
"Nisa ... ayah hanya ingin katakan, apapun yang sudah dilakukan Bramantyo terhadap pencabutan hak asuhnya padamu .. ingatlah, dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Laki-laki itu pernah dengan tulus menerimamu masuk kedalam kehidupan mereka. Kalian harus tetap menghormatinya" ucap ayah memberi nasehat.
Abi memalingkan wajahnya pada Annisa, demikian juga Annisa. Abi tersenyum, kemudian Annisa berkata
"Nisa sangat berterima kasih pada ayah, bunda juga mas Abi ... karena sudah bisa menerima Nisa. Hal yang enggak mungkin rasanya terjadi kalau melihat kembali latar belakang Nisa sebenarnya, kemudian latar belakang orang tua angkat Nisa ..." Suara Annisa mulai terdengar sengau menahan tangis. Abimanyu meraih jemari Annisa, menggenggamnya memberikan kekuatan.
"terima kasih banyak sekali lagi .. ayah .. bunda .. mas ..." ucap Annisa dengan tangis yang sudah tidak bisa Ia tahan lagi.
Bunda menghampiri Annisa, kemudian memeluk calon istri anaknya itu dengan kasih sayang.
"Allah sedang menjawab semua doa dan kesabaranmu nak .. semua sudah menjadi rencana dan ketetapan Allah sayang ... kita hanya harus bertanggung jawab dalam menjalaninya. Itu bentuk kita bersyukur. setelah menjadi Istri Abi, jadilah istri yang setia, mampu menjadi penyemangat, juga yang membuat Abi nyaman berada disisi kamu. jadilah menantu bunda yang berbakti, yang sayang sama Ayah juga sama bunda seperti kamu menyayangi kedua orang tuamu sendiri" ucap bunda sambil membelai kepala Annisa penuh rasa sayang.
Annisa semakin mempererat pelukan bunda, rasanya Ia kini baru menemukan kembali kehangat orang tua yang lama hilang. Annisa begitu bersyukur, Allah memberikan segala yang terbaik yang tidak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya.
\=\=\=\=\=\=
Beberapa saat kemudian,
"Yaaaah ... kok suasananya sediiih siih... Handa pulang aja deeh niih ..." suara Handa memecah keheningan suasana. Bunda dan Nisa saling melepaskan pelukannya, Ayah dan Abi pun teralihkan perhatiannya pada suara anak sahabat bunda itu.
"Si cerewet datang !" sapa bunda pada Handa dengan berdiri dan memeluk Handa yang mendekat kearahnya. Yang disebut cerewet tersenyum lebar.
"ini pasti Nisaa yaaa ..." sapa Handa ramah, yang disambut dengan jemari Annisa yang mengulur kearah Handa penuh kehangatan.
"Iyaa.. aku Nisa" jawab Annisa
"Aku Handa, adiknya Abi ... adik yang terlahir karena persahabatan ibu-ibu kami" balas Handa sambil tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang rapih dan menjabat kembali jemari Annisa, kemudian memeluk calon istri Abimanyu. Setelah itu, Handa juga mencium hormat tangan Yoga dan menjabat tangan Abimanyu.
"Pinter iih milih calon istrinya Bi !" ucap Handa.
"Iyaalaah .. " jawab Abi singkat sambil melihat kearah Annisa yang disambut senyum Annisa yang sedang menyeka sisa-sisa airmatanya.
"Handa ini bidan Nis .." sela bunda sambil meminta Handa untuk duduk disampingnya.
"Iyaa Bun, mas Abi sudah pernah cerita .." jawab Annisa.
"Cerita apa dia mba? jelek-jelekin aku nggak?" tanya Handa bercanda.
"Enggak jelek-jelekin kok, tapi jelasin Mba Handa itu anaknya Tante Pipit sahabat bunda, mas Abi sudah menganggap seperti adik sendiri. Trus cerita waktu ketemu lagi sama mba Handa, mas Abi malah nggak tahu kalau itu mba Handa .. karena berubah cantik .. katanya!" jelas Annisa.
"Iyaa..dulukan aku dekil,kampungan lagi mba!" canda Handa.
Semua tertawa mendengarnya. Lalu Bunda menuangkan secangkir teh hijau hangat juga untuk Handa.
__ADS_1
Suasana sore dihalaman itu, semakin lama semakin akrab. Lalu bunda juga memberikan gambaran acara demi acara yang akan dilangsungkan untuk hari bahagia Abimanyu dan Annisa. Kemudian menuangkan catatan untuk hal-hal yg disesuaikan dengan keinginan Abimanyu dan Annisa.
Bunda selalu menantikan saat ini, saat dimana Ia bisa merancang momen bahagia yang tidak akan terlupakan untuk putranya juga untuk menantunya. Dan Ia sangat bersyukur, sedari awal Annisa sudah mempercayakan semua itu kepadanya. Menantu rasa anak kandung, itulah yang dikatakan Lita sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Restoran Hotel M.
Seperti yang sudah diatur sebelumnya, akhirnya Abimanyu dan Annisa sudah sampai ditempat akan dipertemukannya Abimanyu dan Ayah angkat Annisa, Bramantyo.
Annisa dan Abimanyu menyangka mereka yang tiba terlebih dahulu, ternyata tidak. Karena begitu tiba tadi, Diki mengatakan bahwa Bramantyo sudah hadir 30 menit lebih awal. Lalu Diki membawa Annisa dan Abimanyu kemeja dimana Bramantyo duduk.
Sebutan papa tadi ... membasahi relung hatinya yang merindu ... Ya, selama ini Ia sesungguhnya merindukan putri angkatnya. Seorang bayi mungil yang merubah hidup istrinya begitu bersemangat menghadapi stadium akhir kankernya. Walau saat itu tak lama ...
Bramantyo tersenyum .. senyum yang membuat hati Annisa menjadi luluh lantak, betapa senyum itu sudah sangat lama tidak pernah menghiasi wajah papanya jika melihat kearahnya.
Annisa menghampiri lebih dekat Bramantyo, lalu mencium tangan papa angkatnya itu penuh hormat dan kerinduan.
"Papa ... ini mas Abi .. " Annisa memperkenalkan Abimanyu. Calon suaminya itu mendekat lalu mencium hormat tangan calon mertuanya.
"Duduklah..." ucap Bramantyo.
Beberapa saat, Bramantyo terdiam hanya memperhatikan wajah putrinya kemudian beralih kepada Abimanyu.
"Takdir ini sungguh aneh ..." ucap Bramantyo kemudian.
"Pertikaian dua keluarga akhirnya malah ditutup oleh sebuah pernikahan" ucapnya lagi sambil menyesap kopi panasnya.
"Bagaimanapun cerita masa lalu kedua keluarga ini ... juga tentang keberadaan orang tua kandung Annisa, bagi Ayah dan Bunda saya .. sudah tidak menjadi persoalan Om, mereka sudah merestui, demikian juga dengan ayah di Yogya. Namun saya tahu, bahwa Annisa bagaimanapun adalah anak yang diangkat dan dibesarkan oleh om dengan baik .. karenanya saya juga Annisa datang kepada Om untuk memohon restu. Saya ingin memperistri putri om" ucap Abimanyu dengan ketegasan namun sopan.
__ADS_1
Bramantyo menyesap kembali kopi panasnya perlahan.
"Maaf pah ... karena Annisa tidak pernah menghubungi papa setelah peristiwa lalu. Karena Annisa ingin papa bahagia .. Annisa hanya bisa mendoakan papa dari jauh selama ini. Annisa sebelumnya ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga karena mama dan papa dulu telah merawat, menjaga, membesarkan dan membahagiakan Annisa. Dan hari ini bersama mas Abi, Annisa mohon papa bisa merestui pernikahan kami ..." ucap Annisa dengan derai air mata yang tak mampu dia kendalikan, mengaliri kedua pipinya. Abimanyu memberikan sapu tangannya pada Annisa.
"Papa yakin, Abi dapat membahagiakan kamu Nak. Kebahagiaan yang tidak mampu papa berikan pada kamu selama ini. Tidak usah kalian mengundang resmi kami sekeluarga apalagi keluarga besar papa, papa tidak ingin didepan nanti terjadi masalah baru dengan adanya pernikahan ini. Tuliskan sedari awal bahwa kamu adalah putra kandung dari ayahmu Nis ... papa tidak ingin orang lain merenggut kebahagiaan kamu kali ini" Bramantyo menarik nafas panjang.
Ternyata keadaan ini menjadi terasa berat, Ia jadi teringat mendiang istrinya. Lalu Bramantyo mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Sebuah kotak dengan ukiran bunga yang unik.
"Ini hadiah terakhir papa untukmu Nis, seperangkat perhiasan almarhum mamamu ketika papa menikahinya. Papa ingin kamu yg menjaga dan memilikinya. Karena hanya kamu yang menghargai semua kenangan Mamamu" lalu Bramantyo bangkit dari duduknya, Abi juga Annisa ikut berdiri bersamaan.
"Jaga dan bahagiakan anakku Bi, aku titip Annisa padamu. Jangan kamu menyakiti Nisa, seperti aku menyakitinya!" ucap papa sambil berlalu.
"Papaaaa..... " panggil Nisa lagi, Bramantyo berhenti lalu Annisa mendekati papanya, berdiri didepannya lalu memeluk Bramantyo erat.
"Annisa Sayang papa .. maafin Nisa karena sudah melukai papa ... terima kasih papa merestui kami" ucap Annisa dalam tangis yang begitu menyayat hati Bramantyo dan Abimanyu.
Menyadari segala hal yang ia lewatkan dalam kemarahan yang dia sesali diakhir. Bahwa anak yang dengan tulus mencintainya telah ia lepaskan begitu saja .. demi seorang wanita yang ternyata hanya mencintai hartanya dan bergantung hidup padanya karena takut kekurangan dan demi memenuhi semua hasratnya untuk memiliki segala hal yang ia inginkan.
Bramantyo begitu merindukan Annisa kecilnya. Ia membalas pelukan putrinya itu.
"Maafkan papa Nisa .... Maafkan papa ..." ucapnya pada penyesalan yang begitu dalam. Annisa menganggukkan kepalanya didada papanya.
"Iyaa papa .. jaga kesehatan papa, Annisa pasti akan menghubungi papa lagi nanti" ucap Annisa dalam tangis yang dalam ... merasakan rasa penuh sesal papanya. Annisa menghapus air mata papanya dengan sapu tangan Abi. Setelah Mencium kening Annisa, lalu Bramantyo benar-benar pergi ...
.
.
.
.
.
.
.
.
Luka itu dalam ..
Tersimpan rapih didalam hatinya.
__ADS_1
Membuat aku berani berjanji sekali lagi ...
Akulah yang akan membuatmu Bahagia ...