
“Bagaimana bisa kau melakukannya?” tanya Sean pada Luis.
Kedua pemuda itu baru memulai sebuah percakapan saat setelah suasana kamar menjadi sunyi. Mendengar itu, Sean balik menatapnya.
“Melakukan apa?” Luis berpura-pura tidak tahu.
Rasa penasaran Sean tidak bisa membuatnya diam. Dia mengambil lukisan yang baru dilukis Luis dihadapan Frans dan Fellix. Sean menatap dalam lukisan itu.
“Saat lukisan ini mencapai tahap penyelesaian pasti akan terlihat mirip dengan lukisanku. Pola subjek dan detail garisnya pun begitu mirip. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Sean kembali bertanya dan menatap Luis seperti seorang buronan di ruang investigasi.
Mendapat perlakuan itu membuat Luis tersenyum, dia mengabaikan pertanyaan Sean sebentar dan duduk santai di kursinya. Mata cokelat miliknya mengandar jauh di atas langit-langit. “Seperti dirimu, aku juga memiliki rahasia. Apakah kau masih ingin mengetahuinya?”
Ketertarikan Sean akan rahasia Luis lenyap saat itu juga. Dia tahu, bahwa setiap orang tentunya memiliki rahasia dan tidak seharusnya Sean menggali rahasia milik Luis.
Melihat ekspresi wajah Sean yang tampak bingung membuat Luis meringis. Dia menepuk bahu pemuda itu dan menyuruhnya duduk.
Saat ini, tampak mereka berdua duduk saling berhadapan. Tatapan Sean diam-diam melirik pada Luis dengan penasaran.
“Apakah kau memiliki kemampuan foto memori?” Sean mengatakan kata-kata itu dengan tiba-tiba.
Mendengar tebakan Sean membuat Luis sedikit terkejut, tetapi sedetik kemudian dia tersenyum tanpa arti. “Benar, karena kemampuan itulah aku dapat mengetahui bahwa kau hanya berpura-pura menjadi orang cacat."
Sean menunduk malu atas kebohongannya sendiri. Perasaan pemuda itu sedang dipenuhi oleh rasa bersalah karena lebih memilih tidak berterus terang sejak awal.
__ADS_1
Pandangan pemuda itu kembali terangkat setelah memikirkan sesuatu. Kedua matanya menatap Luis dengan terheran. “Kemampuan itu saja tidak akan bisa membuat pemiliknya dapat melukis dengan baik. Itu seperti lukisan yang terus-menerus diasah dan memiliki teknik yang berbeda dari seorang pemula.”
Itu adalah tebakan kedua dari Sean yang sepenuhnya benar. Luis tidak bisa menyembunyikan ekspresi terpukau atas penglihatan Sean yang begitu cermat, lantas dia bertepuk tangan kecil.
“Semua yang kau katakan benar. Seseorang telah mengajariku dari awal.” Tiba-tiba ekspresi Luis berubah. Kedua matanya melukiskan sebuah kesedihan yang mendalam. “Tetapi dia sudah tidak bisa mengajariku lagi. Padahal dia adalah pelukis yang hebat.”
Sean tertegun atas penjelasan barusan. Benar-benar tidak disangka bahwa Luis adalah murid dari seorang pelukis hebat. Dalam hatinya, Sean ingin sekali saja bertemu dengan guru yang dibicarakan Luis, tetapi dari apa yang dibicarakan, sepertinya keadaan membuat mereka terpisah.
Ribuan rasa penasaran bertumpuk dalam pikiran Sean, tetapi hanya ada satu pertanyaan yang mengganggunya. Sontak dia melontarkan pertanyaan itu dari mulutnya. “Ada yang membuatku heran. Dengan kemampuan senimu seperti ini, mengapa kau hanya mengambil kelas bisnis? Akankah lebih baik bila kau mengambil kelas seni atau keduanya?”
“Ah, kau mau tahu itu?” Luis mendekatkan wajahnya, mendadak dia tersenyum dan meletakkan ujung jari di atas bibirnya. “Ssht! Itu rahasia!”
Suasana menjadi berubah. Sean begitu kesal atas perlakuan Luis. Namun, belum selesai dia melayangkan protes, pintu kamar terketuk.
Begitu ajaib! Luis seperti dapat mengetahui siapa yang ada di luar kamarnya. Setelah pintu terbuka, sosok Zavier sudah ada di muka pintu. Dia masuk dan menghampiri mereka.
“Aku membawakan kotak obat dan kompres dingin.” ucapnya yang meletakkan barang bawaannya di atas meja.
Sean hanya menatapnya tanpa berkomentar, tampak jelas dia sangat mewaspadai Zavier yang merupakan kakak sepupu dari Felix.
“Cepat obati lukamu, kalau tidak … biar aku saja yang melakukannya.” goda Luis dengan ekspresi meringis.
Sean segera melakukan apa yang Luis suruh, tetapi kewaspadaannya tidak juga turun. Melihat hal itu Luis ingin memberikan penjelasan pada Sean yang akan melenyapkan kecurigaannya pada Zavier.
__ADS_1
“Hei, Sean! Saat aku menghadiri rapat organisasi, Zavi menghubungiku dan dia berkata bahwa kau sedang dalam keadaan terancam. Aku pun langsung meninggalkan rapat dan kembali di asrama tepat waktu. Beruntung kau hanya mendapat satu tonjokan dari mereka.” Penjelasan Luis membuat Sean tidak mengerti. Bagaimana bisa orang yang memberikan kunci kamar cadangannya pada Felix berpihak padanya? Namun, Sean kembali tenang untuk mendengarkan penjelasan Luis yang lain. “Zavi dari dulu mengkhawatirkanmu, tetapi karena Felix dan Frans hanya melakukan buli dan tindakan kasar, dia membiarkannya dan hanya mengawasimu dari jauh. Hanya saja
… Zavi tidak menyangka bahwa mereka melakukan hal diluar batas.”
Sean tampak kesulitan menelan penjelasan Luis yang panjang-lebar. Namun, Luis kembali memberitahu hal yang menarik. Pemuda itu berbisik pelan di telinga Sean. “Ah, apakah kau tidak tahu bahwa Zavi yang membawamu ke rumah sakit. Kau ingat kan kejadian apa yang membawamu ke rumah sakit beberapa waktu yang lalu?”
Tidak ada satupun kejadian yang dapat Sean lupakan saat dirinya harus dibawa ke rumah sakit. Apalagi, tubuh Sean langsung bergetar mengingat kejadian terakhir yang membawanya mendapatkan perawatan medis di tempat itu. Kejadian traumatis dimana dirinya sampai harus melompat dari atap benar-benar masih menempel dalam ingatan Sean.
Mata Sean terbelalak dan dirinya langsung terjingkat menatap Zavier. Dengan penuh sikap hormat, Sean membungkuk. “Terimakasih atas kepedulianmu. Aku tidak menyangka bahwa Kak Zavi yang sudah menolongku.”
“Tidak apa-apa, aku senang kau baik-baik saja. Aku sempat merasa bersalah karena kejadian itu sampai membuatmu cacat, tetapi tidak sengaja aku melihatmu berjalan bebas di lorong asrama dan ketika aku bertanya pada Luis, ternyata dia mengkonfirmasi kebenarannya,” ucap Zavier.
Dari penjelasan ini dapat terlihat bahwa hubungan Zavier dan Luis lebih dekat dari apa yang Sean lihat. Zavier memiliki seorang adik yang berteman baik dengan Luis. Mereka ada di kelas yang sama dan kamar yang sama. Akan tetapi karena suatu kesalahan Zavier yang tidak mau menuruti kemauan Frans dan Felix, mereka memanipulasi kejadian sehingga adik Zavier dituduh sebagai pencuri. Saat itulah semua yang ada di tempat ini mencemoohnya dan adik Zavier yang tidak tahan atas perlakuan semua orang memutuskan untuk melompat dari atap asrama.
Kisah memilukan itu dijelaskan sendiri dari mulut Zavier dan saat itulah dia memiliki dendam sendiri pada kedua orang dibalik kejadian kematian adiknya.
Sean tidak bisa berkomentar apapun. Dia tahu bahwa kedua orang itu begitu kejam, tetapi Sean tidak menyangka bahwa itu tidak hanya terjadi padanya, tetapi orang lain yang mendapatkan hal sama.
Bila tidak ada suatu keajaiban, sudah pasti nama Sean juga menambah daftar orang yang mati di tangan mereka. Sayang sekali, adik Zavier tidak seberuntung dirinya.
Luis dan Zavier kembali melanjutkan pembicaraan yang panjang, tetapi Sean hanya melihat ranjangnya sendiri.
“Itu adalah ranjang yang pernah dipakai oleh seorang yang pernah Frans dan Felix bunuh!” gumam Sean dengan perasaan campur aduk. Dia memang tidak mengenal adik Zavier, tetapi dalam hati Sean telah berjanji untuk membalaskan dendamnya. Itu adalah sumpah Sean!
__ADS_1