
Cerita indahku..
Siapapun pasti menginginkannya.
Melihat segalanya sempurna .. tak ada celah.
Semua itu juga melalui proses ikhtiar yang tak pernah putus..
Melalui rangkaian doa yang berair mata dilelapnya tidur semua orang...
Melalui proses menahan lapar dan dahaga yang tak tertinggal....
Kita semua bisa berbahagia.
.
.
.
Waktu terus berjalan.
Hingga hari dimana Nindy dan Yoga tinggal menanti waktu.
Nindy sedang menyandarkan punggungnya di dada Yoga. Suaminya itu terus menciumi punggung bahu Nindy sambil membelai terus perut Nindy yang sudah sangat besar.
Diatas meja didalam kamar mereka sudah ada 1 tas bayi lengkap dengan segala kebutuhannya, dan 1 koper Nindy yang berisi pakaian menyusuinya, Pembalut, kassa, betadine daaaaan.. semua hal yang dibutuhkan Nindy nanti setelah melahirkan.
Walau peralatan seperti kassa dan betadine sudah pasti disediakan oleh rumah sakit. Tetapi Nindy dan Yoga bersiap untuk segala kemungkinan.
Bahkan persiapan itu juga dilakukan Yoga satu bulan sebelum tanggal perkiraan Nindy melahirkan.
Yoga sudah memindahkan jam bekerjanya dirumah, sehingga Ferdy yang bolak balik antara rumah Yoga dan kantor.
Itu semua karena informasi yang Yoga baca dari buku-buku yang menjadi referensi bacaan Yoga setelah mengetahui Nindy mengandung calon anaknya.
Hingga pada saat mulas yang dirasakan Nindy masih berjauhan jaraknya, Yoga sudah menemani istrinya itu. Menggenggam jemari Nindy yang merasakan mulas, menyeka peluh Nindy ketika merasakan mulas sampai menemani dan memijat Nindy yang mulai kesulitan tidur karena perutnya sudah besar dan menjadi suka pegal dibagian pinggang dan punggungnya.
Semua posisi menjadi serba salah buat Nindy.
Terkadang Yoga juga dibuat khawatir ketika istrinya itu masih tetap ingin melayani kebutuhan biologis Yoga. Yang padahal itu tidak menjadi sesuatu yang diharuskan lagi setelah Yoga mengetahui betapa berat dan sulitnya Nindy dengan kehamilannya.
Tapi demi membahagiakan istrinya, Yoga selalu dengan hati-hati menyalurkan hasratnya itu.
Nindy sudah mulai merasakan mulas lagi, Ia yang masih bersandar di dada Yoga mencengkram kuat lengan suaminya.
"Subhanallah..Walhamdulillah..Walaillahaillallah .. Wallohuakbar"
Ucap Yoga berulang kali ditelinga Nindy untuk menguatkan.
Lengan Yoga sudah memutih yang dicengkeram oleh Nindy. Yoga menjadi sangat khawatir akan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Aa.. panggil mama deeh.. kok Nin kayak pipis sih nih?"
Ucap Nindy Tiba-tiba.
"Masa hon? ketubannya sudah rembes ?"
Jawab Yoga salah tingkah.
"Panggil mama dulu.."
Pinta Nindy lagi.
Yoga merebahkan tubuh Nindy, dan langsung berlari memanggil-manggil mama mertuanya.
"mah.. mama..!"
Teriak Yoga
"Iyaa... nak, ada apa?"
Mama berlari keluar dari arah dapur menemui panggilan Yoga.
"Ma, kekamar.. Nindy mulasnya sudah sering dan deketan waktunya, trus dia merasa pipis"
Jawab Yoga dengan gelisah
"Pipis atau ketuban?"
"Itu dia.. Yoga juga fikir, itu jangan-jangan ketuban mah"
Jawab Yoga.
Dan ketika Nindy melihat mamanya
"Mah... MasyaAllah.. maafin Nindy yaa mah, kalau Nindy suka nyusahin mama... bikin Mama sedih..Maafin Nindy ya Mah"
Mama langsung memeluk putrinya.
"Nak..sebelum kamu minta maaf, mama sudah memaafkan kamu, bahkan sudah melupakannya. Coba kita kekamar mandi, biar mama lihat itu ketuban atau pipis"
Baru saja Nindy mau berdiri dari posisi tidurnya, mulas kembali menyerbu, Nindy mencekram tempat tidurnya, lalu Yoga mengambil alih tangan Nindy, sehingga lengannyalah yang menjadi pegangan.
"Mah... kita kerumah sakit saja, ini jaraknya sudah 5 menitan dan ini Yoga yakin ketuban mah.. seperti yang dibuku Yoga baca mah."
Ucap Yoga semakin gelisah.
"Iya sudah, semua sudah siap kan ? kita berangkat saja."
Jawab Mama.
Lalu sebentar saja Pak Budi sudah datang untuk membawa tas-tas Nindy.
__ADS_1
Yoga membantu Nindy berjalan, mama menyamai langkah pak Budi. Sementara papa Nindy dan Mertuanya masih menikmati olah raga jalan pagi yang entah kemana.
.
.
.
Sesampainya dirumah sakit, dengan surat pengantar melahirkan yang sudah diberikan oleh dokter kandungannya. Nindy langsung dibawa keruang observasi.
Didalam sana hanya bisa ditemani oleh Yoga, sementara Mama harus rela menunggu diruang tunggu yang berada tepat didepan ruang observasi tersebut.
Mama mencium kening Nindy, Nindy mencium punggung tangan mama.
"Doa mama selalu untuk kamu sayang.."
Ucap Mama
"Terima kasih ma.. sampaikan sama papa dan papa Iwan, Nindy mohon doanya"
Jawab Nindy.
Lalu mama menganggukan kepalanya. Kemudian memegang bahu tangan kanan Yoga.
Dan kini Nindy sudah berbaring ditempat tidur observasi. Diranjang sebelahnya yang tertutup tirai juga sudah ada Ibu lain yang sedang diobservasi. Suara teriakan Ibu itu membuat Yoga pucat, dan Nindy semakin memperdalam pegangan tangannya ditangan Yoga.
Lalu rasa mulas itu kembali datang, Nindy hanya mampu menahan rasa sakitnya dengan mencengkram lengan Yoga. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya, hanya suara Yoga yang berulang kali menyebut
""Subhanallah..Walhamdulillah..Walaillahaillallah .. Wallohuakbar"
Hingga hal itu membuat ibu yang dibalik tirai menghentikan teriakannya.
Bidan yang pagi ini bertugas sudah memakai sarung tangannya untuk memeriksa bukaan serviks yang sudah tercapai atau kesiapan ibu untuk menjalani Kala 2.
"Alhamdulillah sudah pembukaan 8 yaa bu, kita pindah keruang bersalin yaa.. Ibu masih bisa jalan sendirikan?"
"Bisa .. bu Bidan"
Jawab Nindy dan Yoga bersamaan.
"Subhanallah.. sambil kita tunggu Bu dokternya yaa Bu, kita keruang bersalin. setelah pembukaan 8 lalu 9, baru bayi bisa ibu keluarkan ya..bageur pisan ibu na.."
Ucap Bidan tadi.
Saat ini Nindy dan Yoga sudah diruang bersalin, Dokterpun sudah datang dan memeriksa Nindy. Mereka hanya tinggal menunggu pembukaan menjadi 9, namun dari indikator denyut jantung janin terjadi penurunan, dari yang seharusnya 110-160 per menit, maka itu bisa mengindikasikan tanda bahwa janin Nindy mengalami kekurangan oksigen.
Dokter langsung memberikan bantuan Oksigen pada Nindy, mengecek tekanan darah Nindy juga hemmoglobin Nindy.
Dokter kandungan tidak berharap terjadi hipoksia pada janin Nindy.
Dokter menjelaskan kepada Yoga dan Mama keadaan bayinya Nindy.
__ADS_1
Sehingga harus segera dilakukan tindakan agar bayi tidak terlahir cacat atau yang lebih tidak diinginkan berujung pada kematian bayi Nindy dan Yoga.