MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Pertentangan Seorang Bellian


__ADS_3

Di atas kursi reyot, Sean tercengang dengan keadaan di dalam rumah Nico Azer. Rumah itu tidak memiliki bilik, hanya satu ruangan dan ruangan lain adalah kamar mandi.


Tidak banyak perabotan di dalamnya, barang-barang disimpan dengan asal. Kardus menumpuk dan kertas-kertas berserakan. Sean juga dapat melihat beberapa botol alkohol kosong yang dibiarkan bergelimpangan di atas lantai.


“Jadi … urusan apa yang membuatmu datang mencariku?” Ucapan pria gondrong di depannya membuat Sean sadar dari lamunan.


Tidak berpikir lama, Sean segera memberikan sebuah surat dari Shiren Bellian padanya. Tidak seperti surat cinta, itu adalah surat janji temu yang tampak dirahasiakan.


"Datang ke Urban Spaces jam 12 siang." Secara mengejutkan, Nico Azer membaca surat itu tanpa mempedulikan volume suaranya sehingga Sean dapat mendengarkan ucapan itu dengan sangat jelas."


Sean hanya mengerjap tidak mengerti akan situasi mereka. Apalagi saat dengan sengaja Nico memantikkan sebuah lighter di ujung kertas dan berhasil membuat api membakar surat itu dengan tidak tersisa.


"Kenapa?" Dengan mulut ternganga Sean bertanya. "Kenapa kau membakar surat Shiren?"


Dengan sedikit frustasi, pemuda di hadapan Sean mengeluarkan sebatang rokok dan menyulut api di ujungnya. Perilaku tidak sopan itu sedikit membuat Sean terganggu, tetapi dia mengabaikan Nico, juga mengabaikan asap yang mengepul di sekitarnya.


"Itu karena aku tidak akan datang!" sahut Nico Azer tanpa keraguan. Keteguhan hati pemuda itu tampak jelas pada kedua bola matanya yang menatap Sean tajam dan sesekali dia kembali pada rokoknya.


Nico mulai menceritakan hubungannya yang ditentang oleh kakak Shiren, siapa lagi kalau bukan Soraya Bellian. Di puncak kemarahan, wanita itu datang ke tempat Nico dan memberikan amplop berisi uang untuk menjauhi adiknya. Sebagai pria yang memiliki harga diri tinggi, Nico Azer menyadari statusnya yang  yatim piatu miskin dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Shiren Bellian.


Mau tidak mau Sean harus mendengarkan cerita cinta klise antara mereka yang terpisahkan oleh status. Namun, tujuan Sean di sini bukan untuk mendengarkan curhatan Nico Azer, tetapi untuk mencari lukisan 'Chain of Eros' dan segera menyelesaikan misi dari sistem.


Keputusan Nico Azer untuk mengabaikan surat dari Shiren tidak memiliki pengaruh apapun pada Sean. Sean tidak melakukan pergerakan apapun dan hanya menatap surat yang sudah sepenuhnya jadi abu. Sebenarnya, Sean ingin menghindari situasi ini, dia benar-benar tidak ingin berdiri di tengah prahara percintaan antara Shiren dan Nico, apalagi sampai melibatkan Soraya Bellian.


"Aku bertanya pada Shiren tentang lukisan 'Chain of Eros' dan dia mengatakan bahwa lukisan itu ada padamu." Sean sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan tujuan sebenarnya pada Nico, tetapi pemuda itu justru menatapnya dengan ekspresi rumit.


"Kau lihat lukisan yang digantungkan di tempat itu?" tunjuk Nico Azer pada sebuah lukisan yang menggantung di salah satu dinding bata. "Itu adalah lukisan yang kau maksud, Chain of Eros."


Sean yang mengikuti arah dari ujung jari Nico berakhir pada sebuah lukisan abstrak dengan pola cabang dan didominasi warna hitam  berpadu merah tua tampak begitu memukaunya.


"Chain of Eros?" Sean kembali memastikan.


Setelah Nico mengangguk untuk meyakinkannya, Sean bangkit dan mendekat pada lukisan itu. Keindahan dari 'Chain of Eros' membuat mata Sean menatap lurus bahkan tidak  berkedip sedikit pun.

__ADS_1


Dari belakang, Nico Azer berdiri mensejajari Sean. "Lukisan itu kami buat bersama untuk mengekspresikan perasaan kami."


Sean benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata lukisan itu tidak hanya mengekspresikan perasaan Shiren saja, tetapi juga perasaan Nico Azer secara bersamaan.


Keinginan Sean untuk membeli lukisan itu diungkapkannya dengan terang-terangan, tetapi bisa diperkirakan bahwa Nico Azer menolaknya dengan tegas. Itu adalah satu-satunya kenangan Nico bersama Shiren.


"Berapa banyak uang yang bisa menggantikan lukisan itu? 100 juta? Ataukah kau ingin mengubah angka di belakangnya?" tawar Sean penuh percaya diri.


Reaksi dari Nico Azer hanya menggeleng, tetapi Sean jelas melihat bibirnya tersenyum kecut.


"Kau ingin bernegosiasi denganku?" Dengan penekanan kata, Nico Azer kembali bertanya. "Andai saja kau bisa membuat kakak Shiren menyetujui hubunganku, aku bisa mempertimbangkan harga untuk lukisan itu."


Tidak disangka, mekipun Nico Azer tampak acuh menanggapi Shiren Bellian, tetapi di lain sisi harapannya pada wanita itu begitu tinggi.


Demi mencapai tujuannya, pikiran Sean sudah gelap. Dia pergi dan mencoba berbicara pada Soraya Bellian sebagai kunci keberhasilannya.


***


Di dalam bioskop, Sean sengaja membeli tiket dengan selisih satu angka dari nomor kursi yang diberikannya untuk Soraya Bellian.


"Sean?" Kenzo Karrin disamping Soraya memastikan.


"Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian," ucap Sean. Ekspresi kedua orang itu tidak tampak terkejut, seolah mereka tahu arah pembicaraan Sean berikutnya.


Tidak ingin mengacaukan tempat bioskop yang tenang, mereka memutuskan keluar dan melanjutkan pembicaraan di dalam mobil Kenzo Karrin.


Sean yang memilih duduk di kursi belakang hanya menatap Soraya Bellian dari tempatnya.


"Aku pikir pendapatmu tentang Shiren yang anti sosial tidaklah benar," sambung Sean mencoba melemparkan umpan pada Soraya. Dari ekspresi wanita itu, tampak jelas bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi Sean tidak sabar ingin menarik kailnya. "Seperti kataku tadi, Shiren bukan anti sosial, dia hanya memberontak padamu."


"Bagaimana bisa aku membiarkan adikku mempunyai hubungan dengan pria tidak jelas dan berantakan seperti Nico Azer!" Penuh emosi, Soraya Bellian menyalak dari tempat duduknya.


Meskipun itu adalah pengakuan dosa yang membuat Soraya Bellian tidak tampak berdosa, baik Sean ataupun Kenzo Karrin menatapnya dengan tatapan penghakiman. Merasa terdesak Soraya Bellian kembali mencercah kelemahan dari pasangan adiknya.

__ADS_1


Sean sendiri dapat mengerti perasaan wanita itu. Sebagai adik dari seorang ternama seperti Soraya Bellian, penampilan ala kadarnya dan strata dari Nico Azer memang tidak sesuai untuk keluarga Bellian. Namun, masalah itulah yang harus dipecahkan Sean.


"Jadi … seandainya bila Nico Azer adalah seorang pria yang masuk dalam kriteria good looking dan good rekening, apakah kau bisa membiarkan Shiren mengambil keputusannya sendiri?" 


Ucapan Sean membuat wanita dengan harga diri tinggi itu lebih memilih diam tidak menjawab. Namun, Sean dapat mengetahui kebenaran itu melalui matanya.


Saat itulah tujuan untuk mendapatkan 'Chain of Eros' akan ditunda Sean. Dia harus terlebih dahulu mengubah Nico Azer menjadi pria yang diinginkan Soraya Bellian.


***


Keesokan harinya, Sean kembali ke tempat tinggal Nico Azer. Betapa terkejutnya saat penampilan Nico lebih berantakan ketimbang saat terakhir Sean bertemu dengannya. Bahkan, Sean mencium aroma alkohol menyengat darinya.


"Kau mengkonsumsi alkohol?" tanya Sean terang-terangan. 


Nico Azer tersenyum pahit. "Alkohol membuatku lupa akan masalahku."


Untuk seorang yang cintanya terhalang pada status sosial, Nico memilih jalan yang salah. Ketimbang berusaha membuktikan bahwa dia adalah orang yang layak bersanding dengan adik Soraya Bellian, Nico lebih memilih jatuh terjerumus dalam jurangnya sendiri.


Tidak bisa dibiarkan begitu saja, Sean segera membawa Nico Azer untuk memilih beberapa pakaian dan merapikan rambutnya. Namun, Rico bereaksi berbeda. Tanpa terima kasih dia hanya mengucapkan kata-kata putus asa.


"Bila kau hanya ingin mengubahku sesuai dengan apa yang kakak Shiren inginkan, lebih baik lupakan saja. Aku tetap ingin menjadi diriku apa adanya." Ucapan itu begitu bertentangan dengan prinsip Sean. Namun, pemuda itu tidak bisa diam saja menanggapinya.


"Aku mengubahmu untuk menyenangkan hati Soraya Billian?" Sean terkikik, seolah prasangka Nico Azer tidaklah benar. "Jangan berpikir begitu, aku melakukan ini untuk dirimu sendiri. Apakah kau tidak bosan berpenampilan acak-acakan dan pakaian penuh noda cat?"


"Aku pelukis, bukannya hal wajar bila aku selalu pulang dengan pakaian penuh cat?" Dengan ekspresi serius, Nico Azer berkelit untuk membela diri.


Itu hal yang lucu. Seharusnya Nico tidak memberikan alasan klasik itu di depan Sean. Sebagai seorang yang sama-sama bekerja sebagai pelukis dan memiliki strata sosial ke bawah, penampilan Sean lebih baik darinya.


"Kau pikir aku siapa?" Sean memberikan sebuah penekanan kata, seolah ingin membuat Nico sadar bahwa pembelaannya tidaklah benar. "Pekerjaanku sama sepertimu, tetapi aku berusaha berpenampilan baik dan berusaha meninggalkan kesan sebagai anak tukang kebun."


Sedikit tercengang, Nico Azer tidak menyangka bahwa Sean mempunyai satu profesi dengannya. Pandangan Nico pun menyapu penampilan Sean yang berbeda darinya dan berhasil membuat Nico malu oleh alasan yang seakan dibuat-buat.


Sean berusaha meyakinkan Nico kembali bahwa apa yang dilakukannya akan memberikan kesan baik, tidak hanya pada Soraya Bellian, tetapi semua orang yang menemuinya. 

__ADS_1


"Semua itu tidak sulit. Aku yakin kau bisa melakukannya." Sean kembali berkata dan pada akhirnya Nico menyetujuinya.


__ADS_2