
Sean tidak akan pernah menyangka suatu hal besar terjadi di Ellinden Gallery.
Saat sedan hitam yang dikendarai Kenzo Karrin terparkir di luar galeri, Sean turun tanpa Kenzo. Dia segera masuk ke dalam dan menuju mejanya. Di tempat itu, Sean segera mengambil ponsel dan berencana segera pergi.
Namun, Sean harus membatalkan niatnya saat dia melihat pintu ruang penyimpanan terbuka. Ruangan itu digunakan untuk memajang lukisan dari Najwa Wong dan Sean lah orang yang bertanggung jawab untuk membawa kuncinya.
Misteri terbukanya ruang penyimpanan belum dapat dipecahkan, Sean hanya bisa menerka bagaimana pintu itu dapat terbuka sendirinya.
Pemuda itu benar-benar yakin bahwa pintu ruangan itu sudah dikuncinya dengan benar. Bahkan Sean dapat menemukan kunci ruangan itu di saku bajunya. Kunci tidak hilang, tetapi pintu terbuka. Di dalam Ellinden Galleri hanya 3 orang yang memegang kunci ruang penyimpanan. Pertama Hendri yang sudah menyerahkan kunci ruangan pada Sean. Kedua adalah Rift Ellinden dan yang ketika adalah petugas sekuriti.
Untuk saat ini, Sean hanya dapat menerka bahwa sekuriti sedang berpatroli malam, tetapi dugaan itu dipatahkan Sean setelah apa yang dilihatnya.
Saat Sean menekan saklar lampu, Seluruh ruangan itu menjadi terang dibanjiri cahaya, akan tetapi dirinya hanya bisa diam terpaku di atas lantai dengan apa yang ada di depannya.
“Gawat!” Hanya satu kata itu yang bisa Sean ucapkan dengan bibir bergetar.
Pada kedua mata Sean yang melebar, dia dapat melihat salah satu lukisan dari Najwa Wong dalam keadaan hancur.
‘Stuck’ adalah karya Najwa Wong yang paling mencolok diantaranya. Lukisan itu memiliki nilai tinggi karena detail dan waktu pengerjaannya yang tidaklah cepat.
Namun, lukisan yang akan dijadikan tokoh utama dalam pameran 'Unsense' ditemukan Sean dalam keadaan terbelah menjadi dua. Seorang dengan sengaja merobeknya dengan benda tajam.
Dengan cepat, kedua mata Sean melesat ke segala arah, mencoba untuk mencari seseorang di sekitar, tetapi nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain disekitarnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
Ekspresi Sean sedang berkabut resah, tetapi otaknya dengan cepat berpikir dampak dari kerusakan lukisan itu.
Ini bukan saja pengrusakan karya seni yang bisa diatasi secara intern, tetapi bisa saja menyeret pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Kemungkinan terbesar akan membuat nama Sean menjadi terduga utama dalam kejadian ini.
Meskipun Sean begitu beruntung dan dapat lolos dari jerat hukum, Ellinden tidak akan diam saja. Sean harus menanggung semua kerugian di bawah tanggung jawabnya. Dari celah itu, Ellinden dapat membuat Sean harus berhutang pada Rift Ellinden selama hidupnya.
Dampak yang begitu besar membuag Sean harus berhati-hati dalam bertindak. Dia segera datang di ruang keamanan dan disambut seorang pekerja yang duduk mengawasi sejumlah monitor kosong.
"Apa aku bisa melihat CCTV di ruang penyimpanan sebelum 2 jam lalu?" tanya Sean yang mengalihkan perhatian sekuriti.
__ADS_1
"Apakah ada masalah?" tanya sekuriti. Jarinya menunjuk layar-layar monitor di depannya yang mati. "Kau lihat kan kamera pengawas sedang tidak berfungsi, tetapi aku sudah menghubungi teknisi dan besok pagi mereka akan memperbaikinya.
"Apakah kamera itu mati sejak dua jam yang lalu?" Sean kembali mengoreksi keterangan dari sekuriti. Tampaknya dia dapat mengambil kesimpulan dari kejadian ini.
"Benar sekali, jadi untuk sementara waktu benda itu tidak bisa digunakan sampai teknisi datang."
Mendengar penjelasan itu, tampak ketidaksinkronan dalam 2 jam yang lalu. Sudah pasti tidak berfungsinya kamera pengawas memiliki hubungan dengan rusaknya lukisan 'Stuck' di tempatnya.
Aroma kejahatan seseorang tercium dalam pengrusakan 'Stuck', tetapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mencari pelaku, tetapi bagaimana mencari cara untuk meredam masalah itu. Sean tidak punya cara lagi selain memanggil Kenzo Karrin dari sambungan telepon.
“Apa yang terjadi?” Kenzo Karrin segera bertanya setelah tiba di tempat Sean. Tidak perlu untuk Sean menjawab lagi, Kenzo Karrin dapat melihat langsung alasan Sean menyuruhnya datang. Kedua mata pria itu dapat melihat sebuah lukisan sudah hancur di tempat itu. “Siapa yang melakukannya?”
Sean menggeleng dengan putus asa. “Tidak ada waktu untuk mencari tahu siapa pelakunya. Lukisan ini harus segera diperbaiki secepat mungkin, apa menurutmu aku bisa melakukannya?”
Jawaban Kenzo Karrin tampak jelas pada kedua pandangan yang tengah mengamati lukisan itu. Tidak lama dia menggeleng dan sejenak kembali berpikir.
“Tidak mungkin kau dapat menyelesaikan dalam semalam. Mengapa kau tidak meminta bantuan saja pada pelukisnya untuk membuat ulang. Kau bisa membayar setelahnya."
Saran dari Kenzo Karrin paling rasional di antara pemikiran Sean yang sedang kalut. Namun, Sean dapat menepis pikiran itu dengan mudah, Najwa Wong tidak akan bisa melukisanya dalam semalam.
“Apakah tidak ada cara lainnya?” Dengan ekspresi panik, Sean menatap Kenzo Karrin.
“Jadi, maksudmu … kita … melakukan pemalsuan lukisan?” Sean menggeleng dengan mata yang menyipit. Namun, Kenzo Karrin enggan menjawab. Dia sedang beralih pada ponselnya dan menghubungi Pak Klano untuk datang ke tempat ini.
Kenzo Karrin mengetahui bahwa kemampuan Sean tidak bisa diharapkan dalam meniru 'Stuck'. Pria itu memberikan pilihan tepat untuk meminta bantuan Pak Klano.
Setelah menyelesaikan panggilannya, kedua mata Kenzo Karrin beralih pada Sean yang dari tadi menatapnya. “Apa ada hal yang ingin kau katakan lagi?"
“Aku tahu, siapa yang bisa diandalkan untuk masalah ini." Tidak mengatakan apapun lagi, Sean meminta Kenzo Karrin untuk menyiapkan kanvas dan alat-alat yang digunakan untuk melukis. Dengan sigap, Kenzo pun mengangguk mengerti.
Di depan galeri mereka berpisah. Kenzo Karrin mengendarai mobilnya untuk mencari apa yang diperlukan Sean, sedangkan Sean berlari menuju asrama.
***
Tepat di depan kamar 106, Sean menerobos masuk ke kamarnya. Luis yang sedang asyik mendengarkan musik melalui earphone terkejut melihat kedatangan Sean.
__ADS_1
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Luis bangkit dan melepaskan earphonenya. Dia langsung datang menghampiri Sean yang penampilannya tampak kacau
Sean ingin lekas bicara, tetapi tenggorokannya sedang tercekik tidak bisa berkata. Napasnya terdengar terengah seakan ada ruang dalam parunya yang tidak bisa terisi oksigen dengan benar.
"A-aku butuh b-bantuanmu, Luis!" seru Sean.
“Tenanglah dan ceritakan apa yang terjadi.” Ucapan Luis menyadarkan Sean untuk tetap tenang. Dia menghela napas panjang dan mencoba menekan jantungnya yang bergejolak cepat.
“Lukisan Najwa Wong hancur. A-aku butuh bantuanmu untuk membuat ulang.” ucap Sean terbata. Dia kembali mengisi oksigen dalam ruang paru-parunya.
Tidak ada alasan bagi Luis mengabaikan kesulitan Sean. Tanpa mengetahui detailnya Luis mengikuti Sean kembali ke Ellinden Gallery
Di depan galeri, kedua mobil datang bersamaan. Kenzo Karrin dan Pak Klano keluar dari mobil mereka dan berlari kecil menuju Sean.
“Semua yang kau butuhkan sudah aku persiapkan.” Kenzo Karrin datang dengan membawa kanvas, sedangkan Pak Klano hanya diam mencoba membaca situasi.
Tanpa takut terekam kamera pengawas, Sean membawa ketiga orang itu masuk ke dalam ruang penyimpanan dan melihat sendiri kekacauan yang terjadi di dalamnya.
Melihat reaksi mereka yang cukup terkejut setelah melihat lukisan di depan mata mereka terbelah menjadi dua, Sean segera mengutarakan permintaannya.
“Aku membutuhkan bantuan kalian untuk melukis ulang lukisan ini," ucap Sean singkat dan cukup membuat siapapun di antara mereka menjadi mengerti.
“Bukankah itu disebut tindakan plagiarisme, ditambah dengan pasal penipuan sudah cukup membuatmu terjerat oleh hukum.” Pak Klano mengatakan tanpa sedikit pun simpati, tetapi Sean yang sudah terdesak tidak bisa hanya diam saja.
“Apa kau tidak bisa membantuku kali ini?” keadaan Sean sudah cukup lemah dengan ekspresi putus asa.
Pak Klano membalas tatapan Sean dan menjawab tantangan yang diberikannya. “Bagaimana aku bisa menolak permintaan dari temanku Kenzo Karrin dan membantu muridku yang tengah dalam kesulitan?” Tentu saja aku harus membantumu, Sean."
“Bagaiman bila ketahuan?” sahut Luis sedikit ketakutan.
Keinginan untuk membantu Sean tampak begitu tulus, tetapi dia kembali mempertimbangkan kemungkinan buruk yang terjadi.
Pak Klano menatap Luis dan menepuk bahunya, “Tenang saja, Kenzo Karrin memiliki banyak relasi dan dia akan membawa seorang pengacara terhebat saat kita ketahuan.”
Suasana menegangkan di dalam ruangan itu perlahan mencair dan mereka segera memulai aksinya.
__ADS_1
Kenzo Karrin ada berdiri dan menyorot senter ke arah kanvas. Dia sedang memberi arahan dari tempatnya. Pak Klano membuat pola awal dan dilanjutkan Sean dengan menyelesaikan cat dasar. Peran terpenting dilakukan Luis, dia harus bisa menyerupai dari segi teknik dan detail dari Najwa Wong sebagai finishing.
Keempat komplotan yang sedang melakukan tindakan kriminal itu hanya memiliki waktu sampai matahari terbit dan mereka berhasil menyelesaikannya dengan tepat.