
Hujan deras mengguyur seluruh kota hingga merata. Genteng rumah, dedaunan dan tanah semuanya basah bahkan menggenang. Begitu juga dengan Sean yang tengah menerobos hujan setelah dia turun dari taxi. Saat itu, Sean berpapasan dengan mobil Kenzo Karrin yang juga berhenti di depan studionya.
"Aku sengaja datang setelah melihatmu. Apa yang kau lakukan?" tanya Kenzo Karrin saat berteduh di depan studio.
Tanpa membalas tatapan Kenzo, Sean sibuk membuka pintu dan saat pintu terbuka, dia segera masuk disusul dengan Kenzo di belakangnya.
"Masuklah dulu." Sean melebarkan pintu dan setelah tamunya masuk, pintu kembali ditutup. "Sudah lama aku tidak melukis sesuatu, aku ingin kembali mengasah kemampuanku. Jadi, aku berencana berlatih melukis di tempat ini."
Tampak Kenzo tidak tertarik dengan penjelasan Sean. Perhatiannya sedang sibuk menyibak jas gelapnya yang basah, sementara Sean mengetahui apa yang seharusnya dia lakukan di tengah situasi ini. Pemuda itu segera membuat teh hangat.
"Minumlah," ucap Sean segera meletakkan dua cangkir teh di atas meja. Dia kembali beralih pada lemari kecil dan mengeluarkan setelan baju santai pada Kenzo Karrin. "Aku menyimpan baju Luis di tempat studio. Tidak terlalu besar untukmu, tetapi itu lebih baik dibandingkan ukuran bajuku yang jelas lebih kecil. Pakai saja itu."
Tanpa menggerutu Kenzo pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan setelah dia selesai … sungguh Sean terkikik dalam hati. Baju Luis yang modis begitu tidak cocok dengan penampilan Kenzo Karrin yang selalu menggunakan pakaian formal.
"Apa kau memiliki banyak waktu? Bisakah kau mengajariku teknik lukisan surealisme milikmu?" Pinta Sean meneruskan kata-katanya yang sempat terhenti.
Kenzo Karrin menatap hujan di luar jendela dan menunjukkan jawabannya pada Sean. "Di luar hujan … tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menuruti permintaanmu, Sean."
Jawaban itu cukup memuaskan Sean, dia segera mengambil kanvas kosong dan perlengkapan lainnya untuk persiapan.
"Jadi … apa yang ingin kau lukis?" Kenzo Karrin bertanya setelah Sean duduk menyampinginya.
Sejenak Sean berpikir, tetapi tetap saja dia tidak memiliki inspirasi di kepalanya. "Entahlah … apa yang harus aku lakukan untuk memulainya."
Tidak banyak yang dimengerti Sean, tetapi tampaknya Kenzo Karrin cukup memahaminya. “Tutup mata!”
“Apa?” Sean berkata setelah menatap Kenzo atas perintahnya.
“Untuk memulainya, kau harus menutup mata,” terang Kenzo.
Meskipun Sean ragu atas perintah itu, Sean tetap mengikutinya. Dalam sekejap, kedua mata Sean tertutup tenang.
Melihat itu, Kenzo mendekatkan wajahnya pada telinga Sean dan dengan perlahan dia berbisik pelan, “Bayangkanlah, hal apa yang sedang mendominasi pikiranmu saat ini. sesuatu seperti kedamaian …, ketenangan …, kesedihan …, amarah …, kegelapan dan ….” Sejenak Kenzo menahan kata-katanya dengan tenang, tetapi tidak untuk Sean. Suara Kenzo Karrin membuat dirinya menjadi tegang.
“.... dendam," lanjut Kenzo Karrin menyempurnakan kata-katanya.
Kata ‘dendam’ yang diucapkan Kenzo Karrin membuat Sean terpengaruh. Tanpa disadari Sean mengingat semua dendam yang dimilikinya.
Perasaan itu membuat Sean ingin menyakiti orang-orang yang membuat dirinya menjadi sengsara dan isi pikiran menjadi kosong seakan dirinya tidak keberatan bila namanya menjadi seorang pelaku kriminal.
Tanpa disadari Sean mengepal erat tangannya dan Kenzo Karrin yang melihatnya bereaksi puas.
"Benar, Sean." Kenzo mendekat dan membisikkan kata-katanya seperti seorang iblis. "Jangan tutupi perasaanmu saat ini, luapkan semua emosimu di atas kanvas."
Beruntung kata-kata dari Kenzo Karrin dapat didengarkan Sean, bila tidak … Sean pasti terbuai dan membuat pikirannya menjadi kosong. Tidak ada jaminan bila Sean tetap diam, bisa jadi … Sean pergi pada Frans ataupun Felix dan membuat seluruh jarinya menjadi patah tidak bisa digunakan, seperti halnya apa yang dia lakukan pada Sean.
__ADS_1
Dengan ekspresi dingin, Sean membuka kedua matanya. Saat ini pandangan mata pemuda itu terlihat tajam, bahkan Kenzo Karrin dapat melihat kegelapan yang begitu gelap ada pada dirinya.
"Lakukan, Sean!" Kenzo Karrin kembali mengucapkan kata-kata yang memikat.
Di tengah derasnya hujan di luar sana, Sean beradu dengan kuas yang digenggam di tangan. Warna-warna cat dioleskan mengikuti pola emosional dan menghasilkan goresan-goresan kuat di dalamnya.
Di belakang Sean, Kenzo hanya menunggu sambil memandangi proses lukisan itu. Sesekali dia kembali berbisik untuk memberikan warna kuat di beberapa bagian, sesekali juga Kenzo meminta Sean untuk mempertajam cahaya dan banyak saran lainnya yang bila orang lain melihat itu akan beranggapan bahwa Kenzo Karrin sedang mentransferkan keseluruhan ilmunya.
"Bagus, seperti itu!"
Sambil bertepuk tangan kecil, Kenzo memuji Sean setelah lukisannya selesai. Reflek, Sean tersentak dan luapan emosi itu seketika hilang.
Saat Sean kembali berpaling pada lukisannya, dia benar-benar tidak menyangka telah membuat karya yang menakjubkan meski tanpa satu pun kemampuan dari sistem.
"Golden Darkness!" Sebuah nama Sean sisipkan dalam kata-katanya.
Lukisan 'Golden Darkness' adalah lukisan surealisme yang menggambarkan sebuah bulan dengan warna yang tidak masuk akal. Bulan biru di tengah kegelapan dan di bawahnya hanya hutan penuh ranting-ranting yang menggantungkan benang-benang emas kusut.
Itu adalah implementasi Sean melalui warna emas yang membuatnya harus kembali mengingat kejadian traumatis di masa lalu, dimana emosi Sean tertuju pada Frans dengan warna rambut serupa.
***
Di tengah suara hujan yang mengguyur, pintu studio Sean terketuk dan membuat perhatian Sean maupun Kenzo Karrin teralihkan.
Kedua orang itu hanya diam dengan ekspresi penasaran, siapa tamu yang mengunjungi studio di tengah badai.
Sean balik menatapnya dan menggeleng dengan ekspresi tanpa kebohongan. “Tidak, aku pikir itu Luis. Mungkin gerbang asrama sudah tutup.”
Sambil mengoreksi jam di sisi dinding, Sean berjalan ke arah pintu dan meyakini bahwa orang di baliknya adalah Luis. Namun, saat pintu sudah terbuka, dugaan Sean terbukti salah. Seseorang yang bukan Luis berdiri di tempat itu.
“K-Kai … Kai Ellizer?” Sean tampak mengenalinya dan dengan penuh kehati-hatian dia mengucapkan namanya seakan tidak percaya bahwa pemuda arogan itulah yang ada di hadapannya.
Penampilan pria di hadapan Sean tampak kacau dengan rambut dan pakaian yang sudah basah kuyup. Namun, Kai Ellizer hanya bergeming.
"Aku datang untuk menyampaikan sesuatu," ungkap Kai.
Ucapan itu tampak terdengar tidak seperti biasa. Gaya bahasa dan intonasi yang terkesan arogan kini begitu lunak seakan sesuatu telah membenturkan kepalanya dan membuat dirinya tidak mengingat sifat sombong yang menjengkelkan itu.
Sean tidak bisa menebak apa yang membawa Kai Ellizer ke tempatnya, tetapi dia jelas mengingat bahwa dirinya sendiri yang memberikan sebuah kartu nama.
“Masuklah.” Sean melebarkan pintu dan membawa Kai Ellizer masuk. Dia juga memandu pria itu untuk duduk di sofa, dimana Kenzo Karrin berada.
Tidak ingin mengganggu kunjungan tamu tak diundang itu, Kenzo Karrin berdiri untuk menyingkir. Namun, saat langkah Kenzo menyampingi Sean, dia berbisik perlahan.
“Kai Ellizer?” katanya.
__ADS_1
Melihat Kenzo Karrin yang berhasil mengkonfirmasi identitas tamu itu hanya mengangguk. Tanpa berkata lagi, Kenzo Karrin pergi dan kembali datang dengan suguhan teh hangat untuk tamu Sean.
“Jadi … Apa yang membawamu ke tempat ini?” Karena Kai Ellizer tidak juga mengucapkan sepata kata, Sean terpaksa harus memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Meski dengan perasan tidak senang, Kai hanya perlu mengungkapkan tujuannya. Ekspresi wajahnya tampak tidak bisa berbohong, tetapi dia menuturkan kata-kata pada setiap ucapannya sedikit lebih lembut.
“Ayahku menyuruhku datang dan menyampaikan sesuatu.” Kata-kata Kai ELlizer kembali terputus seolah dia tidak menyukai ucapannya sendiri. “Ayah bilang … dia akan memberikan lukisan ‘Speak with Vagia’.”
Kata-kata itu membuat raut wajah Sean berseri seketika, sementara Kenzo Karrin yang tidak mengetahui alur permasalahan hanya bisa diam dan mencerna kata-kata itu. Setidaknya, dia dapat memahami bahwa keinginan Sean dapat dicapai.
“Benarkah?” Seoalah tidak bisa percaya Sean kembali meragukan pernyataan Kain Ellizer. “Apakah Darren Ellizer setuju atas partisipasinya dengan lukisan ‘Speak with Vagia’?”
“Hal itu tidak berlaku untuk pameran yang akan diselenggarakan Ellinden Gallery, ‘Speak with Vagia’ akan digantung pada dinding Vase Art Gallery.” bantahan Kai Ellizer tidak membuat Sean kecewa, justru ekspresinya menjadi cerah.
Misi ‘Speak with Vagia’ memang tidak diperuntukkan Sean untuk memuaskan orang-orang di Ellinden Gallery, tetapi untuk tujuan Sean sendiri.
Berselang dengan itu, kemunculan dari layar sistem disambut Sean dengan wajah puas.
[Selamat anda telah berhasil mendapatkan 'Speak with Vagia']
[Identifikasi misi]
[Loading … ]
Jendela sistem kembali muncul setelah beberapa detik menghilang
[Lukisan Marionette: Belum diselesaikan]
[Lukisan Speak with Vagia: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Anathema: Belum diselesaikan]
[Lukisan Hidden Paradise: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Klandestin: Belum diselesaikan]
[Lukisan Skeptis: Belum diselesaikan]
[Lukisan Zero Balance: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Chain of Eros: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Mind Hole: Berhasil diselesaikan]
Setelah membaca tulisan di dalam layar sistem, Sean hanya bisa menyembunyikan kegembiraan dalam benaknya.
__ADS_1
Semua lukisan berhasil dia dapatkan dan hanya tersisa dua lukisan, yakini Marionette dan Anathema.
Sean sudah tidak sabar lagi hadiah yang diberikan sistem atas kerja keras mendapatkan 9 lukisan-lukisan itu.