
Sean mengambil sebuah kartu nama yang diberikan Kenzo Karrin. Dia menghubungi nomor yang tertera di kertas itu dan menuliskan sebuah pesan. Pemuda itu berjanji akan menghubungi pria itu untuk jadwal latihannya.
Notifikasi balasan dari Kenzo Karrin datang dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk bertemu di SH Studio. Sean memberikan alamat galerinya yang juga tidak jauh dari tempat tinggal Kenzo Karrin.
Keasyikan Sean dengan ponselnya membuat dia tidak sadar bahwa Luis yang duduk di meja belajarnya sedang memperhatikan.
“Aku dengar dosen di kelas seni memberikan banyak tugas, apa kau tidak kesulitan menyelesaikannya?” Ucapan mendadak Luis membuat Sean meninggalkan pandangannya pada layar ponsel dan beralih menatap Luis.
“Tidak perlu khawatir, aku sudah menyelesaikannya.” Sean menjawab dengan enteng.
“Katakan saja kalau kau kesulitan, aku bisa membantumu meskipun aku tidak pandai dalam melakukan pekerjaan seni rupa.” Luis meringis akan kekurangannya. Meskipun begitu, Sean senang akan teman sekamarnya yang bersikap baik.
Hal ini mengingatkan Sean pada teman sekamar sebelumnya yang minus akhlak. Benar, Felix selalu membuli dan melakukan kekerasan padanya, tetapi di kamar baru Sean, Felix tidak bisa melakukan apa-apa. Sean dapat hidup nyaman untuk sementara waktu. Namun, dia tidak boleh terbuai karena saat akting pincangnya ketahuan, maka Felix tidak segan menyiapkan neraka untuknya. Benar-benar menakutkan.
Di tengah pikirannya, Sean dikagetkan dengan suara dering ponsel. Ada sebuah panggilan masuk dan Sean segera menjawabnya. Itu adalah panggilan dari pihak lelang yang mengkonfirmasi bahwa barang Sean akan dikirim hari ini.
“Hidden Treasure?” tanpa sadar Sean mengucapkan itu dan melanjutkan kembali percakapan di telepon. Tidak sengaja percakapan itu didengarkan juga oleh Luis yang duduk di sebelahnya.
Saat panggilan telepon itu berakhir, Luis segera memberikan pertanyaan. “Hidden Treasure? Apakah kau membeli sesuatu tentang itu?”
Keingintahuan Luis membuat Sean tidak nyaman, meskipun begitu Sean tidak boleh mengabaikan teman sekamarnya yang bersikap baik. Jadi, Sean hanya perlu mengarang cerita tentang itu.
“Benar, aku membeli ‘Hidden Treasure.” Sean sengaja memberikan ucapan yang menggantung dan melihat reaksi Luis yang tampak berlebihan menanggapinya. “Beberapa hari lalu aku berhasil membeli novel ‘Hidden Treasure’ pada seseorang. Kau tertarik? Apakah kau juga ingin membacanya?”
Ekspresi Luia menjadi merenggang dan dia menggeleng. “Ah, tidak. Aku tidak memiliki waktu untuk membaca novel petualangan seperti itu.”
Sean sadar bahwa Luis mengetahui sesuatu tentang lukisan ‘Hidden Treasurep'. Meski mencurigakan, dia tidak bisa asal menuduh. Jadi, dia mengabaikannya dan segera pergi ke SH Galeri.
***
Saat Sean sampai di depan galeri, sudah ada sedan hitam terparkir di depannya dan Kenzo Karrin berdiri bersandar pada kap mobil.
“Kau sudah menunggu cukup lama?” sapa Sean.
“Itu tidak penting, ada sesuatu yang harus aku tunjukkan padamu.” Kenzo Karrin berpaling dari Sean dan membuka pintu belakang mobilnya. Dia mengeluarkan lukisan yang cukup besar dan terbungkus sampul cokelat.
__ADS_1
“Apa yang kau bawa?” Sean kembali bertanya dengan penasaran.
“Kau bisa melihatnya sendiri,” balas pria itu yang sedang sibuk membawa benda bawaannya.
Sean segera membuka pintu galeri sehingga Kenzo bisa masuk dan meletakkan barang itu di atas lantai. Dengan berhati-hati pria itu membuka bungkus dari lukisan dan ….
‘Srak!’
Sebuah lukisan indah terlihat.
Pada kanvas dengan ukuran 50x90, sebuah lukisan seorang bocah laki-laki memeluk ibunya tampak begitu terkesan. Lukisan itu tidak hanya memadukan dua budaya tetapi dua alam yang tidak terlihat mencolok. Sean dapat mengenali dengan jelas siapa orang yang melukisnya. “Elizabeth Chang?”
“Kenzo Karrin mengangguk. “Benar, namanya ‘PomPom’, ini adalah lukisan lama Elizabeth Chang yang diperebutkan para kurator dan kolektor, tetapi tidak ada yang berhasil mendapatkannya.
“Mengapa kau membawa ini ke tempatku?” Sean mendekati lukisan itu dan menatap setiap detail di dalamnya. Ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan saat melihat lebih dalam lukisan itu, seakan jiwa pelukis terhubung pada Sean.
“Karena sekarang ini adalah milikmu?” Jawaban Kenzo Karrin mengalihkan perhatian Sean.
Pemuda itu mengerutkan alisnya dengan ekspresi tidak tahu. “Milikku? Apa maksudmu?”
“Elizabeth Chang telah memberikanmu lukisan ini dengan cuma-cuma. Dia hanya mengatakan bahwa ini adalah balasan hadiah dari lukisan pemberianmu waktu lalu."
[Hidden Gift]
Sean teringat atas misi harian untuk memberikan 'Cotton Candy' pada Elizabeth Chang, dia tidak menyangka bahwa hadiah itu akan benar-benar datang untuknya.
[Lukisan ‘PomPom’ dengan nilai 1 miliar]
[Hadiah sudah dikirim ke tempat tujuan]
“Ah, aku sedikit iri denganmu,” desah Kenzo. “Ini adalah lukisan yang selama ini aku incar untuk dipajang di galeri, tetapi justru kau yang mendapatkannya dengan mudah. Jual saja padaku, aku akan memberikannya dengan harga tinggi.”
“1 miliar, bisa lebih dan tidak bisa kurang.” Sean meringis saat sadar telah mengucapkan kata-kata itu.
Kenzo Karrin terkekeh, “Tidak aku sangka kau memiliki mata yang bagus.”
__ADS_1
Pada akhirnya, Sean menggantungkan lukisan itu di salah satu ruangan yang ada di dalam galerinya. Itu adalah ruang penyimpanan dengan temperatur, cahaya dan kelembapan yang tepat untuk sebuah lukisan.
Pada akhirnya Sean dan Kenzo menutup pembicaraan tentang ‘PomPom’ dan melanjutkan latihan untuk menjadi pelukis terbaik.
***
Sean dan Kenzo sedang mendiskusikan karya apa yang akan Sean lukis dan pemuda itu teringat akan pameran dari si dosen killer yang awal bulan besok akan digelar di Emerald Art.
“Aku akan berpartisipasi dalam sebuah pameran, apakah bisa membantuku untuk itu?” ucap Sean dengan ekspresi sedikit resah.
“Apa kau sudah mendapatkan temanya?”
“Harmony Spaces.”
Kenzo Karrin tampak sedang berpikir, tidak lama ekspresinya menjadi cerah. Ada satu ide yang terbesit di dalam pikirannya. “Aku akan mengajarimu teknik lukisanku.”
Serentak, mata Sean terbelalak. Bagaimana dia menolak orang yang akan mengajarkan surrealism padanya? “Terimakasih, aku benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Setelah itu, mereka berdua sibuk membuat pola dasar. Meski Kenzo tidak sedikit pun ikut campur di atas kanvas, tetapi saran dan perintahnya begitu berpengaruh pada karya Sean.
Kenzo melihat arloji, “Sayang sekali, aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di galeri.”
“Baiklah, terimakasih sudah membantu.”
Sean beranjak dari duduknya dan mengantar Kenzo di luar studio, tetapi saat mereka ada di pintu, sebuah mobil barang datang dan seorang keluar untuk bertemu Sean.
“Saya mengantarkan barang dari pelelangan,” jelasnya dan seorang yang lain telah mengeluarkan sebuah kotak kayu berisikan lukisan.
Sean yang teringat akan ‘Hidden Treasure' menerimanya. Tampaknya Kenzo yang belum pergi tertarik untuk melihat isi kotak itu.
Saat mengetahui reaksi Kenzo, Sean menawarkan sesuatu. “Kau ingin melihatnya?”
Kenzo Karrin mengangguk dan mereka kembali ke dalam studio. Sean membuka kotak kayu itu dan mengambil ‘Hidden treasure’ untuk diperlihatkan pada Kenzo.
“1 miliar!” seru Kenzo menunjuk lukisan itu. “Lukisan itu bernilai 1 miliar!’
__ADS_1
Sean hanya tersenyum. Rupanya, dirinya sengaja memperlihatkan lukisan itu agar Kenzo dapat menaksir harga lukisan itu. Tidak disangka ‘Hidden Treasure' akan bernilai 1 miliar.
Di dalam galeri Sean sudah ada 1 miliar ‘PomPom’ dan 1 miliar lagi ‘Hidden Treasure’ yang bila ditotalkan adalah 2 miliar. Bukan main!