
Komplek Kuba Hill adalah perumahan mewah di sisi barat perkotaan dimana Sean dapat melihat pemandangan gunung di sisi lain.
Setelah turun dari taxi, Sean menatap jam yang ada pada layar ponselnya, masih pukul 6, terlalu pagi untuk bertamu ke rumah seseorang. Perjalanan yang dibutuhkan ke tempat ini tidaklah dekat sehingga Sean memberikan renggang waktu agar tidak terlambat, bahkan ini terlalu pagi untuk dikatakan terlambat.
Tidak akan masalah bila Sean menunggu sampai pukul 8, itu lebih baik ketimbang harus berjibaku dengan dokumen-dokumen di galeri seperti yang dilakukan Hendri saat ini. Namun, tidak ada satu pun tempat yang cocok digunakannya untuk menunggu. Rumah mewah milik Darren Ellizer dikelilingi pagar tinggi sehingga Sean hanya bisa berdiri menatap ujung dari dinding pagar di depannya.
“Siapa kau?” Di belakang Sean, seorang pria bertanya dan saat berbalik, Sean dapat melihat wajah oriental dari pria yang tampaknya baru selesai berolahraga di luar.
Wajah oriental pria berusia 26 tahun itu penuh dengan keringat dan sesekali dia mengusapnya dengan napas yang terengah. Namanya adalah Kai Ellizer yang tampaknya adalah salah satu penghuni rumah ini.
“Namaku adalah Sean Herdian dan saya sedang mencari seorang bernama Darren Elllizer,” ungkap Sean penuh tata krama, bahkan dia menggunakan adat timur dengan merendahkan tubuhnya.
Meskipun telah memperkenalkan diri sebaik mungkin, Sean tidak juga mendapatkan sambutan baik, Kqi Ellizer memandangi Sean penuh dengan kewaspadaan.
Tidak hanya itu saja, penampilan Sean yang tidak sesuai dengan tujuannya membuat poin kecurigaan Kai Ellizer bertambah. Sebelumnya dia tidak pernah melihat seorang bertamu ke tempatnya hanya dengan menggunakan pakaian santai, biasanya mereka menggunakan jas mahal bila tidak kemeja rapi menjadi alternatif.
“Melihat penampilanmu yang … pasti kau bukan seorang dari galeri atau seorang kolektor. Tampaknya tujuanmu juga bukan untuk membeli lukisan di tempat ini." Kai Ellizer berkata dengan mengambil kesimpulannya sendiri. Pandangan merendahkan itu dapat dirasakan Sean, yetapo pemuda itu lebih memilih untuk tenang. "Lalu untuk apa kau datang ke tempat ini mencari ayahku?”
Ucapan Kai menjelaskan tentang hubungannya dengan Darren Ellizer. Dia adalah anak laki-laki dari pria yang dicarinya. Entah, bagaimana karakter dari Darren Ellizer, tetapi melihat sikap putranya membuat Sean menjadi lebih tegang.
"Saya adalah asisten kurator sari Ellinden Gallery," jelas Sean. Pria di depan Sean sedikit terkejut mendengarkan penjelasannya dan kembali menyapu penampilan Sean yang tidak cocok dengan profesinya. Namun, Sean mengabaikan pandamhan itu dan kembali pada penjelasannya. “Tujuanku ke tempat ini untuk-”
Belum selesai Sean berkata, pria itu menyela. “Pergilah, katakan pada atasanmu untuk menyerah. Ayahku tidak akan memberikan lukisannya pada sembarangan orang!”
Sean mencoba mempertahankan pembicaraannya. “Tetapi, saya-”
Pria angkuh itu benar-benar tidak mau mendengarkan Sean. Tampak jelas pengabaiannya dan dengan acuh dia membuka pintu pagar. Saat hendak masuk, langkahnya seketika terhenti.
__ADS_1
Seorang pria 50 tahunan tampak menghalangi jalan Kai Ellizer. Pria itu duduk pada kursi roda tepat di muka pintu.
"Aku mendengar sedikit keributan di luar, aku pikir siapa. Ternyata kau." Itu adalah kata-kata pria itu saat Kai sudah ada di hadapannya. Melihat ada orang lain berada di belakang Kai, pria itu mendongak dan tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan Sean. "Rupanya ada tamu, mengapa tidak kau bawa masuk, Kai?"
"Tapi, ayah! Dia-" Kai berusaha mengelak, tetapi kata-katanya kembali terhenti.
"Kai, tidak sopan membiarkan tamu yang jauh-jauh datang ke tempat kita, pergi tanpa masuk terlebih dahulu." Kritikan dari Darren Ellizer membuat putranya diam tidak berani menyanggahnya lagi.
Kai Ellizer berbalik meluapkan kekesalannya pada Sean dan dengan terpaksa mempersilahkannya masuk.
Dengan mendorong kursi roda Darren Ellizer, Kai mengantar Sean di ruang tamu di mana ruangan itu memiliki ukuran besar dan kaca luas dengan pemandangan pegunungan.
"Aku akan memperkenalkan diri, namaku Darren Ellizer," ucap pria itu yang membuat Sean tersadar dari lamunan.
"Saya adalah seorang asisten kurator, Sean Herdian," jawab Sean setelahnya.
Sean segera mengungkapkan tujuannya tentang sebuah lukisan yang bernama 'Speak with Vagia' yang sedang diburu oleh Ellinden Gallery.
"Katakan saja pada atasanmu bahwa ayahku menolaknya," sambung Kai tidak bersahabat.
Darren Ellizer yang melihat ketidaksopanan dalam ucapan anaknya meminta maaf. Namun, dia juga menyetujui kata-kata itu. Dengan tidak langsung dia menolak partisipasinya untuk Ellinden Gallery.
Penolakan itu membuat Sean penasaran. "Setidaknya berikan alasan padaku mengapa kau menolaknya?"
Saat itu, tampak jelas Kai ingin menyalak, tetapi ayahnya menekan tangannya dan menggeleng tidak mengizinkan. Melihat perintah ayahnya yang tertuang pada isyarat mata, Kai kembali diam dan hanya memberikan tatapan tajam pada Sean.
Dari sini, Darren Ellizer tampak mengambil alih pembicaraan. Dia menyesap teh di hadapannya dan kembali berkata.
__ADS_1
"Ellinden Gallery adalah satu-satunya galeri besar. Akan tetapi dia hanya memajang lukisan-lukisan untuk uang," keluh Darren Ellizer dengan menurunkan tatapannya.
Sebagai seorang pelukis, Darren Ellizer memiliki harga diri tinggi. Dia tidak mau bila karyanya, hanya diperjualkan secara komersial, setidaknya dia ingin seseorang yang mendapatkan lukisannya mengerti jiwa pelukis yang tertuang dari gambar itu, sedangkan Ellinden Gallery tidak memiliki kulifikasi tersebut.
"Bagaimana bila kedatangan saya di tempat ini bukan sebagai asisten kurator dari Ellinden Gallery, tetapi sebagai seorang dari Vase Art Gallery?" Pertanyaan Sean berhasil membuat alis kedua pria di depannya berkerut.
Saat Kai dan Darren Ellizer saling bertatapan dengan ekspresi rumit, pada akhirnya mereka juga saling mengangkat bahu dengan tidak mengerti.
"Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya," ucap Kai pada ayahnya.
Darren Ellizer tampak mempertanyakan hall yang sama dan pria itu melontarkan tatapannya pada Sean.
"Vase Art Gallery? Apakah kau bisa mengatakan detailnya?"
Sean sedikit puas akan ketertarikan dari Darren Ellizer. "Sebagai pembeda dari galeri lain … Vase Art Gallery tidak hanya menggantungkan pelukis-pelukis ternama tetapi semuanya tergantung akan nilai dari lukisan itu."
Sean menunjukkan nama-nama pelukis yang akan bergabung pada galerinya dan tentu saja tidak satupun dari mereka yang memiliki nama di dunia seni rupa. Sean pun tidak ragu menunjukkan karya-karya mereka melalui galeri di ponselnya dan itu cukup membuat Darren Ellizer tertarik.
Namun, Kai di samping ayahnya memberikan argumen yang memberatkan Sean. Meskipun karya-karya dari pelukis itu memiliki nilai, pelukis yang tidak memiliki nama juga akan berdampak pada karyanya.
"Tidak perlu dikhawatirkan karena Vase Art Gallery juga memiliki koleksi-koleksi lain yang tidak dikomersilkan." Kali ini Sean lebih percaya diri untuk berbicara dan membuat kedua orang yang ada di depannya terperangah. "Karya dari Elizabeth Chang, Najwa Wong, Elmi Carens, dan … KK."
Mata kedua pria itu kompak mendelik saat mendengar inisial nama dari Kenzo Karrin disebutkannya, khususnya pada Kai yang membuat ekspresi berlebihan.
"Vase Art Gallery benar-benar memilikinya?" tanya Kai Ellizer kembali meragukan Sean.
Dengan tenang Sean hanya tersenyum. "Tentu saja saya tidak membual dengan itu."
__ADS_1
Kerja keras Sean setidaknya mendapatkan hasil. Darren Ellizer mencoba mempertimbangkannya lagi dan dia berjanji akan mengirim seseorang ke tempat Sean untuk mengabarinya.
Setelah Sean memberikan kartu namanya, dia keluar dari kediaman Ellizer dengan hati yang puas. Melihat ekspresi kedua orang itu, Sean begitu yakin bahwa mereka tidak mungkin menolak tawarannya.