MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Dosen Killer


__ADS_3

Di meja kelas, Dosen sedang memberikan materi ajar. Semua orang menyimak, kecuali Sean. Dia sedang mengamati wajah-wajah teman sekelasnya dan bersembunyi untuk menggambar sketsa mereka. Namun, dia tidak leluasa karena frans dan Felix di belakangnya sedang mengawasi.


Sean juga tidak bisa melukis di tempat lain. Akan mustahil bila mengingat wajah 60 orang secara bersamaan. Dia tidak akan sanggup!


“Sial! Sistem hanya memberikan waktu 24 jam dan aku tidak tahu hukuman apa lagi bila lebih dari batas waktu,” umpatnya dengan suara lirih. Sean tidak akan dapat menyelesaikan hukuman dari sistem. Meski tersisa banyak waktu, Sean sudah menyerah. Dia menutup buku gambarnya dengan berat hati.


Kelas sudah berakhir, Frans dan Felix datang ke tempatnya untuk memastikan. Mereka meletakkan dengan kasar sebuah kertas gambar dan pensil arang di mejanya.


Sean hanya menatap kertas itu dan kembali terangkat menatap keduanya. “Apa maksud kalian?”


“Bodoh! Aku memberikan kertas gambar dan kau harus menggambarkan sesuatu untuk kami!” jawab Felix dengan nada menjengkelkan.


Deg!


Jantung Sean berdebar. Apalagi saat melihat mata biru Frans yang menatapnya tajam dan penuh dengan penghakiman. Ini adalah sebuah tes yang mereka lakukan untuk mengetahui kemampuan Sean. Ataukah mungkin Sean kurang berhati-hati dalam menyembunyikan kebohongannya.


“Kau tidak mendengar kami? cepat lakukan!” desak Felix tidak sabaran.


Menghindari mereka bukanlah pilihan tepat, mereka pasti akan mengejar Sean kembali dan justru akan menaruh curiga. Namun, sebuah kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan lain. Itulah yang saat ini Sean lakukan.


Dengan tangan kiri, Sean terpaksa menggambar sebuah bunga dalam vas. Benar, dengan tangan kiri! Sean tidak boleh sama sekali menggunakan tangan kanan yang seharusnya cacat.


Tidak lama, tangan kiri yang tidak terlatih itu memberikan hasil yang sangat buruk sehingga  Felix dan Frans dapat bernapas lega. Kecurigaan awal mereka lenyap pada akhirnya dan membuat harapan untuk membuat Sean tidak bisa melukis lagi terwujud.


Sean dapat melihat Frans dan Felix saling bertatap muka, bertukar senyum dan terkekeh merendehakan Sean lagi.


“Kau memang payah dan tidak berguna!” cemooh Felix.


Di balik punggung, tangan Sean mengepal erat. Kepalanya sedang berselimut dendam, tetapi saat ini Sean tidak memiliki banyak kekuatan. Dia harus merencanakan sesuatu yang besar untuk melemparkan mereka di dalam kesengsaraan.


Ini bukanlah saat tepat untuk membalasnya. Berangsur-angsur ketabahan Sean membuatnya menjadi lebih pandai mengendalikan emosi.


“Saat itu, kau hanya mematahkan tangannya, setidaknya kau harus mematahkan kakinya agar dia tidak bisa datang ke tempat ini. Aku muak melihat wajahnya!” ucap Frans membicarakan Sean pada Felix.


Ekspresi Felix menjadi senang, tetapi itu bukanlah sesuatu yang baik untuk Sean. Senyum liciknya membuat Sean tidak nyaman.

__ADS_1


“Itu bukanlah hal sulit, kita bisa mengundangnya ke kamar lagi. Ah, aku lupa, kakinya tidak berguna untuk menaiki tangga. Bagaimana kalau aku mematahkan kakinya sekarang? Tidak akan ada yang mau membantu pecundang miskin seperti dirinya.” Felix berbicara penuh antusias.


Di tengah itu, seorang datang menemui Sean. Sontak tidak hanya Sean saja yang menatapnya, Baik Frans dan Felix yang ada di tempat itu juga penasaran dibuatnya.


“Sean, dosen memanggilmu,” keterangan singkat itu yang tidak membuat mereka jadi puas.


Tidak hanya Sean yang sedikit bingung, tetapi Felix dan Frans saling bertatap pandang dengan tidak suka. 


“Siapa?” Sean menurunkan alis.


“Pak Klano, dia memanggilmu di ruangannya.” 


Pak Klano dikenal sebagai dosen killer dan perfectionis. Tidak pernah tersenyum, tidak suka ada mahasiswa terlambat, tidak suka mahasiswa tidur di kelas, tidak suka diprotes, tidak suka bla bla blaa …. 


Tidak hanya itu, dia adalah dosen yang hobi memberikan tugas dan pelit memberikan nilai. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang sidang skripsi menamainya … ‘malaikat pencabut nyawa’.


Benar-benar nama yang sesuai!


“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Pak Klano tidak mengatakan apa-apa padaku. Saranku lebih baik kau segera datang, sebelum kau disambut dengan makalah melayang.” sarannya yang membuat ketiga orang itu harus menelan liur.


Mendengar cerita seram dari dosen itu membuat Sean kembali heran. Keperluan apa yang membuatnya harus berhadapan dengan dosen killer itu?


Sean benar-benar tidak akan menemukan jawabannya bila hanya menerka saja. Dia harus menemui dosen itu dan bertanya secara langsung.


***


Saat akan mengetuk ruangan Pak Klano, Sean mendengar bentakan keras dari dalam dan dari sela kecil pintu yang terbuka, dia dapat melihat Pak Klano melempar makalah di atas meja pada kedua mahasiswa di depannya. Pemandangan inilah yang dinamakan ‘makalah melayang’.


‘Deg!’


Menyeramkan, tinggal menunggu waktu bagi Sean untuk mendapat giliran seperti kedua mahasiswa itu. Rasanya seperti menunggu antrian untuk hukuman mati.


‘Kriek!’ pintu terbuka, kedua mahasiswa yang dilihat Sean keluar dengan wajah kusut dan berkabut penderitaan. Benar-benar parah!


Dengan menekan rasa takut, Sean datang menghadap. Dia masuk ke ruangan Pak Klano dan memberikan salam.

__ADS_1


“Saya Sean Herdian, saya dengar anda memanggil saya.” Sean berkata dengan keringat dingin.


Klano Rahendra adalah nama dosen itu, seorang yang usianya 27 tahun, single, anak konglomerat dan dikenal sebagai jenius muda yang karyanya tergantung di banyak galeri ternama. Dia bahkan pernah membuat pameran tunggal untuk karyanya sendiri. Benar-benar generasi konglomerat yang membuat iri.


Karena tidak ada jawaban, pandangan Sean terangkat sedikit, tepat pada dosen itu yang mengawasi Sean dari kursinya.


“Sean pasti pernah mendengar bahwa saya adalah penanggung jawab sebuah pameran di Emerald Art bulan depan.” ungkapnya dengan datar.


Sean mengangguk tanpa mengerti arah pembicaraan ke depannya.


“Saya sudah mengantongi nama-nama seniman yang ikut berpartisipasi dan saya memiliki rencana untuk merekomendasikan lukisan Sean di pameran itu.


Wajah Sean menjadi cerah sesaat. “Benarkah? Apa saya bisa ikut berpartisipasi?”


“Saya hanya mengkonfirmasi langsung pada Sean, hanya saja ….” Pandangan Pak Klano beralih pada tangan kanan Sean. “Saya dengar Sean tidak bisa menggunakan tangan kanan dengan benar. Apakah itu semua benar?”


Krak!


Bagaikan bumi terbelah dan semangat sean runtuh seketika itu. Sean tidak menyangka bahwa dia bisa mendapat kesulitan dengan berpura-pura cacat. 


Ini adalah kesempatan yang langkah untuk dapat ikut berpartisipasi dalam pameran bergengsi. Tidak ada cara lain untuk seorang mahasiswa selain mendapatkan rekomendasi dari pengajar, tetapi sayangnya Sean harus melepaskan kesempatan ini.


“Apa tema dari pameran itu?” tanya Sean.


“Harmony Spaces.”


“Berita yang tersebar di tempat ini memang benar, saya tidak bisa menggunakan tangan saya untuk melukis lagi.” Sean menurunkan pandangan dengan penuh menyesal.


“Sayang sekali, padahal Sean sangat berbakat. Saya pikir akan merekomendasikan mahasiswa lain untuk itu.” 


Sean menggeleng, “Kebetulan saya menyimpan lukisan dengan tema yang sama, apa saya bisa mengikutsertakan dalam pameran?”


Keinginan untuk berpartisipasi dalam lukisan itu membuat Sean harus berkata tidak jujur. Sebenarnya, dia tidak pernah menyimpan lukisan yang disebutkannya tadi. Sean hanya perlu membuatnya dan mengklaim bahwa itu adalah lukisan lama. ISemua kebohongan itu dilakukan untuk membentengi kebenaran soal tangannya.


Tampak jelas ada ketertarikan dalam ekspresi Pak Klano, dia mengangguk dengan wajah cerah.”Sean bisa menunjukkannya pada saya.”

__ADS_1


“Baik, saya mengerti.”


Saat itu, ketakutan Sean pada si dosen Killer sirna dalam sekejap.


__ADS_2