
“Aktifkan Brain Memory,” ucap Sean begitu lirih hingga tidak seorang pun dari Bu Irma ataupun Kenzo Karrin mendengarkannya.
[Brain Memory]
[Kemampuan untuk mengingat bentuk grafis dengan sangat detail]
[Kemampuan hanya dapat digunakan 10x selama terikat dengan sistem]
Jendela sistem muncul dan kembali mengkonfirmasi Sean.
[Apakah anda ingin mengaktifkan Brain Memory?]
Sean memandang tulisan-tulisan pada layar transparan itu dan tampak sedikit mempertimbangkan keputusannya. “Ya.”
Meskipun dia tidak mau kehilangan hitungan dari 10x untuk penggunaan Brain Memory, dia tidak punya pilihan selain mengingat semua tempat-tempat yang akan dikunjunginya. Sean harus bisa melukis kembali salah satu dari tempat yang biasa Elmi Carens kunjungi.
[Brain Memory diaktifkan]
[Penggunaan Brain memory hanya tersisa 9x]
Dengan diaktifkan kemampuan itu, Sean dapat mengingat tempat-tempat yang ditunjukkan oleh Bu Irma. Namun, ada sebuah tempat yang membuat Sean tertarik.
Saat Bu Irma mengajak mereka di bagian utara kebun teh, terlihat sungai kecil yang mengalir indah. Di tepi sungai itu ada sebuah bangku dari kayu yang dimana bila Sean duduk, dia dapat melihat pemandangan indah di tempat itu.
“Waktu saya kecil, saya senang bermain air di sungai. Selain dangkal, sungai berwarna bening dan berkilau saat cahaya matahari jatuh di atas permukaannya. Beberapa kali saya melihat beliau melukis dan ditemani oleh suaminya di tepi sungai.” Penjelasan Bu Irma membuat Sean tampak berpikir keras. Dia menyipitkan matanya dan kembali melihat sekeliling.
Hanya ada hamparan daun teh dengan latar pegunungan yang menyatu dengan warna biru dari langit. Di dalam sungai terdapat batu-batu kecil yang dapat memecahkan arus dan membuat suara gemericik yang menenangkan.
Pemandangan ini terlihat tidak asing bagi Sean. Ingatannya kembali pada Sebuah lukisan pemandangan dari Elmi Carens yang digantung di dinding memiliki kesamaan dengan latar foto di dalam album yang tadi diperlihatkan Bu Irma.
“Sekarang aku mengerti,” ucap Sean tiba-tiba. Sontak pandangan Kenzo Karrin tertuju padanya.
“Hari ini kau benar-benar bertingkah aneh. Apa yang sebenarnya ada dipikiranmu?” Kenzo melontarkan protesnya pada Sean, tetapi lagi-lagi Sean menggeleng dan menyembunyikan apa yang ada dipikiran pemuda itu.
“Mari kita bertaruh.” Ucapan tiba-tiba Sean membuat Kenzo Karrin terjingkat dan langsung menatapnya. Pria itu tampak akan menolak taruhan dari Sean, tetapi Sean menunjukkan sisi keras kepalanya sehingga Kenzo hanya bisa mendengarkan apa yang Sean inginkan. “Bila aku tidak bisa membuat lukisan yang Elmi Carens mau, aku akan memberikan salah satu koleksi lukisanku padamu. Kau ingat kan lukisanku bernilai miliaran rupiah, harga yang cukup tinggi untuk menggerakkan air liur seorang kurator sepertimu. Tetapi bila aku memenangkan taruhan ini … lukisan apa yang bisa kau berikan padaku. Apakah kau sudah siap kehilangan ‘Blood of a Patriot’?” sindir Sean terkekeh. Dia tahu bahwa Kenzo Karrin tidak akan mau memberikan lukisannya karena hanya itulah lukisan karyanya yang dia miliki.
“Kau menginginkannya?” Kenzo mengawasi ekspresi Sean yang sulit ditebak, tetapi dia dapat mengetahui bahwa keinginan Sean mendapatkan lukisan itu lebih besar dari pada pertaruhannya. “Tidak akan! Aku tidak akan pernah memberikan lukisan itu pada siapapun, termasuk padamu.”
__ADS_1
Sean tampak kecewa atas penolakan dari Kenzo Karrin. Namun, Kenzo kembali memulai negosiasinya. “Sebagai gantinya, aku akan memberikan lukisan lain karyaku.”
“Lukisan lain? Kau memilikinya?” Sean meragukan ucapan Kenzo Karrin.
Pemuda itu sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang identitas dari pria itu. Kenzo mulai belajar melukis sejak kecil dari ibunya, tetapi semua lukisannya terjual tanpa sisa. Sudah tidak ada jejak dari lukisan Kenzo lagi kecuali ‘Blood of a Patriot’ yang menjadi satu-satunya karya yang ada.
Kenzo Karrin mendekatkan bibirnya di sekitar daun telinga Sean. Dia mulai berbisik lirih dengan sudut bibir yang terangkat. “Aku akan mengganti benda yang akan aku pertaruhkan. Sebuah lukisan lain karyaku. Bahkan lukisan ini memiliki nilai yang lebih tinggi ketimbang 'Blood of a Patriot' yang kau inginkan." Rupanya, provokasi dari Kenzo Karrin sukses membuat Sean penasaran. Sean menatap Kenzo Karrin penuh arti, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Kenzo kembali melanjutkan ucapannya pada Sean. "Aku memiliki satu lukisan lain yang tidak pernah aku perlihatkan pada orang lain, tetapi aku akan memberikanmu bila kau menang dari tantangan ini.”
Dengan mata cerah, Sean mengangguk dan dia benar-benar terbuai atas tawaran Kenzo.
Kedua orang itu mencapai kata sepakat untuk sebuah taruhan yang sulit diprediksi kemenangannya. Mereka segera kembali ke villa dan Sean tidak ingin membuang waktu lagi. Pemuda itu bergegas untuk menyelesaikan lukisannya.
***
Di salah satu ruang kosong milik Elmi Carens, Sean menatap lurus pada kanvas putih di depannya. Tidak lama, pisau palet di tangannya bergerak dan warna-warna cat ditempelkan di atas permukaan kanvas.
Setelah selesai melakukan finishing, Sean mengeringkan lukisan menggunakan hair dryer. Namun, dia harus berhati-hati agar tidak mengubah tekstur dari lukisannya. Mustahil lukisan dengan teknik kering dapat selesai dalam sehari. Namun, waktu Sean terbatas sehingga dia terpaksa melakukan itu.
“Berhasil,” seru Sean yang setelah 5 jam duduk di depan kanvas.
Sean melukis dengan gaya lukisan yang sama dengan Elmi Carens. Dia sengaja memilih teknik kering untuk mendapatkan kontur. Alasannya karena Elmi Carens tidak memiliki penglihatan yang normal sehingga dia dapat merabah lukisan itu untuk dapat mengetahuinya.
***
Di ruangan Elmi Carens, Sean menunjukkan lukisan yang telah dibuatnya. Tidak hanya itu, Kenzo Karrin, Ellian dan Alice yang penasaran dengan karya Sean juga datang untuk melihat.
“Saya menamainya … ‘Mata Ketiga’. Apa anda menyukainya?” Pernyataan Sean tentang nama lukisan itu membuat semua yang ada di dalam ruangan menjadi gaduh. Baik Kenzo Karrin, Ellian dan Alice. Pasalnya, nama lukisan itu bertimpang dengan konsep kenangan dari Elmi Carens.
Berbeda halnya dari ketiga orang itu, Elmi Carens membuat ekspresi kaku dimana tatapan hampanya menyorot pada sumber suara milik Sean
“Ma-mata ketiga? Me-mengapa kau memilih nama itu?" Mata kelabunya berlinang air mata dan tidak lama tetesan air itu menghujani pipi Elmi Carens.
Melihat ekspresi dari wanita tua itu membuat Sean semakin yakin bahwa Elmi Carens memiliki keterikatan dengan nama lukisan yang telah dibuatnya.
Sean mengangkat pandangannya. "Alasannya tidak lain karena 'Mata Ketiga' adalah kenangan milik anda yang sangat berarti."
__ADS_1
Di tempat itu, Ellian dan Alice saling bertatap pandang. Mereka berdua tidak mengerti dengan perkataan Sean. Namun, Kenzo Karrin mulai terpengaruh dengan ucapan Sean. Dia beralih pada pemuda itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, seolah dia juga menyadari akan suatu hal yang sudah terlewat.
“Saya dapat menebak bahwa anda memiliki gangguan penglihatan bukan setelah kematian dari suami anda, tetapi sudah hampir 30 tahunan anda mengalami hal itu." Ucapan Sean benar-benar menghebohkan. Suasana tenang menjadi kacau, tetapi tidak pada Elmi Carens. Wanita tua itu tampak lebih emosional.
"Itu tidak mungkin! Sebelum itu nenekku masih dapat melukis. Bagaimana bisa orang yang mengalami gangguan penglihatan dapat melakukannya?" sahut Alice sangat masuk akal.
Sean berusaha tenang agar tidak masuk dalam lautan emosi di tempat itu. "Tidak begitu Alice, sebenarnya kakekmu lah yang membantu nenekmu melakukan itu."
"Apa maksudmu?" Alice kembali bertanya.
"Kakekmu mendeskripsikan pemandangan yang dia lihat dan dari setiap perkataannya dan nenekmu dapat melukiskan objek tanpa harus melihatnya. Benar begitu Nyonya Elmi Carens?" Tatapan Sean beralih pada Elmi Carens.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Elmi bertambah penasaran.
"Anda selalu menggunakan teknik basah, tetapi tiba-tiba beralih menggunakan teknik campuran. Saya bisa menebak bahwa saat itulah anda mengalami gangguan penglihatan untuk pertama kali. Pada akhirnya lukisan anda beralih pada teknik kering. Anda melakukannya agar anda bisa kembali melihat lukisan anda walau dengan merabanya." Penjelasan Sean membuat semua yang ada di tempat itu menjadi mengerti. Mereka tidak menyangka hal itu terjadi pada Elmi Carens di masa karirnya sebagai seorang pelukis. Namun, mereka lebih tidak menduga lagi bahwa Sean dapat berpikir demikian.
"Nenek, apakah itu benar?" Alice kembali memastikan pada orang yang bersangkutan.
Elmi Carens mengkonfirmasi kebenaran sari ucapan Sean dan memeluknya dengan perasaan yang bercampur.
"Terimakasih! Terimakasih! Terimakasih!" Tidak henti-hentinya wanita tua itu berterimakasih pada Sean.
***
"Aku memenangkan taruhannya," bisik Sean yang membuat Kenzo Karrin sedikit terganggu. Dia hanya menoleh pada Sean dengan Enggan.
"Aku tidak menyangka kau berhasil melakukannya. Sebagai seorang pelukis, apa yang telah kau lakukan itu dapat membuktikan bahwa kau layak menjadi muridku," sanjung Kenzo Karrin yang sedikit kaku.
Secara tidak langsung, pria berkacamata itu ingin mencurahkan seluruh kekaguman padanya, tetapi dia ingin menyimpan semua pujian itu agar kepala Sean tidak mengembang besar.
"Jadi … lukisan apa yang akan kau berikan?" desak Sean penasaran.
"Itu rahasia. Kau akan segera melihatnya setelah kita kembali dari sini." Kata-kata Kenzo Karrin tidak membuat Sean puas, tetapi dia kembali terpikir apa yang telah mengganggu kepalanya.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Sean bertanya, tetapi orang yang ditanyakannya hanya mengangguk tidak tertarik. "Bila aku kalah dalam tantangan ini, lukisan apa yang akan kau minta dariku?"
Kata-kata Sean membuat Kenzo Karrin meringis tanpa sebab. "Aku memilih 'Cursed Chain'. Akan aku bakar lukisan terkutuk itu bila saja aku yang memenangkan tantangan."
__ADS_1
Ucapan Kenzo barusan tidak pernah Sean sangka. Dia tidak memilih lukisan bernilai tinggi, tetapi ingin melenyapkan 'Cursed Chain' dengan taruhan itu. Entah, seberapa kolotnya Kenzo Karrin di mata Sean.