
‘Srak!’
Dengan reflek Sean bangun dan langsung memegang dahinya. “Apa ini? Plester?”
Pandangan Sean masih belum jelas, dia kembali menggosok matanya dan melihat keadaan di sekitar.
Kamar yang berenda dengan warna dominan putih dan pink ini bukanlah kamarnya. Boneka-boneka yang disusun di antara rak-rak dinding berpadu dengan lukisan-lukisan yang digantung secara random bernuansa feminim dan sudah pasti seorang wanita yang menghuninya.
“Wanita?” desah Sean yang dalam sekejap mengingat seorang wanita sebelum dia berakhir di atas ranjang.
Ingatan Sean kembali saat Shiren Bellian yang melempar kepalanya dengan buku tebal. sebenarnya saat itu Sean hanya pura-pura pingsan. Namun, dia tidak menyangka bahwa aksi itu justru membuatnya benar-benar ketiduran.
“Haish! Apa yang sudah aku lakukan!” gerutu Sean menyesali kegagalannya menahan rasa kantuk. Tidak seharusnya Sean seperti itu, tetapi bangun lebih awal adalah pembelaannya yang tidak bisa disalahkan.
“Hei pencuri, apa kau sudah sadar!” Suara Shiren terdengar.
Sontak, Sean menatap wanita yang sedang duduk memandangi jendela beranda dan mencoba melukis pemandangan luar. “Bila kau sudah sadar segera pergi sebelum aku melaporkanmu ke sekuriti.”
Sean yang sudah sepenuhnya memahami situasi enggan menuruti keinginan Shiren. Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan berpura-pura sakit. “Kepalaku pusing, apakah aku mengalami gagar otak?”
Gagar otak? Semua orang tidak akan percaya bahwa sebuah buku tebal dapat mengakibatkan gagar otak hanya dengan sekali pukul, begitu juga dengan Shiren yang sudah mencium sandiwara Sean.
Tidak ada gejala Sean mengalami luka parah, bahkan setetes pun darah tidak keluar dari kulitnya. Shiren meyakini bahwa tempurung Sean begitu keras, cukup untuk melindungi otaknya yang seperti batu.
Sekali lagi Shiren mengoreksi keadaan Sean dan tetap saja tidak ada hal yang harus dikhawatirkan darinya. Hanya sebuah lecet yang tertempel di dahi, tetapi Sean benar-benar menanggapinya dengan berlebihan.
Merasa ditipu membuat emosi Shiren Bellian terpacu, dia melempar buka gambar di atas meja dan berdiri di hadapan Sean. “Aku tidak suka ada orang asing masuk di kamarku. Cepat pergi! Ataukah kau ingin aku berteriak bahwa ada penguntit yang menyusup di kamarku?”
“Semenit lalu kau sudah berteriak pencuri, sekarang kau masih ingin meneriakkanku sebagai penguntit. Tidak inginkah kau bertanya apa alasanku datang ke kamarmu?” protes Sean yang tampak tenang menghadapi ancaman Shiren Bellian.
__ADS_1
Setelah uji cobanya tadi, Sean dapat yakin bahwa suara kencang dari dalam ruangan ini tidak akan mampu menembus dinding peredam. Tidak akan ada masalah bila wanita itu berteriak sekali atau dua kali lagi.
Namun, di luar dugaannya, Shiren hanya diam. Tampak jelas perubahan ekspresi di wajahnya yang tampak kusut. Tidak ingin menunjukkan emosinya lagi, dia menghindari pandangan Sean dan berbalik menjauh.
Menyadari hal itu membuat Sean sadar bahwa saat ini bukanlah saat tepat untuk bersantai di atas ranjang. Pemuda itu bangkit dan menyusul Shiren. Tanpa ragu, Sean menarik bahu wanita itu.
“Mengapa? Apa aku salah bicara?” Sean bertanya tidak mengerti.
Shiren Bellian tersenyum getir, wajah cantiknya pun tertunduk dan tampak jelas kekecewaan besar terbelenggu pada sorot matanya. “Dia memang orang yang melakukan hal semaunya. Aku membenci sikap itu.”
“Melakukan hal sesukanya? Siapa? Soraya Bellian?” tanya Sean tidak mengerti. “Aku memang datang dari arahan kakakmu, tetapi kedatanganku bukan karenanya.”
Ada sedikit rasa tertarik pada wajah Shiren. Dia memandangi Sean sampai mulut pemuda itu terbuka dan sebuah penjelasan mengenai tujuan kedatangannya adalah mencari lukisan ‘Chain of Eros.”
Shiren Bellian menambah dua kali kecurigaannya pada Sean. Dengan menatapnya tajam, Shiren benar-benar tidak menemukan jawaban dalam pikirnya sendiri. “Bagaimana kau tahu bila aku memiliki lukisan itu?”
Masalah saat ini bukan pada pemikiran Sean, tetapi kecurigaan Shiren yang melekat padanya. Tidak ingin membiarkan kecurigaan itu berlarut lama, Sean membuat sebuah karangan fiksi.
“Soraya Bellian yang mengatakan bahwa dia pernah melihat salah satu lukisanmu,” ucap Sean penuh ketidakjujuran.
“Kakakku?” Menanggapi hal itu, mata Shiren mendelik tidak percaya. “Itu tidak mungkin! Bila kakakku tahu aku melukis itu, sudah pasti dia akan membakarnya!”
Soraya Bellian? ‘Chain of Eros’? Membakar? Mengapa?
Semua konteks itu benar-benar ada di luar pengetahuan Sean. Bingung dengan apa lagi yang harus dia katakan membuat Sean hanya diam dan memijat keningnya. Ini adalah batas dimana Sean tidak boleh lagi ikut campur dari urusan Shiren.
‘Srak!’
Mendadak Shiren menyergap tangan Sean dan memandangnya penuh permohonan. “Apakah kau bisa pergi ke suatu tempat dan memastikan bahwa ‘Chain of Eros’ ada padanya?”
__ADS_1
“Siapa?” tanya Sean tidak mengerti.
Pelukis ‘Chain of Eros’ benar adalah Shiren Bellian, tetapi lukisan itu tidak ada padanya. Shiren sudah memberikannya pada seseorang yang dia inginkan.
Sejurus dengan itu, Shiren memberikan sebuah surat dan sepucuk kertas yang di dalamnya hanya ada sebuah nama dan alamat seseorang.
“Nico Azer?”
Setelah membaca nama di dalam kertas, Sean hanya bisa bertanya dan mengangkat setengah alisnya. Dia menatap Shiren dengan tidak mengerti.
“Pergilah di tempat itu dan tanyakan apakah Chain of Eros ada padanya? Pastikan juga untuk memberikan surat ini.”
Benar-benar tidak habis pikir, Tujuan kedatangan Sean datang hanya untuk membeli sebuah lukisan, tetapi kini dia malah dijadikan seorang kurir. Sean hampir tidak bisa berkata lagi.
***
Di tengah pemukiman kumuh, Sean mencari alamat yang dituliskan Shiren untuknya. Tempat itu ada pada sebuah sebuah rumah kontrakan kecil dengan dinding-dinding yang telah mengelupas dan penuh coretan. Pintu masuk rumah itu juga hanya dari papan bercat hitam dengan berbagai stiker tertempel di atasnya.
Pintu diketuk, tidak ada respon dari dalam. Beberapa kali pemuda itu juga mengetuknya lagi, tetapi keheningan dari dalam membuat Sean yakin bahwa tidak ada orang di rumah itu.
“Siapa?” Suara laki-laki di belakangnya membuat Sean berbalik.
Tepat di belakang Sean, laki-laki yang seumuran dengannya berdiri dengan pakaian yang penuh noda cat. Wajah pas-pasan dan rambut gondrong yang diikat asal menjadi perhatian Sean. Dalam benak Sean, dia sedang membayangkan bila saja laki-laki itu bersanding dengan Yohan Hillion yang gila bersih, pasti akan tampak jelas ketimpangannya yang bagaikan semesta malam dan jelaga arang. Tidak akan bisa dibandingkan lebih dari itu.
“Aku mencari Nico Azer.” Segera Sean menyebutkan tujuannya tanpa berbasa-basi.
Mendengar namanya disebut, dirinya hanya mengerjap. Pasalnya dia tidak mengenal lelaki yang mengetahui namanya dan berdiri di depan rumah seperti seorang dekolektor. “Aku Nizo Azer. Apa kau memiliki suatu urusan denganku?”
Menemukan targetnya sudah di depan mata membuat Sean tersenyum puas. Meskipun tampak berantakan, pemuda di depannya tampak bisa diajak kerjasama dan ini akan memudahkan urusan Sean.
__ADS_1