
Pagi-pagi sekali mobil sedan hitam milik Kenzo Karrin sudah terparkir di ujung jalan asrama. Dengan mengendap-endap, Sean keluar tanpa diketahui seorang pun, bahkan Luis yang sedang mendengkur di ranjangnya. Pemuda itu segera masuk ke dalam mobil Kenzo dan menyuruhnya berangkat.
“Apa kau membawa barang yang sudah aku suruh?” tanya Sean memastikan.
Mata Kenzo melirik pada kursi belakang dan ujung jarinya menunjuk ke tempat itu. “Aku melakukannya dengan baik. Hanya saja … mengapa kau menyuruhku membawa tabung APAR?”
“Tentu saja untuk memadamkan api yang akan aku sulutkan?” Dengan tersenyum Sean hanya memberikan reaksi ringan. Tentu saja hal ini hanya dapat mengerutkan setengah alis dari Kenzo Karrin. Meskipun begitu, pria itu mengabaikannya dan lebih memilih menginjak dalam pedal gas.
Mobil pun melaju ke tempat yang sudah ditentukan Sean sebelumnya, panti asuhan Eleanor.
Sesampainya di tempat itu, Sean masuk dan mengajak Steven Smith pergi, tentunya dengan izin dari ibu kepala panti. Bersama-sama mereka pergi di danau, tetapi sebelum itu Sean berpesan pada Kenzo Karrin untuk membawa barang pesanannya. Pria itu memenuhi permintaan Sean meski di dalam kepalanya sudah menimbun ratusan pertanyaan.
“Siapa dia?”
Satu pertanyaan dari Kenzo Karrin tidak bisa ditahan untuk keluar dari mulutnya. Namun, Sean hanya menatap Kenzo dan tersenyum tanpa arti.
“Dia?” Sean kembali menekankan kata-katanya. Semua pembicaraan itu berhubungan dengan Steven Smith yang berjalan di depan mereka. “Dia adalah calon pelukis besar.”
Meskipun tidak tahu apa yang Sean bicarakan, Kenzo Karrin tidak punya kesempatan lagi untuk bertanya karena mereka sudah sampai pada tempat tujuan utama.
“Sudah sampai.” Steven Smith dari depan menoleh dan berkata. Di depannya sudah ada gubuk tua yang dia katakan sebagai tempat untuk menyembunyikan sesuatu.
Steven tidak bergerak lagi sebelum ada perintah dari Sean, begitu juga Kenzo Karrin yang ada dibelakangnya. Kedua orang itu hanya diam dan memperhatikan setiap gerak-gerik dari Sean.
Dengan tidak mengatakan apa-apa Sean melangkah maju dan mengeluarkan sesuatu di dalam sakunya. Sebuah lighter hitam dibuka dan dipantik sehingga api keluar dari sumbu.
‘Srak!’
Benda itu dibuang dan jatuh mengenai dinding gubuk, tidak lama api merambat naik dan membuat sebagian bangunan itu terlahap api.
“Sean, apa kau gila!” Kenzo Karin berseru dan maju untuk segera memadamkan api, tetapi Sean merentangkan salah satu tangannya sehingga Kenzo hanya bisa berhenti. Dengan penuh amarah dia memandang Sean tajam. “Ini berbahaya!”
Meskipun Sean telah melihat ekspresi marah terukir jelas di wajah Kenzo Karrin, tetapi pemuda itu hanya menggeleng seolah ada sebuah rencana yang ada dipikirannya. Kenzo pun hanya bisa diam dan menonton.
‘Brak!’
Di belakang mereka, Steven Smith jatuh tersungkur di atas tanah. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya terguncang hebat. Dia menatap api di depannya dengan mata terbelalak.
__ADS_1
“To-tolong! Tolong aku!” Kejadian traumatis Steven Smith mulai bereaksi dengan api yang dipicu Sean.
Tidak ada ampun baginya, Sean mendekati Steven dan berbisik di telinga. Sambil ikut menatap kobaran api di depannya, pemuda itu mencoba memprovokasi Steven.
“Itu hanya api, kapan saja mereka bisa menyakitimu, melukaimu dan bahkan … mereka juga bisa membunuhmu. Namun, api sekecil ini tidak bisa melakukan itu padamu dan aku memberikan kesempatan untuk memadamkannya, bila tidak … tidak ada jaminan mereka akan tetap dalam bentuk yang kecil.”
“Aku tidak bisa!” Steven Smith memberontak seperti orang setengah waras. Namun, Sean menahannya dengan santai.
“Di dalam gubuk itu masih ada ‘Hidden Paradise’, bila kau tidak segera masuk dan membawa lukisan itu kembali … ketakutanmu pada api akan membakar bakat melukismu dan kau tidak akan bisa mengembalikan apapun lagi?” ucap Sean kembali, tetapi Steven tidak merespon, dia masih terpaku pada api yang berkobar semakin besar. Tanpa rasa kasihan, Sean kembali berbisik pada Steven. “Kau bisa melakukan itu.”
“A-aku T-tidak bisa! Aku … Tolong aku! Tolong! Seperti orang gila Steven berteriak.
“Kau tahu … untuk mengatasi ketakutan, kau harus jatuh dalam ketakutan itu sendiri dan membakar semua ketakutan yang kau miliki.”
Saran Sean mengubah Steven. Namun, dia tidak memiliki waktu lebih lama untuk memprovokasi Steven Smith. Semakin mengulur waktu, semakin besar kobaran api dan api-api itu akan menjadikan ‘Hidden Paradise’ menjadi abu.
Dengan terpaksa Sean membawa salah satu tabung APART di depan Steven. “Api adalah ketakutanmu, hanya kau sendiri yang bisa memadamkannya.”
Steven Smith sedikit tergerak. Meski dia menggigit bibirnya, Steven mulai mengumpulkan keteguhan hati dan saat kedua tangannya mengepal erat, Steven bangkit. Dia membawa APART dan menyemprotkannya pada api yang sudah membara merah.
Sean bersedekap dan tersenyum puas akan tontonan yang sudah dia lihat. Melihat itu Kenzo Karrin berbalik menatap dengan perasaan tidak suka.
Sean membalas tatapan Kenzo Karrin. “Bukannya aku telah mengatakan untuk mengatasi ketakutan, kau harus jatuh dalam ketakutan itu sendiri dan membakar semua ketakutan yang kau miliki tanpa sisa.”
Seolah telah melaluinya sendiri, Sean kembali menatap nanar kobaran api. Memori masa lalunya kembali tampak pada pikiran Sean. Ketakutannya pada Frans membuat Sean harus menggadaikan nyawanya untuk melompat dari atap. Meskipun selamat, tidak ada cara lain untuk Sean selain membakar sendiri ketakutannya. Namun, untuk melawan ketakutan pada Ellinden tidak semudah memadamkan api biasa. Dia memerlukan kekuatan besar untuk tidak sekedar melawannya, Sean juga akan menghancurkan semua yang Ellinden miliki tanpa tersisa.
***
Api sudah tampak padam tidak tersisa. Di atas abu, Steven bangkit dan masuk ke dalam gubuk. Dia kembali keluar bersama lukisannya ‘Hidden Paradise’.
Di sisi lain, Sean menyembunyikan ekspresinya yang tampak lega karena api tidak sampai membakar lukisan itu. Bila sampai terjadi kesalahan, misi membawa lukisan ‘Hidden Paradise’ akan gagal dan Sean tidak tahu hukuman mengerikan apalagi yang akan diberikan padanya.
Steven Smith mendekati Sean dan memberikan lukisan itu. Setelah pemuda itu menerimanya, tubuh tinggi dari Steven roboh di atas abu. “Aku sudah melakukannya? Apa aku benar-benar sudah melakukannya dengan tanganku sendiri?”
Sean tersenyum dan ikut merendahkan tubuhnya. Di hadapan Steven yang tampak pucat, dia memungut lighter dan menyalakannya kembali.
Tidak ada reaksi pada Steven kecuai wajah tengang dan kedua tangannya mengepal di atas abu. Tidak lama, telapak tangannya mulai merenggang dan bibirnya ikut melebar. Steven segera meraih api pada lighter Sean dan memadamkannya sendiri.
__ADS_1
“Benar seperti itu, kau tidak perlu takut pada apapun lagi. Api di masa lalumu berbeda dengan cat merah atau pemandangan di sore hari. Kau bisa melukisnya tanpa perlu takut lagi.”
Ucapan Sean benar-benar merasuki pikiran Steven. Dengan perkataan itu juga Sean berhasil membunuh ketakutan remaja itu.
Sebelum mereka berpisah, Sean menyampaikan untuk tetap berlatih melukis dan dia akan membawa Steven Smith masuk ke fakultas seni rupa dan mengembangkan karirnya di sana. Sean juga sudah menjelaskan bahwa lukisan ‘Hidden Paradise' yang saat ini adalah miliknya akan digunakan sebagai koleksi dari galeri.
Steven Smith tidak tampak keberatan, dia hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat cerah.
***
[Selamat anda telah berhasil menyelesaikan misi!]
Di tengah lamunan Sean, jendela sistem muncul dan membuatnya tersentak sesaat.
“Tampilkan misi!” Setelah Sean berkata, sistem kembali memunculkan sebuah layar transparan. Di hadapannya.
[Lukisan Marionette: Belum diselesaikan]
[Lukisan Speak with Vagia: Belum diselesaikan]
[Lukisan Anathema: Belum diselesaikan]
[Lukisan Hidden Paradise: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Klandestin: Belum diselesaikan]
[Lukisan Skeptis: Belum diselesaikan]
[Lukisan Zero Balance: Belum diselesaikan]
[Lukisan Chain of Eros: Belum diselesaikan]
[Lukisan Mind Hole: Belum diselesaikan]
Dari kesembilan misi, hanya 'Hidden Paradise' yang berhasil diselesaikan Sean meskipun dengan cara yang sedikit ekstrim.
“Aku bertanya-tanya mengapa kau nekat melakukan tindakan berbahaya seperti itu?” Di kursi kemudi, Kenzo Karrin mulai mengomentari apa yang baru saja terjadi barusan. “... tetapi aku pikir harga dari "Hidden Paradise' akan setara dengan resiko yang kau ambil.”
__ADS_1
Secara tidak langsung, Kenzo Karrin mengakui kehebatan lukisan dari tangan Steven Smith. Namun, bagi Sean itulah yang harus dia lakukan.
Tidak peduli seberapa berat kejadian yang sudah Sean lalui benar-benar membuatnya ingin lekas pulang dan beristirahat di kamar asrama.