MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Kisah traumatis 'Hidden Paradise'


__ADS_3

Hari yang dijanjikan terjadi. Sean menjemput Steven Smith dan dengan izin dari ibu kepala panti mereka pergi ke ke pusat kota. Di sana mereka mengeluarkan buku gambar dan melukis bersama dengan santai


Steven Smith bukanlah orang yang bersahabat, dia lebih banyak diam dan mengatakan kata-kata yang perlu diucapkan tanpa membubuhkan sedikit basa-basi. Namun, Sean dapat melihat minatnya dalam melukis begitu tinggi, apalagi lukisannya cukup bagus untuk sekedar anak SMA biasa.


Hanya saja … Sean tidak habis berpikir mengapa sistem memilih lukisannya untuk menjadi koleksi di Vase Art Gallery.


Meskipun lukisan Steven Smith cukup menarik, dia tidak menemukan sesuatu yang spesial di dalam lukisannya. Sean tersenyum getir, rupanya dia sadar bahwa standar yang diberikan terlalu tinggi. Itu karena Sean selalu berhadapan dengan karya-karya dari pelukis ternama membuatnya tidak puas hanya dengan melihat karya pelukis pemula.


Pemuda itu tidak bisa hanya menilai dari karya Steven semata karena dia belum melihat lukisan karyanya yang bernama ‘Hidden Paradise’. Untuk mendekati remaja ini saja begitu sulit, apalagi harus menanyai hal-hal seperti lukisan ‘Hidden Paradise’ yang dia miliki? Benar-benar misi yang tidak semuda biasanya.


Sean mengamati kembali hasil lukisan Steve Smith di buku gambarnya. Namun, di tengah itu Steven menyadari, dia beralih membalas tatapan Sean dengan ekspresi terganggu.


“Kalau ada yang ingin kau inginkan katakan saja, jangan terus-menerus menatapku sebegitunya.” Remaja itu berbicara dengan ketus, tetapi kata-kata itu tidak berhasil mengubah ekspresi Sean.


“Teknik melukis yang kau miliki bukanlah teknik yang diasah dalam waktu singkat. Sebenarnya seberapa lama kau belajar melukis?” Pandangan Sean melekat erat pada ujung jari dari Steven Smith.


Meskipun Steven Smith mendengarkan pertanyaan Sean, dia beralih kembali pada buku gambarnya dan mengabaikan Sean tanpa sedikitpun penjelasan.


“Kau tidak ingin menjawab?” Sean tetap memperhatikan Steven Smith, tidak lama dia mengangkat tangan dan menyerah. “Baiklah, tidak masalah kau tidak menjawabnya. Aku bosan disini, untuk saat ini kita akan mencari spot lain untuk dijadikan objek.”


“Ah, pantai tidak jauh dari sini. Matahari terbenam di sana begitu indah, ayo pergi,” sambung Sean dengan penuh semangat.


Sean mengemasi peralatannya sehingga Steven yang tiba-tiba terpaku hanya bisa mengikuti Sean tanpa bisa menjelaskan isi pikirannya.


Dengan menggunakan taxi mereka tiba pada sebuah pantai yang sudah Sean bicarakan sebelumnya. Sudah pukul 4 sore, sebentar lagi adalah saat yang indah untuk mendapatkan spot terbaik di tempat ini.


Sean berjalan mendekati bibir pantai dan duduk dengan menggunakan alas. Steven yang dari tadi tidak berbicara hanya diam dan ikut duduk dengan ragu, tetapi Sean mengabaikan bocah pendiam itu. Dia tidak mau kehilangan spot penting saat matahari terbenam sehingga dia segera menggerakan kuasnya dan Steven mengikuti langkahnya.


Tepat saat matahari sudah menyentuh cakrawala, Langit biru menjadi semu. Awan kuning berkumpul di atas langit dan membias indah di atas permukaan laut yang bergelombang. Semua warna beranjak memerah dan saat itu juga tangan Steven bergetar tiba-tiba.


Melihat ada sesuatu yang tidak beres, perhatian Sean beralih pada remaja yang duduk di sampingnya. “Ada apa?”


Tidak ada jawaban, kecuali mata Steven yang terbelalak ke depan. Tubuhnya tetap bergetar, bahkan getarannya menjalar pada ujung kuas Steven. Hal itu membuat lukisannya terkena coretan dari kuasnya sendiri.

__ADS_1


“Tidak! Tidak!” Suara Steven keluar dari mulutnya yang juga ikut bergetar, sementara pandangannya tetap terkunci pada langit merah dengan setengah lingkaran matahari yang sudah  tertanam di cakrawala.


Wajah remaja itu tampak sangat pucat dan dia terlihat sedang tidak baik-baik saja. Steven mencengkram lehernya sendiri dan membuat oksigen terhenti di dalam kerongkongannya. Bersamaan dengan itu, Steven menunjukkan tanda-tanda tidak normal. Kedua kakinya bergerak tidak beraturan dan kedua tangannya memukul-mukul udara tidak terarah. Tampak juga terdengar suara erangan Steven.


‘Srak!’


Tanpa sengaja cat di atas palet milik Steven tumpah di atas buku gambarnya sehingga Sean dapat melihat spot senja di pantai dalam objek lukisan itu menjadi benar-benar merah oleh cat. Tidak tahu bagaimana harus berbuat, Sean mencoba membaca situasi yang terjadi.


Saat ini, Steven tampak seperti Sean di masa lalu. Dia ketakutan akan sesuatu, seperti teringat kembali akan kejadian traumatis yang membuatnya menjadi seperti orang setengah gila.


“Apa yang membuatmu seperti ini?” Mata Sean melesat ke segala arah, mencoba mencari tahu penyebab dari ketakutan Steven, tetapi nihil. Dia tidak bisa menemukannya. 


Tanpa pikir panjang Sean melepaskan jaketnya dan menelungkupkan di atas kepala Steven.


“Tenang, tenanglah. Kau sudah tidak melihatnya.” Sean berkata dan perkataan itu dapat didengarkan Steven dengan sangat jelas. Namun, suara napasnya masih tersengal hebat. 


Dengan kepala yang tertutup jaket, Steven tidak bisa melihat apapun, tetapi dia dapat mendengar Sean memandunya.


Steven Smith mengatur napasnya sehingga sedikit demi sedikit oksigen dapat memasuki ruang di paru. Sedikit tampak tenang, Sean menarik jaketnya kembali dan terlihat Steven masih dalam keadaan terguncang.


"Lebih baik kita segera kembali." Saran dari Sean adalah satu-satunya ucapan yang bisa diikuti Steven Smith. Mereka membereskan perlengkapannya dan bergegas pergi.


...ΩΩΩΩ...


Taxi yang ditumpangi Sean dan Steven memiliki tujuan kembali ke panti asuhan. Namun, setibanya di tempat itu, Steven menahan Sean dengan menarik ujung lengan bajunya.


"Ada apa?" Sean bertanya, tetapi Steven Smith hanya menunduk pucat. "Kau tidak ingin kembali? Atau ada tempat lain yang ingin kau kunjungi?"


Ucapan itu sedikit membuat Steven tertarik. Dia mulai mengangkat pandangannya dan mengangguk mau.


Meskipun tidak berbicara, dengan bahasa tubuh Steven Smith mengajak Sean pergi ke suatu tempat. Bagi Sean tempat itu tidak asing karena sudah sekali dia melewati jalan setapak yang akan membawanya ke sebuah danau.


Benar saja, sesuai terkaan dari Sean mereka tiba di tepi danau belakang panti asuhan. Steven tidak berhenti di tempat itu, tetapi dia berjalan lurus sampai tiba di sebuah gubuk tua yang tidak berpenghuni.

__ADS_1


"Tempat apa ini?" tanya Sean yang tidak bisa menghentikan rasa penasarannya.


Steven Smith menoleh dan mulai berbicara. "Tidak ada nama untuk tempat ini, aku menggunakannya untuk menyembunyikan sesuatu.


"Apa itu?" Pertanyaan Sean dijawab dengan kebisuan. Namun, saat Steven Smith membuka pintu gubuk, Sean dapat melihat sebuah mahakarya hebat dari seorang bocah SMA seperti Steven.


Sebuah lukisan besar tergantung di dinding gubuk. Keadaan lukisan itu terjaga karena terbungkus dalam plastik sehingga debu-debu hanya menempel di bagian luarnya.


Dengan terpaku, Sean mendekati lukisan itu dan mengusap debu-debu dengan tangannya. "Menakjubkan!"


"Namanya adalah 'Hidden Paradise'. Aku melukisnya sekitar 3 tahun yang lalu." Steven tampak sedikit terbuka meski tidak bisa menjaga kontak matanya. "Setelah kejadian itu, aku tidak bisa lagi melukis dengan benar."


Dari lukisan itu, Sean dapat mengetahui suatu hal bahwa trauma dari dirinya berasal dari dalam lukisan 'Hidden Paradise'.


'Hidden Paradise' adalah lukisan yang mengambil objek danau dengan sudut pandang yang tidak biasa. Permukaan danau berwarna merah seirama dengan awan senja yang dilukiskan Steven saat itu. Namun, warna merah terlalu pekat dengan latar sekeliling yang dipenuhi nyala api.


"Kebakaran?" Mata Sean terbelalak sadar akan suatu hal. Tanpa mengeluarkan apa yang sedang dia pikirkan, Sean berlari keluar gubuk dan melihat kondisi danau yang telah dia lewati sebelumnya.


Steven yang menyusul di belakangnya ikut menatap pemandangan danau di tengah senja itu. "Benar, 'Hidden Paradise' adalah lukisan dari danau yang terbakar."


Remaja bermata biru itu mendesah dan menatap di sekitar danau. “Aku hidup di dalam panti asuhan sudah lama, bahkan aku tidak tahu siapa orang tuaku sebelumnya. Di panti asuhan aku tumbuh dan hanya memiliki bakat melukis. Tidak ada objek menarik yang bisa aku gunakan untuk menuangkan imajinasiku, tetapi saat menemukan danau ini aku jadi bisa melakukannya dengan baik," sambung Steven. Sean hanya bisa mendengarkan remaja itu dengan penuh minat.


Steven Smith menjelaskan tentang awal mula 'Hidden Paradise'. Saat dia berada di tempat itu, Steven terjebak di sebuah kebakaran. Tidak ada jalan keluar, jadi dirinya tertahan di tempat itu sendirian. Menganggap dirinya tidak akan selamat, Steven melukis pemandangan itu untuk terakhir kalinya sebelum dia jatuh tak sadarkan diri.


Beruntung Steven selamat dari insiden itu dan lukisannya berhasil diamankan dari kobaran api. Namun, setelah kejadian traumatis itu, dia kehilangan kemampuan melukisnya.


"Kau ingin tetap melukis?" tanya Sean di akhir kisah Steven.


Steven Smith mengangguk dan tidak terlihat sedikit keraguan di matanya. "Tujuanku mendekatimu karena itu."


"Aku bisa melakukannya untukmu, tetapi sebagai gantinya berikan 'Hidden Paradise' padaku dan aku akan menjamin karirmu dalam dunia seni.


Dengan itu mereka tidak bisa menghindari kata sepakat.

__ADS_1


__ADS_2