
Pagi-pagi buta, Sean dibangunkan oleh dering dari ponselnya. Seorang menggunakan telepon dari Ellinden Gallery untuk menghubungi Sean dan ketika Sean menjawab panggilan itu, Hendri adalah orang yang menghubungi Sean.
Dari telepon yang digunakannya, menggambarkan bahwa pria berkacamata itu berada di galeri. Hendri menyuruh Sean untuk segera datang di galeri, bahkan dia tidak memberikan kesempatan pada Sean untuk menolak ataupun menanyakan alasannya. Dapat dilihat bahwa dia sedang berada dalam masalah.
Saat setelah panggilan ditutup, Sean menatap jam dan wajahnya dibuat tanpa ekspresi.
Masih pukul 3 pagi, bagaimana bisa seorang menelepon dan menyuruhnya datang ke galeri, bahkan Sean tidak berpikir mendapatkan uang kompensasi untuk hal ini.
Tidak ada untungnya bagi Sean untuk memenuhi kewajibannya sebagai asisten kurator di Ellinden Gallery, tetapi dia harus melakukannya bila tidak ingin Rift Ellinden menuntutnya dan pada akhirnya ayah Sean lah yang akan turun tangan menangani anaknya.
“Lebih baik aku tidak mengangkat telepon itu,” geram Sean menyesalinya.
Dengan terpaksa pria itu melangkah turun dari ranjang dan bersiap berangkat. Tanpa mandi dan hanya sempat mencuci muka, lalu menutupi setelan polos yang dikenakannya dengan jaket. Penampilannya menyiratkan bahwa dia sedang memandang remeh pekerjaannya.
Setelah mendapatkan taxi, Sean masuk ke galeri. Keadaan tempat itu begitu gelap dan terlihat seperti tidak berpenghuni. Sean melihat sekeliling tempat parkir, tetapi tidak ada satu pun kendaraan yang terparkir. Seharusnya ada satu mobil milik Hendri yang tersisa di tempat itu.
Sean tampak tidak yakin apakah Hendri ada di dalam galeri, tetapi saat dia menggunakan nomor galeri membuat Sean sedikit mempertimbangkan kecurigaannya sehingga Sean berinisiatif mencari kunci masuk di ruang sekuriti.
Di ruang itu, seorang sekuriti mengatakan bahwa pintu sudah dibuka, beberapa hari ini seorang kurator bekerja lembur di dalam. Mendengar jawaban itu Sean ingin terkekeh melihat kerja keras Hendri, tetapi dia tidak bisa melakukannya secara terang-terangan dan segera menyusul pria itu ke dalam.
Benar saja, di ruangannya, Hendri tampak memilah berkas-berkas yang akan dipersiapkan untuk pameran mendatang.
Wajahnya tampak pucat dengan lingkaran hitam di mata. Penampilannya pun tampak lebih kurus dari yang Sean lihat terakhir kalinya.
Tidak hanya itu, suasana ruang kantornya begitu kacau, dokumen berserakan tanpa teratur, bungkus air mineral dan makanan siap saji yang sudah kosong bergeletakan di atas meja. Aroma rokok menyengat dari ruangan itu.
Kali ini Hendri tidak hanya menggunakan ekspresi rubahnya untuk bekerja, tetapi dia bekerja keras untuk itu.
“Apa ada yang kau butuhkan sehingga membuatku datang kemari," sapa Sean dengan keluhan-keluhannya. Hendri yang sadar akan kedatangan Sean sontak mendongak. “Bahkan matahari belum terbit, apa yang ingin aku lakukan untukmu?”
Tanpa peduli dengan pekerjaan sebelumnya, Hendri meletakan dokumen-dokumen dan meninggalkan meja untuk beralih pada Sean.
Seakan melihat seorang penyelamat, tangan Hendri langsung merengkuh bahu Sean.
“Aku butuh bantuanmu,” ucap Hendri dengan pandangan putus asa. “Bujuk seorang pelukis untuk memberikan salah satu karyanya pada galeri.”
__ADS_1
Hendri pun menceritakan sebuah karya ‘Speak with Vagia' dimana pelukis tiba-tiba membatalkan kontraknya. Padahal pameran akan berlangsung dalam waktu dekat, tidak akan ada waktu untuk mencari pelukis lain yang memiliki karya menyerupainya. Itu akan membuat Ellinden Gallery akan kehilangan muka bila tidak mendapatkannya.
Harga diri yang tinggi adalah ciri khas dari Ellinden yang tidak ingin satu pun karya yang diincar tidak bisa menjadi koleksi galeri. Ellinden akan puas bila jajaran karya pelukis ternama digantungkan pada dinding galeri.
Baginya, karya pelukis ternama akan membuat besar nama galerinya dan ini berlawanan dengan misi Sean. Bukan nama besar yang diinginkan Sean untuk karya mereka, tetapi hasil dari karya itu sendiri.
"Kau bilang 'Speak with Vagia'? Sepertinya aku pernah mendengarnya."
Sean sedikit berpikir dan mengingat sesuatu, tetapi sebelum dia menemukan sesuatu pada ingatannya, Hendri terlebih dahulu menyahut.
"Itu adalah karya fenomenal dari salah satu pelukis ternama-Darren Elizer," terang Hendri dengan ekspresi serius.
Darren Elizer adalah pelukis jepang yang tidak sembarangan memberikan lukisannya. Hanya pada galeri-galeri terpilih saja yang dia percaya untuk memamerkan karya darinya.
Entah mengapa nama besar dari Ellinden Gallery tidak mempengaruhi keputusannya, dia benar-benar berbeda dari pelukis lainnya yang menggilai bila karyanya dipajang di Ellinden Gallery. Namun, dalam kesempatan langkah ini, Darren Elizer menolak tanpa berpikir panjang.
Sean mengulang nama 'Speak with Vagia' berulang kali dalam pikirannya. Bukan karena lukisan itu adalah karya besar dari Darren Elizer, tetapi Sean pernah mendengarkannya di suatu tempat.
Jendela sistem muncul secara tiba-tiba ataupun tanpa diperintahkan Sean terlebih dulu.
[Misi mendapatkan Speak with Vagia]
"Aku pikir karena kau berhasil membujuk Najwa Wong kala itu membuktikan kemampuan negosiasimu, Sean. Aku ingin mempercayakan lukisan dari Darren Ellizer padamu dan seperti yang kau lihat … saat ini aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk itu." Di sisi lain, Hendri mencoba meyakinkan Sean.
Pengalaman sukses mendapatkan karya dari Najwa Wong bukanlah pengalaman baik bagi Sean, meskipun dia berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi Hendri sendirilah yang mendapatkan prestasi.
Suara hati Sean terdengar terkikik, tetapi sayangnya Hendri tidak bisa mendengar itu sehingga dia yakin bahwa Sean akan melakukan apapun harapannya.
Tidak masalah bagi Sean untuk menolaknya, tetapi 'Speak with Vagia' adalah lukisan yang dia cari. Hal itulah yang membuat Sean tersenyum atas rencana yang ada di kepalanya
Sebelum Sean melakukan tugasnya sebagai asisten kurator, Hendri menuliskan alamat Darren Elizer di sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Sean. Di tempat itulah Sean akan pergi.
***
Di dalam taxi yang menuju alamat yang dituliskan Hendri, Sean kembali memastikan 'Speak with Vagia'.
__ADS_1
"Identifikasi misi," ucap Sean lirih sehingga dia merasa aman karena sopir di depan tidak mendengarkannya.
Jendela sistem muncul dan Sean segera memastikan lukisan itu
[Lukisan Marionette: Belum diselesaikan]
[Lukisan Speak with Vagia: Belum diselesaikan]
[Lukisan Anathema: Belum diselesaikan]
[Lukisan Hidden Paradise: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Klandestin: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Skeptis: Belum diselesaikan]
[Lukisan Zero Balance: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Chain of Eros: Berhasil diselesaikan]
[Lukisan Mind Hole: Berhasil diselesaikan]
"Identifikasi 'Speak with Vagia'."
Sistem kembali muncul dengan sebuah informasi yang membuat Sean tidak bisa menahan rasa puasnya.
['Speak with Vagia' adalah lukisan Darren Elizer]
[Datang di komplek perumahan Kuba Hill dan bernegosiasi dengan Darren Ellizer]
[Dapatkan lukisan 'Speak with Vagia']
Saat jendela sistem tertutup, Sean menyamakan alamat yang ditentukan sistem dengan apa yang sudah ditulis oleh Hendri.
Melihat itu, tanpa sengaja Sean tertawa sendirinya. "Lihatlah, betapa kebetulan itu menyenangkan."
__ADS_1
Bagi seorang sopir taxi yang memberikan tumpangan di pagi buta seperti ini, mengantarkan seorang pemuda yang bicara sendirinya adalah hal menyeramkan.
Si supir berusaha fokus pada kemudinya, tetapi suara tawa Sean benar-benar membuatnya merinding. Sesekali dia melihat spion atas dan memastikan Sean yang ada di kursi belakang benar-benar manusia bukanlah sekedar jelmaan dari makhluk halus.