
Sean tertahan di Ellinden Gallery untuk sementara waktu. Perasaannya sedang kacau, pikirannya sedang kalut, tidak ada hal yang berjalan dengan benar. Padahal, semuanya baik-baik saja karena tidak akan ada yang dapat membedakan keaslian lukisan itu. Namun, kedatangan Najwa Wong akan meluluhlantakkan rencananya.
Di tengah itu, Sean mendapatkan kabar bahwa Najwa Wong telah tiba. Semua orang kembali berkumpul pada formasinya masing-masing.
"Aku dihubungi untuk datang di tempat ini, apakah terjadi masalah?" Najwa Wong menatap tidak senang pada orang-orang disekitar. Namun, dengan piawai Hendri menjilat.
"Maafkan ketidaksopanan saya, ada insiden kecil di tempat ini sehingga saya terpaksa mengundang anda datang untuk mengkonfirmasi kebenaran dari lukisan 'Stuck'.
Penjelasan dari Hendri terdengar sangat jelas sehingga cukup dimengerti Najwa Wong. Wanita itu mendekat pada lukisan yang dimaksudkan. Alis matanya tampak berkerut dan wajah dari Najwa Wong beralih pada Sean yang sudah pucat.
"Lukisan ini …" Tatapan dari Najwa Wong berkeliling di sekitar dan di tengah itu dirinya tersenyum samar. "Asli."
Duar!
Sean terperangah mendengar pengakuan Najwa Wong, sontak dia menatap wanita itu dengan tidak mengerti. Tidak mungkin Najwa Wong tidak mengenali lukisannya sendiri.
"Aku menjamin keaslian lukisan ini." Najwa Wong kembali menekankan kata-katanya.
Suasana di tempat itu menjadi ricuh, semua berbisik dan hanya Frans yang duduk terlunglai lemas. Dengan ini, apa yang dituduhkan Frans terbukti tidak benar.
Najwa Wong membiarkan keadaan itu dan memberikan sebuah kode yang mengisyaratkan agar dia bisa berbicara dua mata dengan Sean.
"Apa yang terjadi dengan lukisan yang asli?" Najwa Wong berkata setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
Sean terperangah sesaat atas pengakuan wanita itu. Di depan semua orang dia telah mengatakan bahwa lukisan itu asli. Sean benar-benar tidak menyangka bahwa Najwa Wong telah mengatakan kebohongan.
"Kau mengetahuinya?" Sean bertanya singkat.
Najwa Wong tampak terkikik melihat ekspresi Sean. "Bagaimana aku tidak bisa mengenali lukisan muridku sendiri? Kau dan Luis telah bekerja keras untuk meniru lukisanku. Tidak buruk."
Kali ini Sean baru mengerti bahwa tindakan dari Najwa Wong untuk melindunginya. Kalau saja dari awal dia tahu, Sean dapat berdiri dengan tenang di hadapannya tadi.
"Seseorang menghancurkan lukisan itu. Aku tidak memiliki pilihan selain membuatnya sama persis. Apakah kau keberatan dengan itu?” Pengakuan Sean kembali membuat Najwa Wong terkikik.
“Keberatan?” Najwa Wong menggeleng. “Tentu saja tidak. Kerja bagus untuk kalian.”
__ADS_1
Percakapan itu berakhir dengan kemenangan seru untuk Sean. Dari semua gelagat Frans, Sean benar-benar meyakini bahwa dia adalah dalang dibalik rusaknya ‘Stuck’.
***
Hari yang telah dilalui Sean begitu melelahkan. Namun, dia tidak bisa mengakhirinya dengan kembali ke asrama dan beristirahat. Sean harus mencari panti asuhan Eleanor untuk dapat menemukan orang Steven Smith.
Sean menggunakan taxi untuk 1 jam perjalanan dan begitu datang, matahari sudah akan tenggelam. Sean turun dari taxi dan menempuh sisa perjalanannya dengan berjalan kaki.
Untuk dapat tiba di panti asuhan Eleanor, hanya ada satu jalan kecil yang menuju di tempat itu. Tidak ada kendaraan roda empat yang bisa mengaksesnya.
Di tengah perjalanannya, Sean melihat seorang remaja laki-laki berjalan masuk di jalan setapak. Remaja itu berambut pirang dan setinggi dirinya. Usianya juga sebaya dengan Ellian ataupun Alice.
“Hei, apakah ini jalan menuju panti asuhan Eleanor?” Sebelum pertanyaan Sean sampai, remaja itu sudah memasuki jalan setapak lebih dalam sehingga dia tidak mendengar suara dari Sean.
“Anak yang aneh,” celetuk Sean.
Sean hendak pergi dan mengabaikan, tetapi sedikit rasa khawatir menahannya. Tidak seharusnya remaja itu sendirian masuk ke tempat itu. Apalagi saat Sean menatap ke atas dan menyadari bahwa hari akan gelap.
Dengan mengikuti ujung dari jalan setapak, Sean dapat menemukan remaja itu duduk di sekitar danau dan melukis pemandangan di sekitar.
Semak belukar kuning dengan tanah yang tertutup abu cukup menjelaskan cerita di balik tempat ini. Apalagi batang-batang pohon yang telah menghitam dan menjadi arang adalah bukti nyata bahwa tempat ini pernah terbakar sebelumnya.
‘Krak!’
Tanpa sengaja Sean menginjak ranting kering dan itu cukup mengejutkan remaja di depannya. Sontak, dia berbalik dan saat pandangannya bertemu pada Sean, dengan cepat dia menyembunyikan buku gambarnya di dalam tas.
“Mengapa kau tahu tempat ini?” Remaja di depannya bertanya dengan tidak ramah.
Sean mengangkat kedua tangannya. “Ah, maafkan aku telah mengejutkanmu. Aku hanya khawatir kau berjalan di tempat seperti ini sendirian. Siapa namamu? Dimana kau tinggal?”
Remaja itu tidak menjawab satu pun pertanyaan Sean dan langsung berlari pergi begitu saja.
“Benar-benar anak aneh!” gerutu Sean memutuskan kembali ke tempatnya dan segera mencari panti asuhan Eleanor.
***
__ADS_1
Setelah mengelilingi tempat itu, Sean menemukan tempat tujuannya. Sebuah panti asuhan kecil berdiri di tengah kebun yang lapang. Sean segera masuk dan menemui kepala panti.
“Saya ingin menjadi donatur untuk panti asuhan ini.” Itu adalah alasan yang Sean persiapkan untuk menghadapi situasi seperti ini.
Tidak masalah untuk Sean kehilangan sekian kecil dari nilai uang yang dimilikinya. Dia tidak terlalu menghitungkan itu dan menganggap bahwa dirinya juga harus ikut bersosial.
“Baik, silahkan isi formulir.” tunjuk wanita tua yang menjabat sebagai kepala panti.
Sean segera menyelesaikan prosedur dan memberikan sebuah amplop yang sudah dipenuhi dengan uang 10 juta rupiah. Melihat besarnya nominal yang Sean berikan membuat kepala panti yang ramah menjadi lebih ramah lagi.
“Apakah saya bisa berkeliling di area panti?” tanya Sean dengan mengharapkan persetujuan ibu kepala panti.
Permintaan Sean disetujui dengan mudah dan kepala panti mengutus seorang dari panti untuk menemani Sean berkeliling.
Namun, saat Sean melihat seorang remaja datang, dia tampak terkejut. Baik Sean maupun remaja itu saling bertatap pandang seolah kejadian 30 menit lalu mereka ketahui dengan pasti.
Di danau belakang panti asuhan itulah mereka bertemu. Sean benar-benar tidak menyangka bahwa remaja yang dilihatnya adalah bagian dari anak panti di tempat ini.
“Namanya Steven Smith, dia akan menemani anda untuk berkeliling.” ucapnya. Kepala panti beralih memandangi remaja yang dipangilnya dengan nama Steven, “Stev, ibu minta tolong padamu untuk membawa tamu kita berkeliing. apakah kau bisa melakukannya?”
Steven Smith adalah nama yang tidak asing bagi Sean. Tentu saja dia dapat mengingat dengan jelas bahwa orang yang membuatnya jauh-jauh datang ke tempat ini adalah remaja dengan nama Steven itu.
“Aku mengerti, ibu kepala.” Remaja itu mengangguk dengan patuh dan membawa Sean.
Mereka berkeliling dan Steven hanya berbicara seperlunya saja. Seperti penjelasan dari bagian-bagian detail dari panti yang dilewatkan Sean. Sean benar-benar tidak tertarik dengan itu.
"Hei, Steven? Apa yang kau lakukan di tempat tadi?" Sean terlebih dulu berbicara, sontak remaja pirang itu menatapnya. Mereka dapat mengetahui bahwa pembicaraan itu tertuju pada pertemuan pertama mereka di tepi danau. "Aku tidak sengaja melihatmu dengan buku gambar, apa kau jago melukis?"
Steven tampak begitu tidak ramah dan dengan sangat jelas dia menuangkan perasaan tidak sukanya pada Sean.
Melihat langkah awal yang diambil Sean salah, dia segera merevisi kata-katanya. "Aku pikir melukis sangat menyenangkan, apa kau tidak ingin melakukannya denganku?"
"Ka-kau bisa melakukan itu?" Pandangan Steven menyapu diri Sean dengan begitu tidak yakin.
"Tentu saja bisa." Sean menepis keraguan Steven Smith. "Besok aku akan mengajakmu untuk mencari tempat yang bagus dan kita bisa melukis bersama di tempat itu."
__ADS_1
Usaha Sean tidak sia-sia. Steven dapat dengan mudah jatuh dalam rayuannya. Dia mengangguk setuju dan pendekatan Sean sukses besar.