
Untuk pertama kalinya, Sean merasa akan mati di akhir pekan ini. Bagaimana seorang mahasiswa seni yang belum juga lulus dan tidak memiliki prestasi apapun dapat menjadi pekerja magang di galeri besar seperti Ellinden Gallery. Tentu semua pekerja di sana akan melihat rendah pemuda itu.
"Saya Sean Herdian, saya diberi kesempatan untuk bekerja magang di galeri ini. Mohon kerja sama."
Itu adalah perkenalan singkat dari Sean yang tidak diterima baik. Enam pekerja di ruang itu tidak sedikit pun menoleh padanya dan hanya seorang kurator muda yang memberikan senyum ramah.
"Nah, Sean, panggil aku Hendri. Aku adalah kepala kurator di tempat ini, jadi apakah kau bisa menolongku untuk menyiapkan kopi teman-teman kantor barumu?" Kata-kata halus pria tinggi dengan kacamata bundar itu memegang bahu Sean dan pergi.
Ini adalah kehidupan sosial kantor yang buruk. Menyuruh membuatkan kopi untuk pekerja magang adalah hal klasik yang dapat ditemukan di mana pun. Sean yang tidak ingin mencari masalah di hari pertamanya kerja hanya bisa terpaksa melakukan keinginan Hendri.
Pemuda itu pergi ke pantry dan membuatkan kopi panas, tetapi saat dia kembali di ruang kantor, semua orang yang ada di tempat itu tidak ada di tempat. Entah kemana mereka semua pergi, tidak ada satu pun dari mereka yang memberi tahu Sean.
Saat Sean kembali ke tempat duduknya, tidak sengaja dia menemukan kertas yang di tempel di papan agenda. Kertas itu berisikan jadwal kerja bulanan dan hari ini jadwal menunjukkan rapat yang membahas perencanaan pameran.
"Gawat! Ini benar-benar gawat!" Seru Sean menggosok kepalanya dengan penuh frustasi.
Rupanya mereka semua menjebak Sean agar pemuda itu tidak dapat menghadiri rapat. Sudah pasti ini adalah masalah besar. Perencanaan pameran adalah sesuatu yang penting bagi sebuah galeri seni dan tidak satupun kurator dapat melewatkan hal ini.
Sean tidak memiliki waktu untuk meratapi kebodohannya. Dia segera memasuki ruang rapat dan ….
'Kriek!'
Saat daun pintu terbuka, semua orang yang ada di ruangan itu beralih menatap kedatangan Sean, tidak terkecuali Rift Ellinden yang memimpin rapat.
"Sean, bagaimana bisa pekerja magang sepertimu terlambat datang pada rapat sepenting ini?" Pria pirang itu mencemooh Sean, sementara yang lain saling menatap satu sama lain dan mencoba menahan senyum. Mereka puas akan rencana untuk menyingkirkan Sean dari rapat
Tidak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian, Sean meminta maaf dan segera duduk pada tempatnya.
Rapat kembali berjalan, mereka sedang membahas tentang rencana pergelaran pameran ke depan.
Sebagai sebuah galeri besar seperti Ellinden Gallery, tema yang diambil untuk pameran tidaklah main-main. 'Unsense'.
Saat Hendri menjelaskan proposal perencanaannya, semua orang bertepuk tangan akan isi dari proposalnya. Pria berkacamata bundar itu juga memperlihatkan susunan dari seniman yang akan berpartisipasi dalam acara besar itu. Namun, ada satu nama pelukis yang tidak memberikan jawaban dari tawaran dari Ellinden Gallery.
__ADS_1
'Najwa Wong'.
Dia adalah pelukis terkenal di negara ini, tetapi tidak lama namanya menghilang begitu saja.
Ellinden Gallery benar-benar menginginkan lukisan Najwa Wong ada dalam pamerannya karena tema 'Unsense' memang dibuat dari gaya lukisan Najwa Wong sendiri.
Rift Ellinden yang obsesif memutuskan agar semua bawahannya mendapatkan lukisan itu. Bila ada yang berhasil, Ellinden akan memberikan apapun, entah harta, jabatan atau status sosial.
Para peserta rapat langsung ricuh mendengar hal itu, tetapi Ellinden hanya bergeming dan pergi meninggalkan rapat.
Hendri segera mendatangi Sean seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Dia memberikan sebuah nomor.
"Ini adalah nomor Najwa Wong. Terus hubungi dia dan agendakan pertemuan bila berhasil. Dapatkan dia, Sean!" Ucap Hendri kembali menepuk punggung Sean.
"Aku izin absen untuk besok. Akan lebih baik bila aku mencoba mendatangi tempatnya." Sean mencoba cara lain untuk bisa menghubungi Najwa Wong.
Hendri tampak sedikit berpikir, lalu tersenyum. "Betul sekali, kau memang bisa diandalkan." Hendri kembali memberikan sebuah nomor lain pada Sean. "Ini nomorku, hubungi bila kau sudah mendapatkan sesuatu."
***
Setelah pekerjaannya usai, Sean tidak langsung kembali ke asrama. Dia lebih memilih untuk datang ke studionya. Bagi Sean, SH studio adalah tempat ternyaman untuknya. Dia tidak perlu berpura-pura cacat atau ketakutan mendapatkan ancaman dari Frans dan kawan-kawannya.
Sean mengeluarkan nomor Najwa Wong yang telah diberikan oleh Hendri dan segera menghubungi nomor itu dengan menggunakan ponselnya. Namun, tidak ada jawaban, bahkan nomor kantornya juga tidak ada tanggapan.
Sean menyerah untuk melakukannya lagi, dia meletakkan kepalanya di atas meja dengan malas.
'Broom!'
Suara mesin mobil terdengar mendekat dan berhenti di depan studio. Di luar, sudah ada sedan milik Kenzo Karrin terparkir. Kenzo pun keluar dan menyapa Sean.
"Aku baru menyelesaikan pekerjaan di galeri, saat aku pulang dan melihat lampu di studiomu menyala, aku pikir kau ada di dalam dan ternyata benar." Setelah mengucapkan maksud kedatangannya, dia mengunci sedan sehingga terdengar suara 'Bip! Bip!'.
Sean melebarkan pintunya. "Masuklah, aku juga baru saja tiba. Apakah kau kesini untuk mendampingiku menyelesaikan lukisan 'Harmony Spaces'?"
__ADS_1
"Tidak masalah bila kau sudah siap." Kenzo Karrin menanggapinya.
Mereka semua beralih di depan Kanvas. Sean sudah hampir menyelesaikan cat dasar dan Kenzo Karrin sedang berdiri di belakang Sean dengan melipat tangan. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari lukisan Sean. Bila Sean melakukan suatu kesalahan, Kenzo Karrin akan menegurnya. Perpaduan yang cocok untuk Sean yang berbakat dan Kenzo yang cermat.
"Apa kau mengetahui tentang Najwa Wong?" tanya Sean tiba-tiba.
Mendengar itu membuat Kenzo Karrin menurunkan alisnya. "Dia adalzh pelukis ternama. Apakah kau fans beratnya? Sayang sekali saat ini semua orang sedang mencari dan gagal menemukannya."
"Apakah kau tahu informasi lain tentang Najwa Wong? Maksudku selain nomor ataupun alamatnya. Aku memiliki pekerjaan yang berhubungan dengannya. Aku membutuhkan satu lukisan darinya." Sean menjelaskan pada Kenzo hanya secara garis besarnya saja.
"Aku mempunyai sebuah informasi rahasia, tetapi … entahlah apa aku bisa memberikannya padamu atau tidak?" Kenzo tampak berpikir lagi.
Hal itu membuat mata Sean melebar dan sontak dia berbalik menghadap Kenzo Karrin. "Katakan padaku, sebagai gantinya aku bisa melakukan apa yang kau minta."
Kenzo tersenyum dan menyamakan tingginya dengan Sean. "Suaminya sedang kritis. Dia tidak bisa melukis karena tak mau jauh dari suaminya."
"Apa kau tahu di mana suami Najwa Wong dirawat?" Sean bertanya dengan ekspresi serius.
"RS National, dia dirawat di ruang ICCU," jawab pria itu.
Sean tidak bereaksi, tatapannya tidak bisa lepas dari Kenzo sehingga pria itu tersenyum dan memberikan tanggapan diluar dugaan Sean. "Tenang saja itu bukan informasi abal-abal. Aku mendapatkannya dari salah seorang relasiku yang berteman baik dengan keluarga suami Najwa Wong."
"Bisakah kau mencari tahu lagi tentang suami dari Najwa Wong?" Pinta Sean kembali.
Kenzo Karrin tidak menjawab dan terus memandangi Sean. Sadar akan hal itu, Sean menambahkan ucapannya. "Kau bisa memintaku bayaran untuk itu."
Pria berkacamata itu tampaknya tidak tertarik dengan bayaran dia terkekeh atas tawaran Sean. "Tidak, tidak. Satu permintaan saja sudah cukup sebagai bayarannya."
"Apa yang kau inginkan?" Sean kembali bertanya dengan penuh terka.
"Dapatkan lukisan Najwa Wong. Sebenarnya aku hanya ingin melihat caramu untuk mendapatkan lukisan itu." Kenzo Karrin kembali melanjutkan tawanya.
Semua informasi sudah Sean dapatkan, tinggal menunggu hari dimana dia harus datang di rumah sakit dan bertemu sendiri dengan Najwa Wong.
__ADS_1