cukup peringatan yang selama ini sudah aku katakan! kamu pergi dari sini dan jangan pernah berharap apapun! atau aku akan menghancurkan hidupmu!" ucap Abimanyu sekali lagi penuh ancaman.
__ADS_1
"Aku akan pergi Bi .. aku akan menuruti maumu ..aku hanya ingin melihat keadaanmu!" Tita berlalu meninggalkan Abimanyu dengan senyum licik dibibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari beranjak malam, setelah semua tamu yang datang dan pergi silih berganti, akhirnya ruang rawat Annisa kembali di sterilisasi, bahkan Abimanyu dan Annisa pun sudah membersihkan diri mereka untuk bersiap menerima kehadiran twins yang akan mulai tidur bersama malam ini.
"Karena twins sudah bobo, sebaiknya ayah dan ibu juga beristirahat, karena pasti nanti keduanya akan bangun bersamaan untuk ASI nya lagi" ucap salah seorang perawat yang mengingatkan Annisa dan Abimanyu.
"OOO iyaa Sus.. terima kasih sudah diingatkan" jawab Abimanyu sambil terus menatap kedua buah hatinya sambil tersenyum.
"Saya permisi dulu kalau begitu, jika butuh sesuatu tinggal pencet tombol yang ada diatas kepala dokter Annisa ya.. selamat malam.. selamat beristirahat" ucap perawat tadi, sambil meninggalkan ruangan.
"Mereka sangat lucu sayang .. terima kasih.." ucap Abimanyu, kemudian Ia mencium kening lalu hidung dan terakhir ******* bibir istrinya yang sedari tadi ingin ia lakukan.
Annisa membalas hasrat suaminya itu, bibirnya lebih menggoda membuat Abi tersenyum.
"Nyonya ... jangan menggoda aku yang akan membuatmu harus bertanggungjawab menyelesaikannya" ucap Abi lembut, mengetahui istrinya membaca hasratnya dan menjebaknya pada sesuatu yang membuatnya ingin.
__ADS_1
"Bagaimana aku harus menyelesaikannya ... agar tuan suami terus mendamba padaku dan tidak ada celah untuk orang lain bermain dalam fikiranmu?" jawab Annisa yang kali ini lebih dulu mengambil inisiatif lebih intim menggoda suaminya.
"Stop .. sayang ... jahitanmu saja masih basah, jangan buat gara-gara .. nanti kamu yang kesakitan!" ucap Abimanyu memperingatkan.
Sementara dari apa yang diceritakan teman-temannya dan dari apa yang dia baca, jahitan akibat Cesar itu meninggalkan sakit yang melekat setelahnya, karenanya banyak ibu yang masih kesulitan berjalan karena sakitnya jahitan pasca Cesar. Tapi apa yang dialaminya bersama Annisa, seakan berbeda.
Membuatnya curiga, bahwa Annisa akan menahan segala sakitnya demi orang-orang yang dicintainya.
"Kamu tidak perlu terburu-buru untuk memenuhi kewajibanmu, hari ini perjuanganmu sudah sungguh luar biasa sayang ... I Love You" ucap Abimanyu mencium kening istrinya, dan mengusap lembut bibir istrinya yang memerah karena pagutannya tadi.
Annisa menganggukan wajahnya. Tersenyum, hari ini ia sangat bahagia, hingga ia tidak merasakan sakit pada jahitan cesarnya.
Abi menggenggam jemari Annisa, mengecupnya berulang kali. Ia begitu takjub akan kehadiran twins dan hatinya sangat berterima kasih pada Annisa karena telah menghadirkan kedua malaikat kecil itu diantara mereka.
Perasaan berbeda yang menyelimuti hatinya saat ini membuat Abimanyu tidak bisa melepaskan pandangannya pada dua malaikat kecil dihadapannya.
Ibu jarinya mengusap lembut pipi kedua buah hatinya. Ia tidak menyangka bahwa dua nyawa kecil dihadapannya kini adalah darah dagingnya. Diciumnya lagi pipi anak-anaknya penuh kasih, senyum bahagia itu tidak pernah surut dari wajahnya.
"Sayang .... apakah ada kerisauan lain yang mau kamu ceritakan padaku?" tanya Annisa tiba-tiba, yang membuat Abimanyu terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Annisa membaca perubahan pada dirinya, padahal dia sudah sangat menyembunyikannya.
"Tidak ada ... aku tidak merisaukan hal lain selain keadaan kamu dan twins.. terutama Basmah!" jawab Abimanyu berbohong dan kembali mendekat ketempat tidur Annisa.
Abimanyu menggenggam jemari Annisa seakan meyakinkan istrinya itu bahwa benar-benar tidak ada yang dirisaukan oleh Abimanyu.
"Matamu itu .. seperti mataku sayang ... tidak bisa berbohong. Tapi kalau kamu belum mau mengatakannya sekarang ... nggak apa-apa ... aku percaya kamu!" balas Annisa sambil mengusap kedua pipi suaminya, lalu mencium sekilas bibir Abimanyu.
Abimanyu tersenyum penuh kecintaan pada istrinya. Lalu ia memainkan hidungnya dihidung Annisa.
"I love you ... aku sungguh-sungguh hanya mencintaimu sayang.." ucap Abimanyu lembut.
Dan Abi kembali menguasai bibir Annisa, ia sangat merindukan rasa istrinya itu. Annisa menyambut hasrat Abimanyu ..
"Lakukan sayang .. apa yang bisa sementara ini kamu ambil dariku ..."
__ADS_1
Ditatapnya mata Annisa yang memberikannya ketenangan ...
"Ini sudah lebih dari cukup .. aku akan bersabar menanti waktunya kamu siap honey ...."