
[Misi Harian]
[Buatlah lukisan kontemporer]
[Tema: Silent Happiness]
Saat Sean hanya duduk tidak melakukan apapun di dalam studionya, jendela sistem kembali muncul dan tidak lama menghilang lagi. Sean menatap layar itu dengan sedikit berpikir.
“Silent Happiness?” gumamnya.
Entah, setan apa yang sedang merasuki diri Sean. Begitu melihat misi dari sistem, pemuda itu bangkit dan mencari sebuah kanvas berukuran 90x90 dan dengan bebas dia melukis dengan cat minyak.
Sean menyalurkan imajinasinya di atas kanvas, sebuah wajah geometri seorang perempuan dengan warna-warna mencolok dan ekspresi yang sesuai dengan tema.
Tidak seperti biasanya, Sean yang terbiasa melukis dengan kecepatan penuh dan buru-buru, saat ini dia tampak menikmati pekerjaannya. Rupanya efek dari lukisan ‘Cotton Candy’ memiliki pengaruh positif untuk dirinya.
Lima jam berlalu, lukisan itu berhasil terselesaikan dan Sean memberi inisial 'SS' di ujung kanvas. Setelah semuanya selesai, Sean meninggalkan benda itu di atas meja untuk mengeringkan catnya yang basah. Secara bersamaan jendela sistem kembali muncul.
[Selamat! Anda telah berhasil menyelesaikan misi]
[Anda mendapatkan 'Mikro Spaces' tipe 1]
Sean sedikit tertegun dengan hadiah yang diberikan sistem. Sebelumnya Sean telah mendapatkan set kuas 'Broom Sweeper' dan saat ini dia juga mendapatkan 'Mikro Spaces' tipe 1. Apakah bila digunakan bersamaan akan menghasilkan lukisan yang bagus?
Sean berencana segera mencoba kedua item itu bersamaan setelah hadiah dikirim.
['Mikro Spaces' tipe 1 adalah set cat air dengan kualitas tinggi]
[Anda dapat menggunakan 'Mikro Spaces' tipe 1 tanpa ada batas penggunaan]
[Set akan segera dikirim di tempat anda]
Pandangan Sean beralih pada tempat lain. Tampak sedan hitam kenzo Karrin sudah terparkir di luar studio.
__ADS_1
Dari pintu kaca studionya, Sean dapat melihat mobil box barang ikut berhenti di belakang sedan itu. Dua orang pekerja keluar dan mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobil.
Kenzo Karrin sepertinya mengetahui itu, dia ikut mengawasi saat barang yang ditutup rapi dengan peti kayu sedang diangkat turun.
“Apa yang kau bawa?” tanya Sean datang menghampiri Kenzo.
Kenzo Karrin menoleh sebentar, kemudian kembali mengawasi peti-peti itu, “Ini adalah benda kiriman dari Najwa Wong.”
“Apa kau tau isinya?” Sean kembali bertanya.
“Entahlah, dia hanya mengatakan ‘Pseudo’ dan tidak mengatakan apapun lagi.” Ucapan Kenzo Karrin membuat Sean kembali berpikir lagi. ‘Pseudo’ adalah kata yang memiliki arti semu. Dari barang yang dikirim Najwa Wong, dapat diketahui bahwa itu adalah lukisan. Namun, lukisan itu berjumlah tiga buah dengan ukuran yang sama.
Hanya menerka-terka tidak membuat Sean mendapatkan jawabannya. Setelah kedua pekerja meletakkan ketiga barang itu ke dalam studio, Sean segera membuka peti kayu dan begitu terkejutnya dengan apa yang Sean lihat.
“Inikah yang dinamakan ‘Pseudo’? Sean tercengang dan mulai meracau akan kekaguman dari lukisan itu. Namun, hal itu tidak hanya terjadi pada Sean, Kenzo Karrin yang juga melihat itu hanya bisa mendelik dengan mulut yang ternganga.
“Menakjubkan!” Kenzo Karrin tidak banyak bisa berkomentar.
Pandangan kedua pria itu tidak bisa lepas menatap lukisan karya Najwa Wong. Dengan melihat ini, Sean baru menyadari nilai dari Najwa Wong yang layak untuk dikejar-kejar Ellinden Gallery, dia memang bukan pelukis sembarangan.
Lukisan yang bahkan bentuknya tidak bisa dijelaskan dengan pemahaman orang lain justru memiliki arti mendalam. Pantas saja lukisan dari Najwa Wong benar-benar dibutuhkan untuk pameran ‘Unsense’. Karyanya memang tidak masuk akal!
“Berapa milyar yang bisa kau taksir untuk ketiga lukisan ini?” Sean yang masih terpukau memberikan pertanyaan untuk Kenzo Karrin.
Pria itu tidak mengubah ekspresinya, Kedua matanya melekat pada ‘Pseudo’. “Aku pikir 2,5 miliar.”
“Tidak, lukisan ini bisa bernilai lebih bila pameran dari ‘Unsense’ meroketkan namanya. Aku jamin bosa lebih dari 3 miliar.” Tanggapan serius Sean atas jawaban Kenzo Karrin.
Setelah puas melihat ‘Pseudo’, Sean meletakkan ketiga lukisan itu di ruang penyimpanan. Saat dia kembali, tampak Kenzo Karrin sedang memperhatikan lukisan yang barusan Sean buat.
“Jangan sentuh itu, catnya masih basah.” Sean memberikan peringatan pada pria itu.
Kenzo Karrin hanya menoleh ringan padanya dan kembali memperhatikan lukisan itu. “Apakah kau yang membuatnya? Berikan saja padaku, aku akan menjualnya untukmu.”
__ADS_1
Tawaran itu tidak menggiurkan bagi Sean, dia sangat tidak tertarik dengan uang karena merasa telah mendapatkan 3 miliar dari lukisan Najwa Wong. pemuda itu benar-benar tahu bagaimana harus jual mahal.
“Ambil saja, aku tidak mengharapkan banyak dari lukisan itu,” jawab Sean.
“Benar, nilainya tidak akan sebanyak lukisan Elizabeth Chang ataupun Najwa Wong, tetapi setidaknya kau harus segera mencari nama untuk dirimu sendiri. Seperti yang kau katakan, setinggi apapun nilai dari lukisan itu, akan tidak berharga bila si pelukis tidak memiliki nama.” Omelan dari Kenzo Karrin hanya membuat Sean bergeming.
Pada akhirnya, Kenzo Karrin memenangkan keinginannya. Dia berhasil membujuk Sean untuk membawa lukisan itu dan menawarkannya pada orang lain.
***
Sean kembali pulang dengan taxi. Setelah tujuannya tiba, dia segera turun dan mengambil telepon. Sambil berjalan, Sean memulai sebuah panggilan pada nomor Najwa Wong.
Di dalam telepon, Sean mengucapkan terimakasih atas lukisan pemberian Najwa Wong dan saat panggilan itu ditutup … sungguh betapa terkejutnya saat Sean tiba di kamar dan melihat dua orang laki-laki sudah ada di kamarnya.
"Fe-Felix?" Tatapan Sean beralih pada orang lain yang ada di belakang Felix. "Frans?"
Bagaimana kedua orang itu bisa masuk ke dalam kamarnya. Jelas ada bantuan dari Zavier sebagai pihak penanggung jawab asrama.
"Lihat ini siapa yang baru datang?" Zavier tersenyum licik dengan pandangan yang merendahkan Sean. "Jangan khawatir, tidak akan ada orang yang mengganggu. Teman sekamarmu sedang sibuk di kelas."
Felix sedang membicarakan Luis. Sepertinya dia memang masuk di kamar setelah memastikan bahwa Luis tidak akan datang.
"Mengapa hanya diam disitu?" Frans mulai angkat bicara. Dia duduk di atas meja Sean dan mengangkat buku gambar miliknya.
'Deg!'
Sesuatu menekan dada Sean, napasnya terasa menyempit dan akan mati kekurangan oksigen. Namun, itu tidak akan terjadi. Sean masih hidup dan dapat merasakan ketakutan pada dirinya.
Bagaimana bisa buku gambar Sean ada di tangan Frans? Ini bukanlah hal baik. Dari sini Sean menyadari bahwa Frans telah mengetahui lukisan di dalam buku itu.
"Hei, pecundang! Apa kau benar-benar tidak mendengarkan ucapan Frans?" Felix mengambil alih percakapan itu. "Cepat kemari!"
Sean tidak punya pilihan selain menjadi pecundang lagi. Dia harus menurut apapun yang diperintahkan Frans ataupun Felix.
__ADS_1
Dengan terpaksa, pemuda itu mendekat. Namun, saat itulah sebuah tinju melayang di pipi Sean.
'Brak!'