
“Maafkan, akan keterlambatan saya.” Sean berkata sedemikian santunya. Dia mengambil tempat disamping Pak Klano yang dari tadi mencoba memperlambat waktu.
Dev Morgan yang menyadari kedatanga Sean langsung berdiri menyambutnya, dia berjabat tangan secara diplomatis, begitu juga dengan Sean yang melakukan hal sama. Tidak lupa, mereka saling memperkenalkan diri masing-masing.
“Aku tidak menyangka di usiamu yang muda, kau dapat membuat proposal ini. Kau begitu membuatku iri, setidaknya anak laki-lakiku payah dalam melakukan penawaran yang menarik sepertimu.” Tidak sungkan-sungkan Dev Morgan menjunjung kelebihan Sean dan merendahkan kekurangan anaknya sendiri.
“Anda terlalu berlebihan Tuan Dev. Saya tidak akan ada apa-apanya dibandingkan anak dari keluarga Morgan,” balas Sean menanggapi sanjungan yang dia benci.
Tentu saja Sean tahu jawabannya, dibandingkan harus terjun dalam saham dan hal-hal yang berbau investasi, Luis lebih terampil dalam seni. Apalagi, kelebihan foto memori yang dia miliki dan ditambah pelatihan dari Najwa Wong. Seandainya kemampuan Luis diasah dengan benar, sudah pasti namanya akan melejit di dunia seni.
Sean kembali teringat atas nasib dari suami Najwa Wong yang tidak lain merupakan keluarga Morgan. Demi obsesi keluarga Morgan untuk menguasai perekonomian skala besar, tidak ada satu pun anggota keluarga yang diberi kesempatan untuk keluar dari latar belakangnya. Sudah pasti Luis bernasib sama. Kemampuan melukisnya tidak akan pernah dihargai di dalam keluarga Morgan.
“Aku sudah membaca surat dokumen ini dan kau menginginkan agar Morgan Investment memberikan investasi ke galeri senimu?”
“Benar, saya sudah merancang semua di dalam proposal. Keuntungan yang bisa kami berikan adalah bagi hasil. Kami akan menawarkan 10% dari omzet untuk investor, di luar dari investasi yang diberikan.”
Penjelasan Sean tampaknya membuat ekspresi Dev Morgan tampak kecewa. Sebagai seorang Investor berpengalaman, apa yang sudah dikatakan Sean tidak banyak menguntungkannya.
“Ya? Hanya 10 persen?” Dev Morgan menjauhkan dokumen dari proposal Sean.
Sean tidak boleh terpengaruh. Dia harus dapat membuat Dev Morgan tertarik dan segera menyetujui kontrak. Bila gagal … uang miliaran dalam rekening Sean akan dibekukan oleh sistem.
“20% hasil adalah milik galeri dan 70% akan kami kembalikan pada seniman yang bersangkutan.“ Penjelasan Sean semakin membuat ekspresi Dev Morgan semakin buruk. Meskipun begitu, dia tidak boleh terpengaruh oleh keadaan. Sean berusaha mempertahankan senyum meski dia sendiri sudah lelah berpura-pura.
__ADS_1
“Aku pikir ini bukanlah pembagian yang adil, bukan begitu?” sanggah Dev Morgan dengan tegas.
“Sebagai seorang pebisnis bukannya lebih baik untuk tidak memperdulikan angka di depannya?” Sean memperbaiki posisi duduknya. Tidak bisa dipungkiri, wajah dingin Dev Morgan membuatnya tegang. Bahkan badannya terasa kaku seperti pahatan patung lilin.
“20% keuntungan dari galeri akan dibagi 10% untuk operasional dan 10% untuk pengembangan. Dengan pengembangan, akan memiliki dampak bagus atas saham di galeri dan secara tidak langsung investor akan mendapat keuntungan 10% dengan nilai dollar yang lebih besar ketimbang 20% keuntungan di galeri yang memiliki nilai dollar kecil.” Sean kembali menjelaskan nilai dari keuntungan galerinya dengan profesional. Kemampuan itu adalah hasil dari didikan Pak Klano secara kilat.
“Apa kau pikir bahwa kau terlalu percaya diri?” cemooh Dev Mirgan dalam membalas penjelasan Sean yang tidak memuaskannya. “Untuk sebuah galeri yang belum berjalan, angka yang kalian janjikan tidak akan bisa menjamin dengan apa yang kami dapatkan kedepannya.”
Benar-benar seperti bukan ayah kandung Luis! Bagaimana bisa dua orang yang wajahnya serupa dan sama-sama memiliki nama Morgan tidak memiliki kesamaan dalam bersikap?
Luis adalah pemuda ramah dan senang membantu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bukanlah cibiran, cemooh, penghinaan dan merendahkan orang lain. Namun, Dev Morgan memiliki kebalikan sikap dari anaknya.
Emosi Sean hampir meletup, tetapi Pak Klano di sampingnya mengingatkan. Pria itu menggeleng sebagai kode agar Sean tidak terpengaruh provokasi dari Dev Morgan.
Peringatan itu berhasil membuat Sean kembali menemukan kesabarannya, dia menghela napas dan menjelaskan keistimewaan dari galerinya. “Bagaimana anda bisa mengatakan sebuah kepercayaan diri pada galeri yang sudah menggantung nama pelukis terkenal seperti Elizabeth Chang dan Najwa Wong. Ah, saya akan membocorkan sedikit rahasia bahwa lukisan PomPom dari Elizabeth Chang lah yang kami miliki saat ini dan … apakah setelah saya mengatakan ini dapat membuat anda percaya?”
“Tentu saja Anda bisa mencari tahu tentang pelukis dengan inisial nama K.Karrin yang melegenda,” jawab Sean dengan bangga.
Di samping Sean, perasaan Pak Klano menjadi tidak nyaman sesaat setelah Sean menyebutkan nama itu. Dia dapat mengetahui pelukis dengan inisial K.Karin adalah milik Kenzo Karrin dan seketika itu ‘Red Ballerina’ ada di pikirannya.
Bukan main, benar! Dalam adegan ini Sean tidak bisa lepas untuk menjual nama Kenzo Karrin yang dimana lukisannya sedang diburu. Tampaknya pemuda itu dapat memanfaatkan hubungan relasi menjadi sebuah keuntungan.
Mata Dev Morgan membulat sempurna. Meskipun dia bukan kolektor atau sejenisnya, lukisan K.Karrin mudah ditemukan di antara perdebatan para crazy rich. Lukisan yang menghilang tanpa jejak itu sudah menjadi incaran mereka dan mereka dapat menjualnya kembali dengan harga berkali-kali lipat.
__ADS_1
Sean mulai berpikir licik untuk membuat strategi yang sama ketika dia sudah menjadi pelukis ternama ke depannya, tetapi dia mengesampingkan pemikiran itu dan kembali fokus pada tujuan.
“Apa kau memilikinya? Berapa yang kau minta, jual saja padaku berapapun harganya.”Dev Morgan secara terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya. Namun, Sean menolaknya dengan tegas.
“Ketiga lukisan yang baru saya sebutkan itu hanya akan digantungkan di dalam dinding galeri sebagai koleksi, Tuan Morgan. Saya pikir, lukisan-lukisan itu tidak hanya akan membuat anda tertarik, tetapi orang-orang diluar sana pasti juga akan berpikir sama. Bukankah penawaran ini begitu menguntungkan?”
“Sepakat!” ungkap Dev Morgan penuh keyakinan.
Kemenangan telak ada di tangan Sean. Selain membuat Dev Morgan menyetujui proposalnya, Sean akan mendapatkan hadiah spesial dari misi.
Sebuah galeri seni! Sean akan menjadi direktur di tempat itu. bahkan, sebelum itu benar-benar terjadi, jiwa sombong Sean meronta hebat.
***
Semua urusan di Herriot Hotel Lounge selesai, Sean kembali bersama Pak Klano dengan sisa tenaga. Seperjalanan itu, si dosen killer tidak henti-hentinya memberikan pujian dan kata-kata antah berantah yang dapat membuat Sean melayang tinggi.
“Sudah cukup, keberhasilanku tidak jauh dari menjual nama Kenzo Karrin dan kehadiranmu di tempat itu.” Sean yang anti dipuji mencoba merendahkan diri.
“Apa itu penting? Sukses menghadapi Dev Morgan tanpa mengompol sudah cukup baik di mataku,” canda pria di kursi kemudi.
Semua pembicaraan itu tidak jauh-jauh dari keberhasilan Sean menghadapi Dev Morgan. Namun, mengingat nama Morgan, Sean teringat kembali atas 500 juta yang dijanjikan pada Luis.
“Ah, bisakah kau mengantarkan aku di studio?” pinta Sean.
__ADS_1
“Tentu saja.”
Mobil Pak Klano segera meluncur cepat di tempat tujuan.