
'Brak!'
Sean mendapatkan sebuah tinjuan langsung dari tangan Frans sendiri.
Saat ini, pipi Sean terasa panas seperti sedang terbakar api. Tidak tahan dengan sakitnya, membuat Sean memegangi pipinya yang sudah merah. Terlihat jelas darah di sudut bibir Sean akibat tinjuan itu.
"Kau mau menipuku?" geram Frans dengan suara kencang. Rahang pemuda itu terkatup rapat dan mata biru pemuda itu terbelalak seperti sebuah tsunami di lautan lepas. Kedua psndangan mata Frans terkunci tepat pada Sean.
Dari tempatnya, Sean dapat melihat wajah Frans mengurat biru. Dengan ekspresi kesetanan seperti itu, Frans membuka kasar buku gambar Sean dan memperlihatkan hasil lukisannya yang tidak seperti digambar oleh orang yang cacat.
Tidak ada yang bisa menahan murka Frans, baik Sean maupun Felix yang hanya menjadi penonton. Dengan penuh emosi dia membanting buku itu tepat pada wajah Sean.
'Brak!'
Beberapa kertas di dalamnya terlepas dari pengaitnya dan ikut berceceran di atas lantai.
"Beraninya kau menipuku!" sergah lelaki berdarah Ellinden yang terkenal bengis.
Sean berusaha untuk tidak ikut terbawa suasana. Tangan Sean mengepal dan ingin membalas tinjuan Frans padanya, tetapi dia kembali berpikir bahwa uang sekian miliarnya tidak akan mampu menghadapi keluarga Ellinden.
Tidak ada gunanya melawan, tetapi Sean tidak mau terus mendapat pukulan lagi. Setidaknya dia harus menghindari masalah ini dengan sebuah kebohongan.
"Itu … bukan karyaku." Sean berkelit dengan hati yang gelisah.
Tentunya penjelasan itu adalah suatu kebohongan. Tidak mungkin, Sean berkata apa yang sebenarnya. Bila itu sampai dilakukannya, maka … bisa dipastikan masa depan Sean akan berakhir saat ini juga.
Frans yang mengamuk tidak hanya akan meremukkan jari tangan Sean untuk yang kedua kalinya, tetapi dia akan membengkokkan tulang leher pemuda itu sekarang juga. Ellinden tidak akan takut akan kejahatan karena mereka memiliki uang untuk menutup segalanya.
“Kau pikir aku percaya ucapanmu, hah?” Frans mendekat tepat pada wajah Sean. Pemuda itu terus menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi. Namun, Sean hanya bisa diam dan menyembunyikan ketakutannya. “Katakan sekali lagi bila lukisan ini bukan milikmu?”
“I-itu bukan milikku.” Keyakinan Sean sedikit goyah dan kebohongannya tidak akan berhasil menipu Frans dengan mudah.
__ADS_1
Frans kembali mengambil kertas pada buku gambar yang isinya sudah tercecer tidak beraturan. Dia menunjukkan kertas itu tepat di depan mata Sean. Tidak hanya itu, dia juga berusaha mendesak Sean untuk mengakui lukisannya.
“Bagaimana bisa lukisan-lukisan ini ada di kamar asramamu? Apa kau ingin bilang bahwa teman kamarmu yang melukisnya?” sergah Frans menyemburkan amarahnya pada Sean. “Kau pikir dapat membodohi aku, hah? Luis yang menjadi teman sekamarmu tidak akan mungkin dapat melukis dengan tingkatan seperti ini. Seorang mahasiswa manajemen bisnis dapat melakukan hal seperti ini adalah suatu hal mustahil!”
‘Glek!’
Sean menenggak ludahnya, bila bisa dia juga ingin menenggak kepalanya secara utuh. Ucapan Frans saat ini benar-benar masuk akal hingga Sean berpikir untuk menyerah dan mengakui semua. Tidak mungkin bagi Luis yang hanya mahasiswa bisnis dapat melukis dengan tingkatan seorang seniman.
Saat tangan Frans kembali akan meninju Sean lagi, pintu kamar terbuka dan Luis sudah ada di muka pintu. Melihat hal itu sontak membuat Frans terpaksa menunda aksinya. Pemuda itu menjauhkan kepalan tangannya, tetapi kedua mata biru Frans tampak jelas adanya ketidakpuasan.
Luis yang melihat dua orang bukan penghuni kamar hanya menatapnya tidak suka dan tanpa ada satu orang pun yang menjelaskan situasi di kamarnya saat ini, dia dapat dengan mudah mengetahuinya.
“Apakah keluarga Ellinden dan temannya memiliki hobi membuat rusuh di kamar orang lain?” sindir Luis tidak terhindarkan.
Memang benar yang dikatakan Luis, tidak seharusnya Frans dan Felix masuk ke kamarnya seperti ini. Oleh karena itu, Frans menyusun sebuah rencana sebelumnya. Frans telah menyuruh Felix untuk bisa memeriksa jadwal Luis dan meminjam kunci cadangan pada Zavier untuk kamar mereka. Saat itulah, mereka mengobrak-abrik isi kamar 106 dan menemukan lukisan itu.
Rencana mereka sudah berhasil, hanya perlu menambah rencana baru untuk memberikan Sean pelajaran. Namun, tidak disangka orang yang harus dihindarinya muncul di saat yang tidak tepat.
Luis yang memasang ekspresi dingin duduk di atas kursi. Kedua mata cokelat Luis menatap Frans penuh tekanan.
Pria berdarah Ellinden itu sudah terpojok, tetapi harga dirinya tidak terus membuatnya ingin kalah. Dia menunjukkan lukisan Sean pada Luis dan menjelaskan apa yang dia ketahui.
"Orang ini telah menipu kita!" Jari Frans menunjuk kasar pada Sean. "Dia tidak cacat dan lukisan ini buktinya. Dia juga tidak mau mengakui lukisan ini adalah miliknya. Orang ini benar-benar menipu kita semua!"
Cercahan Frans tidak membuat Luis terpengaruh. Kedua mata cokelatnya beralih pada Sean, tetapi pria yang ditatap Luis berbalik menghindari kontak mata itu. Dia lebih memilih menunduk dan meratapi akhir dari kepura-puraannya.
Seharusnya Luis sudah mengetahui kondisi Sean, tetapi dia tidak tahu-menahu apa hubungan pemuda itu dengan keluarga Ellinden.
"Lukisan itu memang bukan milik Sean." Ucapan Luis membuat Sean sendiri terkejut, sontak dia memandangi pemuda itu yang diam-diam memberikan sebuah kode mata. Meskipun Sean tidak tahu rencananya, dia mengerti bahwa saat ini lebih baik dirinya diam dan mengikuti rencana Luis.
"Apa kau juga ingin menipuku?" komplain Frans pada ya.
__ADS_1
Kedua tangan Luis diangkatnya sambil terus menggeleng. "Aku telah berkata yang sebenarnya. Orang yang telah melukis ini semua adalah aku dan kau adalah orang yang merusak semuanya."
"Tidak mungkin benar! Bagaimana mahasiswa manajemen bisnis sepertimu dapat melakukan ini? Apa yang kau katakan adalah omong kosong!"
Melihat kemarahan Frans yang makin memuncak, membuat Luis terkekeh. Dia tampak terlalu percaya diri untuk seorang yang tidak bisa membuktikan kebenaran dari pemilik lukisan itu.
Pikiran kecil itulah yang kembali dipikirkan semua orang di tempat itu, tidak terkecuali Sean. Pandangan pemuda itu menatap lurus pada Luis seolah mengatakan sia-sia mengelabui mereka semua. Namun, Luis semakin melebarkan senyumnya. Dengan penuh kepercayaan diri, Luis mencoba melukis sesuatu di atas kertas kosong.
Tidak ada yang menyangka bahwa Luis dapat melakukannya dengan baik. Dia dapat meniru salah satu lukisan Sean yang dilihatnya barusan.
"Sekarang kau percayakan?" ejekan Luis memperlihatkan lukisannya dan sukses membuat mulut Frans ataupun Felix tersumpal diam.
Luis dapat membuktikan diri bahwa dialah orang yang melukis. Namun, Kekalahan itu tidak bisa diterima oleh Frans, dia masih bersikeras menuduh Sean yang telah melukisnya, tetapi dengan tanggap Felix menyudahi agar masalah ini tidak menjadi besar. Dia berusaha keras membuat Frans kembali tenang.
"Lebih baik kita pergi." Felix mengingatkan akan kondisi di tempat ini yang sedang tidak bagus.
Frans benar-benar tersudut, dia tidak memiliki pilihan selain mundur. Namun, saat Frans hendak pergi, Luis menahannya.
"Apa?" tanya Frans memperlihatkan ekspresi yang buruk.
"Setelah kau membuat kekacauan ini, kau akan pergi begitu saja? Minta maaf!" tuntut Luis tegas.
Tampak jelas bahwa Frans tidak bisa membendung kemarahannya lagi, tetapi baiknya Felix maju dan membungkuk dengan terpaksa.
"Kami minta maaf sudah mengacaukan kamar kalian," ucap Felix menggantikan Frans.
"Bukan itu yang aku mau. Minta maaflah karena telah menghancurkan lukisanku dan menuduh Sean!" perintahnya yang tidak bisa ditolak.
Felix dan Frans saling bertatap pandangan, tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang bisa mengubah keinginan Luis sehingga Felix kembali membungkuk padanya dan kemudian berbalik untuk membungkuk pada Sean.
Melihat bawahannya direndahkan seperti itu membuat kekesalan Frans semakin meningkat. Dia mendengus kesal dan langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1