
Malam di Canaria,
Sean tidak pernah berharap lagi untuk menjejakkan kakinya kembali di Canaria, tetapi dia dan Luis harus merevisi sumpahnya. Mereka kembali memesan seorang wanita di tempat itu dengan kata kunci yang berbeda, Mawar. Pekerja di sana mengkonfirmasi dan menyuruh kedua pemuda itu untuk menunggu.
“Apa yang kau lakukan saat Mawar adalah Carta Edena?” tanya Sean sedikit melirik Luis di sampingnya.
“Apa yang aku lakukan?” Pandangan Luis mengawang di atas langit-langit, seolah dia benar-benar tidak memiliki kesiapan untuk menjawab pertanyaan Sean. “Aku hanya ingin tahu tentang hubungannya dengan Rain. Tanpa bisa kita terka, bisa saja dia akan menjadi kunci dari kematian Rain?”
Sean berdesah ringan menanggapinya. “Bilamana itu terjadi, yang akan berubah hanya jawaban saja. Tidak akan ada yang berubah. Rain tetap akan mati dan Mawar … semua jawaban itu tidak akan mengubah hidupnya.”
Luis tidak bisa mengelak lagi, dia terdiam akan kebenaran dari ucapan Sean yang masuk akal.
Di tengah itu, seorang pemandu datang dan mengantarnya pada sebuah kamar. Saat pintu terbuka, gadis yang disebut Mawar ada tidak jauh dari pintu dan berencana menyambutnya. Hanya saja, dia segera membatalkan niatnya saat Sean dan Luis adalah orang yang dilihatnya.
“Kalian berdua datang lagi? Aku pikir siapa yang membayarku satu malam dengan bayaran yang cukup tinggi, pasti kalian anak konglomerat yang tahu benar cara menghabiskan uang,” sambut Mawar tidak ramah.
Sean dan Luis masuk tanpa memperdulikan cemoohan dari Mawar. Tidak bisa dipungkiri, setengah alasan dari wanita itu memanglah benar bahwa Luis adalah anak konglomerat yang dapat membayarnya tanpa melihat nominal uang, tetapi mereka punya tujuan lain dibandingkan hanya menghamburkan uang semata.
“Kau ingin aku menjadi model lukisan kalian?” Pandangan Mawar sedang mencari tas hitam berisikan alat-alat melukis yang biasa Sean bawa. Namun, saat tidak menemukan, wanita itu tersenyum kecut akan dugaannya. “Atau jangan-jangan … kalian ingin mencoba tidur denganku?”
Tidak satu pun di antara dua pemuda itu yang berniat menjawab.
Mawar kembali tersenyum kecut dalam menanggapi kediaman mereka. Tanpa instruksi, dia berniat membuka jubah handuk yang dia kenakan. “Tidak perlu malu, lakukan apa yang kalian inginkan dariku.”
Saat jubah handuk Mawar jatuh ke atas lantai, Sean dan Luis kembali dapat melihat tubuh Mawar yang tanpa mengenakan pakaian apapun. Namun, naluri pria mereka seakan sedang membeku. Mereka hanya melihat pemandangan itu tanpa arti.
Luis mengambil handuk itu dan kembali menelungkupkannya di atas tubuh Mawar. Dia mendorong kedua bahu Mawar sehingga wanita itu terduduk di ranjang. “Jangan memprovokasi kami. Lebih baik kau duduk di tempat ini dengan tenang.”
Tidak ada pilihan bagi Mawar selain menuruti instruksi Luis. Wanita itu tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya, begitu juga Luis yang beralih pada sofa dan duduk menatapnya dengan tenang.
__ADS_1
“Bukannya kau dibayar untuk memenuhi permintaan kami?” Sean mengambil alih pembicaraan sebelumnya.
Enggan mau menunjukkan ekspresi tidak mengerti, Mawar menyilangkan kakinya dan mendongak angkuh. “Benar, apapun itu.”
“Apakah bayaran itu termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari seorang tamu?” Sean bertanya sekali lagi.
“Tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaan tamu dengan bayaran tinggi.” Mawar sudah masuk dalam perangkat Sean. Kini saatnya pemuda itu beraksi dengan misinya.
Sean memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti usianya, kehidupannya dan berapa lama dia bekerja di tempat ini. Namun, Mawar tidak menjawab saat Sean bertanya nama aslinya.
“Kau tahu, wanita di tempat ini dinamai dengan nama-nama bunga dan aku disebut Mawar. Tidak ada pekerja yang boleh membocorkan nama mereka pada seorang tamu,“ tegas Mawar tanpa toleransi.
Sean hanya menatap tanpa berkata dan saat ini adalah giliran Luis yang beraksi.
Dengan berani Luis duduk bersebelahan dengan Mawar. Sontak, tatapan wanita itu beralih padanya. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”
Kedua mata wanita itu mendelik dan tanpa disadari dia sudah terperanjat dari tempat duduknya. “Nama itu … mengapa kau mengetahuinya?”
Suasana tenang di kamar itu tampak menjadi sedikit kacau. Ekspresi Mawar mulai gelisah secara terang-terangan, bahkan Sean dan Luis dapat melihat wajah cantiknya terguyur keringat dingin.
“Kalian mengenalku? Apa mau kalian?” Bergantian Mawar menatap Sean dan Luis, tetapi wanita itu menjadi sedikit tenang saat Luis menunjukkan portrait dirinya dengan pemuda yang bernama Rain. “Ra … R-Rain?”
“Duduklah kembali dengan tenang. Kau tidak perlu cemas karena kami ada pada pihak Rain,” jelas Luis.
Seketika itu Mawar terduduk dengan mata berkaca. Dia memegangi foto Rain dengan begitu kuat dan tidak lama terdengar suara dari tangisannya.
“Apa hubunganmu dengan Rain?”
Mawar menatap Luis dan kembali tersenyum pahit. “Dengan melihat foto ini, tidakkah kau tahu hubungan kami? Kami diam-diam menjalin hubungan dan semua itu menyenangkan sebelum seseorang merusaknya.
__ADS_1
"Ellenden?" terka Luis yang tidak menyangka saat Mawar terpaksa mengangguk.
Mata Sean terbelalak mendengar kembali nama Ellinden disebut dalam penderitaan seseorang. Ellinden tidak hanya menghancurkan diri Sean saja, tetapi di luar itu banyak sekali orang yang menjadi korban dan Mawar adalah salah satunya.
Kejadian itu dimulai saat Frans Ellinden mulai tertarik dengan Mawar atau Carla Edena. Namun, wanita itu terus memberikan penolakan sehingga rasa tertarik Frans menjadi sebuah obsesi yang mengerikan.
Frans membayar orang untuk melakukan perbuatan asusila, merekam gambar dan menyebarkan video itu di internet. Kejadian itu adalah kunci awal dari kematian Rain yang tidak lain adalah kekasih Carla Edena.
Di lingkungannya, Carla mendapatkan cemooh dari orang-orang yang sudah melihat video haramnya dan perbuatan itu juga berlaku pada orang tua Carla.
Ayahnya meninggal terkena serangan jantung dan ibunya kritis karena pendarahan otak. Carla membutuhkan uang untuk pengobatan, tetapi jumlah yang tidak sedikit membuatnya tidak tahu harus mencari dimana.
Rain yang mendengar itu mencoba meminta bantuan pada sepupunya, frans Ellinden. Kesepakatan terjadi, Frans menyetujui permintaannya, tetapi siapa yang menyangka bahwa itu adalah jebakan.
Saat uang sudah ada ditangan Rain, Frans berbalik menuduh Rain telah mencuri uang darinya. Frans tampak mewarisi bibit Ellinden.
"Apakah karena jebakan Frans, Rain memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?" Luis mencoba menarik kesimpulan dari cerita Mawar, tetapi wanita itu menggeleng.
"Apakah kau tau sesuatu …," desak Luis lagi.
Mawar memandangi Luis dengan tatapan kosong. "Di atap, Rain tidak berniat melompat. Dia menemuiku secara diam-diam, tetapi Frans mengikutinya dan langsung mengetahui hubungan kami. Di situ … mereka berkelahi kecil, Frans tidak sengaja mendorongnya dan … Rain jatuh dari tempat itu."
Baik Luis ataupun Sean hanya bisa diam terpaku. Mereka saling menatap satu sama lain dan beralih pada Mawar.
"Kenapa kau tidak mengungkapkan fakta ini?" Ucapan Sean membuat wajah Mawar tertunduk sendu.
"Frans berjanji memberikan sejumlah uang pinjaman untuk pengobatan ibuku, tetapi …" Mawar tersekat oleh ucapannya sendiri, seolah ada duri yang menyangkut di dalam tenggorokannya. "Frans begitu licik, dia memberikan pinjaman dan menjadikan aku sebagai jaminannya. Karena itulah aku berada di tempat ini. Hidupku sudah hancur dan Ellinden adalah penyebabnya."
Mendengar perbuatan kejam Ellinden membuat kepala Luis dan Sean hampir meledak, tetapi kenyataan tidak berdaya membuat semuanya padam. Kekuatan mereka tidaklah cukup untuk melawan Ellinden.
__ADS_1