MY GREAT PAINTER SYSTEM

MY GREAT PAINTER SYSTEM
Identifikasi Broom Sweeper


__ADS_3

Di studio, Sean segera menyelesaikan lukisan ‘Seven Golden Fish’ yang akan dia tukar dengan tinta lukis milik Levin Millian.


[Spider Hand diaktifkan]


[Dragon Hand diaktifkan]


[Mikro Spaces tipe 3 diaktifkan]


[Broom Sweeper diaktifkan]


Dengan kemampuan yang sudah aktif, Sean segera melakukan pekerjaannya. Namun, Kenzo Karrin tampak memperhatikan Sean dari kejauhan. Tatapan pria itu terkunci pada tangan Sean yang sibuk menyapu kanvas dengan kuas.


Setelah Sean hampir menyelesaikan lukisan itu, Kenzo Karrin di tempatnya tampak tersentak akan sesuatu, seolah mendadak ingatannya datang dan membuatnya terkejut. 


‘Srak!’


Kenzo Karrin menarik pergelangan tangan Sean dan menatap kuas yang dipakainya dengan begitu detail.


“A-ada apa?” Merasa ada yang tidak beres dari pria itu, Sean bertanya dengan tidak tahu. Namun, Kenzo tidak berbicara dan terus memperhatikan detail dari kuas Sean.


“Kuas ini …” Kenzo terdiam pada pemikirannya yang lebih dalam. Tampak jelas wajahnya yang ragu-ragu dipenuhi dengan penyangkalan.


Pria itu tahu betul bahwa kuas yang dikenakan Sean bukanlah kuas produksi pabrik ataupun kuas yang dijual di pasaran. Namun, dia tidak bisa gegabah sebelum benar-benar memastikannya lagi.


Menyadari bahwa yang dibawanya adalah Broom Sweeper, Sean segera menarik tangannya dan menyembunyikan kuas itu di belakang punggung. Hal itu dilakukannya untuk menghindar dari kecurigaan pria di depannya.


“Aku pernah memiliki kuas itu,” ucap Kenzo Karrin tiba-tiba.


Duar! Seperti sedang tidur dengan belut listrik membuat tubuh Sean tersentak sesaat. Bagaimana bisa Broom Sweeper yang didapat dari sistem juga dimiliki Kenzo Karrin?


Apakah Kenzo Karrin juga pemilik sistem?


Sean menjadi waspada pada Kenzo Karrin, dia kembali menatap pria itu dengan tajam. Hal itu cukup disadari Kenzo, tetapi dia tidak memiliki cukup alasan untuk tidak mengabaikannya.


“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Kenzo Karrin.


Saat itu juga Sean harus memutar otaknya agar segera mendapatkan alasan yang masuk akal. Tidak mudah mengelabui Kenzo Karrin apalagi dengan alasan klasik yang sulit dipercaya.


“Aku mendapatkannya dari ….” Sean mulai membuka mulutnya, tetapi terdiam kembali. Pemuda itu hampir saja mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin Sean mengatakan kuas itu berasal dari sistem. Sudah pasti label gila tidak akan lepas darinya sehingga Sean berbalik menjawab Kenzo dengan ketidakjujuran. “Ya, aku mendapatkannya dari seorang kolektor.”


“Kolektor?” Kenzo Karrin menyipit.


“Be-nar, aku menukar lukisanku dengan kuas itu.” Sean kembali berkelit, tetapi dia tidak menyangka bahwa Kenzo Karrin menunjukkan ketertarikannya secara agresif.


Pria itu menarik lengan Sean dan mulai menjejalkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak jauh seputar Broom Sweeper. Tidak ingin kelepasan berucap, Sean menyerang Kenzo dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga membuatnya penasaran.


“Mengapa kau begitu tertarik dengan kuas itu?” Ucapan Sean menyadarkan Kenzo Karrin. pria itu terdiam dan tampak terlihat pandangan matanya yang semu, seolah dia sedang teringat akan hal yang terdahulu. “Sebagai seorang yang berhenti untuk melukis, seharusnya kau tidak perlu lagi tertarik dengan sebuah kuas.”

__ADS_1


Kenzo Karrin mengerjap dan menyesali apa yang telah dia lakukan pada Sean. Dengan lemah, Kenzo melepaskan tangannya tanpa daya.


“Maafkan aku, aku hanya terbawa masa lalu,” ucap Kenzo Karrin dengan senyum getir menghiasi wajahnya.


Menangkap ucapan masa lalu membuat Sean reflek bertanya. “Masa lalu? Apa?” 


Pertanyaan dari Sean hanya membuat Kenzo menunduk, tetapi pandangan Sean tetap mengejar pria itu. “Tidakkah kau ingin menceritakan masa lalumu padaku?”


Tidak ada jawaban dari Kenzo Karrin. Dengan ekspresi resah, dia memberanikan diri membalas tatapan Sean. “Ada sesuatu yang bisa aku ceritakan dan tidak bisa aku ceritakan.


Ucapan itu membuat Sean sadar bahwa dirinya terlalu ikut campur pada kehidupan Kenzo Karrin. Sedekat apapun Sean dengannya, dia tidak boleh melampaui batas yang sudah diberikan Kenzo.


“Maksudku … mengapa kau tahu soal kuas itu?” Sean mengubah arah pertanyaannya.


Tidak ada jawaban dari Kenzo Karrin. Pria itu hanya memandangi Sean dengan ekspresi rumit. Sangat jelas bahwa pikirannya sedang berputar menimang semua alasan yang ada di kepala, hanya saja … Kenzo Karrin bukanlah pria yang mudah menutupi sesuatu.


“Aku juga pernah memilikinya.”


Satu ucapan dari Kenzo Karrin tidak disangka akan membuat satu serangan yang dapat menjatuhkan mental Sean. Semua ucapan-ucapan yang sudah mengantri di tenggorokan Sean menggelinding hilang tanpa sempat dikeluarkannya.


Merasa kelepasan bicara, mata Kenzo Karrin melebar seketika. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk merevisi ucapannya tadi. Namun, Kenzo tidak kehabisan akal. Dia harus segera menghindari Sean!


Kenzo Karrin menatap arlojinya. “Ah, aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”


Setelah mengatakan itu, Kenzo segera pergi tanpa memberikan kejelasan yang dapat dipahami Sean. Namun, kepergian Kenzo juga membuat Sean dapat menghindar darinya.


Pernyataan itu begitu mengganggu Sean. Hatinya tidak tenang setelah tahu bahwa kuas yang tidak dijual dimana pun ternyata juga dimiliki orang lain dan orang itu adalah Kenzo sendiri.


Begitu sulit menghapus hipotesis bahwa Kenzo Karrin adalah pemilik sistem. Namun, Sean kembali menyusun kemungkinan-kemungkinan lain. Bisa saja Broom Sweeper dijual dengan jumlah yang sedikit sehingga membuat kuas itu menjadi langkah.


“Identifikasi Broom Sweeper.”


[Broom Sweeper]


[Broom Sweeper adalah set kuas dengan kemampuan seni tinggi dan dapat menyatukan imajinasi dari pengguna dengan karya yang akan dibuat]


[Anda dapat menggunakan Broom Sweeper tanpa ada batas penggunaan]


[Catatan: Barang langkah dan hanya ada satu di dunia]


[Semua kemampuan Broom Sweeper akan hilang bila salah satunya hilang]


Setelah jendela sistem memberikan informasi tentang kuas itu, hati Sean menjadi lebih tidak tenang lagi. Bagaimana Kenzo Karrin pernah memiliki Broom Sweeper bila kuas itu hanya ada satu di dunia.


Kenzo Karrin adalah pengguna sistem merupakan hal yang tidak bisa lepas dari dugaan Sean. Namun dugaan yang berlawanan dari itu bisa saja terjadi. Melihat Kenzo yang sudah tidak lama menggunakan kemampuannya untuk melukis membuat Sean berpikir bahwa pria itu hanya salah mengenali Broom Sweeper miliknya.


***

__ADS_1


Tidak mau membuang waktu, Sean kembali ke rumah Levin Milline dengan membawa lukisannya.


Saat Levin membuka pintu rumah, dia menatap Sean dengan penuh curiga. Namun saat pandangannya beralih pada sebuah lukisan yang dibungkus dengan kertas cokelat, pria tua itu menurunkan kewaspadaan.


“Aku sudah membawa lukisannya,” salam Sean yang langsung pada inti pembicaraannya.


Tidak seperti saat pertama kali datang ke tempat ini, Sean mendapatkan sambutan cukup baik dari si tuan rumah. Levin pun mempersilahkannya masuk dan menyuruh Sean menunggu di ruang tamu.


Setelah pergi cukup lama, Levin Milline kembali menemui Sean dan membawa sebuah kotak batu yang tampaknya cukup berat. Dia meletakkannya di atas meja, tetapi tidak juga membukanya meski perhatian Sean menetap pada benda itu.


“Jadi kau sudah membawa ‘Five Golden Fish’? Tunjukkan lukisan itu padaku,” perintah Levin pada Sean.


Meskipun penasaran dengan isi kotak batu itu, Sean terpaksa beralih pada lukisan yang dibawanya. Dia membuka lukisan itu dan menunjukkannya pada Levin Milline.


“Ini adalah lukisan yang membawa keberuntungan,” ungkap Sean yang tidak cukup membuat rasa curiga Levin berkurang setengahnya.


Dengan begitu rinci, Levin Milline memperhatikan setiap detail dalam lukisan. Bahkan rasa ketidakpuasan membuat Levin mengambil lukisan dari tangan Sean dan menatapnya dari jarak dekat.


“Ini bukan lukisan yang dibuat oleh pemula,” komentarnya hanya ditanggapi Sean dengan senyum kecut.


Lukisan Sean memang tampak cukup bagus, tetapi tidak akan jauh dari kata pemula. Namun, dengan membubuhkan kemampuan dari sistem di dalamnya, membuat lukisan itu seolah dibuat oleh pelukis dengan jam terbang tinggi.


“Aku tidak pernah mendengar pelukis berinisial SH,” protes Levin kembali.


SH? Tentu saja itu adalah nama Sean Herdian yang disingkat. Namun, Sean tidak menjelaskan bila lukisan itu adalah karyanya.


Tampak jelas ekspresi Sean sedikit gelisah dengan kecurigaan-kecurigaan dari Levin Milline. Seorang kolektor berpengalaman seperti dia tidak akan mau memberikan apresiasi pada pelukis yang belum punya nama seperti Sean. Levin tidak akan segan menolak lukisan itu dan pertukarannya dengan tinta lukis tentu akan dibatalkan juga.


Levin melepaskan pandangannya dari lukisan itu dan tampak sedang berpikir keras. Tidak lama matanya cerah seolah dia menemukan sesuatu dari ingatannya.


“Benar, aku pernah melihat lukisan SH tergantung di Imperial Restaurant.” Ucapan Levin Milline beralih pada ingatannya saat menghadiri pembukaan cabang dua dari restoran itu.


“Siapa SH? Apa dia adalah pelukis terkenal?” Levin Millne kembali menjejalkan pertanyaan untuk Sean.


Dalam situasi seperti itu, Sean tidak memiliki kesempatan utuk menghindar kecuali bila dia mengakui bahwa itu adalah lukisannya. Namun, sebelum itu terjadi, Sean memiliki jalan keluar lain.


“SH? Aku sendiri tidak mengenalnya. Hanya saja ….” Mata Sean berkeliling mengawasi keadaan dan disaat aman, dia mendekatkan wajahnya pada Levin. “Aku dengar dia adalah murid satu-satunya dari Kenzo Karrin.”


Duar!


Mendengar itu seperti ada sebuah kembang api meledak di kepala Levin Milline. Matanya terbelalak dan kecurigaannya langsung padam seketika itu. 


“Benarkah?” Tampak jelas pria itu begitu mempercayai ucapan Sean.


Sebenarnya tidak ada kebohongan dalam ucapan Sean. Lukisan 'Five Golden Fish' memanglah lukisan dari murid Kenzo Karrin, yang tidak lain adalah dirinya sendiri.


Pria yang mengagumi lukisan Kenzo Karrin itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia segera memberikan tinta yang disimpannya di dalam kotak batu dan menggantungkan lukisan ‘Five Golden Fish’ pada dinding rumah Levin.

__ADS_1


__ADS_2