MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Target ke 8-'Marrionette'


__ADS_3

Di depan meja kerja Hendri, Sean hanya bisa berdiri dengan wajah tertunduk. Tidak ada kata yang diucapkan oleh pria itu bahkan saat dengan marahnya Hendri membanting tumpukan dokumen di atas mejanya.


‘Brak!’


“Kau bilang tidak berhasil?” Kali ini bukan hanya dokumen saja yang mejadi korban atas kemarahan Hendri. Meja kayu di depannya ikut digebrak sehingga membuat Sean tersentak sesaat.


“Pekerjaan semudah itu saja tidak bisa kau lakukan dengan benar! Apa sulitnya membujuk Darren Ellizer untuk memberikan ‘Speak with Vagia’ pada Ellinden Gallery?” luapan amarah Hendri berlanjut.


Suara keras yang keluar dari mulutnya terdengar hingga diluar ruangan, tetapi Sean pura-pura tuli akan kata itu. Dia sudah mengetahui bahwa 3 tahun lamanya Ellinden gallery sudah mengincar ‘Speak with Vagia’, tetapi selalu ditolak Darren Ellizer.


Omong kosong itu terus-menerus diucapkan Hendri seolah gagalnya ‘Speak with Vagia’ adalah tanggungg jawab Sean. Tentu saja bukan. Dia hanya melimpahkan tugas sulit untuk asisten kurator yang statusnya adalah pekerja magang. 


“Maaf, tetapi Darren Ellizer sendiri yang sudah menolak memberikan ‘Speak with Vagia’ pada Ellinden Gallery,” ucap Sean tanpa rasa bersalah.


‘Brak!’


‘Srak!’


Untuk kedua kalinya Hendri menggebrak meja dan melemparkan dokumen-dokumen di atasnya tepat pada Sean. Kertas-kertas itu berhamburan dan jatuh di bawah Sean.


Amukan itu sungguh memuaskan hati Sean hingga sulit rasanya untuk tidak membuatnya tertawa terpingkal. Bagaimana tidak, kenyataannya dia telah berhasil mendapatkan lukisan itu. Tentu saja tidak untuk Ellinden Gallery.


Kemenangan Sean hanya bisa dia simpan di dalam hati. Bukanlah hal baik bila ada seorang dari Ellinden Gallery mengetahuinya.


“Maaf, aku sudah berusaha keras mendapatkannya.” Masih dengan wajah tertunduk. Sean menyembunyikan kegembiraannya.


Hendri ingin melanjutkan teriakan dan menambah kata-kata kutukan di dalam ucapannya, tetapi amukannya sudah mengundang perhatian dari orang-orang di sekitar. Pekerja lain berkumpul di depan pintu untuk mengintip apa yang membuat Hendri menggila.


“Keluar! Keluar kau!” usir Hendri pada Sean sambil menunjuk kasar pintu ruangannya.


Sean tidak ingin terlibat lagi urusan Ellinden Gallery dengan ‘Speak with Vagia’ sehingga menyingkir dari hadapan Hendri adalah tindakan yang sangat tepat.


***


Di bawah langit-langit kamar asrama, Sean tampak tercengang setelah membaca tulisan pada jendela sistem.


[Marionette]


[Marionette lukisan karya Brian Ernest]


[Pergi ke RSJ Nasional dan temui Brian Ernest]

__ADS_1


Seketika itu Sean menyadari arti dari tulisan yang ditunjukkan jendela sistem.


“RSJ?” gumam Sean sendirinya. “RSJ? Rumah sakit jiwa? Apakah kau gila!”


Tidak peduli seberapa sulit misi tersembunyi untuk mendapatkan 9 lukisan, Sean benar-benar tidak menyangka bahwa dia harus berurusan dengan tempat itu.


Di tengah kegusaran, pikiran waras Sean menyelip pada benaknya. Pergi ke rumah sakit jiwa bukan berati harus menemui salah satu pasien yang dirawat di tempat itu. Bisa jadi orang yang bernama Brian Ernest adalah salah satu terapis atau psikiater di tempat itu.


“Jadi … siapa  Brian Ernest?” tanya Sean memastikan.


Di sisi lain, pemuda itu berharap bahwa sistem memiliki banyak informasi tentang pelukis yang dicarinya. Namun, tidak disangka bahwa informasi itu justru membuatnya menelan ludah.


[Brian Ernest adalah salah satu pasien Skizofrenia katatonik dengan gangguan isolasi diri]


Seketika, mata Sean berkedut memikirkan tulisan yang ada di dalam jendela sistem. Kepalanya terasa berat saat mencoba berpikir cara mendapatkan lukisan dari seorang dengan gangguan jiwa.


"Sepertinya aku akan gila hanya dengan misi-misi itu!" gerutu Sean sendirinya. 


Tanpa disadari, Luis masuk ke dalam ruangan dan terpaku melihat teman kamarnya yang berbicara sendiri. Mata cokelatnya mengerjap tak paham, tidak membuat Luis penasaran lebih lama dia pun menghampiri Sean.


"Kau … gila?" tanya Luis yang langsung memberikan tuduhan. "Kau berbicara sendiri, apa sekarang kau menjadi gila?"


Sean yang sedikit terkejut melihat kedatangan Luis tidak bisa mengelak.  Dia hanya membalas tatapan Luis dengan kesal.


Tertangkap basah berbicara sendiri adalah hal wajar bila Luis menganggapnya seperti itu. Penjelasan bukanlah hal penting untuk Sean saat ini, dia harus segera bergegas mendapatkan lukisan ke 8 'Marrionette'.


"Kalau benar aku gila dan kau bisa berteman denganku, sepertinya aku memang butuh bantuanmu, Luis." Sean menatap Luis dengan penuh harapan.


"Ya? Apa?" reaksi Luis.


Sean tidak lagi menjawab, tetapi saat ini kepalanya penuh dengan ide gila.


***


RSJ Nasional,


Di depan tempat itu, Sean menyeret Luis untuk masuk, tetapi pemuda berambut cokelat itu mencoba menolak dengan keras.


"Aku tahu kau gila, tapi jangan membuatku ikut gila bersamamu!" komentar Luis berusaha kabur.


"Ayolah, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Bukannya kau harus membantu temanmu yang sedang kesulitan?" bujuk Sean.

__ADS_1


"Enyahlah!" pekik Luis tidak serius.


Sean tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Luis untuk menemui Brian Ernest. Pemuda itu akan kesulitan mencapai tujuannya tanpa bantuan dari Luis. Namun, mendadak satu ide terbesit di dalam kepalanya.


"Baiklah ini tidak geratis. Dapatkan lukisan 'Marionette' dari Brian Ernest dan minta apapun dariku."  Ucapan Sean membuat Luis sedikit terpengaruh. Dia mulai tenang dan mengangkat pandangannya ke atas, seolah sedang menimang keinginannya yang panjang.


"Bujuk Karta agar mau berkencan denganku," pinta Luis dengan serius.


Dengan cepat Sean menggeleng malas atas penolakannya. "Tidak, kau harus memintanya sendiri sebagai seorang gentleman."


Luis bukanlah orang yang bisa berpura-pura dengan baik. Perasaan tertariknya pada Karta Edena terlihat jelas dan Sean dapat membacanya dengan baik.


Hanya saja …, keberanian Luis di depan Karta Edena tidaklah sebesar nyalinya yang menciut atas sebuah ajakan kencan.


"Tidak, tidak! Kau harus membantuku untuk berkencan. Ayolah, Sean, kau harus membantu temanmu yang sedang kesulitan." Luis balas membujuk.


Tidak ada pilihan bagi Sean untuk mempertimbangkan negosiasinya dengan Luis. Dengan terpaksa dia mengangguk.


Bukan hal sulit untuk membujuk wanita itu. Sean hanya perlu mengatakan keinginan Luis dengan jujur. Bahkan, Sean meyakini bila Karta Edena memiliki ketertarikan yang sama pada Luis.


Setelah negosiasi antara kedua pemuda itu, pada akhirnya mereka memasuki rumah sakit dan tanpa kesulitan Mereka mendapatkan izin mengunjungi Brian Ernest tanpa kesulitan yang berarti. Tentu saja mereka berbohong akan identitas mereka yang mengaku-ngaku sebagai teman dari target.


Salah seorang petugas wanita mengantar di ruang tunggu sambil membuka sedikit obrolan tentang keseharian Brian Ernest.


"Emosinya sudah stabil, hanya saja dia lebih memilih melakukan hal sendiri dan tidak mau bersosialisasi dengan pasien lain," ungkap wanita berseragam itu yang tampaknya mengenal Brian Ernest dengan baik.


Menangkap itu, membuat Sean tertarik untuk mengorek sedikit informasi dari sasarannya.


"Brian Ernest pasti orang yang mencolok di tempat ini," tebak Sean benar.


Tidak ada pekerja di rumah sakit itu yang tidak mengenal namanya, itu karena Brian Ernest terkenal karena lukisannya. Dia selalu melukis potrait wajah perawat atau terapis perempuan di tempat itu, tetapi terkadang dia melukis sesuatu yang aneh di kertas lukisnya.


Saat di ruang tunggu, Sean sempat ditunjukkan beberapa lukisan dari Brian Ernest yang dipajang di tempat itu.


Lukisannya bergaya naturalisme, hanya saja diberi sentuhan romantisme sehingga para wanita yang dilukisnya tampak cantik seperti seorang bidadari.


"Lihat itu, penilaianmu terhadap lukisan memang tidak diragukan. Bagaimana kau bisa menemukan pelukis unik di tempat seperti ini?" Luis yang mengetahui sebagian misi dari Sean berbisik padanya.


Tanpa ingin menjawab rasa ingin tahunya, Sean mengalihkan pembicaraan. "Dapatkan lukisan yang aku minta dan satu keinginan untuk berkencan akan terkabul."


Seperti mendapatkan angin segar, Luis langsung bersemangat setelah mendapatkan perkataan dari Sean.

__ADS_1


Di tengah pembicaraan itu seorang perawat datang membawa pria seumuran mereka dengan memakai baju pasien.


"Brian Ernest?"  


__ADS_2