MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Keberhasilan 'Mind Hole'


__ADS_3

Di bangunan lantai 4 sebuah rumah susun, Sean menunggu di depan pintu 406. Meskipun beberapa kali Sean mengetuknya, tidak ada satu jawaban pun terdengar dari dalam. Tampaknya tidak ada orang di dalam.


Entah, apa yang Edian Ellison lakukan. Wanita itu membuat janji bertemu di tempat tinggalnya, tetapi dia sendiri tidak hadir. Tampak sia-sia Sean datang, tetapi ini bukan hal sulit baginya setelah mempertimbangkan jarak rumah susun dan kampusnya yang sangat dekat.


Sean memutuskan untuk menunggu, tetapi 20 menit setelahnya dia terpaksa harus kembali. Tugas-tugas kuliahnya sudah menumpuk, meskipun dia tahu menyelesaikan misi sangatlah penting, tetapi tugas kuliahnya juga tidak kalah pentingnya.


Melalui jendela koridor, Sean dapat melihat titik demi titik air menempel di kaca dan lama-kelamaan titik-titik air itu mengguyur lebat. Keadaan di luar hujan dan lebih deras untuk sekedar hujan di awal musim. Tidak ada persiapan payung yang sean bawa, itu membuat dirinya harus tertahan sedikit lebih lama di dalam bangunan itu, setidaknya sampai hujannya sedikit mereda.


‘’Brak!’


Suara seperti sesuatu sedang terjatuh di antara suara-suara hujan terdengar pada kedua telinga Sean. Pemuda itu berbalik dan mendekat pada sumber suara itu.


Di ujung lorong, Sean dapat melihat seseorang jatuh terduduk di atas lantai. Namun, orang yang ada dalam posisi itu tidak lain adalah Edian ellison.


Tidak tahu apa yang terjadi padanya, keadaan wanita itu sangat kacau. Dia terduduk dan menahan tubuhnya dengan memegang dinding. Keadaan tubuhnya basah, bahkan Sean dapat melihat air menetes dari ujung rambutnya yang panjang ataupun ujung bajunya yang tebal.


Sean mengerjap sesaat dan pikirannya sedang sibuk menduga apa yang telah terjadi padanya.


"Hujan?" desah Sean yang langsung melihat ke arah luar jendela.


Seperti yang diceritakan dari Edian, bahwa dia memiliki sedikit fobia dengan air yang menghujam padanya. Hujan memiliki karakteristik yang sama dengan ketakutannya, tetapi yang tidak habis pikir mengapa wanita itu menerjang hujan bila dia sendiri memiliki trauma seperti itu?


Tidak sempat berpikir lebih jauh, Sean beralih pada keadaan Edian Ellison.


Edian mendongak ke atas menatap Sean dengan matanya yang bergetar. Namun, saat bibirnya akan berucap, suaranya hilang seolah ada sesuatu yang mencekik pita suara miliki Edian. 


Sean dapat melihat tubuhnya yang bergetar hebat dan wajah Edian juga memutih seperti mayat. Untuk bergerak cepat, Sean membawa wanita itu masuk ke dalam rumah Efian dan menelungkupkan selimut tebal di atas tubuhnya. Dengan meminta izin, Sean menggunakan dapur di rumah Edian Ellison untuk membuat minuman hangat.


"Minumlah!" pinta Sean menyerahkan segelas air rebusan kayu manis.


Sean menatapnya dengan tatapan kosong, kemudian beralih pada minuman hangat yang sudah dia terima.

__ADS_1


"Kau memiliki fobia air, bukan? Kau sendiri yang paling tahu resiko dalam menerjang hujan. Mengapa kau lakukan itu?" Omelan Sean hanya membuat wajah cantik Edian tertunduk. Dia tahu apa yang dilakukan adalah hal yang salah, meskipun begitu Edian memiliki alasan kuat untuk itu.


"Aku pulang terlambat," ucapnya samar-samar. Tampak jelas pandangan matanya dipenuhi rasa penyesalan yang dalam, tetapi Sean hanya bisa duduk di tempatnya tanpa bisa meredakan perasaan Edian Ellison. "Aku terlambat pulang bekerja dan sadar sudah memiliki janji untuk bertemu denganmu, Sean. Aku takut kau kembali pulang sehingga saat hujan aku menerjangnya agar cepat sampai rumah."


Mendengar itu membuat Sean sedikit menyesalkan ucapannya barusan. Kekhawatirannya mungkin terdengar kejam untuk Edian, tetapi dia tidak bisa sepenuhnya menyalakan tindakan ceroboh yang dilakukan wanita itu, apalagi saat mendengar nama Sean yang dijadikan alasan. Perasaannya luluh seketika itu.


Keadaan Edian Ellison masih tetap sama, tubuhnya bergetar terlalu kencang, hingga Sean dapat mendengar suara gemeretak giginya.


"Sudah tidak apa-apa, sekarang kau tidak lagi kehujanan. Tenangkan dirimu dan ayo kita bicara," saran Sean yang tidak berlaku di tengah ketakutan Edian.


Dari sini, Sean tidak bisa hanya berpura-pura tidak melihatnya. Tanpa pikir panjang dia mendekat pada wanita itu dan memberikan sebuah pelukan. Itu bukanlah pelukan untuk melampiaskan hasrat pria Sean, tetapi pelukan yang mengungkapkan bahwa Sean akan melindunginya.


Tidak ada penolakan dari wanita itu. Di tengah ketidakberdayaannya dia lebih membutuhkan sebuah pelukan yang menenangkan seperti apa yang telah Sean lakukan.


Sedikit sentuhan dari Sean, membuat Edian sedikit menjadi terbuka. Dia menceritakan kecelakaan yang dialami dirinya bersama kedua orang tua Edian sekitar setahun lalu. Saat hujan deras roda mobil yang ditumpanginya mengalami slip dan kendaraan tidak bisa dikontrol menabrak sisi jalan. Kecelakaan itu tidak hanya terjadi sesederhana itu, mobil yang menabrak pembatas terbanting ke kiri dan melompat masuk di sebuah sungai. Tidak ada yang selamat dari kejadian itu kecuali diri Edian Ellison dan trauma yang dialaminya.


Kecelakaan itu tidak hanya merenggut kedua orang tuanya, tetapi juga sebagian besar ingatannya sebelum kecelakaan terjadi.


Edian mengangguk dengan wajah tersedu. "Setelah itu aku tidak bisa mengingat apapun bahkan tentang lukisan itu."


"Beberapa kali aku mencoba untuk melukis lagi, tetapi tidak berhasil dengan baik. Aku bahkan tidak percaya bahwa 'Mind Hole' adalah lukisanku sendiri. Aku benar-benar kehilangan kemampuan melukisku." sambung Edian yang tengah mengutuk dirinya sendiri.


Dia menarik rambut panjangnya sendiri dengan penuh frustasi, tetapi Sean kembali membuatnya tenang. Kenyamanan itu membuat dirinya tertidur di dalam pelukan Sean.


***


Ini bukanlah situasi dimana Sean bisa tenang!


Dia memandangi telapak tangannya yang menengadah di udara sambil menatapnya dengan dalam. 


"Jadi … seperti ini rasanya dipeluk seorang wanita? Apakah pelukan Ellian juga terasa sama?"

__ADS_1


Dengan cepat Sean menghardik pikirannya yang kotor dan beralih menatap Edian Ellison di atas pangkuannya.


Berbeda dari kasus-kasus sebelumnya dimana Sean tidak tertarik dengan kehidupan pribadi orang lain, tetapi untuk Edian … Sean meletakkan sedikit kepeduliannya untuk wanita itu. Mungkin karena rasa iba, mungkin juga karena Sean tidak ingin melihat ekspresi cantik Edian menjadi sedih. Namun, dia tidak memiliki waktu untuk mengetahui alasan lain, Sean harus mencari jalan keluar untuk masalah ini.


Sean mengambil ponselnya dan memulai sebuah panggilan pada Kenzo Karrin. Saat pria itu menjawab panggilannya, Sean menceritakan kejadian yang dialami Edian Ellison secara garis besar dan Kenzo menyarankan agar wanita itu diserahkan pada Yohan Hillion-si pria gila bersih pemilik Imperial Restoran. Selain menjadi pemilik restoran, dia juga adalah dokter psikiatri dengan nama besar.


Sean segera menutup panggilan teleponnya saat setelah Edian Ellison bangun.


"Ya? Sean?" Wanita itu menggosok matanya dan saat melihat Sean, dia segera bangkit dengan ekspresi merah padam. "Maaf!"


"Jangan dipikirkan, aku pikir kau lelah jadi aku membiarkanmu tidur sejenak." Meskipun telah menjelaskan, Sean tidak bisa menghindari tuduhan-tuduhan buruk yang Edian Ellison pikirkan. "Ah, kau tenang saja, aku tidak melakukan hal buruk padamu."


Wanita di depannya mengangguk mengerti. Rupanya Edian yang polos itu terlalu percaya ucapan Sean, beruntung Sean adalah pemuda baik yang dapat mengontrol nalurinya.


"Aku akan memiliki kenalan yang bisa memberikan terapi dalam pengobatanmu, aku harap dengan itu kau bisa mengingat bagaimana cara melukis lagi. Walaupun kau gagal melakukannya, aku bisa mengajarimu mulai dari awal." Sean kembali berkata dan itu membua Edian menatapnya.


"Kebaikan itu … pasti ada yang kau inginkan, bukan?" Kebenaran dari pertanyaan Edian Ellison membuat Sean tersentak.


Memang akan tampak tidak tahu malu bila Sean mengakui tujuannya, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata. "Aku menginginkan lukisan 'Mind hole'. Tenang saja, aku bisa memberikan bayaran yang sesuai untuk itu."


Setelah Sean melepaskan keinginannya yang ditahan, suasana di tempat itu menjadi hening seketika.


Tidak ada jawaban dari Edian Ellison, tetapi gadis itu tampak sedikit berpikir tentang ucapan Sean.


"Sebagai seorang yang kehilangan ingatan, lukisan itu tidak seberharganya dari ingatanku. Kau bisa memilikinya, Sean."


[Misi berhasil]


[Selamat anda telah mendapatkan 'Mind Hole']


Sean hampir tidak percaya bahwa dia mendapatkan lukisan itu tanpa hambatan yang berarti. Itu membuat Sean senang dan tanpa disadari bibirnya tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2